Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 64 ~ Pesta ~


__ADS_3

Radian menunjuk amplop coklat besar berisi kontrak kerja sama yang telah ditandatangani utusan perusahaan. Haris langsung membuka amplop besar itu dan melihat dengan jelas kontrak itu telah bertanda tangan kedua belah pihak. Laki-laki itu langsung berteriak girang.


"Abang ini bercanda ya? Kami kira gagal kontrak," ucap Haris dan yang lainnya menampilkan wajah lega sekaligus bahagia.


Kata-kata yang mengatakan seolah-olah Radian bercanda dengan ekspresi sedihnya membuat laki-laki itu hanya tersenyum simpul. Laki-laki itu sama sekali tak bermaksud begitu hanya suasana hatinya yang memang bersedih. Hal itu hanya bisa dilihat oleh Pak Arif.


"Ada apa Radian?" tanya Arif saat semua telah sibuk mengerjakan tugas masing-masing.


"Aku kehilangannya Pak. Aku terlambat … aku terlambat karena menunda-nunda. Aku sangat menyesal Pak. Aku telah kehilangannya," ucap Radian dengan wajah murung.


"Apa maksudmu kehilangannya? Dia menikah lagi?" tanya Arif.


Radian menggelengkan kepalanya. "Dia pergi Pak, keluar negeri. Aku rasa dia tak ingin kembali lagi. Dia pasti sangat kecewa padaku. Dia pasti … sudah putus asa padaku. Bagaimana ini Pak? Bagaimana ini?" tanya Radian dengan air mata yang mengalir deras.


Laki-laki itu menangis hingga sesenggukan. Pak Arif langsung menepuk pundak laki-laki itu untuk menenangkan hatinya.


"Jangan khawatir, selagi dia masih ada di muka bumi. Masih ada harapan untuk menemukannya. Jangan putus asa, bekerja lebih giat, lebih sukses. Keujung dunia pun masih bisa kamu kejar. Asalkan ada uang, ada kemauan, kamu pasti bisa menemukannya lagi," ucap Arif menasehati.


"Tapi bagaimana kalau dia tak mau memaafkan aku lagi Pak. Dia pergi untuk menutup hatinya padaku," ucap Radian menghapus air matanya.


"Biarkan di merasakan ketulusan cintamu, maka hatinya tak akan pernah tertutup untukmu Nak," jelas Arif.


"Terima kasih Pak," jawab Radian sambil berusaha untuk tersenyum.


"Bang! Hari adalah keberhasilan pertama kita. Bagiamana kalau kita rayakan," ajak Yanto.


"Benar Bang! Biar beruntung tandanya kita mensyukuri keberhasilan kita. Bayangkan penawaran pertama langsung berhasil. Kita benar-benar beruntung 'kan. Bagaimana b


Bang?" tanya Haris.


"Kalian pergilah aku jaga kantor saja," jawab Radian.


Camelia yang tadinya senang mendengar akan diadakan pesta perayaan, langsung cemberut saat laki-laki pujaannya itu menolak untuk ikut.

__ADS_1


"Ayolah, kita rayakan Bang! Kami tak akan happy kalau Abang tak ikut dengan kami. Abang yang berperan dalam keberhasilan ini," bujuk Haris.


"Ini bukan hasil kerjaku sendiri. Ini adalah hasil kerja kita semua," jawab Radian.


"Karena itu Bang! Ayo kita pergi sama-sama. Kita rayakan hasil kerja kita ini bersama-sama," seru Yanto. 


"Jangan khawatir kita masih punya kas untuk biaya tak terduga. Lupakan sejenak masalahmu. Berbahagialah bersama teman-teman seperjuangan," ucap Arif.


"Sehabis jam kantor kita berangkat!" seru Haris langsung.


Radian tersenyum, di sisi lain Camelia juga ikut tersenyum. Melihat Radian yang akhirnya bersedia diajak merayakan keberhasilan pertama ini. Seperti yang dikatakan Haris. Begitu jam kantor habis mereka pun berangkat bersama-sama ke sebuah Club Malam. Camelia selalu duduk di sisi Radian.


Seperti Radian yang seorang raja, wanita itu selalu berada di sisinya seperti seorang ratu. Wanita itu begitu bahagia. Karena merasa menjadi pendamping sang raja.


"Ayo Bang!" ucap Haris menuangkan minuman.


Radian menolak, namun semuanya bersorak tak setuju. Radian terpaksa meminum segelas kecil minuman yang diberikan Haris. Namun ternyata tak hanya segitu. Mereka terus menambah gelas minuman Radian.


"Pokoknya semua harus bahagia malam ini!" ucap Yanto menambah gelas semua crew perusahaan itu.


"Awas nanti kamu mabuk!" ucap Arif yang hanya mencoba segelas.


"Belum! Masih lama! Masih jauh!" jawab Camelia.


Radian yang tak peduli pada gadis itu, tak melarang atau pun menyuruhnya. Sebenarnya laki-laki itu tak berminat karena hatinya yang tak ingin berpesta. Namun suasana hatinya yang sedang sedih dapat sedikit terobati dengan tertawa bersama dengan teman-teman seperjuangan itu. Hingga akhirnya laki-laki tak tak sanggup lagi hingga tertidur dengan wajah yang menelungkup.


Camelia yang melihat Radian dan yang lainnya mabuk segera mengambil kesempatan. Memanggil seseorang untuk dimintai tolong. Dan seseorang yang dipanggil itu pun datang bertanya.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya pelayan laki-laki Night Club itu.


"Kamu?" 


"Oh si nyonya tua?" 

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Camelia.


"Aku bekerja sebagai OB di siang hari dan jadi pelayan Night Club di malam hari," ucap pelayan itu.


"Oh baguslah! Sekarang bantu aku bawa orang ini. Aku akan bayar kamu," ucap Camelia.


Pelayan itu hendak melengos pergi. Namun ditahan oleh Camelia. Wanita itu segera mengacungkan sejumlah uang. Pelayan itu terlihat tak berminat, Camelia pun menambahnya. Melihat lembaran uang yang cukup tebal itu akhirnya pelayan itu bersedia. Mengangkat tubuh Radian yang telah mabuk.


"Dia Pak Radian?" tanya pelayan itu.


"Ya! Kalau kamu belum tahu ya? Dia itu pacarku, jadi sekarang tolong aku. Bawa dia ke sebuah hotel," ucap Camelia.


"Hotel? Kenapa tak pulang ke rumah?" tanya pelayan itu penasaran.


"Kamu ini ya! Mau uang nggak?" tanya Camelia.


Mendengar itu, pelayan itu patuh. Membantu Camelia membawa Radian. Mencarikan taksi untuk membawa kedua orang itu ke sebuah hotel terdekat.


"Hei ayo kamu harus ikut!" perintah Camelia.


"Aku?" 


"Ya! Uang itu biaya untuk sampai ke kamar hotel," ucap Camelia.


Tak ingin uang sebanyak itu melayang. Pelayan itu akhirnya ikut ke hotel yang diinginkan Camelia. Kedua orang yang tengah mabuk itu akhirnya berhasil di bawa ke sebuah kamar. 


Karena begitu berat, Radian terjatuh di sebuah sofa. Dan Camelia di ranjang.


"Belikan aku minuman lagi!" perintah Camelia.


Pelayan yang telah tanggung menolong Camelia akhirnya membelikan minuman sesuai dengan keinginan  wanita itu. Semua dilakukannya demi mendapatkan lembaran uang yang dilambaikan padanya. Termasuk mengangkat tubuh Radian ke ranjang.


Keesokan harinya nya Radian terbangun dan terkejut saat melihat. Camelia tidur disampingnya tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.

__ADS_1


...~  Bersambung ~...


__ADS_2