
"Keindahan hidup akan kamu rasakan ketika kamu mau mensyukuri segala hal yang sudah kamu miliki.
Bersyukur terhadap rezeki yang diberikan Allah hendaklah selalu berucap dengan alhamdulillah."
Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga.
Bu Fauziah Hidayat Ahmed Miller yang sudah menangis tersedu-sedu yang menundukkan kepalanya saking sedihnya dan tidak kuasa menatap ke arah putri sambungnya itu. Ketakutan tiba-tiba datang menggerogoti dan menghantui pikirannya.
Seandainya jika Zamera Azzahra akan membencinya jika sudah jelas mengetahui kenyataan yang ada. Walaupun takut dan cemas tapi, kenyataan dan kejujuran harus tetap dikatakan cepat atau lambat. Sakit dan kecewa bagaimanapun juga jika itu adalah kejujuran maka tetap harus diungkapkan kebenarannya.
Bu Fauziah tidak ingin hari ini terjadi dalam hidupnya, karena terlalu takut jika Aza pergi dari hidupnya bahkan akan membenci dirinya yang selama ini telah berbohong padanya.
Nyonya Besar Fauziah sudah tergugu dalam tangisnya, "Maaf Mama bukanlah Mama kandung kamu yang selama ini selalu ngomong sama orang-orang kalau kamu adalah putri kandungnya Mama," timpal Bu Fauziah yang sudah menangis tersedu-sedu yang menundukkan kepalanya saking sedihnya dan tidak kuasa menatap ke arah putri sambungnya itu.
Ketakutan tiba-tiba datang menggerogoti dan menghantui pikirannya, jika Aza akan membencinya jika sudah jelas mengetahui kenyataan yang ada. Walaupun takut dan cemas tapi, kenyataan dan kejujuran harus tetap dikatakan cepat atau lambat. Sakit dan kecewa bagaimanapun juga jika itu adalah kejujuran maka tetap harus diungkapkan kebenarannya.
Air matanya Bu Fauziah tidak terbendung lagi, hatinya sangat sedih dan takut serta cemas dalam waktu yang bersamaan. Dia sangat ketakutan jika setelah mengetahui kebenarannya, Aza akan langsung berubah.
Pak Farhan menjelaskan semuanya panjang lebar sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya yang terjadi ketika awal mereka bertemu dan hampir satu bulan Aza berada di dalam keluarganya barulah dia mengetahui jika Aza adalah putrinya dari istri pertamanya.
Zameera Azzahrah Farhana Arinda Farhan tergugu dalam tangisnya, ia tidak menduga jika dia hanya anak sambung di dalam hidupnya Bu Fauziah perempuan yang sangat disayanginya itu.
__ADS_1
"Mama!" Cicitnya Aza yang menatap sendu Mamanya.
Ibu Fauziah tidak berani menatap ke arah putrinya itu. Dia menundukkan kepalanya karena tidak kuasa melihat wajahnya Aza yang menurutnya sedih dan kecewa karena sudah dibohongi olehnya. Aza segera meraih tangannya Bu Fauziah dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.
"Mama! Sampai kapan pun Mama Fauziah adalah Mamanya Aza hingga akhir waktuku, Aza sangat beruntung dan bersyukur karena masih memiliki Mama yang begitu baik dan menyayangi Aza sepenuh dan setulus hati, Aza mungkin anak yang paling bangga dan bahagia bisa hadir di dalam hidup kalian," tuturnya Aza dengan linangan air matanya.
Aza menarik tubuh Bu Fauziah kedalam dekapan pelukannya. Dia memeluk erat tubuh seorang wanita yang menyayanginya segenap jiwanya layaknya seorang Ibu kandung yang melahirkannya.
"Aza memang mengakui jika Aza terlahir bukan fy dalam rahimnya Mama, tapi aku sangat bersyukur dan bahagia karena Mama menerima Aza dengan tangan terbuka tidak seperti ibu tiri yang kayak di dalam sinetron ikan terbang yang sering Aza lihat Ma," ujarnya Aza dengan tulus dan jujur dari dalam lubuk hatinya yang paling terdalam.
Fauziah terkejut mendengar perkataan dari Aza. Beliau tidak menyangka jika apa yang selama ini sering dia khawatirkan dan takutkan ternyata hanya isapan jempol belaka saja.
"Alhamdulillah, makasih banyak Nak, Mama sangat bahagia mendengarnya," balasnya dengan tangisannya yang semakin besar.
Pak Farhan meneteskan air mata bahagianya, dia terharu dan tersentuh melihat kedekatan batin antara anak dan istri keduanya itu.
"Syukur Alhamdulillah, makasih banyak ya Allah… Engkau telah memberikan aku anak-anak dan istri yang sholeha, aku sangat bahagia melihat kebersamaan mereka," Pak Farhan membatin.
"Jadi mulai sekarang, tidak ada kata anak dan mama sambung di sini yang ada hanya Mama kandungnya Aza," ucapnya Aza lalu kembali memeluk erat tubuh mamanya.
Mereka menangis dalam suasana penuh haru dan bahagia. Suami mana yang tidak akan bahagia jika, anak dari istri pertamanya dan istri keduanya bisa hidup baik dan akur berdampingan dalam satu atap.
__ADS_1
"Semoga kalian selamanya seperti ini, tidak ada lagi rasa khawatir akan perpisahan karena disebabkan oleh perselisihan dan perbedaan atas dasar hubungan darah," gumamnya Pak Farhan.
"Tapi, apa kalian tahu cincin yang aku pakai ini?" Tanyanya Aza sambil mengulurkan jari tangannya ke arah mereka berdua.
"Coba kamu buka jangan sampai ada petunjuk di balik cincin kamu," pinta Pak Farhan kepada anak keduanya itu.
Azzahrah yang mendengar perintah dari Papanya segera melaksanakan sesuai dengan petunjuk hal tersebut dari Papanya. Aza sedikit kesusahan untuk membuka dan melepas cincinnya tersebut. Tapi, dengan susah payah akhirnya cincin yang melingkar di jari manisnya bagian kirinya.
Ibu Fauziah mengambil cincin itu lalu secepatnya memeriksa bentuk luar dalamnya. Hingga sudut ekor matanya melihat ada tulisan di dalamnya.
"Ada tulisan di dalamnya loh Pa," ungkapnya Bu Fauziah.
"Coba lihat dan perhatikan baik-baik kira-kira apa yang tertulis di dalam sana," timpal Pak Farhan Naufal Barata Jaya.
Bu Fauziah pun segera melakukan sesuai arahan dari Pak Farhan. Dan dia melihat ada dua huruf yang terukir di bagian dalam permukaan cincin itu.
"Ocean Samudera Dirgantara Mandala Renon dan Seana Ayunda dengan simbol huruf S n S," sahutnya Bu Fauziah.
"Seana dengan Samudera," Zameera membeo dengan tatapan tajamnya.
Pak Farhan sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa itu adalah cincin tunangan atau pernikahan.
__ADS_1
"Seana! bukankah itu nama yang sering terngiang di dalam pikiranku," Aza terdiam dalam pikirannya sendiri.