Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 142 ~ Maaf dan Terima Kasih ~


__ADS_3

Radian mendaftarkan Camelia untuk mendapatkan sebuah ruang rawat inap. Laki-laki itu pun mengabarkan orang tua Camelia. Tak lama kemudian kedua orang tua wanita itu datang sambil menangis. Radian menjelaskan sebisanya karena memang dia sendiri belum tahu apa yang terjadi.


"Kenapa nasibmu jadi seperti ini nak?" ucap ibunda Camelia sambil memeluk putrinya yang belum sadar.


"Maafkan kami bu," ucap Leana yang merasa ikut prihatin melihat kesedihan ibu itu.


Ibu itu lalu duduk di kursi di samping ranjang rumah sakit. Menatap putrinya sambil menggenggam tangan Camelia. Sesekali sisa isak tangisnya masih terlihat.


"Hari ini, dia ngotot ingin datang ke pesta. Sejak terakhir kunjunganmu ke rumah sakit waktu untuk membatalkan tuntutan waktu itu, hari-hari dilaluinya dengan perasaan yang tak enak. Dia selalu menyesali kenapa dirinya tak mengucapkan terima kasih padamu. Kenapa saat itu juga tak langsung berterima kasih padamu, tapi malah terdiam tak mengucapkan kata-kata. Dia merasa sangat menyesal. Kami telah berusaha membuat hatinya tenang. Aku sudah berterima kasih padamu. Salsa juga sudah katakan mewakilinya untuk berterima kasih. Tapi dia tetap merasa harus melakukannya tapi dia tak bisa. Dia terlanjur malu, karena saat itu tak langsung mengucapkannya. Saat Salsa membawa undangan pernikahan. Dia nekad datang meski kakinya masih belum sembuh. Dia berkata mungkin ada kesempatan untuk mengucapkan terima kasihnya padamu karena telah memaafkannya, karena tidak lagi menuntutnya. Apa dia sempat menemuimu dan berterima kasih?" tanya ibu itu pada Leana.


"Belum bu, aku bahkan tidak tahu kalau dia hadir di pesta," jelas Leana.


"Aku harap putriku masih memiliki kesempatan untuk mengucapkan terima kasih padamu seperti yang selalu diinginkannya," ucap ibu itu lalu menangis sambil menggenggam tangan putrinya.


"Jangan putus asa bu, kita usahakan pengobatan yang terbaik Camelia," ucap Leana yang juga tak bisa menahan air matanya.


Leana tulus tak ingin terjadi sesuatu terhadap Camelia. Mengingat wanita itulah yang telah menyelamatkan putranya. Leana sendiri sangat ingin berterima kasih pada Camelia. Dia juga ingin mendapat kesempatan membalas budi Camelia. Tanpa merasa lelah Leana menunggui Camelia sambil terus berdoa demi kesembuhan Camelia.


"Leana!"


Terdengar suara pelan dan lemah memanggil nama Leana. Sementara Leana tertidur bersandar di dada suaminya. Mendengar ada suara di ruangan yang hening itu. Sontak membuat orang tua berikut Radian terbangun. Mereka yang tertidur sambil duduk karena lelah menunggu Camelia sadar dari komanya.

__ADS_1


"Sayang! Dia memanggilmu. Camelia sudah sadar!" seru Radian membangunkan istrinya.


Segera Leana bangkit dan mendekati wanita yang berbaring dengan kepala yang telah berbalut kain kasa. Leana langsung menggenggam tangan Camelia. Dengan raut wajah panik, Leana langsung menanyakan keadaan wanita yang terlihat masih lemah itu.


"Bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Leana bertubi-tubi.


"Sebaiknya aku panggil dokter," ucap Radian segera keluar dari ruang rawat inap itu.


"Aku baik-baik saja, hanya terasa sakit di kepala dan punggungku," jawab Camelia lemah.


"Baiklah, sebentar lagi dokter datang. Kita bisa tanyakan obat untuk keluhanmu nanti," ucap Leana masih dengan raut wajah cemas.


"Ya, aku ingin berterima kasih padamu karena telah menyelamatkannya. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu ini. Tak ada satu pun yang aku miliki yang lebih berharga daripada putraku. Aku tidak tahu apa yang bisa aku berikan untukmu sebagai balasan pertolonganmu," ucap Leana dengan air mata yang mengalir.


"Berikan maaf padaku. Atas semua kejahatan yang aku lakukan padamu," ucap Camelia.


"Apa kamu tidak tahu? Aku sudah memberimu maaf sejak terakhir kita bertemu. Sungguh! Aku sudah memaafkan kamu untuk semuanya," ucap Camelia.


"Terima kasih Leana. Ini juga yang ingin aku ucapkan padamu. Setiap kali aku ingat belum mengucapkan terima kasih, aku merasa masih berhutang," ucap Camelia sambil tersenyum tipis.


"Tak ada hutang apa pun lagi. Justru kami yang berhutang budi padamu. Terima kasih karena telah menyelamatkan putraku," ucap Leana tulus.

__ADS_1


"Apa dia baik-baik saja? Aku tak tega melihat anak yang baik itu kesakitan," ucap Camelia yang akhirnya memutuskan untuk menolong Revano.


"Dia baik-baik saja, tapi dia menangis meraung saat melihatmu jatuh tertimpa. Kami semua sadar kejadian itu karena dia memanggilmu dengan tangisnya yang sangat keras," ucap Leana.


"Bolehkah aku bertemu dengannya lagi?" tanya Camelia.


Teringat saat Revano yang merasa tak enak hati digendong oleh seorang yang kakinya sedang sakit. Revano tak ingin menyusahkan Camelia dan meminta segera diturunkan dari gendongan Camelia. Senyum tulus anak itu berterima kasih pada Camelia membuat Camelia jatuh hati pada anak itu.


Revano menyerahkan satu kue yang telah dipilihnya sambil tersenyum lalu ingin segera bergabung dengan teman-temannya. Saat itulah tumbuh rasa sayang dihati Camelia melihat sikap sopan Revano. Anak itu berterima kasih atas bantuan Camelia dengan memberikan kue pilihannya.


"Tentu saja boleh bertemu dengannya. Dia juga sangat ingin bertemu denganmu. Kita rayakan ulang tahun bersama-sama. Kamu harus segera sembuh ya," ucap Leana sambil terisak-isak.


Camelia mengangguk. Tak lama kemudian dokter datang dan langsung memeriksa Camelia. Dokter menyatakan kondisi vital Camelia berada dalam kondisi baik. Setelah menjalani masa penyembuhan sambil menunggu efek dari kepalanya yang tertimpa balok es.


"Pasien diizinkan pulang jika dalam beberapa hari jika tidak terjadi masalah dengan kondisi pasien. Seperti tiba-tiba pingsan atau muntah, sakit kepala atau pusing secara tiba-tiba. Hasil CT scan tidak menunjukkan hal-hal yang mengkhawatirkan. Jadi jika tak ada keluhan pasien bisa keluar dari rumah sakit," jelas dokter itu.


"Benarkah dokter?" tanya Leana begitu bahagia hingga tak percaya.


Dokter mengangguk lalu pamit melanjutkan tugasnya. Leana langsung memeluk Camelia. Mereka saling berpelukan erat. Radian hingga tercengang melihat sikap keduanya.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2