
Saat menemui Ezra, Radian menumpahkan isi hati dan kekesalannya. Ezra bahkan tak bisa berkata-kata. Setelah selesai menyampaikan uneg-unegnya, Radian melangkah pulang namun kembali bertemu dengan Ricky. OB itu sengaja menunggu Radian tak jauh dari ruang kerja CEO perusahaan itu.
Anak muda itu telah berjanji akan mengawal laki-laki yang dikaguminya itu. Ricky tak ingin Radian melakukan perbuatan yang akan disesalinya. Mengikuti amarah hingga akhirnya merugikan dirinya sendiri. Anak muda itu telah merasa dekat dengan Radian bahkan meminta diajak ke tempat kerja laki-laki itu.
"Pak Radian sudah punya usaha sendiri?" tanya Ricky dengan nada kagum.
"Bukan punyaku, tapi punya beberapa orang temanku. Aku hanya orang yang ditunjuk untuk memimpin usaha itu," jawab Radian.
"Berarti Pak Radian CEO dong?" tanya Ricky lagi.
"CEO apa? Itu cuma perusahaan kecil mana ada CEO-CEO-an," jawab Radian sambil tertawa.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah toko tempat Radian dan teman-temannya membuka usaha. Radian memperkenalkan Ricky pada crew perusahaan itu. Dengan mudah anak muda itu berbaur dengan para crew. Ricky yang ternyata kuliah sambil bekerja itu sangat senang nongkrong di sana. Meminta izin pada Radian untuk tinggal di rumah toko itu dan berjanji akan membantu mereka beres-beres rumah toko itu setiap hari.
"Kami tak bisa menggaji kamu selayaknya pekerja kebersihan di perusahaan," jawab Radian.
"Nggak perlu di gaji Pak. Kalau diizinkan tinggal di sini, saya sudah bisa berhemat uang kost tapi yang lebih penting bagi saya adalah kesempatan belajar dan hidup di dunia kerja," jawab Ricky.
__ADS_1
"Bukannya kamu sudah bekerja di perusahaan milik Ezra. Kamu sudah berbaur dengan dunia kerja," ucap Radian lagi.
"Tidak sama Pak, di perusahaan Tn. Ezra saya jadi OB, datang pagi-pagi beres-beres, setelah itu pulang, yang bisa menyelami dunia kerja di sana mungkin asisten kantor. Mereka memang bertugas untuk membantu karyawan-karyawan dari pagi hingga sore hari sama seperti karyawan tetap. Kalau di sini saya seperti asisten kantor Pak, bisa bantu-bantu sambil belajar," jelas Ricky.
Radian menoleh pada crew lain untuk meminta pendapat mereka. Pak Arif mengangguk mengizinkan. Selain mereka memang tidak punya OB ataupun asisten kantor. Perusahaan itu juga sudah tak lagi terbebani biaya gaji untuk sekretaris.
Camelia langsung resign begitu menikah dengan Radian. Wanita itu berencana menjadi istri yang baik bagi laki-laki itu. Duduk diam di rumah menanti suaminya yang pulang bekerja. Tanpa diketahui olehnya Radian justru berencana kembali tinggal di rumah toko itu bergabung dengan crew lainnya.
Di sana pikiran Radian lebih tenang. Bisa full time, kapan saja dia ingin bekerja dia akan bekerja. Dengan melihat semangat kerja anak-anak muda di perusahaan itu, semangat kerja Radian pun juga ikut tumbuh berkali-kali lipat.
"Aku tidak pulang, aku masih banyak pekerjaan," jawab Radian saat Camelia menelpon.
Tak tahan menunggu, Camelia memutuskan untuk menelepon karena hari ini adalah hari pertama mereka setelah menikah. Radian justru tak pulang ke rumah. Wanita yang tengah hamil itu langsung meraih ponselnya dan menghubungi suaminya.
"Kenapa Kak Radian nggak bilang kalau mau lembur? Aku menunggu Kakak dari tadi," ucap Camelia manja.
"Kenapa aku harus lapor padamu? Aku mau pulang atau tidak, itu bukan urusanmu," jawab Radian.
__ADS_1
"Tapi aku ini istrimu Kak. Aku berhak tahu ke mana suamiku. Apa yang dilakukan suamiku," ucap Camelia.
"Siapa yang menganggapmu sebagai istriku? Aku tidak pernah menganggap diriku sebagai suamimu dan aku juga tak pernah menganggapmu sebagai istriku. Cuma satu yang aku anggap sebagai istri, Livia. Cuma dia satu-satunya istriku. Jadi jangan berlagak seperti seorang istri dihadapanku," jawab Radian.
Camelia terdiam, lalu terdengar seperti menangis. Radian menutup sambungan teleponnya. Laki-laki itu sebenarnya tak tega berkata seperti itu tapi dia tak ingin Camelia terus berharap padanya. Bagi Radian, untuk wanita pemaksa seperti Camelia lebih baik bersikap tegas tak memberi harapan.
Radian memang tak berencana pulang hari ini dan seterusnya. Laki-laki itu ingin menetap di rumah kantor itu seperti sebelum menikah. Meski dipaksa pun Radian tak akan kembali ke rumah kontrakannya. Kamar di rumah kontrakannya itu terlalu sempit dan Radian tak ingin satu ranjang dengan wanita itu.
Maaf Camelia, aku tak ingin kasar padamu tapi aku harus tegas padamu. Aku tak ingin memberi harapan padamu sedikit pun. Aku tidak akan pulang malam ini dan malam-malam seterusnya. Terlebih malam ini aku ingin menemui istriku, batin Radian.
Benar saja, selepas Maghrib Radian langsung melangkah ke kediaman Tn. Robert Chandra. Laki-laki itu bertekad ingin meminta maaf atas kesalahpahaman terhadap foto-foto Ezra dan Leana. Radian tiba didepan pintu rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya itu. Seorang pelayan membuka pintu dan Radian langsung meminta izin untuk bertemu dengan istrinya.
"Tapi Nyonya Leana juga sedang ada tamu Tuan," ucap pelayan itu.
"Tolong tanyakan apa aku bisa bertemu dengannya sebentar saja. Aku tidak masalah jika harus menunggu," ucap Zefran.
Pelayan itu pun masuk dan memberitahu pesan Radian. Saat mengetahui tamu yang baru datang itu adalah suaminya, raut wajah Leana langsung berubah murung. Namun, akhirnya mengizinkan laki-laki yang dicintainya itu masuk untuk menemuinya. Radian pun dipersilahkan masuk namun apa yang dilihatnya sangat membuatnya terkejut. Tamu yang dimaksudkan pelayan tadi ternyata adalah Ezra.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...