Love Story Ocean Seana

Love Story Ocean Seana
Bab. 39


__ADS_3

"Perawat ambil suntikan lalu isi dengan obat itu," perintah Dokter.


Perawat itu segera melaksanakan perintah dari dokter. Tapi, Sam terus meronta-ronta dan meringis menahan sakitnya. Setelah disuntik dengan obat, Sam perlahan sudah bisa tenang dan tidak merasakan nyeri yang tidak tertahankan lagi di kepalanya.


"Syukur Alhamdulillah, mungkin obatnya sudah bereaksi hingga dia lebih tenang dari sebelumnya," ujar Pak Ardi.


"Apa ada yang menggangu pasien atau ada yang memaksanya untuk mengingat kejadian di masa lalunya?" Tanya Dokter dengan penuh selidik kemudian menatap satu persatu dari orang yang kebetulan ada di dalam sana.


Pak Ardiansyah menatap ke arah Pak Dokter, "Tidak ada Dok, tadi saya baru berencana untuk bertanya tentang siapa namanya tapi aku belum bicara sepatah kata pun dia langsung berteriak dan mengeluh kesakitan," terangnya yang sedikit lega disaat Samudera sudah tertidur.


"Kita bicara di ruanganku saja Pak, ada sesuatu hal yang penting ingin saya katakan pada Bapak," pinta Dokter kepada Pak Ardiansyah.


"Baik dokter, Pak Toni tolong jaga-jaga di sini selama saya pergi," tuturnya seraya menatap dengan penuh iba ke arah Sultan yang terlelap dalam tidurnya.


Pak Ardi sudah duduk di depan Dokter yang menangani pengobatan Samudera. Dia harap-harap cemas dengan kondisi kesehatan dari calon suaminya Seana tersebut. Mereka berharap kondisi dari Sam baik-baik saja dan segera pulih dan sembuh total seperti sedia kala.


Pak Dokter tersenyum sebelum menjelaskan semuanya, "Begini pak, dia akan mengalami kesakitan seperti itu lagi jika dia berusaha keras untuk mengingat masa lalunya atau ada yang bertanya dan memaksanya untuk mengingat hal tersebut," ungkap dokter.


Pak Ardiansyah menatap intens Pak Dokter bergantian dengan Sam yang mulai nampak tenang, "Jadi apa yang harus saya lakukan dokter?" Tanyanya yang menatap penuh harap ke arah Ibu Dokter.


"Tolong jangan ada yang mengungkit apa pun itu yang mengenai dengan masa lalunya dan rajin terapi serta harus rutin minum obat insya Allah, dia akan segera sembuh," balas Dokter sembari mengulurkan kertas yang berisi resep obat.


"Makasih banyak Bu dokter, kalau gitu saya permisi dulu Bu," ucapnya lalu berjalan ke arah Apotik untuk menebus resep obat yang diberikan oleh Dokter.


Sedangkan Vanesa sudah hampir sepuluh hari tidak keluar rumah. Bahkan dia sudah tidak bekerja di tempat pelelangan ikan lagi. Dia hanya keluar masuk rumahnya. Seperti sore ini, dia duduk di balai-balai rumahnya yang langsung berhadapan dengan Pantai.


Rambutnya yang panjang beterbangan di bawah angin. Dia menerawang jauh sebelum masalah besar menimpanya. Pandangan matanya kosong.

__ADS_1


Dia tidak bosan-bosannya memandangi indahnya sunset dikala itu. Ingatannya kembali saat dia akan berpisah dengan tunangannya


Mereka duduk di pinggir pantai waktu itu, Seana yang duduk di atas ayunan sedangkan Willy berdiri di belakangnya sambil sesekali mendoromg ayunan.


"Sea.. besok Abang akan ke Ibu Kota untuk melanjutkan sekolah Abang, kamu tidak apa-apa kan kalau aku tinggal empat tahun?" Tanyanya yang tangannya tidak berhenti mendorong ayunan pacarnya.


Seana menolehkan kepalanya ke arah Willy sembari berkata, "insya Allah.. aku akan baik-baik saja Abang, aku hanya berharap sesampainya di sana jangan pernah lupakan Seana," jawabnya dengan sesekali berteriak jika kakinya yang polos itu terkena air gelombang pasang dari laut.


Willy berlutut di hadapan Seana yang duduk di atas ayunan rotan, dia memegang ke dua tangannya Seana lalu berkata, "Abang meminta sama kamu, tolong jaga selalu hatimu dan bersabarlah untuk selalu menunggu kedatangan Abang."


Sea menganggukkan kepalanya, dan tetesan air matanya perlahan menetes membasahi pipinya. Dia sedih dan takut tapi, demi cita-cita dan masa depannya bersama Willy dengan berat hati dia harus berusaha untuk mengikhlaskan kepergian pacarnya itu untuk menuntut ilmu di Ibu Kota demi masa depannya.


Willy kemudian merogoh saku celananya dan mengambil sebuah cincin emas yang beberapa hari lalu berhasil dia beli dari hasil tabungannya sendiri. Willy meraih tangan kirinya Seana lalu menyematkan cincin emas tersebut ke dalam jari manisnya perempuan yang sangat dicintainya.


Seana semakin menangis tersedu-sedu dan ada rasa takut yang terbesit di dalam hatinya jika dia tidak akan bersatu seperti dulu lagi. Willy berdiri lalu perlahan memajukan wajahnya ke arah Seana. Mereka berciuman sepintas layaknya anak-anak remaja yang belum tahu apa pun.


"Abang, maafkan aku," gumamnya Seana dengan sesekali menyeka air matanya yang sudah menetes membasahi pipinya.


Dia menekuk lalu memeluk kakinya dengan kuat, air matanya terus menetes membasahi wajahnya. Hingga teriakan dari seseorang yang membuatnya mengakhiri lamunannya.


"Seana!!!!" Teriak seseorang.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


 


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:

__ADS_1



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kekuatan Cinta


Baby Sitter Pilihan



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...


Tetap dukung LSOS dengan cara:


Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.


I love you all Readers…

__ADS_1


__ADS_2