
Radian dan keluarga tiba di sekolah Revano. Dengan penasaran Radian menunggu kedatangan laki-laki yang dilihatnya di dalam foto yang diberikan oleh baby sitter mereka. Sembari menunggu, Radian menikmati saat-saat menunggu Revano dengan bercanda dengan putrinya yang duduk di pangkuan istrinya.
Tingkah Radian yang menggoda putrinya hingga membuat Revani tertawa terbahak-bahak menjadi perhatian para ibu yang melihat. Bahkan ada di antara mereka yang mengambil rekaman kejadian yang menyenangkan itu. Suatu kejadian yang jarang ditemui, kedua orang tua kompak menunggui putra mereka bersekolah.
Radian sontak menjadi idola para ibu-ibu yang setiap hadir di situ. Jika kemarin mereka bertanya-tanya dan menduga-duga hubungan antara Leana dan Dean. Ada yang menduga mereka memiliki hubungan khusus dan ada yang menduga mereka adalah satu keluarga.
"Bukan! Mereka bukan satu keluarga. Ibu itu anaknya yang cowok, bapak itu anaknya yang cewek," ucap seorang ibu.
"Tapi akrab sekali ya," ucap ibu yang lain.
"Ya, apa mungkin mereka pacaran?" tanya ibu yang lain.
"Mereka serasi ya, makanya cocok kalau mereka pacaran," ungkap yang lain.
"Kalau mereka masih single sih nggak apa-apa tapi kalau masih punya pasangan? Berarti selingkuh itu," ucap yang lain.
"Waduh aku kok jadi penasaran ya?" tanya yang lain.
"Ya tapi nggak mungkin tanya langsung ke mereka. Kita nggak enak main tuduh mereka seperti itu," ucap ibu yang tadi.
Semua mengangguk dan pasrah lengkap dengan rasa penasaran. Kini mereka justru tersihir oleh pemandangan harmonis dari wanita yang kemarin-kemarin mereka tuduh berselingkuh itu. Pemikiran baru pun terlintas di pikiran mereka.
"Jangan-jangan ini juga bukan suaminya tapi orang bayaran yang disewa untuk jadi suaminya karena mendengar tuduhan perselingkuhan kemarin tapi cowok yang kemarin mana ya? Aku penasaran gimana ekspresinya waktu melihat ada cowok lain di dekatnya," ucap ibu itu.
"Ih ibu, tega amat menuduh seperti itu, mana ada orang disewa-sewa?" tanya ibu yang lain.
"Lah, ada lah sewa pembunuh bayaran saja ada, kenapa jadi suami bayaran nggak ada," jawab ibu itu.
__ADS_1
"Ih tapi ini mah suami aslinya, lihat aja anak-anaknya mirip dia gitu lho," ucap yang lain.
"Iya, ya kok nggak kepikiran. Anak-anaknya cantik dan ganteng tapi emang mirip mereka," ucap yang lain.
"Kita sembarangan tuduh mereka. Jadi merasa bersalah," ucap ibu yang lain.
"Tapi bapak ganteng kemarin nggak muncul-muncul, mungkin dilarang datang biar nggak ketahuan sama yang ini," ucap ibu yang tadi.
Ibu-ibu yang lain jadi kaget mendengar ucapan ibu itu tetapi baru saja selesai bicara. Dean muncul sambil tersenyum dan menyapa Leana. Wanita itu langsung berdiri dan mengenalkan suaminya.
Ini dia orangnya, aku pikir tak berani muncul, batin Radian.
Oh lumayan juga suaminya. Bukan orang sembarangan ternyata, batin Dean.
Radian mempersilahkan Dean yang baru datang untuk duduk. Dean yang ingin bersikap wajar, sesama lelaki langsung memilih duduk di samping Radian. Mereka langsung terlibat perbincangan yang seru.
"Aduh jelas nggak ya? Oh ya ampun, ganteng-gantengnya. Beruntung sekali ibu itu bisa dikelilingi bapak-bapak ganteng begitu," ucap ibu lalu mengamati layar ponselnya.
Terlihat dua orang laki-laki yang asyik berbincang dengan ekspresi yang ceria sementara Leana hanya asyik dengan putrinya. Menggantikan ayahnya yang tadi menggoda putrinya. Saat di perjalanan pulang, Radian tersenyum-senyum sendiri.
"Ada apa Kak, kok senyum-senyum sendiri?" tanya Leana.
"Nggak apa-apa sayang," jawab Radian.
Radian melihat dan merasakan Leana yang bersikap biasa terhadap pertemuannya dengan Dean. Tak terlihat rasa takut atau sesuatu yang disembunyikan. Teringat tuduhan-tuduhannya terhadap Leana membuat laki-laki itu senyum-senyum sendiri.
Saat berada di kamar laki-laki itu langsung melingkarkan tangannya di pinggang Leana. Wanita itu tersenyum dengan raut wajah heran. Sementara Radian hanya menatapnya dengan tatapan lembut penuh ke kekaguman.
__ADS_1
"Ada apa Kak? Dari tadi senyum-senyum sendiri, sekarang menatap seperti ini, apa yang terjadi?" tanya Leana.
"Apa kamu nggak heran kenapa aku tiba-tiba meminta ikut menunggu Reno di sekolah?" tanya Radian yang langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Leana.
"Itu hal biasa kalau orang tua ingin menunggu anaknya di awal-awal mulai sekolah. Apa lagi besok itu adalah hari terakhir orang tua diizinkan menunggui putranya. Setelah itu kita hanya mengantar tanpa boleh ditunggui lagi. Memangnya kenapa Kak?" tanya Leana heran.
"Sebenarnya bukan karena itu, tapi karena aku yang merasa cemburu," ucap Radian akhirnya jujur.
"Cemburu? Cemburu kenapa? Sama siapa?" tanya Leana.
"Sama Dean. Aku minta ikut denganmu karena ingin bertemu dengan Dean–"
"Dean? Dari mana Kakak tahu tentang Dean. Bukannya baru tadi bertemu dengannya? Kapan Kakak tahu aku kenal Dean dan kenapa Kakak cemburu?" tanya Leana bertubi-tubi.
"Aku sudah tahu sebelumnya dari foto-foto yang diambil Salsa. Dia mengambil foto Selfie begitu banyak dan aku melihatmu di sana, bersama Dean," jelas Radian jujur.
"Salsa? Dia foto Selfie dan tidak sengaja kamu dan Dean juga masuk didalamnya," ucap Radian.
"Aah, aku mengerti sekarang," ucap Leana.
"Apa maksudmu?" tanya Radian.
"Niat Salsa, dan tingkahnya yang aneh. Sekarang aku bisa mengerti," ucap Leana.
Teringat gadis baby sitter itu yang sangat senang diajak ikut ke sekolah. Sikapnya yang sengaja membiarkan Leana asyik berbincang dengan Dean. Teringat tingkah ibu-ibu yang berfoto selfie mengarah ke dua laki-laki yang sedang asyik berbincang itu.
Awalnya Leana hanya tersenyum mengetahui niat ibu-ibu itu dan sekarang mengerti niat Salsa melakukan itu. Sengaja mengambil foto dengan latar belakang mereka agar foto-foto itu bisa dikirimkan ke ponsel suaminya. Leana tahu niat gadis itu sekarang.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...