Love Story Ocean Seana

Love Story Ocean Seana
Bab. 103


__ADS_3

Sam menangkupkan kedua tangannya di pundak ibunya, "Ini saya Samudera! Mama," ujarnya Samudera yang merasakan ada yang aneh dengan Bundanya.


Tubuhnya Ibu Santi bergetar hebat dalam tangisnya. Dia terlalu bahagia dan sedih sekaligus dalam waktu yang bersamaan, karena pertemuannya kembali dengan putra tunggalnya yang orang-orang mengatakan sudah meninggal dunia bahkan seluruh media massa sudah memberitakan dan mengabarkan bahwa Ocean Samudera Dirgantara Mandala Renon sudah mati dalam kecelakaan pesawat.


Samudra yang melihat ada yang tidak beres dengan keadaan tersebut, sudah tahu jika ada yang tidak beres dan aneh dengan bundanya.


Ocean Samudera Dirgantara Mandala Renon yang terenyuh melihat keadaan ibunya yang sangat kurus itu bahkan tubuhnya sudah seperti seorang yang makannya tidak teratur dan gizinya tidak terpenuhi.


Samudra meneteskan air matanya saking sedihnya dan menyesali kejadian dan perbuatannya Marcel Sanderson Jayadi kepada keluarganya. Hingga amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun, tangannya mengepal dan mencengkeram kuat, hingga buku-buku tangannya terlihat jelas, matanya melotot menahan amarahnya. Sam sesekali menghembuskan nafasnya dengan cukup keras.


Sam menatap tajam ke arah adiknya, "Sherlyana!! Apa yang terjadi dengan b


Mama? Kenapa bisa tubuh Mama seperti ini!" Tanyanya Sam yang membentak Sherlina dengan nada suara yang cukup tinggi melengking.


Air matanya Sherlina menetes membasahi pipinya sebelum membuka mulutnya untuk berbicara," Ma-ma a-ku…" ucap Sherlyana yang tergagap dan tidak mampu melanjutkan ucapannya itu.


Ibu Santi yang melihat putranya sudah dalam keadaan mode yang tidak baik, segera berinisiatif untuk menarik tangan putranya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang untuk berjalan menuju kursi plastik yang tersedia di dalam ruangan itu yang berukuran 3x2 itu.


Sherlyana dan Dokter Juanda Anggara Martadinata mengekor di belakang mereka lalu ikut duduk di kursi yang kosong. Dia hanya jadi saksi dan pendengar setia saja tanpa ada niat untuk menimpali ataupun menyanggah pembicaraan keduanya antara mereka ibu dan anak.


Dengan lemah lembut Bu Santi menyentuh punggung tangannya Sam agar amarahnya Sam mereda, "Nak, mama baik-baik saja, kamu jangan risau dengan keadaan Mama, Insya Allah mama akan segera sembuh total," tuturnya sembari mengelus punggung tangan putranya.


Huk.. Huk… huk..


Ibu Santi kemudian terbatuk terus-menerus hingga tanpa sengaja Samudera melihat ada noda darah segar yang membasahi sal yang dipakai oleh bundanya.

__ADS_1


"Mama! ini darah apa?" Tanyanya yang sangat cemas melihat darah itu disaat mamanya terbatuk-batuk dan mengeluarkan sedikit tetesan darah yang sangat merah.


Ibu Santi Mandala Renon Wiratama segera menyembunyikan sal tersebut ke dalam pangkuannya agar putranya tidak mengetahui penyakit yang diidapnya selama beberapa bulan terakhir ini. Ia tidak ingin memberikan beban tambahan terhadap anaknya yang beliau sangat jelas mengetahui jika putranya mengalami guncangan hebat akibat ulah kejahatan dari asisten pribadinya sendiri yaitu Marcell Darwin Hasibuan.


"Itu cuma bekas noda kotoran yang menempel di sal pakaiannya Mama yang tidak mau hilang, kamu tidak perlu cemas dengan hal sepele ini," jawabnya dengan suara yang sangat lemah dan menutupi kenyataan yang ada.


Sam melirik tajam ke arah Juan, "Juanda!! Tolong cepat periksa kondisi Mama!!" teriaknya Sam atas perintahnya yang kembali mengeraskan suaranya ke hadapan Anggara.


Dokter Juanda Anggara Arkelio Prasetya cepat tanggap dan untungnya beberapa peralatan medis yang sering dia pakai di Rumah Sakit tersimpan di dalam mobilnya.


"Mama harus baring di dalam kamar, karena saya akan memeriksa keadaan Mama" ujarnya Juan yang membantu Bundanya berdiri.


"Ya Allah… ini semua gara-gara kesalahanku, yang terlalu bego, bodoh dan terlalu mudah diperdaya oleh Selena Putri Burhan wanita ular berkepala dua itu yang sangat licik," umpatnya Sam yang mencengkeram kuat genggaman tangannya.


"Aku tidak akan membiarkan kamu bisa bernafas lega dan bebas berkeliaran untuk menghirup udara segar dan tunggulah aku Marcel! aku akan membuat kamu hancur hingga kematian akan enggan menjemputmu!!" geramnya Samudera yang sudah berjanji akan membalas semua akibat dari kejahatan Martin dan Selena.


Kondisi lingkungan rumah yang kumuh, sanitasi, ventilasi yang sangat minim serta sekitar area rumah itu yang sangat kotor, sampah ada di mana-mana. Hal itu yang memperparah kondisi kesehatan Ibu Hamidah. Hal tersebut semakin membuat Sultan semakin marah dan murka terhadap perbuatan dan kejahatan dari Marcel.


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan

__ADS_1


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kekuatan Cinta


Baby Sitter Pilihan


Tetanggaku Idola Suamiku


Cinta pertama



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...


Tetap dukung LSOS dengan cara:


Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.


I love you all Readers…

__ADS_1


__ADS_2