
"Semoga saja Abang setuju dan mau menerima saran dan usulanku," batinnya Wina.
"Baiklah, kalau kamu tidak keberatan," tutur Sam yang pasrah tapi mimik wajahnya seolah ia sama sekali tidak keberatan dan mempermasalahkannya padahal dalam hatinya tidak suka dan marah.
"Maaf yah Pak, kebetulan teman saya ini tidak jadi naik bentor bapak, ini ada sedikit uang sebagai ganti rugi Bapak yang sudah capek-capek tapi dibatalkan," ujarnya Wina sambil mengulurkan tangannya ke arah Pak Udin.
Mang Udin tertawa cengengesan," tidak apa-apa kok Mbak, itu hal yang biasa terjadi kok," pungkasnya Pak Udin.
Pak Udin malahan sangat bersyukur dan berterima kasih karena uang yang diberikan oleh Wina terbilang cukup dan lebih banyak malah dari ongkosnya yang disepakati oleh dia dan Sea tadi pagi.
"Makasih banyak Mbak, saya sangat bersyukur atas ongkosnya, padahal tidak jadi dipakai bentornya," terang Pak Udin dengan tersenyum sumringah.
"Sama-sama Pak, itu tidak seberapa kok, malahan aku yang seharusnya berterima kasih karena sudah menerima pembatalannya," jelas Wina yang tersenyum penuh maksud.
Wina dibantu oleh Pak Udin menaikkan tubuhnya Samudera ke dalam kursi belakang dengan sangat hati-hati. Setelah dirasa cukup nyaman duduknya, Sea pun berpamitan kepada suaminya Ocean Samudera Dirgantara Mandala.
"Abang, karena ada Mbak Wina yang membantu Abang, kalau begitu aku pulang duluan, assalamu alaikum," ucapan salamnya Sea meninggalkan mereka lalu berjalan ke arah tempat parkiran sepedanya.
Sam terus memandangi ke arah Sea yang perlahan sudah semakin menjauh dari tempat mereka berada. Wina tidak sengaja melihat hal itu dan segera masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah sakit menuju rumahnya Seana yang berada di pesisir pantai.
"Abang dengan Sea itu saudara yah?" Tanya Wina dengan penuh selidik yang membuka percakapan diantara mereka yang sedari tadi hanya diam membisu.
"Bukan," jawabnya dengan singkat tapi pandangan matanya tertuju pada seorang perempuan yang mengayuh sepedanya di bawah paparan sinar matahari siang itu.
"Kalau bukan berarti temannya Abang yah!" tanyanya lagi Wina dengan sesekali melihat ke arah Raja lewat kaca spion mobilnya.
"Bukan juga," ucapnya Sam.
Sam tersenyum tipis dan sangat mengerti dengan arah pembicaraannya Wina. Samudra tahu persis perempuan dengan karakter yang seperti Wina.
"Kalau bukan temannya, berarti pacarnya Abang dong," tebaknya Wina yang berucap dengan penuh selidik.
__ADS_1
"Bukan juga," jawabnya lagi.
"Sepertinya, aku ada kesempatan besar kalau mereka tidak punya hubungan apapun," batinnya Wina.
Wina menatap dengan penuh minat dan takjub ke arah Sam, "Kalau gini, aku ada kesempatan untuk mendekati Abang Samudera dong, kesempatan emas akhirnya datang juga." Senyuman licik terbit dari sudut bibirnya.
Hingga perkataan singkat dari Raja langsung menghentikan khayalannya yang sudah terbang tinggi jauh ke dunia mimpi indahnya.
"Dia adalah istriku," terang Ocean Samudera Dirgantara Mandala Renon dengan mantap.
Penjelasan dari Sam membuat Wina langsung merem mendadak mobilnya hingga laju mobilnya berhenti sejenak. Saking tidak percayanya dengan apa yang dia dengar. Kejujuran dari Sam membuat dokter muda dan cantik itu menghentikan laju mobilnya dengan tiba-tiba. Wina menatap penuh selidik dan tidak percaya ke arahnya Sam.
Wina segera menolehkan kepalanya ke arah Sam berada dengan tatapan matanya yang membulat sempurna seperti orang yang melorot hingga seakan-akan bola matanya ingin terlepas dari lubang matanya.
Sam yang melihat ekspresi terkejut dari Wina hanya bisa tersenyum tipis menanggapi keterkejutan dari Wina. SAM sudah mengetahui jika Wina sejak pertama kali mereka bertemu sudah ada maksud yang terselubung dibalik kebaikan dan perhatiannya.
"Maaf ada masalah dengan semua itu?" Tanyanya Sam dengan wajah dinginnya.
"Ma-af, saya tidak menyangka jika gadis kampung itu istrinya Abang, aku kira dia adik sepupunya Abang yang ditugaskan untuk menjaga Abang selama di rawat di rumah sakit," ungkap Wina dengan gamblangnya.
Sam sama sekali tidak ingin menimpali perkataan dari Wina, ia ingin melihat sejauh mana Wina menjelekkan dan merendahkan Istrinya. Sedangkan orang yang menjadi topik pembicaraan mereka sedang asyik menikmati acara bersepedanya siang hari yang terik itu. Ia sama sekali tidak terbebani dengan kehadiran Wina di tengah-tengah mereka.
"Abang, apa dijodohkan dengan gadis kampungan itu? Karena menurut Wina Abang sama sekali tidak mencintainya," ucapnya yang sekedar berbasa-basi sambil melajukan kembali mobilnya ke arah jalan menuju arah jalan rumahnya Sea.
"Abang Ocean terdiam berarti apa yang aku katakan barusan adalah benar adanya, aku harus tambah memanasi keadaan agar Sam membenci istrinya hingga mereka bercerai." Tatapan matanya Wina tajam dengan seringai licik muncul di wajah cantiknya.
Sam hanya menyunggingkan senyuman smirknya melihat reaksi dari Wina yang berubah-ubah.
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
__ADS_1
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Tetanggaku Idola Suamiku
Cinta pertama
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
Tetap dukung LSOS dengan cara:
Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.
I love you all Readers…
__ADS_1