Love Story Ocean Seana

Love Story Ocean Seana
Bab. 18


__ADS_3

"Sudah bahas itunya, mari makan dulu, sepertinya saya kelaparan setelah tertawa," Ibu Linda ikut menambahi perkataan dari yang lainnya.


Sea semakin dibuat penasaran dan menatap mereka dengan wajah yang keheranan. Dia wajar bersikap seperti itu mengingat usianya yang masih muda dan selama ini minim pemahaman lebih lagi pengalaman.


Ayam berkokok milik tetangga sudah berkokok saling bersahutan, angin yang bertiup cukup kencang pagi itu membuat air bergelombang tinggi. Deburan ombak yang menerpa bibir pantai membuat suara khas dipagi itu.


Daun pohon kelapa melambai-lambai seakan-akan memanggil semua orang yang masih terlelap dalam tidurnya untuk segera bangun dan kembali untuk menjalankan aktifitasnya. Sudah hampir sebulan ini, Seana tidak pernah kembali bekerja di tempat pelelangan ikan seperti hari biasanya.


Hal itu dikarenakan masalah yang mengharuskannya untuk berhenti beberapa hari, apa lagi setelah dirinya akan menikah. Sea agak enggan untuk bangun dari tidurnya karena cuaca pagi itu sangat dingin, dia kembali menyelimuti dirinya di dalam sarungnya setelah melaksanakan shalat subuh tadi.


"Kenapa setiap hari cuacanya semakin dingin saja yah, apa karena sudah berada di penghujung bulan juli," gumamnya sambil melihat ke arah langit-langit rumahnya yang terbuat dari plastik itu.


"Apa ini jalan yang terbaik aku lakukan adalah menikahi pria yang sama sekali aku tidak cintai? Sedangkan di dalam hatiku masih ada nama seseorang yang entah sampai kapan namanya bertahta merajai perasaanku?" Sea kembali teringat pada masa indahnya bersama dengan mantan kekasihnya yaitu Willy anak dari Pak Ardiansyah selaku kepala desa setempat.


Lamunannya buyar seketika saat pintunya tiba-tiba diketuk oleh seseorang dari arah luar. Awalnya dia tidak ingin menggubris dan peduli dengan ketukan tersebut. Tapi, semakin lama ketukan di pintunya semakin menjadi saja.


"Azalina, bangun Nak, apa kamu lupa kalau hari ini adalah hari akad nikahmu?" Ucap orang yang berada di depan pintu.


"Sepertinya itu paman Aksa, dari suaranya sudah mengatakan hal tersebut," ucapnya lalu menyibak selimut dan sarungnya lalu berjalan ke arah pintu dengan langkah gontainya.


"Aza bangun Nak, gak baik kalau terlalu lama tidur apa lagi hari ini kamu akan menikah," jelasnya Pak Aksa kakak satu-satunya yang dimiliki oleh mendiang ibunya Seana.


"Tunggu Paman!!" Teriaknya Sea yang tersentak kaget dari tempat tidurnya.


Seana buru-buru menyibak selimutnya lalu segera berjalan ke arah pintu tanpa berniat untuk membersihkan wajahnya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Tunggu sebentar Paman, aku akan membuka pintunya," teriaknya dari dalam rumahnya.


Pintu sudah terbuka lebar, masuklah Pak Aksa lalu duduk di kursinya Sea yang semua kayunya sudah hampir lapuk itu bahkan warna catnya saja sudah pudar hingga tidak bisa dikenali warnanya.


"Sini duduk di sampingnya Paman," ucapnya dengan menepuk pelan kursi yang ada di dekatnya.


Seana segera menuruti perintah dari pamannya. Kemudian duduk dan menatap Pamannya sembari menunggu kira-kira apa yang akan disampaikan oleh pamannya tersebut.


Pak Aksa kemudian mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna cokelat ke atas meja. Sea yang melihat benda itu tidak mengerti dengan apa isi dan maksud Pamannya memperlihatkan ke hadapannya. Ia pun keheranan dan menatap pamannya dengan raut wajah yang kebingungan.


"Sea, ini adalah kotak perhiasan emas peninggalan ibumu Nak, Paman sudah cukup lama menyimpannya sesuai dengan amanah dari ibumu 15 tahun lalu dan hari ini adalah waktu yang paling tepat untuk Paman berikan kepadamu," terang Pak Aksa.


Seana segera mengambil kotak tersebut lalu membukanya hingga matanya berkilauan terkena paparan cahaya dari cincin itu yang kebetulan terkena cahaya sinar matahari kala itu yang melalui celah jendelanya. Dia takjub dan terpesona melihat cincin emas yang bertahtakan permata ruby yang sangat kecil.


"Ini adalah cincin kawin pernikahan ibumu sewaktu mereka menikah, dan sebelum meninggal dunia ibumu berpesan dan memberikan amanah kepada Paman untuk menyimpannya sementara waktu dan akan memberikan cincin ini kepadamu saat kamu akan menikah dan hari ini adalah hari kamu akan menikah," jelas Pak Aksa dengan panjang lebar.


"Kamu akan memulai hidup baru, Paman berharap dan meminta tolong sama kamu tolong lupakan masa lalu dan jangan pernah mengungkit apa pun yang telah terjadi diantara kalian," ujar Pamannya.


Seana masih saja menangis tersedu-sedu mengingat kedua orang tuanya. Bapaknya pun meninggal saat dia masih berusia balita sedangkan ibunya ketika umurnya berusia lima belas tahun lebih. Kenangan demi kenangan terlintas di dalam benaknya.


"Pakailah nak, karena itu adalah milikmu dan identitasmu nanti kedepannya bahwa kamu adalah putri tunggal dari Ferry dan Marina," lirihnya yang membantu Seaina untuk memakai cincin tersebut.


Seana mengulurkan jari manisnya ke hadapan Pamannya tapi langsung dicegah oleh Pak Heru,"jangan jari yang itu Nak, karena itu khusus untuk calon suamimu nantinya jika kalian sudah menikah."


Seana sangat bersyukur dengan pemberian amanah dari ibunya yang disampaikan oleh pamannya sendiri.

__ADS_1


"Suatu saat nanti, Bapakmu pasti akan datang mencarimu," Pak Aksa membatin.


ΩΩΩΩΩΩΩΩ


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kekuatan Cinta


Baby Sitter Pilihan



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..

__ADS_1


Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...


I love you all Readers…


__ADS_2