Love Story Ocean Seana

Love Story Ocean Seana
Bab. 28


__ADS_3

Beberapa orang lainnya sudah pulang dari balai desa yang tersisa adalah Bu Salamah, Pak Rusman, Pak Toni dan pak Doni saja.


Pak Doni sudah berusaha untuk membantu Seana, tetapi memang dasar ibu Lina yang keras kepala dan egois tidak mendengarkan perkataannya.


"Bu Widya, Stop!! sadarlah jangan seperti ini kasihanilah Sea," cegah Pak Doni.


Tapi perkataan larangan dari orang-orang sama sekali tidak terpengaruh dan dipedulikan serta dihiraukan oleh Bu Widya yang sudah kalap dan seperti seseorang yang kesurupan dengan mahkluk astral yang penuh dengan amarah dan dendam.


"Bu Widya kasihanilah Seana Bu!! Walaupun Sea bersalah tapi, tidak pantas dan sepatutnya Ibu perlakukan Seana seperti binatang saja," sarkas Pak Rusman yang memegang tangannya Bu Widya.


Tapi, entah apa yang terjadi pada Bu Widya serasa kekuatannya yang dimiliki oleh Bu Widya berkali-kali lipat dibanding dengan kekuatan dua pria dewasa saja.


"Dasar anak tidak tahu diuntung!! apa Kamu ingin melihat Pamanmu mati berdiri gara-gara kelakuanmu itu!" Geram Bu Widya sembari memegang kepalanya Seana.


Ibu Widya masih menarik rambutnya Sea, walaupun sudah dicegah oleh beberapa orang. Sea sudah menangis tersedu-sedu menahan sakitnya tarikan tersebut. Tetapi, Ibu Widya sama sekali tidak peduli dengan kesakitan yang diderita oleh keponakan suaminya.


"Dimana Kamu simpan pikiranmu haa!! Dari sejak kecil sudah buat masalah hingga sekarang Kamu mengulanginya lagi, Bibi sangat malu punya keluarga seperti Kamu," maki Bu Widya.


"Aaahhhh!!!! Jangan Bibi, aku mohon cukup, kasihanilah aku," ratap Seana yang juga tetap berusaha untuk melawan dan menjaga dirinya dari amukan Bu Widya yang kesetanan itu.


Ibu Widya menampar pipi Sea bberulang kali hingga tangannya pun merasa kepanasan. Darah segar mengucur dari sudut bibirnya. Beberapa lembar helai rambutnya terlepas dari kepalanya yang berguguran ke atas lantai. Bersamaan dengan kedatangan Pak Heru.


Pak Heru yang melihat langsung kebrutalan dan kekejaman istrinya segera mempercepat langkahnya menuju tempat keberadaan penyiksaan Seana.


"Ibu!!! Lepaskan Seana Bu, jangan seperti ini, aku mohon segeralah sadar dan istighfar, apa yang Ibu lakukan ini sudah diluar kendali dan tindakan ibu ini bisa terkena hukuman dari kepolisian," bujuk Pak Heru yang berusaha memperingati istrinya sebelum terlambat.


Tubuh Pak Heru didorong sekuat tenaga oleh Bu Widya hingga tubuhnya terlempar dan terbanting hingga kedepannya pintu.

__ADS_1


"Ini sudah tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, aku harus segera mendatangi kantor polsek jika tidak keadaannya Seana semakin parah," gumam Bu Salamah yang segera berlari ke arah luar dan mengambil sepeda motornya.


Bu Salamah hendak melapor ke pihak polisi atas tindakan kekerasan dan kriminal main hakim sendiri yang dilakukan oleh Bu Widya.


"Aku harus segera ke rumah Pak kepala desa, ini sudah diluar kendali dan bu Widya semakin kalap dan tidak waras, kasihan dengan Sea," cicitnya Pak Rusman.


Pak Rusman segera mempercepat langkahnya menuju rumah Pak Ardiansyah selaku kepala desa. Ia menjalankan motornya dengan kecepatan penuh dan tinggi. Sea memegang ujung bibirnya yang sudah perih.


"Bu Widya!! Stop!! Tolonglah berhenti sebelum semuanya terlambat, apa Ibu sudah lupa jika tindakan kekerasan yang Ibu ini kerjakan dan perbuat hukumannya fatal dan Ibu bisa kena sangsi dan dipenjara," gertak Pak Doni.


Dia berusaha menahan sakit yang dirasakannya. Dia tidak melakukan pembelaan karena hal itu akan berujung dengan percuma dan sia-sia saja. Bibinya sedikitpun tidak ingin mendengarkan perkataan dari siapa pun lagi.


Bukannya Azalina bodoh atau tidak mampu untuk membela dirinya sendiri, tetapi selalu berujung dengan penyiksaan. Segala usaha dan upaya juga Seana telah ia lakukan tapi, kemampuan dan kekuatan Bu Widya sungguh di luar kendali dan tidak waras sudah.


Sedangkan Pamannya sendiri dibuat tidak berdaya. Pamannya hanya bisa berdoa, agar istrinya mendapat hidayah dari Allah agar segera berubah.


"Sedari tadi aku sudah berpikiran jika akan berujung seperti ini, makanya jalan yang terbaik bawa mereka kesini, tapi ternyata Bu Lina tahu jika Seana memiliki kesalahan yang fatal," timpal Pak Doni.


Telinga Ibu Widya tidak mungkin tidak mendengar perkataan dari orang-orang, tetapi sudah kebal dengan perkataannya orang. Dia sama sekali tidak peduli dengan penilaian dari masyarakat, baginya yang penting Seana menderita hingga mati pun enggan untuk menjemputnya.


"Kenapa juga bala bantuan lama sekali datangnya?" Lirihnya Pak Heru yang masih terduduk karena punggungnya sakit.


Sedangkan Pak Doni dan Pak Toni pun sudah menyerah menghadapi Bu Widya yang semakin menjadi saja. Tubuh mereka cukup kalah besar dengan Bu Widya yang tubuhnya sebesar karung goni itu.


"Ya Allah… berilah hidayah kepada istri hamba, aku tidak tega melihat keponakanku menderita ya Allah…," batinnya Pak Heru.


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:

__ADS_1



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kekuatan Cinta


Baby Sitter Pilihan



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...


Tetap dukung LSOS dengan cara:


Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.


I love you all Readers…

__ADS_1


__ADS_2