Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 28 ~ Bertemu ~


__ADS_3

Rasa bahagia atas kepulangan putranya tak bisa di gambar dengan kata-kata. Setelah bertahan bertahun-tahun tak kembali kini Ezra muncul dihadapannya. Tn. Adam merasa sangat berterima kasih pada Radian dan merasa berhutang budi demikian besar pada laki-laki itu.


Begitu juga dengan Ezra, Radian baginya adalah penuntun hidupnya, yang membuatnya memilih jalan yang benar. Membuatnya terhindar dari rasa penyesalan di kemudian hari. Ezra semakin menyayangi Radian seperti seorang adik terhadap kakaknya sendiri.


Beberapa hari kemudian diadakan rapat pemegang saham. Dihadiri oleh komisaris dan dewan direksi. Penyerahan jabatan terlaksana dengan lancar tanpa hambatan apa pun. Semua yang hadir di situ, sama sekali tak keberatan dengan keputusan Tn. Adam yang menyerahkan jabatannya pada putra satu-satunya itu.


Mereka pun yakin dengan kemampuan Ezra dalam memimpin perusahaan karena sepak terjang Ezra di dunia bisnis juga tak boleh dipandang enteng. Ezra pun mulai menjalani hidupnya sebagai CEO di perusahaan milik ayahnya sendiri.


"Selamat anakku, kamu memang pantas berada di ruangan ini," ucap Adam kembali datang untuk mengunjungi anaknya di ruangan bekas miliknya dulu.


"Terima kasih Daddy," balas Ezra.


"Tak ada yang keberatan sama sekali, hebat … kamu memang luar biasa!" lanjut Adam kagum pada putranya.


Ezra tertawa menerima kekaguman dari ayahnya. Di kesempatan itu juga Radian mengucapkan selamat pada Ezra.


"Selamat juga untukmu yang telah menempati jabatan baru," ucap Ezra menyalami Radian.


Tak cukup menyalami laki-laki itu, Ezra pun menarik tangan Radian untuk memeluknya. Radian membalas pelukan Ezra. Dua laki-laki tampan itu saling berpelukan dan saling menepuk punggung kemudian tertawa bersama.


Tn. Adam bersyukur dan merasa sangat bahagia, melihat putranya memiliki seseorang yang dapat dipercaya di sisinya. Tak hanya Ezra yang menganggapnya saudara namun Tn. Adam pun telah menganggap Radian seperti putranya sendiri.


"Selamat untuk kedua putraku," ucap Adam.


Ezra dan Radian terperangah mendengar ucapan itu. Tak hanya Ezra yang sebelumnya telah menyatakan Radian sebagai saudaranya. Kini Tn. Adam pun telah nyata-nyata menganggap Radian sebagai putranya. Mereka pun merayakan kebahagiaan itu dengan makan bersama di kantin kantor dan mentraktir semua karyawan kantor yang makan siang di kantin hari itu.


Keesokan harinya Ezra mulai menjalani tugasnya sebagai CEO. Laki-laki itu sedang menikmati pemandangan kota dari ketinggian saat sekretarisnya datang memberi tahu ada seorang tamu yang sedang menunggu di lobi.


"Siapa?" tanya Ezra.


"Nona Leana dari PT. Blue Sky," jawab sekretaris itu.


"Ada keperluan apa dia datang ke mari?" tanya Ezra lagi.

__ADS_1


"Pertemuan pertama atas kerja sama antara perusahaan ini dan perusahaan Nona Leana yang baru beberapa hari lalu disepakati oleh Tn. Adam," ujar sekretaris itu sambil menyerahkan laporan kerja sama kedua perusahaan itu.


"Biarkan dia menunggu, sepertinya dia cukup mudah menaklukkan Daddy, tapi tidak denganku," ucap Ezra sambil tersenyum.


Sekretaris itu mengangguk lalu pamit untuk menyampaikan pesan Ezra yang meminta Leana menunggu.


Daddy ditaklukkan oleh seorang wanita? Biasanya Daddy sulit sekali didekati. Daddy terkenal sangat pemilih, sulit percaya apalagi dalam hubungan kerja sama. Apa yang menyebabkan Daddy menerima kerja sama dengannya? Apa Daddy suka padanya? batin Ezra.


Laki-laki itu pun membaca profil perusahaan Leana, tak lupa Ezra pun membaca profil pemimpin dari perusahaan itu.


Ternyata wanita muda, seperti apa dia? Batin Ezra.


Baru saja berpikir seperti itu tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Belum sempat laki-laki itu menjawab seseorang sudah menerobos masuk. Ezra terpana, seorang wanita cantik langsung berjalan dengan cepat ke arah Ezra. Berhenti dengan berkacak pinggang di hadapan laki-laki yang masih duduk di belakang meja kerjanya itu.


Ezra buru-buru menutup berkas yang sedang dibacanya. Menatap lurus pada wanita cantik yang telah berani masuk ke dalam ruangannya sebelum laki-laki itu mengizinkannya untuk masuk.


Sekretaris itu langsung menghampiri mereka dan meminta maaf.


"Maaf tuan Ezra, saya …"


Ternyata memang dia, batin Leana.


Wanita itu menatap dengan berani ke arah Ezra, namun tak ada yang tahu darahnya berdesir saat melihat laki-laki tampan di hadapannya. Laki-laki yang memang dulu dikenalnya.


Leana telah bersiap diri dengan kemungkinan bahwa putra Tn. Adam yang akan menggantikan posisi bapak itu adalah Ezra yang dikenalnya. Namun saat mereka bertemu tetap saja jantungnya berdebar kencang.


Ezra berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan mendekati Leana.


"Berani sekali masuk ke ruanganku tanpa seizinku," ucap Ezra berdiri berhadapan dengan wanita yang masih berkacak pinggang itu.


"Berani sekali membuatku menunggu, tanpa seizinku."


Ezra langsung tertawa mendengar balasan ucapnya.

__ADS_1


"Aku harus meminta izin jika membuatmu menunggu?"


"Ya, aku tidak suka menunggu. Jika membuatku menunggu, kamu harus minta izin dulu padaku," ucap Leana masih menatap lurus ke wajah laki-laki tampan itu.


"Hah, sudahlah! Aku kenal banyak perempuan sok berani seperti kamu," ucap Ezra tak ingin menggubris Leana.


"Oh ya! Sayangnya aku tidak kenal banyak orang seperti kamu. Orang yang suka berhutang maaf," ucap Leana sambil menampilkan senyumannya yang khas.


Ezra terpaku mendengar kata-kata itu. Setelah berucap seperti itu Leana langsung membalik badan hendak melangkah pergi. Ezra langsung meraih lengan Leana untuk menghentikannya. Leana reflek melihat tangan Ezra yang menggenggam lengannya. Merasa bingung dengan sikap laki-laki itu. Ezra hanya diam menatap wajah cantik itu dari dekat. Menatap Leana dengan lekat-lekat.


"Apa katamu?" tanya Ezra akhirnya dengan suara yang melunak. Leana diam.


"Siapa kamu?" tanya Ezra lagi.


Laki-laki itu merasa ucapan Leana seperti menyindirnya. Ezra tak pernah bersalah pada siapa pun kecuali pada Livia. Dalam hati Ezra selalu merasa berhutang maaf pada gadis itu.


Leana tak peduli dengan pertanyaan Ezra, wanita itu tetap memilih pergi. Namun Ezra tetap menggenggam lengan Leana.


"Lepaskan aku? Atau kamu ingin menambah hutangmu padaku?" tanya Leana tersenyum.


Menatap mata yang menyipit saat tersenyum itu, Ezra semakin penasaran.


"Siapa kamu? CEPAT KATAKAN SIAPA KAMU?" tanya Ezra berteriak.


Ezra menatap Leana dengan wajah gusar. Sementara wanita itu justru terlihat tenang menatapnya. Radian yang ingin menemui atasannya untuk satu urusan merasa heran melihat pintu ruangan Ezra yang sedikit terbuka. Laki-laki itu mendorong perlahan pintu itu dan terkejut.


Leana? Ezra ... Ezra telah bertemu dengan Livia? Dia telah bertemu dengan gadis yang dicintainya, batin Radian lalu tertunduk.


Laki-laki itu membatalkan niatnya menemui atasannya. Berjalan kembali ke ruangannya dengan mata yang berkaca-kaca.


Mereka telah bertemu, Ezra telah bertemu dengan Livia. Gadis yang dicintainya, ternyata benar, gadis yang dicintai Ezra adalah Livia. Gadis yang masih dicintainya itu adalah Livia ku. Gadis yang ingin ditemukannya itu ternyata istriku, jerit hati Radian menangis.


Laki-laki itu terduduk di ruang kerjanya. Tak tahu apa yang harus dilakukannya. Radian pernah berpikir kalau mereka mencintai wanita yang sama. Tapi saat kenyataan itu terjadi di depan mata, hati Radian terasa sangat terguncang.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2