
"Kami kesini hanya akan menyampaikan jika, tidak lama lah lagi Willy mantan tunanganmu itu akan kembali dari kota dan saya akan menjodohkan Anjani dengan Willy anaknya Pak desa Ardiansyah, jadi Bibi harap kamu merestui niat baik kami ini," jelas Ibu Lina panjang lebar dengan senyuman liciknya.
Raut wajah Sea spontan langsung berubah drastis setelah mendengar penjelasan dari bibinya. Sea sangat sedih mendengar kenyataan itu. Pria yang selama ini menjadi kekasih sekaligus tunangannya akan menikah dengan kakak sepupunya sendiri. Sam sedari tadi, diam-diam memperhatikan perubahan mimik wajahnya Sea dari tempatnya.
"Ya Allah... pasti itu tidak mungkin terjadi, Abang Willy aku yakin masih mencintaiku jadi tidak mungkin ia akan menikah dengan wanita lain." Gumam Sea dengan langkahnya sedikit goyah ke arah belakang.
Ibu Lina dan putrinya tersenyum licik dan penuh kemenangan melihat kondisi Sea yang berhasil mereka provokasi dan masuk jebakan kelicikan dan kemunafikan mereka. Padahal kenyataannya Willy dan keluarganya sama sekali tidak tahu dan tidak akan menikahkan anak mereka dengan Anjani.
Satu minggu kemudian, Dokter Juanda sudah memberikan ijin kepada Sam untuk segera pulang dan hanya berobat jalan saja. Dengan penuh perhatian Sea membantu Sam ke atas kursi roda.
"Hati-hati yah Bang," ucap Sea.
Sam hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari istrinya yang sudah dinikahi hampir tiga minggu itu.
"Abang apa sudah nyaman duduk seperti ini?" Tanyanya yang memeriksa posisi duduknya Sam dengan teliti dan seksama.
"Alhamdulillah sudah baik kok," jawabnya Sam singkat.
Sea pun mendorong kursi rodanya Sam hingga ke bagian depan rumah sakit. Seana sudah memesan sebelumnya bentor yang akan mengantar Raja hingga ke rumahnya.
"Maaf yah bang, harus nunggu lama, soalnya aku urus surat-surat kepulangan suamiku dulu," tuturnya Sea yang meminta maaf kepada Pak supir bentor saat sudah berada di depan tukang becak motor.
Bapak bentor itu segera bangun dari duduknya,lalu berjalan ke arah depan untuk membersihkan kursi penumpangnya sambil menjawab,"Ohh tidak apa-apa kok Nak, Bapak juga baru nyampe semenit yang lalu," jawab Pak Udin.
"Abang pulangnya sama Bapak Udin saja yah, aku bawa sepeda soalnya kalau gak dipake pulang, jadi susah kalau harus kembali ke sini lagi," ujarnya lalu mengangkat sedikit tubuhnya Sam untuk naik ke atas bentor.
Karena Pak Udin terlambat membantu, Seana terjatuh ke atas tubuh suaminya yang kembali terduduk di kursi rodanya. Tangannya Sea tanpa sengaja menekan dadanya Samudera sedangkan bibirnya yang mungil dan tipis itu menyentuh bibir seksi dan kenyal milik Samudra.
__ADS_1
Mata mereka saling memandang satu sama lainnya. Mereka sama-sama tidak berkedip dan tidak menyangka gara-gara injakan kakinya pada batu yang tidak sengaja dia injak membuat kakinya tergelincir hingga tubuhnya yang berusaha mengangkat Sam tidak seimbang.
Mereka berada dalam posisi itu hingga beberapa saat lamanya. Pak Udin yang kebetulan melihat sama sekali tidak ingin mengganggu aktifitas yang mereka lakukan. Baginya itu hal wajar bagi dua pasang pengantin baru dan ada niat untuk menghentikannya.
Beliau hanya tersenyum menanggapi apa yang mereka lakukan. Suara intrupsi dari seseorang mampu membuat mereka memutuskan dan mengakhiri apa yang telanjur terjadi.
Wajahnya marah menahan gejolak amarahnya yang menggebu ia atur sedemikian rupa agar tidak ketahuan dan terlihat jelas, "Apa Abang Ocean sudah mau pulang?" tanyanya dengan senyuman termanisnya di hadapan Sam yang penuh dengan kemunafikan.
"Iya, Alhamdulillah Dokter sudah mengijinkan aku untuk pulang karena katanya sudah sehat dari sebelumnya," jawabnya lagi dengan wajah santai.
Perempuan itu melihat ke arah bentor yang terparkir di depannya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Seana dari ujung kaki hingga ujung rambutnya seraya tersenyum penuh maksud.
"Kalau Abang tidak keberatan, biarkan Wina saja yang antarin Abang hingga ke depan rumahnya," tutur Wina yang terus memaksa menawarkan bantuannya.
Sam menatap ke arah Sea yang hanya terdiam saja tanpa ada reaksi yang bagaimana darinya. Dia terdiam dan menatap ke arah mereka berdua. Sam yang melihat tidak ada tanggapan apa pun dari Seana sedikit kecewa karena menurutnya Seana acuh tak acuh dan cuek jika dirinya berdekatan dengan seorang perempuan lain.
"Baiklah, kalau kamu tidak keberatan," tutur Sam yang pasrah tapi mimik wajahnya seolah ia sama sekali tidak keberatan dan mempermasalahkannya padahal dalam hatinya tidak suka dan marah.
"Maaf yah Pak, kebetulan teman saya ini tidak jadi naik bentor bapak, ini ada sedikit uang sebagai ganti rugi Bapak yang sudah capek-capek tapi dibatalkan," ujarnya Wina sambil mengulurkan tangannya ke arah Pak Udin.
Mang Udin tertawa cengengesan," tidak apa-apa kok Mbak, itu hal yang biasa terjadi kok," pungkasnya Pak Udin.
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
__ADS_1
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Tetanggaku Idola Suamiku
Cinta pertama
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
Tetap dukung LSOS dengan cara:
Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.
__ADS_1
I love you all Readers…