Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 10 ~ Menginap ~


__ADS_3

Leana mengajak Radian makan siang. Laki-laki itu mengira Leana mengajaknya makan disebuah restoran mewah tapi gadis itu justru mengajaknya membeli jajanan food street seperti waktu itu. Leana menggigit Korean sandwich-nya sambil berjalan santai kembali ke kantor.


Radian tertawa sendiri, Leana heran dan bertanya.


"Kenapa Kakak tertawa?" tanya Leana.


"Aku ingat tiba-tiba memelukmu di sini dan tak sadar kalau banyak orang yang melihat kita," ucap Radian dengan pipi bersemu merah.


"Bukannya Kak Radian lulusan luar negeri? Bukannya hal yang biasa berpelukan dan berciuman di depan orang banyak?" tanya Leana.


"Aku tidak pernah memperhatikan siapa pun karena aku hidup di duniaku sendiri. Di luar negeri atau pun di sini. Aku tidak pernah peduli dengan siapa pun. Cuma kamu yang memaksaku untuk memperhatikanmu. Jika tidak, kontrak kerjasama kita bisa batal. Mau tidak mau aku harus ikut kemauanmu," jelas Radian.


Leana mengangguk sambil tersenyum lalu memberikan Korean sandwich kedua untuk Radian.


"Kamu sangat suka sandwich?" tanya Radian.


"Karena Kak Radian suka sandwich, Kak Radian tak menolak lagi ditawari sandwich olehku," ucap Leana sambil tersenyum.


Radian menoleh ke arah Leana, lalu menatap Korean sandwich di genggamannya. Radian sendiri tidak sadar kalau dia menyukainya. Yang pasti setiap kali makanan itu ada di hadapannya dia tak akan melewatkannya apa lagi menolaknya.


Dari mana dia tahu aku suka sandwich? Tidak menolak lagi di tawari sandwich? Setahuku aku tak pernah menolak ditawari sandwich, batin Radian bertanya-tanya.


Radian dan Leana berjalan santai sambil menikmati Korean sandwich dan minuman di tangan mereka. Sesekali Leana melirik laki-laki tampan itu membuat Radian jadi salah tingkah. Berusaha menahan senyumnya namun tak bisa ditahan hingga akhirnya terlepas. Radian tertawa melihat Leana yang sebentar-bentar menoleh ke arahnya.


Kak Radian jadi suka tertawa sekarang, dulu selalu cemberut dan ketus. Apa dia bahagia? Oh ya ampun senyumnya manis sekali, batin Leana.


"Kamu sudah menghabiskan sandwich-mu," ucap Radian berusaha mengalihkan perhatian Leana.


Gadis itu membuka lebar tangannya lalu ganti menunjukkan tangannya yang lain. Radian tertawa, tanpa menunjukkannya pun laki-laki itu tahu tak ada apa-apa lagi di tangan Leana.


Aku senang dengan Kak Radian sekarang, dia tidak pemarah lagi, murah senyum dan semakin tampan, batin Leana.


Radian grogi hingga mendorong wajah Leana beralih memandang ke arah lain.


"Baiklah aku lihat cowok yang lain saja," ucap Leana.


"Jangan!" seru Radian.


"Lihat aku saja! Meski kamu membuat aku grogi tapi jangan lihat laki-laki lain, cukup lihat aku saja," ucap Radian sambil menangkup wajah gadis cantik itu.


Leana mengangguk, lalu memeluk laki-laki di hadapannya itu. Radian semakin salah tingkah karena kembali gadis itu memeluknya tanpa melihat situasi.


"Kita kembali ke kantor yuk," ajak Radian.


"Mau apa? Mau bebas peluk-peluk?" tanya Leana.


"Apa sih kamu?" tanya Radian malu dengan pipi yang semakin memerah.


Leana tertawa, Radian semakin salah tingkah dan menarik tangan gadis itu berlari untuk kembali ke ruangannya. Namun belum sempat tiba di ruangannya Radian telah memeluk Leana dan membenamkan bibirnya ke bibir gadis cantik itu. Beruntung hanya ada mereka di dalam lift itu. Leana dan Radian dengan bebas meluapkan rasa cinta mereka yang ditumpahkannya lewat pelukan erat dan ciuman yang menggebu.


Lagi dan lagi, Radian tak puas mencari dan menyesap manis lidah Leana yang bergerak ke sana kemari bermain di rongga mulutnya. Mereka hingga memejamkan mata menikmati indahnya ciuman yang mereka rasakan.


Tiba-tiba Leana dan Radian mendengar ponsel laki-laki itu yang bergetar. Mereka tersenyum sambil melepaskan ciumannya. Radian menatap nama kontak yang meneleponnya.


"Mommy menelpon, aku terima sebentar ya," ucap Radian yang langsung berjalan ke sisi lain ruangan saat pintu lift itu terbuka.


Leana menunggu di ruang kerja laki-laki itu dengan sabar. Tak lama kemudian Radian masuk dan memberitahu dengan ragu-ragu.


"Sayang …" 


Leana tertawa ditahan, membuat Radian berhenti berbicara.


"Apa? Kenapa berhenti?" tanya Leana.


"Habisnya kamu tertawa," ucap Radian.


"Karena aku tidak menyangka, cowok dingin seperti Kakak bisa mengucapkan kata-kata itu. Seperti cowok yang sudah berpengalaman," jawab Leana.


"Aku … tidak berpengalaman, cuma pernah mendengar orang bicara seperti itu. Aku juga ingin mengucapkannya," jawab Radian sambil menunduk menahan malu.


Laki-laki itu begitu malu dan menyesal mengatakan itu hingga ditertawakan oleh Leana.


"Aku suka! Ayo katakan lagi!" seru Leana.


"Apa?" Radian kaget tak menyangka gadis itu memintanya mengucapkannya lagi.


"Ayo katakan lagi!" Pinta Leana.


"Tidak mau!" ucap Radian yang terlanjur malu.


"Ayo katakan lagi!" Pinta Leana sambil menggoyang-goyangkan tangan laki-laki tampan itu.


"Tak mau."

__ADS_1


"Ayo."


Radian tertawa, tidak menyangka jika mereka bisa bertingkah seperti anak-anak remaja yang baru merasakan cinta monyet. Keduanya pun tertawa, Leana mengalah tak mendapatkan keinginannya. Gadis itu mengerti, Radian bukan tipe laki-laki yang bisa dipaksa jika sudah terlanjur malu.


Gadis itu melangkah ke balkon samping ruangan kerja itu.


"Sayang!" seru Radian akhirnya.


Leana membalik badan sambil tersenyum. Gadis itu langsung berlari menghampiri dan mengecup pipi laki-laki itu.


"Ada apa Kakakku sayang?" tanya Leana membalas ucapan Radian.


"Mommy mengundangmu untuk makan malam di rumah, apa kamu bersedia?" tanya Radian ragu-ragu.


"Baiklah, aku bersedia," jawab Leana.


"Tapi … bagaimana dengan undangan makan malammu dan … janjimu melayaniku malam ini," ucap Radian dengan senyum malu-malu.


Leana tertawa, gadis itu berjanji akan mengundang lagi di lain waktu.


"Tapi sebenarnya aku, sangat ingin menemanimu di rumah. Bukannya Daddy-mu berangkat ke Thailand berarti kamu akan sendirian di rumah," ucap Radian.


"Sebenarnya aku sudah biasa tinggal sendiri. Tadi itu cuma alasan agar Kakak mau menemaniku, lagi pula ada para pelayan di rumah itu. Aku tidak benar-benar sendirian di rumah itu," jawab Leana.


Radian terlihat kecewa.


"Kakak ingin menginap di rumahku?" tebak Leana.


"Apa? Ah, tidak juga," jawab Radian mengelak.


"Iya, Kakak pasti kecewa karena tidak jadi menginap di rumahku," ucap Leana sambil melingkarkan tangannya di pinggang laki-laki tampan itu.


"Tidak, aku tidak kecewa."


"Iya."


"Mulai lagi deh, aku tidak kecewa karena tidak bisa menginap di rumahmu tapi aku kecewa karena … aku selalu berharap bisa bersamamu. Karena kita sudah berencana untuk menghabiskan malam bersama tapi akhirnya tidak jadi," jelas Radian.


"Kalau gantinya malam ini aku menginap di rumah Kakak? Apa boleh?" tanya Leana.


"Kamu mau? Kamu bersedia menginap di rumahku?" tanya Radian kembali bersemangat.


Leana mengangguk, saking bahagianya Radian langsung memeluk gadis yang telah menjadi tunangannya itu. Begitu hangat pelukan Radian, memunculkan rasa sedih di hati Leana hingga membuat Radian merasa heran.


"Sayang! Kamu kenapa?" tanya Radian saat melihat Leana yang tiba-tiba bersedih.


Saat ditanya Leana hanya menggelengkan kepalanya. Tentu saja itu membuat Radian penasaran, laki-laki itu ingin Leana menjawab pertanyaannya.


"Aku bahagia, aku bahagia Kakak menyukaiku," jawab Leana akhirnya.


"Aku juga bahagia Leana, selama ini hidupku terasa suram, tapi sejak kehadiranmu, hidupku jadi terasa lebih manis meski kamu orang yang menyebalkan."


"APA?"


"Tapi aku suka. Sikapmu yang menyebalkan itu membuat aku jadi merindukan kamu," jelas Radian.


"Menyebalkan bagaimana?" tanya Leana.


"Kamu harus mengakui kalau kamu itu menyebalkan. Seumur hidup aku belum pernah menunggu seseorang di bandara, menunggu di klinik …"


"Stop! Kakak tidak menunggu, jangan lupa Kakak pergi waktu itu. Aku yang akhirnya menunggu Kakak," ucap Leana protes.


"Oh ya, aku lupa tapi rencananya kamu ingin membuat aku menunggu 'kan? Coba bayangkan CEO perusahaan besar harus menunggu seorang gadis yang ingin melakukan perawatan tubuh? Itu memalukan sekali," tutur Radian.


"Kakak tidak suka menungguku?" tanya Leana dengan wajah murung.


"Tidak …"


Leana menatap wajah laki-laki itu dengan murung. Radian menangkup wajah sedih itu lalu mengecup bibir Leana.


"Aku tidak suka menunggu. Tapi untuk kamu, aku bersedia menunggumu. Aku bahagia diberi kesempatan menunggumu. Aku bahagia menjadi orang yang diizinkan menunggumu, aku sangat suka menunggumu, aku …"


Leana segera memeluk laki-laki itu dan membenamkan bibirnya sebelum laki-laki tampan itu menyelesaikan ucapannya. Leana tak peduli lagi apa pun ucapan Radian untuk meyakinkannya. Leana telah yakin karena Radian bukanlah laki-laki yang biasa mengucapkan kata rayuan gombal.


Di malam hari, Radian menjemput gadis yang dicintainya itu untuk memenuhi undangan makan malam ibunya. Tak lupa mengingatkan gadis itu untuk membawa pakaian ganti Leana yang berjanji akan menginap di rumahnya.


Leana tertawa melihat kecemasan Radian jika tiba-tiba Leana lupa dan batal menginap di rumahnya.


"Kalau aku lupa dan batal menginap di rumah Kakak, bagaimana?" tanya Leana.


"Aku belikan pakaian ganti untukmu, asalkan kamu tak batal menginap di rumahku. Aku sudah terlanjur senang Leana, jangan sampai batal," jawab Radian sudah tak malu-malu lagi.


Leana tertawa, hatinya pun senang. Diharapkan seperti itu oleh laki-laki yang telah lama diam-diam dicintainya, tentu saja hal itu membuat Leana sangat bahagia.

__ADS_1


Sesampai di rumah itu, Shanty dan Monica langsung menyambut. Radian heran melihat sikap Monica yang berubah 180°. Sementara Shanty tak lagi merasa heran karena telah merasa berhasil membujuk Monica untuk menerima Leana sebagai calon istri kakaknya.


Shanty merasa senang karena putrinya itu bersedia memenuhi permintaannya untuk berbaikan dengan Leana. Begitu senangnya Shanty hingga segera mengundang Leana untuk makan malam bersama. Merupakan kesuksesan besar baginya berhasil membujuk Monica. Mengingat begitu kerasnya sikap Monica menentang hubungan Radian dengan Leana.


Tanpa di sadari oleh Shanty sebenarnya Monica telah melakukan gencatan senjata bahkan telah mengibarkan bendera putih atas kekalahannya melawan Leana. Monica bahkan tidak berani menatap mata Leana. Kesombongannya langsung lenyap mengingat keberhasilan mencapai cita-citanya sejak kecil berada dalam genggaman Leana.


"Aku mengajak Leana menginap di sini Mom, karena Daddy Leana sedang ke luar negeri. Aku pikir daripada sendiri di rumahnya lebih baik dia menginap di sini," ucap Radian memberi tahu sekaligus meminta izin pada ibunya.


"Oh ya? Leana mau menginap di sini? Tentu saja dengan senang hati kami persilahkan. Benar 'kan Monica," ucap Shanty.


"Eh iya, Mommy. Silahkan Kak Leana, menginaplah di sini," ujar Monica.


Radian terkejut dengan sikap adiknya, namun itu membuatnya sangat senang. Tak peduli apa yang menyebabkan Monica berubah pikiran. Radian bahagia seluruh keluarganya mendukung hubungannya dengan Leana.


Setelah makan malam bersama mereka duduk-duduk di beranda belakang rumah sambil menikmati angin malam yang bertiup lembut. Setelah menemani sebentar, Shanty dan Monica minta diri untuk beristirahat di kamar.


Leana mengangguk sambil tersenyum. Tinggal Leana dan Radian yang menikmati udara malam itu berdua saja. Sambil bersandar di dada laki-laki yang dicintainya itu Leana menatap pohon berbunga lebat dan berwarna cantik itu.


"Aku suka pohon itu, bunganya lebat dan sangat cantik," ucap Leana sambil menatap pohon Tabebuya di taman belakang itu.


Itu pohon kesukaan Livia, kucing kesayangannya Fluffy dikuburkan di bawah pohon itu. Aku rasa selain di kamarnya, pohon itu adalah tempat yang paling disukai Livia, batin Radian.


"Aku juga sangat menyukainya," sahut Radian.


Leana menoleh ke arah laki-laki itu. Tak menyangka jika Radian yang terlihat tak acuh ternyata juga menyukai pohon yang menjadi tempat favoritnya melepas lelah dan kesedihan. Radian menoleh ke arah gadis yang sedang menatapnya itu. Laki-laki itu tersenyum kemudian mengecup kening Leana.


"Aku senang kamu menginap di sini, jika tidak aku hanya bisa merindukanmu di kamarku," ucap Radian sambil tersenyum.


Leana mencium rahang laki-laki itu, Radian tersenyum.


"Kamu sudah menerima lamaranku, Mommy dan Monica juga telah merestui hubungan kita. Aku bahagia Leana, aku sangat bahagia," ucap Radian sambil menyandarkan pipinya di puncak rambut gadis itu.


Mereka menghabiskan malam dengan berbincang-bincang di beranda belakang itu. Saat malam mulai larut Radian mengantar Leana ke kamar tamu. Membenamkan kecupan selamat malam di bibir gadis itu lalu meninggalkan Leana di kamar itu untuk beristirahat.


Leana menatap kamar yang biasa dijadikan kamar untuk tamu yang menginap itu. Timbul keinginan untuk melihat kamarnya yang lama. Perlahan Leana berjalan ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar lamanya itu.


Leana menatap ke sekeliling ruangan yang ditutupi kain putih. Leana menyingkap kain yang menutupi meja belajarnya. Di sana Leana menemukan foto dirinya bersama ayah dan ibunya. Air mata Leana jatuh tak dapat ditahankan lagi. Kerinduan Leana terhadap ayah dan ibu kandungnya membuat gadis itu tak bisa menahan tangisnya yang terisak-isak.


"Leana! Apa yang kamu lakukan di situ?" tanya Radian yang heran mendengar seseorang menangis di kamar adik tirinya.


"Oh Kakak, aku tidak apa-apa. Aku hanya salah masuk kamar," ucap Leana buru-buru menghapus air matanya.


"Kamu menangis?" tanya Radian mendekat dan melihat meja belajar Livia yang telah terbuka dari kain putih yang menutupinya.


"Aku tidak bisa tidur, jadi aku ingin ke kamar Kakak. Tapi aku lupa, malah masuk ke kamar ini, aku penasaran melihat kamar kosong yang di tutupi kain ini, kenapa dibiarkan seperti ini?" tanya Leana.


"Ini dulunya kamar adik tiriku, dia telah meninggal. Kami tidak ingin mengganggu barang-barang miliknya jadi hanya ditutupi kain putih. Foto yang kamu pegang itu adalah foto dia dan orang tua kandungnya," jelas Radian.


Leana mengangguk, laki-laki itu sekali lagi bertanya kenapa Leana menangis. Leana bingung mencari jawaban hingga akhirnya terpikirkan olehnya orang tua angkatnya.


"Oh, melihat foto ini mengingatkan aku pada orang tuaku. Mamaku juga suka mengajak berfoto bertiga seperti ini. Aku sangat rindu Mama, sangat, sangat merindukan Mama," jawab Leana akhirnya tak bisa menahan tangisnya.


Leana bicara dari hati yang paling dalam sambil menatap foto itu. Gadis itu hanya bisa menyatakan kerinduannya pada ibunya karena di mata Radian dia masih memiliki ayahnya. Sementara di hatinya Leana merindukan keduanya, merindukan Papa dan Mamanya.


"Jangan menangis lagi sayang, anggaplah aku sebagai pengganti Mamamu. Seseorang yang akan melimpahkan kasih sayang dan cinta yang besar untukmu sebesar cinta dan kasih sayang orang tuamu padamu," ucap Radian sambil memeluk Leana.


"Terima kasih Kak, aku sangat bahagia memilikimu," ucap Leana mempererat pelukannya.


"Leana, aku … aku tidak ingin mendesakmu tapi … jika kamu bersedia, bisakah kita menikah bulan depan?" tanya Radian.


Secepat itu? Batin Leana.


Leana menatap calon suaminya itu dengan tatapan heran.


"Kakak sungguh-sungguh?" tanya Leana tak percaya.


Radian mengangguk pasti.


"Aku ingin segera menjadikanmu istriku, aku mencintaimu Leana. Aku sangat mencintaimu," ucap Radian serius.


Setelah menatap lurus ke mata Radian dan melihat kesungguhan laki-laki itu akhirnya Leana mengangguk.


"Baiklah aku bersedia! Kita menikah bulan depan," jawab Leana.


"Benarkah? Kamu bersedia meski secepat itu?" tanya Radian yang tidak percaya sendiri.


Tak menyangka gadis itu memenuhi permintaannya menikah dalam waktu secepat itu. Radian mengira Leana pasti akan minta waktu untuk berpikir dan waktu untuk menyakinkan hatinya.


Tidak perlu waktu lagi Kak, aku sudah lama siap menjadi istrimu, batin Leana.


Radian bahagia, sangat bahagia. Laki-laki itu mengajak Leana ke kamarnya dan segera membenamkan bibirnya ke bibir wanita cantik itu.


Maafkan Kakak, Livia, mulai sekarang Kakak harus melupakanmu. Kakak menemukan sosok yang bisa menggantikanmu di hati Kakak, tolong restui kami, doakan Kakak bahagia bersamanya, Livia, batin Radian sambil memeluk dan menyesap manisnya bibir Leana.

__ADS_1


Radian menitikkan air mata, air mata bahagia karena segera memiliki cinta Leana sebagai istrinya dan air mata kesedihan karena harus melepas cinta sejatinya.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2