
"Aaahhh Papa!! Mama!! Apa yang akan kalian lakukan?" Pekiknya Aza sambil menutup wajahnya hingga ke depan matanya.
Pak Farhan dan Bu Fauziah sama-sama tersentak kaget ketika mendengar teriakannya dan suara cemprengnya Zahra.
Mereka sama-sama saling bertatapan dan tersenyum malu-malu karena harus lupa dan kelepasan dengan situasi dan kondisi yang sangat memungkinkan mereka untuk berbuat lebih saat itu dan melupakan pesona perawan yang ada di sekitar mereka.
"Seana!!" Gumamnya orang itu.
Saat kita menanam padi, akan selalu ada rumput yang ikut tumbuh apalagi jika yang kita tanam adalah rumput, tidak akan ada padi yang ikut tumbuh.
Begitulah hidup kebaikan yang kita tanam tak selalu tumbuh kebaikan pula, bagaimana jika yang kita tanam adalah keburukan, tak akan ada kebaikan yang tumbuh. Tapi dunia ini dipenuhi orang-orang baik, jika kita tak bisa menemukannya maka jadilah salah satunya.
Apa yang mereka lakukan berdua menjadi pusat tontonan dari beberapa mahasiswi yang kebetulan melewati jalan itu dan berada di sana. Tangan kanannya memegang pinggangnya Zameera Azzahrah sedangkan tangannya Aza menggantung bebas di udara.
Pandangan mata keduanya saling beradu. Hembusan nafas keduanya saling tabrakan. Jarak keduanya cukup dekat karena pria itu sedari tadi semakin mengeratkan pelukannya ke tubuhnya Aza.
"Seana istriku," Gumamnya orang itu.
Zameera terdiam mematung dan hanya mampu memandangi wajah tampan pria yang ada di depannya. Ia terkesima melihat orang yang sedari tadi memeluk pinggangnya dengan erat. Hingga sapaan dari orang lain mampu mengalihkan perhatian mereka.
"Zameera," teriak orang itu.
Sea segera melepaskan pegangan tangannya pria yang menolongnya itu. Wajahnya merona memerah setelah mengetahui, jika hampir seluruh orang yang berada di sana menonton apa yang mereka lakukan.
Zameera menundukkan kepalanya apa lagi ketika mata mereka saling bersirobot satu sama lain, "kamu tidak apa-apa kan?" Pria yang berteriak memanggil namanya Aza adalah pria yang sedari dahulu gencar mendekatinya.
Pria itu menaruh hati pada Zameeraa tetapi, ia sama sekali tidak pernah membalas atau pun menggubrisnya, karena dia tidak pernah sedikit ada hati dengan pria itu. Baginya Arlando adalah temannya sekaligus sahabat dari kakaknya Fauzan.
__ADS_1
"Ehh aku gak apa-apa kok Abang," jawabnya yang memeriksa kondisi tubuhnya sendiri padahal tidak terjadi sesuatu kepadanya.
"Abang datang ingin mengajak kamu makan siang di kantin, apa kamu mau temani Abang makan?" Arlando menatap tajam ke arah Ocean Samudera Dirgantara Mandala Renon yang hanya terdiam menyaksikan interaksi mereka.
Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum smirk saja, "Zameera Azzahrah namanya, tapi kenapa wajahnya sangat mirip dengan Seana istriku, tapi kalau Sea tidak mungkin dia tidak mengenaliku," Sam membatin.
"Kalian bertiga juga mau gabung dengan kami atau selamanya ingin jadi patung di situ?" Sarkas Arlando yang tidak menyukai ketiga sahabatnya Aza memandang Sam dengan tatapan memuja dan mendamba.
Zameera hanya tersenyum melihat tingkah laku dari teman kelasnya itu. Dia pun berjalan ke arah temannya lalu menepuk salah satu pundak mereka.
Pukkk…..
Mery yang kebetulan ditepuk pundaknya tersentak kaget karena lamunannya buyar seketika saat berfantasi liar melihat wajah dan bentuk tubuhnya Samudera yang seksi dan berotot pastinya.
"Ma-af a-ku ta-di…" perkataannya Mita terpotong karena tangannya sudah ditarik oleh Aza untuk menyusul yang lainnya.
Zameera sesaat menoleh ke arah Samudera yang hanya terdiam mematung di tempatnya. Samudra langsung tersenyum manis ke arah Aza. Dia tersenyum agar memberikan kesan pertama yang bagus untuk Zahra saat itu juga.
Kedatangan Sam samudey ke kampus itu adalah bertujuan ingin berbicara dengan beberapa petinggi Klkampus. Karena Samudera termasuk salah satu penyumbang dan pemegang saham tertinggi di Kampus swasta itu. Kampus tersebut masuk lima besar terbaik se Indonesia.
Samudra segera berjalan ke ruangan khusus pemilik kampus. Dia masih kepikiran dengan sosok gadis yang sangat mirip dengan istrinya yang sudah lebih dari beberapa bulan yang lalu menghilang dan sampai detik itu juga belum ditemukan keberadaannya.
Semua anak buah terbaiknya, detektif serta pihak kepolisian mencari keberadaannya tapi, hingga detik itu juga belum diketahui apa masih hidup atau tidak.
"Seingat aku, Sea itu memiliki tanda lahir di tengah punggungnya kalau dia memiliki tanda itu pasti ia jelas-jelas adalah sebuah milikku seorang," lirihnya Samudera.
"Maaf Pak, tadi Bapak bicara apa?" Pak Januar selaku pemilik Kampus tidak sengaja mendengar perkataan lirih dari Sam.
__ADS_1
"Ehhh maaf aku tidak bicara apa-apa kok Pak, silahkan dilanjutkan pembahasannya," ujarnya Sam yang tersenyum tipis.
Meeting yang mereka lakukan cukup berjalan alot. Mereka mencari kesepakatan bersama hingga mereka memutuskan untuk terus bekerja sama hingga 10 tahun kedepan, sedangkan di dalam kantin kampus cukup ramai.
Semua perempuan mahasiswi itu bergantian menghayalkan sosok pria yang cukup ganteng dengan postur tubuh yang tinggi dan atletis. Kulit putih mulus khas Indonesia pribumi. Hidung yang tidak terlalu mancung seiras dengan bentuk dan kontur wajahnya.
"Mia, kalau menurut kamu pria yang menolong aku tadi ganteng gak?" Mery menatap ke arah Lili yang duduk di depan kursinya.
Mia memainkan sedotan minumannya sembari mengingat kembali kejadian itu terutama dengan wajahnya Samudera.
"Kalau menurut aku sih 95 % hampir sempurna," balasnya dengan tersenyum bahagia jika mengingat kejadian itu yang terjadi beberapa menit yang lalu.
"Betul sekali apa yang kamu katakan Lili, aku pun berpikiran seperti itu,bahkan jika dibandingkan dengan cowok tertampan yang ada di Indonesia,ia yang paling ganteng menurut Aku," terangnya Hesti yang ikut bergabung dengan pembahasan teman satu gengnya.
Arlando yang mendengar berbagai pujian yang dilayangkan oleh ketiga perempuan itu membuat telinganya panas mendidih dan raut wajahnya yang sudah memerah menahan rasa marahnya.
"Kalian terlalu memuji, bagiku semua yang ada padanya kelihatan biasa-biasa saja, gak ada yang lebih dan istimewa dari pria itu," cerca Arlan yang sangat tidak menyukai jika mereka memuja Samudera.
"Wajarlah kamu ngomong gitu,karena kamu itu pria sama-sama pakai tongkat, coba kamu adalah perempuan pasti akan mengatakan hal yang sama dengan perkataan kami," timpal Meryana lagi dengan sedikit bergurau.
"Betul sekali perkataanmu itu, dan sepertinya bakal akan ada yang punya saingan yang cukup berat dan seimbang," pungkasnya Rimah sembari menatap ke arahnya Arlan yang menikmati makanannya.
Yang lain mengiyakan penjelasannya Hesti lalu bersamaan mengalihkan pandangannya ke arah Arlan. Lalu mereka sama-sama tersenyum menanggapi candaan dari Hesty.
Sedang Zahra menyantap makanannya tetapi, pikirannya tertuju pada Pria yang menolongnya. Dia merasa mengenal pria itu dan sangat dekat tapi, dia tidak ingat kapan dia mengenali penolongnya.
"Ya Allah... kenapa ada rasa rindu yang sangat saat menatap ke dalam kedua bola matanya," Zameera Azzahrah membatin sambil mengaduk makanannya yang sama sekali belum menyentuh sedikit pun juga.
__ADS_1
Arlando yang melirik ke gadis yang selama ini dia diam-diam suka terdiam dan seperti sedang memikirkan sesuatu membuatnya sedikit kesal dan cemburu.
"Kenapa aku merasa Zameera tertarik pada pria yang menolongnya tadi? tapi, moga saja itu hanya feeling dan perasaan aku semata tidak bakal jadi kenyataan," Arlando ikut membatin seketika itu.