
"Kenapa juga bala bantuan lama sekali datangnya?" Lirihnya Pak Heru yang masih terduduk karena punggungnya sakit.
Sedangkan Pak Doni dan Pak Toni pun sudah menyerah menghadapi Bu Widya yang semakin menjadi saja. Tubuh mereka cukup kalah besar dengan Bu Widya yang tubuhnya sebesar karung goni itu.
"Ya Allah… berilah hidayah kepada istri hamba, aku tidak tega melihat keponakanku menderita ya Allah…," batinnya Pak Heru.
Pria yang sudah berbaring di atas kursi itu melihat semua yang dilakukan oleh Ibu Widya terhadap penolongnya. Awalnya sudah pingsan tapi, tiba-tiba tersadar kembali dan menjadi saksi kekejaman dari Bu Widya yang hati nuraninya sudah tertutupi amarah dan rasa benci saja.
Dia ingin menolong gadis itu, tapi berbicara saja sangat sulit apalagi untuk bangun dari tidurnya. Hanya matanya yang sedari tadi mengamati semua yang dilakukan oleh orang-orang. Ibu Widya kembali maju ke hadapan Sea yang terduduk di atas lantai. Orang-orang yang melihatnya segera menghalau tubuh ibu Widya untuk mengehentikan kekejamannya Bu Widya di atas tubuhnya Seana..
"Kamu benar-benar pembawa sial, selalu saja membuat masalah, apa kamu sudah melupakan semuanya? gara-gara ulahmu dulu, bapak dan ibumu harus meninggal dunia," maki Ibu Widya yang mengungkit masa lalu beberapa tahun silam itu.
Ibu Sea menunjuk tepat ke keningnya dengan sedikit dorongan, hingga tubuhnya Azalina terdorong ke belakang terbentur dengan tembok. Mereka bukannya hanya tinggal diam dan berpangku tangan saja, tetapi mereka sudah berusaha untuk menahan tubuh ibu Widya.
Bu Salamah sudah melapor kepada pihak yang berwajib sedang Pak Toni mencari keberadaan Pak kepala desa setempat. Tetapi, ibu Widya masih bisa menghajar dan memukuli Sea dengan membabi buta.
"Aaahhhh sakit!!" Keluh Seanaa yang kembali menerima siksaan dari keluarganya sendiri ia tetap berusaha agar dirinya terhindar dari amukan pukulan dari Bu Widya dengan sekuat tenaga.
Ibu Widya berjalan ke arah Seana yang terduduk di atas lantai. Dengan langkah kaki yang perlahan tapi pasti. Dia mendekati Sea lalu berjongkok di hadapannya yang memundurkan tubuhnya karena untuk jaga-jaga agar dia tidak kembali dipukuli.
"Ya Allah hentikanlah aksi dan penyiksaan yang dilakukan oleh Bibi, ampunilah bibiku ya Allah, sadarkan segera dia," batinnya Seana.
Tetapi, Bu Widya tersenyum licik ke arah Sea lalu membisikkan kata-kata yang membuat Seaina tidak percaya.
"Aku sangat bahagia melihat kamu seperti ini, kalau kamu ingin terbebas dari penyiksaanku makanya tinggalkan Desa ini untuk selamanya dan berikan semua sertifikat tanah dan rumah ke dua orang tuamu," dia memperhatikan sekitarnya sebelum berdiri.
__ADS_1
Seana memandang wajah Ibu Widya dengan penuh amarah. Kilatan kemarahan terpancar dari kedua matanya, tangannya mengepal kuat hingga urat-uratnya nampak dengan jelas. Ibu Widya memulai aktingnya setelah melihat kepala desanya sudah berjalan ke arahnya.
Bu Widya segera beraksi untuk berakting berpura-pura kalau dia lah diposisi yang tersakiti. Apa lagi sudut ekor matanya melihat ada beberapa polisi yang berseragam lengkap berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Seana kasihanilah Bibi, apa kesalahan bibi sama Kamu nak, hingga Kamu dengan tega mempermalukan bibi di hadapan orang-orang," ratapnya yang sudah duduk di kursi.
Air matanya benar-benar sangat nyata, dia tidak berhenti menangis tersedu-sedu dan meracau tidak jelas. Bu Widya menjalankan rencana liciknya dengan sangat baik.
"Sea, Bibi mohon jujurlah pada kami semua, apa yang Kamu lakukan sebenarnya dengan pria itu?" Tanyanya sembari menunjuk ke arah pria yang terbaring.
Ibu Widya pura-pura menangis tersedu-sedu padahal dalam hatinya sangat bahagia," aku harus pinter memutar balikkan fakta dan kenyataan yang terjadi sebenarnya disini, apa lagi tukang bohong besar sehingga sangat lihai memerankan perannya.
Pak Doni dibuat terperangah dengan reaksi tidak wajar dan masuk akal yang ditujukkan oleh Bu Widya," aku sangat heran kok bisa ada yah di dunia ini orang semacam dia?" Cicignyy pak Doni.
Pak Rusman yang masih berada di dalam ruangan itu menatap jengah dan tidak percaya melihat apa yang dilakukan oleh Bu Widya.
Pak Desa yang baru saja datang menyaksikan langsung akting dari Ibu Widya. Pak Rusman dan Pak Doni terkejut melihat reaksi dari Bu Widya. Mereka hanya menggelengkan kepalanya melihat kebohongan yang diciptakan oleh Bu Widya.
Pak Desa mengedarkan pandangannya dan tertuju pada Azalina yang sudah nampak sangat kacau dan menyedihkan. Pak Ardiansyah sama sekali tidak peduli dengan raungan dan tangisan air mata buayanya Bu Widya. Hingga matanya menangkap sosok pria yang terbaring lemah di atas kursi.
"Ibu Widya saya mohon hentikan tangisannya, sebaiknya kita selesaikan semua masalah ini dengan kepala dingin, jangan main hakim sendiri, apa Ibu ingin berurusan dengan polisi?" Sarkas Pak Desa yang sudah mengetahui apa yang terjadi di dalam ruangan itu.
Pak Desa sudah mendengar laporan dari beberapa warga dan juga asistennya tentang perlakuan kasar Ibu Widya terhadap Sea. Ibu Widya langsung terdiam saat mendengar perkataan dari Pak Ardi selaku kepala Desa di Desa S.
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
__ADS_1
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
Tetap dukung LSOS dengan cara:
Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.
__ADS_1
I love you all Readers…