Love Story Ocean Seana

Love Story Ocean Seana
Bab. 78


__ADS_3

Mereka berpelukan satu sama lain sambil bermain air dan sesekali berenang ke dalam air. Mereka melakukannya berulang-ulang hingga tengah hari.


"Nikmatilah semuanya sebelum aku memulai rencanaku yang hanya menunggu waktu yang tepat saja, dan jika waktu itu tiba maka bersiaplah Seana!!" Geramnya sambil menggenggam tangannya dengan begitu kuatnya.


Orang itu duduk dibalik kemudi mobilnya yang tiba-tiba menghentikan laju mobilnya saat melihat kebersamaan Sea dan Sam yang saling bercanda di dalam air sedari tadi jadi saksi bisu dan pengamat saja dari jauh.


Kedekatan yang terjalin antara pasangan suami istri yaitu Ocean Samudera Dirgantara Mandala Renon dengan Seana Almairah Afrizal Prayoga masih seperti sedia kala belum ada tanda-tanda akan belah duren.


Hari terus berlalu, minggu berganti bulan dan tidak terasa pernikahan Sam dengan Sea sudah memasuki bulan ke lima. Tapi, hingga detik itu juga Sam belum berani untuk meminta haknya sebagai seorang suami.


"Suatu saat nanti aku akan meminta hakku jika aku sudah yakin dan memantapkan hati ini hanya untuk istriku seorang dan tujuanku sudah tercapai," bathin Sam.


Bukannya tidak ada kemauan atau niat, tapi Raja ingin melakukannya bersama dengan istrinya jika di dalam hati dan pikirannya Sea hanya untuk dia seorang. Sam adalah pria normal yang pasti menginginkan hal itu, tapi ia terus menjaga dan mengontrol dirinya untuk tidak selalu berfikiran kearah itu.


Setiap hari Sam membantu Sea untuk mengantar keranjang ikan dari nelayan ke tempat pelelangan. Samudra dengan senang hati melakukannya tanpa terbebani sedikitpun, padahal sewaktu dia tinggal di Jakarta, sekalipun semasa hidupnya bekerja kasar. Ini adalah pengalaman pertamanya harus berpanas-panasan di bawah teriknya sinar matahari langsung dan juga harus mengangkat beban yang sangat berat.


Samudera setiap paginya membonceng Sea berangkat kerja. Bahkan dari kerja kerasnya itu, Sea sudah berhasil menabung dan mulai membuka toko kelontong di depan rumahnya.


Walaupun terbilang kecil, tapi cukup ramai didatangi oleh pembeli. Sea merasa cukup bahagia, karena sudah tidak lagi bekerja di tempat pelelangan ikan melainkan Sam yang menggantikan posisinya itu.


"Alhamdulillah… hari ini aku bisa melaksanakan dan mengerjakan rencana dan impianku selama ini," batinnya Sea.


Sore itu, Sam yang duduk di balai-balai belakang rumahnya sambil menikmati seduhan teh hijau buatan dari istrinya ditemani dengan sepiring gorengan pisang dan bakwan beserta kawan-kawannya. Dia memikirkan terus perkataan dari sahabatnya Juanda yang mengatakan, jika Selena semakin menjadi saja setelah melahirkan dan memalsukan hasil tes DNA jika, anak yang dilahirkannya adalah putranya.


Juanda sudah mewanti-wanti Sam untuk segera kembali ke kota besar untuk membalas dan merebut kembali semua harta dan perusahaan-perusahaan yang diambil alih oleh Marcel dan Selena. Tujuan utamanya juga untuk menemukan dan mencari keberadaan maminya dengan adiknya.

__ADS_1


"Apa aku meminta ijin saja kepada Sea untuk kembali ke kota? Tapi, kira-kira jawaban dan tanggapannya gimana yah?" Gumamnya Sam yang timbul rasa ragu dalam benaknya.


Samudraa bimbang dan dilema memikirkan semua itu, dia menimbang semua perkataan dari Juanda beberapa hari yang lalu saat datang berkunjung ke rumahnya membawa banyak barang kebutuhannya termasuk obat-obatan dan dua buah hp yang bisa dia pakai.


"Aku harus segera kembali, insya Allah Sea akan aman dan bisa jaga diri saat aku tinggal dan kalau semakin mengulur waktu tidak kembali kasihan Mama Ingrid dan Riana," lirihnya yang sesekali menyesap teh kesukaannya itu.


Seaa yang tidak sengaja berjalan ke arahnya mendengar perkataan Sam walaupun hanya lirih saja, tapi masih sanggup untuk menangkap dengan baik suaranya Samudra.


"Kalau memang Abang ingin pergi, aku harus ikhlas mengijinkannya, aku tidak sepatutnya menahannya atau pun melarangnya, pasti Abang sangat merindukan sosok keluarganya itu," gumamnya yang menatap Sam suaminya dengan intens.


"Mungkin nanti malam adalah waktu yang tepat untuk meminta ijin, bagaimanapun dia adalah istri sahku, jadi aku harus berpamitan dan meminta izin kepadanya, tapi mungkin besok hari rabu aku harus menemaninya ke Ibu Kota kabupaten untuk membuka rekening supaya nanti selama aku di Jakarta aku bisa mengirimkan uang untuk kebutuhan sehari-harinya." Lirihnya Samudera.


Matahari sudah tenggelam di ufuk barat, warnanya yang jingga mempercantik suasana sore itu. Sunset itu menambah kesan romantis andai saja Sam duduk saling berpelukan dengan Sea. Samudera tersenyum simpul membayangkan hal itu.


Suara adzan magrib berkumandang dari toa masjid yang membuyarkan lamunannya Samudra. Dia bergegas berjalan ke dalam rumahnya lalu tidak lupa membereskan semua piring dan gelas minumnya. Dia pun menutup pintu rumahnya dengan rapat.


****************


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan

__ADS_1


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kekuatan Cinta


Baby Sitter Pilihan


Tetanggaku Idola Suamiku


Cinta pertama



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...


Tetap dukung LSOS dengan cara:


Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.


I love you all Readers…

__ADS_1


__ADS_2