
Sedangkan Sam sama sekali tidak menimpali perkataannya Willy sedikit pun, karena menurutnya hal itu tidak ada manfaat dan gunanya meladeni orang yang gila dan stres. Dia berdiri tak bergeming diam dalam kebungkamannya. Willy segera berlalu dari hadapannya Samudera yang terpaku dalam kediamannya itu, hanya senyuman tipisnya yang tersungging dari sudut bibirnya.
"Kamu akan merasakan kepedihan, kehancuran, kesedihan dan keputusasaan yang mendalam karena aku akan menghancurkan keutuhan rumah tanggamu itu!!" Jeritnya Willy kemudian pergi dan hadapannya Sam.
"Aku tidak akan biarkan wanitaku direbut oleh pria manapun, aku akan menunggu tantanganmu," pekiknya Samudera saat Willy belum terlalu jauh dari tempatnya berdiri di pinggir pantai.
Willy hanya menoleh sesaat dan tersenyum licik ke arah Ocean Samudera Dirgantara Mandala Renon. Dua pria itu melakukan perang dingin memperebutkan seorang perempuan kampung.
Samudera sudah bertekad apa pun yang terjadi dia akan mempertahankan hubungannya dengan Sea, walaupun besok dia akan bertolak ke Jakarta. Tapi, ia akan menjaga dan melindungi Seana dengan segenap hati dan jiwa raganya.
Burung hantu dan lolongan panjang anjing sudah terdengar suaranya membuat malam hari itu terasa mencekam. Malam semakin larut, tetapi Sam belum pulang juga ke rumahnya padahal cuaca malam itu sangat dingin.
Sedangkan Sea meringkuk di atas dipannya. Sedikit pun tidak bisa memejamkan kedua matanya. Pikirannya bercabang-cabang tertuju pada suaminya dan mantan tunangannya.
Deraian air matanya tak kunjung berhenti, malahan semakin menjadi saja. Hingga pintu kayu itu berdecit dengan perlahan pertanda Sam telah kembali tepat jam 24 tengah malam. Sea segera keluar dari kamarnya dan ingin melihat suaminya itu.
"Abang sudah pulang, tadi dari mana saja bang? Aku sangat khawatir dengan keadaan Abang," Tanyanya yang mengintrogasi dan memberondong berbagai pertanyaan Sam karena sedari tadi sudah mengkhawatirkan keadaan suaminya itu.
Sam sama sekali tidak menggubris pertanyaan yang meluncur dari bibirnya Seana hanya berlalu dari hadapan Sea yang masih berdiri di depan pintu. Samudera masuk ke dalam kamar lalu mengambil bantalnya yang biasa dia pakai dan segera merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang.
"Masuklah sudah malam, waktunya untuk istirahat ingat besok pagi kita harus ke bank untuk urus rekening barumu," ucapnya dengan nada dingin tanpa melihat ke arah Sea sedikitpun.
Glek.. gluk… Derr..
Entah kenapa perasaannya Sea terasa lain-lain, ia merasakan ada perubahan dan keanehan dari sikap dan tingkah lakunya Sam saat itu. Ada ribuan jarum yang menusuk hingga ke dalam hatinya.
"Apa Abang marah yah dengan kehadiran Abang Willy ke rumah?" Gumamnya Sea.
Wajahnya spontan berubah sendu yang awalnya sumringah mengetahui jika Sam sudah pulang. Sam segera memejamkan matanya tanpa peduli sedikit pun dengan Sea yang masih terdiam membisu seribu bahasa di tempatnya semula.
Raut wajahnya Sam berubah-ubah, "Maaf, hati ini terlalu sakit, kecewa dan sedih melihatmu dipeluk oleh pria lain." Batinnya Sam yang menyayangkan hal tersebut terjadi di depan matanya langsung menjadi penonton live streaming.
Sea masuk ke dalam kamarnya, rencananya hari ini dia ingin mengajak Sam untuk tidur bersamanya di dalam kamarnya, karena sudah beberapa hari ini, dia melihat dan memperhatikan Sam yang gelisah dalam tidurnya.
__ADS_1
Seana tidak lupa membakar obatnya untuk suaminya. Dia walaupun belum memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri seutuhnya, tapi hal itu juga terjadi karena permintaan dari Sam sendiri sebelumnya.
Sam menoleh sesaat ketika Seana sudah berjalan masuk ke dalam kamarnya, "maaf Abang terlalu kecewa denganmu istriku."
Ayam jantan milik Ocean Samudera berkokok di belakang rumahnya, pertanda pagi sudah datang menjemput. Matahari bersinar menyinari seluruh jagad raya. Sinar mentari menyelinap masuk ke dalam celah dinding rumahnya Sea yang terbuat dari kayu itu.
"Huummm," Seana mengerjapkan matanya lalu merentangkan kedua tangannya.
"Alhamdulillah, sudah pagi rupanya, padahal serasa baru beberapa menit saya tertidur," tuturnya Sea lalu bangkit dari duduknya.
Sea berjalan ke arah luar kamarnya, dan melihat kursi tempat tidur Sam sudah kosong. Seana mencepol rambutnya dengan asal agar anak rambutnya tidak terjatuh mengenai wajahnya sehingga menggangunya untuk beraktifitas.
"Mungkin Abang sudah berada di belakang kasih makan ayamnya," gumamnya lalu berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makanan untuk suaminya.
Beberapa saat kemudian, makanan sudah tersaji di atas meja makan, bersamaan dengan pintu belakang terbuka. Seana segera menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman termanisnya. Tapi, Sam sedikit pun tidak membalas senyuman tulus yang Seana perlihatkan.
Gleduk….
"Ya Allah… seperti ini rasanya yah jika dicuekin oleh suami sendiri," cicitnya Sea.
Dia segera menarik kursi segera agar Sam bisa duduk. Dia juga mengambil piring dan menaruh beberapa makanan ke atas piringnya.
"Cepatlah makan, karena kita akan segera ke bank, dan setelah itu aku ingin berangkat ke Jakarta setelah temanku datang menjemputku," ujarnya Sam yang sama sekali tidak melihat ke arah Sea sedikitpun saat berbicara hanya fokus pada makanannya saja.
"Iya Abang," jawabnya Seana dengan lemas seolah tak punya tenaga sedikit pun.
Setelah mereka menyelesaikan makannya, mereka segera berangkat menuju salah satu Bank swasta yang ada di Ibu kota kabupaten. Hanya butuh waktu beberapa menit saja yang terbilang sebentar, Sea sudah mendapatkan buku tabungan serta kartu anjungan tunai mandiri yang orang lebih kenal dengan atm.
Teller dan customer servis Bank tersebut menjelaskan secara rinci dan detail cara penggunaan atm dan manfaat buku rekening. Seana cepat paham dan tanggap dengan penjelasan tersebut sehingga tidak membuat Sam mengulang kembali penjelasan tersebut.
Mereka kembali ke rumah dengan mengendarai motor pemberian dari dokter Juanda tempo hari itu. Sea dilatih dan diajarkan oleh suaminya hingga paham dan bisa memakai motor matic tersebut.
Sam sama sekali tidak mengajak istrinya berbicara atau menimpali perkataan dari Samudera malahan berpura-pura seolah-olah tidak mendengar perkataan dari Sea.
__ADS_1
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Tetanggaku Idola Suamiku
Cinta pertama
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
Tetap dukung LSOS dengan cara:
Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.
I love you all Readers…
__ADS_1