
"Makasih banyak Pak, aku sangat bahagia dengannya seakan-akan bapakku masih hidup dari dalam dirinya bapak," imbuhnya Seana lagi.
"Kamu harus sabar Nak, walaupun bapakmu hingga sekarang belum ditemukan keberadaannya, tapi beliau adalah sahabat terbaiknya bapak," ujarnya.
"Maaf Pak, bukannya saya ingin mengganggu nostalgia bapak tapi, karena aku sudah ditungguin sama Pak Desa, jadi saya pamit dulu yah pak, assalamualaikum," ucapnya dengan tersenyum sambil berjalan ke arah dalam rumah sakit.
"Hati-hati kalau gitu nak, bapak do'akan yang terbaik untukmu," ucapnya Pak Budi sebelum Seana pergi dari depannya.
Setelah berbincang-bincang dengan santai dan sesi tanya jawab yang dilakukan oleh Pak Budiman. Seana kembali berjalan perlahan ke arah dalam rumah sakit. Dia akan mengunjungi Ocean Samudera Dirgantara Mandala sesuai arahan dari Pak Ardiansyah selaku kepala Desa di kampungnya.
"Aku yakin ada seseorang yang merencanakan dan memperparah keadaan agar kamu terjebak hingga menikahi pria yang sama sekali tidak kamu kenal, bapak sangat berjasa pada bapakmu, berkat dia yang menyelamatkan kami beberapa warga dan mengorbankan dirinya hingga bapakmu tidak ditemukan hingga detik ini," lirihnya Pak Budi senantiasa mengingat jasa-jasa dan kebaikan bapaknya Seana.
"Semoga saja Sam sudah sembuh dari sakitnya, kasihan juga dia sudah hampir sebulan di rawat di sini," batinnya yang ikut sedih dengan musibah yang menimpa Samudera.
Dia sama sekali tidak memusingkan dan mengambil pusing kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka hingga mereka akan menikah. Walaupun dia sangat sedih, karena harus mengingkari dan mengkhianati janjinya bersama calon suaminya yaitu Willy anak sulung dari Pak Ardi.
Dia terus berjalan dengan senyuman khasnya diperlihatkan untuk orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan. Tidak jauh dari rumah sakit, seorang ibu-ibu tertawa terbahak-bahak di depan putrinya.
"Kita harus merayakan keberhasilan kita ini, karena anak sial itu akan segera menikah dengan pria tidak jelas itu," ucapnya dengan tawanya yang masih membahana.
"Abang memang pintar sekaligus licik, kita memang patut untuk merayakan kesuksesan kita, walaupun kita belum bisa mengusirnya dari dalam rumahnya setidaknya membuatnya menderita harus menikah dengan pria tidak jelas, penyakitan dan amnesia itu sudah menjadi satu keuntungan besar Bang, tapi sayang ibu jadi tumbal rencana kita," terangnya dengan senyuman liciknya yang duduk di atas pangkuan kekasihnya.
"Giliran Willy nanti kita rencanakan lagi, yang paling penting kamu harus berpura-pura mencintai Willy di depan orang-orang agar rencana kita semakin mulus dan sukses sesuai yang kita harapkan sayang," ujarnya dengan sesekali meeee reee maaaas puncak gunung Himalaya milik Nina.
Nina yang mendapatkan perlakuan seperti itu sangat senang dan bahagia. Rian semakin membuat kekasihnya itu kelimpungan dengan belaian dan sentuhannya yang begitu lembut dipermukaan kulitnya.
"Jika dia menikah dengan pria itu, aku akan selalu menjaga agar pernikahan mereka segera terlaksana," ujarnya Nina lagi sambil menikmati apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu.
__ADS_1
"Itu harus sayang, sebelum Bapakmu pulang mereka harus sudah menikah, dan masalah Willy serahkan padaku saja, biarkan aku yang akan mengurusnya," dia tersenyum licik penuh arti dan membayangkan bakal apa yang akan terjadi nantinya.
Mereka tidak hentinya tertawa terbahak-bahak sedangkan orang-orang yang melewati rumah mereka kadang merasa aneh dengan apa yang mereka lakukan. Bukan hanya itu yang mereka lakukan tapi, mereka juga sudah dalam keadaan yang berolahraga sore hari. Mereka saling memberikan kesenangan batin satu sama lainnya.
"Biasa mungkin mereka sedang menang lotre jadi bahagia banget sampai-sampai tertawa seperti orang kerasukan saja," ucap salah satu dari mereka lalu melanjutkan perjalanannya.
"Tapi, kok ada suara laki-laki yah?" Tanyanya Ibu Ana dengan mimik wajahnya yang keheranan.
"Hussh!! Kamu mungkin hanya salah dengar lagian Pak Heru belum pulang dari ibu kota," timpal Bu Susi.
"Tapi, Nina cukup bahagia yah padahal ibunya Bu Widya sedang menjalani hukumannya di balik jeruji besi," sarkas Bu Tia.
"Sudah… sudah ayo kita pulang tidak perlu pusingin orang jahat seperti mereka, kita bisa ketularan jahat juga kalau berlama-lama di sini," makinya bu Ana.
Seana membuka pintu kayu bercat putih itu khas pintu rumah sakit. Ia berjalan masuk dengan pelan karena tidak ingin mengganggu pembicaraan dari keduanya.
Semua orang yang berada di dalam sana menoleh ke arahnya. Sam dan Sea tanpa sengaja tatapan mata mereka bersirobot hingga mata mereka saling bertatapan dan tidak ada yang berkedip salah satunya. Pak Ardi yang melihat hal tersebut segera berdehem untuk memutuskan kontak mata mereka.
"Ya Allah… kenapa hati ini tidak rela jika Seana tidak menikah dengan Willy puteraku," batinnya Pak Ardiansyah.
Pandangan matanya Pak Ardiyansyah berubah sendu dan memikirkan nasib putra sulungnya.
"Bagaimana pun juga, aku yang mengusulkan kepada mereka dan lagian ini jalan-jalan satu-satunya yang bisa ditempuh dalam menyelesaikan permasalahannya Seana dengan Samudera," Pak Ardiansyah membatin.
"Maaf Pak, katanya Pak Dodi, Bapak memanggil saya untuk datang ke sini?" Tanyanya Sea yang sudah berdiri di tengah-tengah mereka yang menatap intens ke arah Pak Ardiansyah yang tiba-tiba terdiam tak bergeming sedikitpun di tempat duduknya.
__ADS_1
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
Tetap dukung LSOS dengan cara:
Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.
__ADS_1
I love you all Readers…