Love Story Ocean Seana

Love Story Ocean Seana
Bab. 44


__ADS_3

"Ya Allah… kenapa hati ini tidak rela jika Seana tidak menikah dengan Willy puteraku," batinnya Pak Ardiansyah.


Pandangan matanya Pak Ardiyansyah berubah sendu dan memikirkan nasib putra sulungnya.


"Bagaimana pun juga, aku yang mengusulkan kepada mereka dan lagian ini jalan-jalan satu-satunya yang bisa ditempuh dalam menyelesaikan permasalahannya Seana dengan Samudera," Pak Ardiansyah membatin.


"Maaf Pak, katanya Pak Dodi, Bapak memanggil saya untuk datang ke sini?" Tanyanya Sea yang sudah berdiri di tengah-tengah mereka yang menatap intens ke arah Pak Ardiansyah yang tiba-tiba terdiam tak bergeming sedikitpun di tempat duduknya.


Pak Ardiansyah melirik sekilas ke arah Sam sebelum menjawab pertanyaan dari Seana, "Oh iya benar sekali Nak, Bapak Ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting dan hari ini menurut bapak adalah waktu yang paling tepat," ungkap Pak Ardi.


Seana duduk di atas tikar karpet merah yang sudah tersedia lalu duduk saling berhadapan dengan Pak Ardiansyah dan yang lainnya, "Kira-kira apa yang ingin Bapak sampaikan kepadaku?" Tanyanya yang sedikit salah tingkah karena terus ditatap oleh Sam.


"Begini tadi pagi, ada orang yang menemukan sebuah tas yang diyakini tas itu milik Sam, dan sayangnya beberapa bukti identitasnya sudah rusak dan hanya ini yang jelas terlihat dan bisa kita baca," terang Pak Ardi lalu menyodorkan sebuah tas lusuh dan sebuah paspor, ktp yang masih bisa mereka baca.


Seana mengulurkan tangannya untuk mengambil paspor tersebut lalu membacanya dan tepat di tulisan nama pemilik KTP tidak bisa terbaca sedangkan yang lainnya masih jelas, umur, jenis kelamin, status,alamat rumah hanya itu saja sedangkan paspor sudah rusak parah.


"Dan di KTP itu tertulis namanya Ocean Samudera Dirgantara dan hanya tulisan itu yang mampu kami baca, mungkin karena pengaruh sapuan air gelombang dan terjangan ombak sehingga banyak kartu identitasnya yang rusak," jelasnya Pak Rusman yang mengingat saat pertama kali menemukan barang bukti milik Sam.


"Apa!! umurnya sudah 27 tahun, sudah tua rupanya." Gumamnya yang untungnya tidak terdengar hingga ke telinga yang lainnya.


"Berarti kita semua sudah tahu namanya siapa dan mulai hari ini panggil dia dengan sebutan Sam saja lebih pendek dan tidak ribet jika Sam disapa," gurau Pak Rudi.


"Jadi kami sudah memutuskan untuk menikahkan kalian hari jumat lusa dan kebetulan kami sudah mengurus untuk membuat identitas baru untuk anak Sam," ujarnya Pak Ardi yang tersenyum simpul.


"Apa!!! hari Jumat," pekiknya Seana yang terkejut mendengar penuturan dari pak Ardi.

__ADS_1


Mereka kembali menatap ke arah Seana yang membuat mereka tercengang dengan reaksi dari Sea yang menurut mereka berlebihan. Menurut mereka biasanya orang yang akan menikah itu kegirangan dan bahagia karena akan menikah tapi bagi Sea dikit-dikit shock.


"Apa terlalu lama Nak? Atau kamu ingin memajukan hari dan tanggalnya?" Tanyanya Pak Toni yang kebetulan juga ada di ruangan itu.


Seana dibuat kembali salah tingkah karena kembali bereaksi heboh,dia cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Anak ingusan yang akan menjadi istriku, apa ini tidak salah?" Sam membatin melihat tingkah lakunya Seana yang seperti remaja labil lainnya di matanya.


"Kami memutuskan untuk memilih hari Jumat kebetulan pamanmu akan kembali malam jumatnya jadi sebaiknya jangan ditunda-tunda lagi hal yang baik," tutur Pak Toni yang ikut berbicara.


"Benar sekali apa yang dijelaskan oleh pak Toni, jadi paman harap kamu bersiap dan terima semua keputusan ini dan mungkin seperti ini lah takdirmu nak," timpal Pak Ardi memegang tangan Sea dengan penuh kasih sayang.


Sedangkan Seana hanya terdiam dan menundukkan kepalanya sambil menggulung ujung tikar yang mereka duduki bersama. Suasana semakin lengkap, karena ditemani oleh beberapa cemilan dan minuman menemani perbincangan hangatnya.


"Ya Allah…. Semoga keputusan dan pilihanku kali ini benar dan baik untuk hubungan kami kedepannya." Sea membatin.


Ibu Mina mengelus rambut panjang sebahu milik Seana, dia salah satu tetangganya sekaligus orang yang biasa menggendongnya sewaktu dia masih kecil. Mereka terdiam menunggu jawaban dari Sea, sedangkan yang ditunggu-tunggu sibuk dengan pemikirannya dengan jawaban yang akan dipilihnya. Wajahnya Willy terbayang-bayang di pelupuk ujung matanya.


Dia kembali teringat saat di hadapan pamannya, Willy dengan gagah berani melamarnya dan melingkarkan cincin tunangan di jari manisnya. Air matanya perlahan menetes tanpa aba-aba dia refleks menghapus jejak air matanya diam-diam, ia tidak ingin ada yang melihat kesedihan dan duka laranya.


"Maafkan aku Abang, semua ini aku lakukan demi ketenangan masyarakat yang sudah mengira aku gadis yang tidak baik, semoga Abang menerima kenyataan ini dan menghargai keputusanku," lirihnya Seana yang sesekali menyeka air matanya itu.


"Bagaimana Nak Seana, apa kamu bersedia menikah dengan Sam?" Tanyanya Ibu Mina lagi yang menatap intens dan tajam ke arah Seana yang tiba-tiba terdiam seperti patung manekin saja.


 

__ADS_1


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kekuatan Cinta


Baby Sitter Pilihan



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...


Tetap dukung LSOS dengan cara:

__ADS_1


Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.


I love you all Readers…


__ADS_2