
Frans segera mengulurkan tangannya ke arah Aza," Frans Bayu Alfiansyah Adityaswara," tutur Bayu.
"Azzahrah Almeera Farhan," sahut Aza memperkenalkan dirinya sembari membalas menjabat tangannya Bayu dengan seulas senyuman manis darinya.
"Sepertinya Bayu tertarik dan terpesona melihat Aza dari arti tatapannya itu yang membuktikan hal tersebut," Dokter Winda membatin.
Zameera Azahra memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya sambil menunggu kedatangan kembali Mang Udin. Dia duduk dan memeriksa hpnya. Ternyata banyak balasan chat dari Bu Hamidah.
Zahraha membuka chat tersebut dan membacanya tapi, tiba-tiba ada bayangan seseorang yang terlintas di dalam benaknya. Aza memegang kepalanya yang sedikit sakit. Bayang-bayang seseorang yang terus memanggil namanya.
"Seana istriku!!" Lirihnya Zameera Azzahrah yang terlintas di dalam pikirannya.
Zameera terus memegang kepalanya yang sedikit nyut-nyutan dan sakit gara-gara mencoba mengingat dan berfikir itu suara siapa.
"Sea istriku!!" Beo Zahrah.
Suara itu datang lagi menggema di dalam rongga telinganya. Aza celingak-celinguk mencari keberadaan bisikan itu, dia pun memutuskan untuk turun dari mobilnya dan berjalan ke sana kemari mencari siapa pemilik suara itu. Tetapi, Aza sudah mencoba mencari ke seluruh penjuru area parkiran, tapi hasilnya masih sama tidak satupun orang yang berada di sana. Sambil sesekali dia memegang kepalanya yang sedikit pusing itu.
"Tidak ada satupun orang lain disini selain diriku, terus suara itu dari mana?" Cicitnya yang mulai kebingungan dan keheranan dengan apa yang dia alami.
Aza berjalan kembali ke mobilnya tapi, langkahnya kembali terhenti karena terkejut melihat Mang Udin yang tiba-tiba berdiri di depannya saat Aza berbalik badan.
"Aaahhhh hantu!!!" Pekiknya Zahrah sembari menutup kedua matanya.
__ADS_1
Suara cempreng yang cukup melengking itu mampu membuat gendang telinganya Mang Joni Iskandar terganggu. Refleks mang Joni Iskandar menutup lubang telinganya. Setelah merasa cukup baik dan normal kembali dari rasa terkejutnya, Aza memukuli lengannya mang Udin dengan tas selempangnya.
"Iiihhh Mang Joni tak kirain hantu genderuwo saja," sarkas Aza yang masih memukul mang Joko supirnya.
"Ampun Nona Muda! Saya tidak bermaksud mengagetkan Nona kok," ujar mang Joko yang berusaha untuk mencegah dan menghentikan aksi brutal Aza.
Mang Joko melindungi kepalanya dengan kedua tangannya agar pukulan yang lumayan keras tidak mendarat bebas di atas kepalanya. Aza segera menghentikan pukulannya setelah tersadar dan perasaannya kembali normal lagi.
"Maafkan Mamang Non, saya tidak bermaksud sedikit pun untuk melakukan hal itu," rengek Mang Joko yang berusaha meminta maaf kepada Aza yang sudah meninggalkannya.
Aza tanpa sepatah katapun langsung masuk ke dalam mobilnya dan duduk diam agar rasa terkejutnya bisa segera menghilang dari perasaannya. Mang Joko pun segera berjalan cepat ke arah mobil dan segera bersiap untuk pulang.
Mobil yang mereka tumpangi sudah meninggalkan lokasi parkiran menuju kediaman kedua orang tuanya. Aza mendiamkan Mang Joko dan fokus dengan suara bisikan halus yang kadang terdengar di pendengarnya itu.
Aza terdiam dan banyak merenung dan di dalam pikirannya penuh tanda tanya. Dia hanya menatap ke arah luar jendela mobilnya. Semakin lama semakin membuatnya penasaran dan sangat ingin mengetahui siapa pemilik suara itu dan apa maksud dari perkataannya.
"Apa aku telpon Aunty Winda saja dan bertanya padanya tentang apa yang aku alami ini?" Gumamnya Aza.
Aza mengambil sebotol air mineral dalam kemasan karena ingin meminum obatnya. Dia tidak ingin rasa sakit di kepalanya semakin menjadi saja.
Mang Joko sesekali melirik sekilas ke arah Nona mudanya, "Ya Allah… semoga saja Non Aza tidak marah sama saya, bisa fatal kalau Non Aza mengadu kepada Tuan dan Nyonya Besar," lirih Mang Udin sembari melirik ke arah Aza yang duduk termenung dalam diamnya melalui kaca spion mobilnya.
Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di kediaman Tuan Besar Farhan Papanya. Bangunan rumah yang berdiri kokoh dengan arsitektur dan gaya khas Eropa timur. Nuansa peach mendominasi warna cat rumah itu.
__ADS_1
Aza sama sekali tidak menegur mang Udin walaupun hal itu terjadi dan dia lakukan karena dalam keadaan mode kebingungan dan banyak pikiran.
Raut wajahnya kebingungan dan juga sekaligus keheranan, "Kenapa seolah-olah suara orang itu sebelumnya aku pernah dengar dan terasa sangat familiar," Aza membatin.
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
Duren I Love you
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Cinta pertama
__ADS_1
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..