Love Story Ocean Seana

Love Story Ocean Seana
Bab. 120


__ADS_3

Bu Mirna menatap jengah ke arah pak Ardiansyah Bakrie,"Jadi, apa putranya bapak sudah di penjara dan mendapatkan hukuman yang pantas untuk semua perbuatannya itu?" Tanyanya Bu Mina yang sangat kecewa dan sedih melihat kondisi dari Seana yang hampir jadi orang gila yang tidak waras.


Pak Ardiansyah menatap ke arah mereka satu persatu, "Kalau masalah hukumannya Willy anakku, ibu sama bapak tidak perlu risau dengan semua itu, karena bagi saya semua orang sama di depan mata hukum tidak ada perbedaan sedikit pun, jadi kalian perlu hanya fokus pada penyembuhan Sea dan saya berjanji akan membantu untuk membiayai perawatan Sea selama di Jakarta," terang Pak Bakri Ardian dengan tegas.


"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, kami sangat bahagia karena mendengar perkataan dari Pak Desa, dan semoga Seana segera sembuh dan tidak akan ada lagi kejadian seperti ini dikemudian hari nantinya," harap Bu Mirnawati sama dengan apa yang dirasakan dengan lainnya.


Pak Bakri Ardiansyah, "Kalau masalah hukumannya Anjas, ibu sama bapak tidak perlu risau dengan semua itu, karena bagi saya semua orang sama di depan mata hukum tidak ada perbedaan sedikit pun, jadi kalian perlu hanya fokus pada penyembuhan Sea dan saya berjanji akan membantu untuk membiayai perawatan Sea selama di Jakarta," terang Pak Ardiansyah Bakrie dengan tegas.


Bu Mirna Wati tersenyum lega dan bahagia sambil berucap, "Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, kami sangat bahagia karena mendengar perkataan dari Pak Desa, dan semoga Sea segera sembuh dan tidak akan ada lagi kejadian seperti ini dikemudian hari nantinya," harap Bu Mina sama dengan yang lainnya.


Pak Ardian berbicara tegas, "Baiklah kalau begitu kita putuskan besok subuh ba'da shalat subuh kita star dari sini, untuk biaya pulang pergi biar aku yang tangani semuanya," jelas Pak Ardian.


"Syukur Alhamdulillah kalau gitu Pak Desa, karena terus terang kami sangat ingin ke Jakarta untuk antar Seana Pak, tapi kendalanya dengan biaya dan kedua tempat nginap kalau sudah sampai di sana dan yang ketiga kami tidak punya banyak waktu untuk jaga Sea juga," timpalnya Bu Hana.


"Katanya Rian sama Susan yang akan menjaga Seana hingga sembuh total selama pengobatan dan terapinya nanti Pak dan usulan mereka sangat membantu kami sehingga kami sedikit bisa bernafas lega mendengarnya," pungkas Ibu Mina.


Setelah mereka bermusyawarah dan berbincang-bincang. Para emak-emak sama bapak-bapak sudah memutuskan untuk ikut bersama dengan rombongan mengantar Seana Khaerunnisha Arinda Wijaya ke rumah sakit rekomendasi rujukan dari rumah sakit di tempat tinggalnya Sea.


Ada tiga mobil yang akan membawa mereka hingga ke Ibu Kota Jakarta. Tapi, mereka hanya cukup dua hari saja kebetulan, mereka masing-masing punya kesibukan dan pekerjaan yang tidak mungkin mereka tinggalkan terlalu lama.


Senja telah menyapa Bumi Pertiwi dengan cahayanya yang mulai berkilauan. Ayam berkokok pertanda subuh telah datang menyapa.


Ibu-ibu dan bapak-bapak yang akan ikut mengantar Seana ke Jakarta telah bersiap bersama dengan barang-barang bawaan mereka pribadi masing-masing. Untungnya tidak ada satupun dari mereka yang masih memiliki anak balita sehingga, tidak perlu kerepotan membawa dan mengurus mereka.


"Susanti bagaimana dengan Sea apa dia sudah siap?" Tanya Pak Ardian yang baru saja sampai di rumah sakit.


"Alhamdulillah sudah siap Pak Desa sedari tadi setelah kami selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah," jawab Susanti dengan seulas senyumannya.


Pak Bakri melirik sekilas ke arah Bu Mirnawati seraya berkata,"Bu Mina tolong periksa baik-baik semua berkas yang nantinya akan dicari oleh dokter setelah kita bawa Sea ke RS, jangan sampai ada beberapa berkas yang tertinggal dan kelupaan takutnya nanti akan menyulitkan proses pengobatannya," terang Pak Ardiansyah Bakrie selaku kepala Desa di kampungnya mereka.


Pak Antoni memberikan usulan, "Bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja Pak Ardi kalau menurut kami lebih cepat lebih cepat lebih baik," ujarnya Pak Anton adik sepupu dari bapaknya almarhum Seana.

__ADS_1


"Kalau begitu kami pamit dan tolong doakan Seana agar dia secepatnya sembuh dari sakitnya dan segera pulang ke kampung untuk berkumpul dengan kita semua, amin," tutur Pak Toni.


"Amin ya rabbal alamin, itu tentu saja Pak tanpa Bapak minta kami pasti akan doakan selalu yang terbaik untuk Sea," sahut Bu Amina.


Bu Aminah yang kebetulan tidak bisa ikut, karena ada anaknya yang baru berusia satu tahun sehingga memutuskan tidak bergabung untuk mengantar Sea sampai di Jakarta. Sedangkan beberapa anggota masyarakat dan tetangganya Sea pun demikian halnya tidak bisa ikut karena sesuatu dan lain hal yang membuat mereka hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Aza dan keselamatan mereka.


"Kalau begitu kami pamit ibu bapak sekalian, assalamu alaikum," ucap Pak Ardi yang mewakili yang lainnya yang kebetulan mereka sudah duduk di dalam mobil yang akan mengantar mereka hingga sampai di tempat tujuan.


"Waalaikum salam, hati-hati semua," ucap mereka barengan.


Sea yang sedari tadi hanya terdiam di tempat duduknya. Tapi kadang-kadang sesekali dia menyebut nama suaminya Raja. Bu Meylani awalnya tidak diijinkan ikut oleh suaminya Pak Ardi, tapi dia ngotot untuk pergi bersama rombongan ke Jakarta.


Dengan terpaksa dan berat hati, Pak Ardian mengijinkannya ikut bergabung dengan mereka. Tetapi dia tidak satu mobil dengan Sea. Mobil yang mereka pakai berbeda.


"Ya Allah… tolong sembuhkanlah Mbak Sea, kami tidak tahu harus menjawab apa jika Abang Ocean Samudera Dirgantara Mandala Renon suaminya pulang, kami takut jika Abang Sam mengetahui segalanya yang bisa berakibat fatal yaitu akan menghajar Willy Widianto Ardiansyah Bakrie," batinnya Susanti.


Susanti terus memegangi tangannya Sea. Dia takut jika tiba-tiba Sea mengamuk dan ingin melompat dari atas mobil. Ia takut jika terjadi sesuatu dengan kondisi Seana nanti bisa saja akan mengamuk.


Pak Ardi yang duduk di samping kanannya menolehkan wajahnya sekilas ke arah istrinya itu, "Alhamdulillah ada titik terang yang kami peroleh dan dapatkan informasi dari penyelidikan itu," tuturnya Bu Meilanti dengan wajahnya yang serius.


"Kalau menurut Bapak semua itu murni karena kesalahan dan kebodohannya sendiri Willys, kenapa harus mencari kambing hitam yang tidak bersalah sedikit pun," sanggah Pak Ardi.


"Bapak tidak percaya dengan anak sendiri, karena filing Ibu ada orang yang telah meracuni dan memprovokasi Anjas, sehingga khilaf berbuat nekat yang berakibat fatal," ungkap Bu Meylanti yang sangat yakin dan percaya jika ada orang lain lagi yang mengatur semuanya.


"Kalau menurut kamu seperti itu maka lakukan saja yang terbaik bapak juga terlalu malu menanggung semua akibat dari perbuatan putramu," ujar Pak Ardi.


"Ibu akan membuktikan semuanya sampai Ibu dapat bukti yang kuat jika ini semua bukan kesalahan Willy sepenuhnya Mas dan Ibu akan melakukan apapun agar putraku bisa bebas dari penjara dan aku akan membalas perbuatannya orang itu hingga hidup dia hancur," kilah Bu Meylanti dengan keyakinan yang kuat jika putranya bisa terbebas dari semua tuduhan.


Mulai besok hingga tanggal 4 aku akan adakan give away.. 1. Dukungan Nomor Rank 1 dan 2 pulsa 50k Untuk dua orang.


__ADS_1


Dukungan posisi rank ke 3-4 masing-masing 25k untuk 4 orang.



Syaratnya Wajib: Like, Baca dari bab 1 hingga update bab sampai tgl 4 Desember 2022 Khusus Novel Fania yang berjudul "MEREBUT HATI MANTAN ISTRI". Perhitungannya mulai hari Senin tanggal 14 November.


Harus dan Wajib Follow akun Fania Mikaila Azzahrah yah!!


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kekuatan Cinta


Baby Sitter Pilihan


Tetanggaku Idola Suamiku


Cinta pertama


__ADS_1


Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


__ADS_2