
Tanpa terasa air matanya Sea menetes membasahi pipinya, aa terharu mendengar perkataan dari pamannya, air matanya setetes demi tetes membasahi wajahnya saking rindunya dia dengan mendiang almarhum ibunya yang masih mampu ia ingat dengan baik walaupun umurnya saat itu baru delapan tahun.
"Kamu akan memulai hidup baru, Paman berharap dan meminta tolong sama kamu tolong lupakan masa lalu dan jangan pernah mengungkit apa pun yang telah terjadi diantara kalian," Pungkas Pamannya.
Sea hanya mampu manggut-manggut dan masih saja menangis tersedu-sedu mengingat kedua orang tuanya. Bapaknya pun meninggal saat dia masih berusia balita sedangkan ibunya ketika umurnya berusia delapan tahun lebih.
Kenangan demi kenangan terlintas di dalam benaknya. Bagaikan roller coaster hidupnya berubah drastis sejak niatnya untuk menolong pria yang korban tenggelam di laut.
Pak Heru tersenyum tulus ke arah Seana keponakan satu-satunya itu, "Pakailah nak, karena itu adalah milikmu dan identitasmu nanti kedepannya bahwa kamu adalah putri tunggal dari Afrizal dan Marina," tuturnya yang membantu Seana untuk memakai cincin tersebut.
Spontan Seana mengulurkan jari manisnya ke hadapan pamannya tapi langsung dicegah oleh Pak Heru,"jangan jari yang itu Nak, karena jari itu akan dipasangkan cincin itu khusus untuk calon suamimu nantinya jika kalian sudah menikah," sanggah Pak Heru.
Sea segera mengganti lalu menaikkan tangan kanannya karena tadi dilarang oleh Pak Heru.
"Ini baru cocok Nak, dan Paman harap apapun yang terjadi tolong cincin ini dijaga dengan baik," pintanya Pak Heru sebagai amanahnya.
Seana terus memandangi jarinya yang tersematkan sebuah cincin yang sangat cantik. Pak Heru membatin dan menatap iba ke arah keponakan satu-satunya yang dia miliki.
Tatapannya sendu, "Maafkan Paman Nak, paman belum bisa jujur tentang bapakmu karena Paman belum yakin dengan apa yang Paman lihat beberapa hari yang lalu saat berada di kota, tapi suatu saat nanti paman akan mencari tahu secepatnya tentang siapa pria yang mirip sekali dengan bapakmu itu," batinnya Pak Heru.
Seana memutar tangannya dan memandangi terus jarinya, "Cantik yah Paman cincinnya,"puji Sea lalu memperhatikan dengan seksama cincin itu.
"Sudah nanti saja kamu pandangi dan puji terus cincinmu, sudah hampir Jam 7 pagi, sana mandi dan jangan terlalu lama, orangnya Ibu Jannah sudah datang di rumahnya Bu Mina menunggu kedatanganmu untuk di Make up," perintahnya dan mulai beranjak dari tempat duduknya semula.
"Baik Paman, perintah segera dilaksanakan," ucapnya dengan cengengesan.
"Paman akan kembali ke kota dan menyelidiki semuanya sesuai dengan apa yang Paman lihat, kalau itu benar Afrizal berarti dia belum meninggal saat kecelakaan maut itu, saat kapal tenggelam." Pak Heru membatin.
__ADS_1
Pak Heru menerawang jauh saat terakhir melihat adik iparnya saat kapal yang mereka pakai mencari ikan tenggelam dan tubuhnya Rizal ikut hanyut di dalam laut dan mayatnya hingga detik ini tidak ditemukan.
Seana tanpa menunggu banyak waktu, ia bergegas ke kamar mandi dan segera membersihkan seluruh tubuhnya dengan perlengkapan mandi yang kemarin diberikan khusus oleh Ibu Jannah sebagai kado pernikahannya.
Sea takjub melihat pemberian dari Bu Annah, "Shamponya wangi banget yah, lembut saat diusapkan diatas kepalanya hingga menyeluruh ke ujung rambut," ujarnya yang memuji shampo tersebut.
Sea tak henti-hentinya memuji dan bersyukur atas pemberian ibu Annah untuknya. Dia sangat bahagia karena mendapatkan sesuatu yang sangat berguna dalam hidupnya itu dengan cuma-cuma. Padahal itu pertama kalinya mendapatkannya.
Beberapa saat kemudian, Seana sudah berada di depan orang yang telah siap dan menunggunya sedari tadi untuk memoles dan mempercantik penampilan dan wajahnya. Beberapa saat kemudian, Seana sudah didandani dan memakai gaun pengantin warna gold.
Gaun itu terpasang dengan cantik di tubuhnya dengan begitu pasnya. Hingga lekukan tubuhnya begitu terpampang jelas hingga membuatnya semakin cantik dan seksi. Semua orang memuji kecantikan dari Seana yang sudah tampil berbeda dari biasanya dan sangat cantik itu.
Tidak satupun dari ibu-ibu yang memenuhi rumahnya Ibu Mina yang tidak memuji kecantikan dari Sea. Hanya ibu Lina seorang yang memperlihatkan wajah tidak sukanya di hadapan orang-orang.
"Aku sangat membencimu Sea, aku berharap pernikahanmu tidak akan terlaksana dan gagal, kalau pun kamu menikah semoga cepat diceraikan," umpatnya Bu Lina.
Tetapi, satupun dari mereka tidak ada yang peduli dengan hal tersebut saat itu. Ibu Lina adalah adik dari Bu Widya bibinya Sea yang harus masih terus mendekam di penjara.
"iya benar apa yang ibu katakan, Sea memang kenyataannya sangat cantik dan bagaikan mutiara yang berada di laut terdalam yang tersembunyi dan tidak tersentuh oleh siapa pun dan apa pun itu," timpal ibu Norma yang kebetulan juga hadir ingin menyaksikan pernikahan mereka.
"Sudah-sudah memujinya,apa pakaian yang akan dipakai oleh nak Raja sudah dikirim ke rumah sakit?" Tanya Ibu Jannah.
"Alhamdulillah semua persiapan di rumah sakit sudah selesai dan hanya menunggu rombongan dari sini," sahut Ibu Mina lagi.
Sea hanya tersenyum yang mendengar perkataan dan berbagai pujian yang dilayangkan kepadanya membuatnya tersipu malu dan wajahnya memerah menahan rasa malunya tersebut.
"Ya Allah… aku sangat terharu dan tersanjung dengan berbagai pujian dari Ibu-ibu," bathin Sea.
__ADS_1
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
Tetap dukung LSOS dengan cara:
__ADS_1
Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.
I love you all Readers…