Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 48 ~ Bersama Lagi ~


__ADS_3

Setelah dirasa cukup tenang, Nesya mengizinkan Leana pulang. Namun wanita itu justru berhenti dan termenung di sebuah area parkir terbuka. Menatap gedung rumah sakit tempat laki-laki yang dicintainya terbaring lemah. Hanya diam menatap gedung rumah sakit dari dalam mobilnya.


Ada keraguan di hatinya, untuk mendatangi suaminya atau untuk langsung pulang. Namun setiap kali wanita itu menyalakan mesin mobilnya dalam hitungan detik segera mematikannya lagi. Leana menelungkupkan wajahnya di atas stir mobil sekian lama. Rasa ragu itu membuat hatinya sangat tersiksa.


Tak ingin merasa menyesal, akhirnya Leana melangkah menelusuri lorong rumah sakit. Suasana rumah sakit yang mulai sepi karena hari mulai malam. Leana tak ingin menyesal sampai di rumah. Wanita itu ingin menatap wajah suaminya walau cuma sekejap. Terlebih sejak kejadian di kantor, Leana seperti ingin mengadu pada suaminya meski hanya bisa diucapkan di dalam hati. Mendapatkan pelukan dari laki-laki itu sekejap saja cukup untuk menghibur hatinya yang sedang bersedih.


"Kita tinggal Kak Radian sendiri nggak apa-apa Mom?" terdengar suara Monica bicara dengan ibunya.


Leana langsung mundur untuk bersembunyi di balik dinding.


"Tidak apa-apa, di sini banyak perawat yang mengawasi. Besok jika kita menginap di sini kita harus bawa pakaian ganti dan makanan. Jika beli makanan terus, uang kita bisa cepat habis," jelas Shanty.


Monica mengangguk, mereka sepakat untuk pulang dulu malam ini dan kembali besok pagi. Kesempatan itu digunakan Leana untuk mendatangi ruang rawat inap suaminya. Melangkah perlahan mendekati ranjang rumah sakit itu agar tak mengganggu istirahat suaminya


Leana menyentuh tangan Radian dengan ragu-ragu. Air matanya langsung mengalir, wanita itu rindu pelukan suaminya, wanita itu butuh pelukan hangat laki-laki itu saat ini. Setelah mengalami peristiwa yang membuatnya merasa trauma, Leana butuh kata-kata menghibur dari suaminya.


"Kakak, bagaimana keadaan Kakak? Apa masih sakit. Aku rindu Kakak, aku rindu …."


Wanita itu tak meneruskan ucapannya, namun hanya bisa menangis teringat kejadian yang dialaminya tadi siang. Kesucian dirinya sebagai seorang istri hampir saja terenggut. Leana ingin sekali menceritakan kejadian itu tapi jelas tak mungkin. Curahan hatinya pada Radian hanya tertelan di dalam hatinya.


Leana menangis tersedu-sedu, tak ingin mengganggu istirahat suaminya, Leana berencana untuk pergi.


"Mau ke mana? Aku juga masih rindu kamu," ucap Radian menahan tangan Leana.


Wanita itu sontak kaget karena tak menyangka suaminya telah sadar.

__ADS_1


"Kakak sudah sadar? Aku panggilkan dokter dulu ya," ucap Leana ingin pergi.


Namun tangan Radian masih menahan tangan istrinya itu.


"Aku sudah sadar dari tadi, aku juga sudah diperiksa. Barusan aku hanya ingin memejamkan mata, aku mendengar semua ucapanmu. Katanya rindu, kemarilah aku sangat ingin memelukmu tapi tubuhku terasa lemas," ucap Radian sambil merentangkan tangannya.


Leana langsung menghambur ke dalam pelukan Radian. Leana langsung menangis dalam pelukan laki-laki itu. Radian meminta istrinya naik ke atas ranjang rumah sakit itu.


"Apa? Naik ke atas ranjang ini?" tanya Leana.


Radian mengangguk, terlihat laki-laki itu serius meminta istrinya naik ke atas ranjang rumah sakit itu. Radian menggeser posisinya agar istrinya bisa berbaring bersamanya. Begitu wanita itu rebah disampingnya, Radian langsung memeluknya.


"Maafkan aku sayang! Aku sangat ingin mengucapkan itu sejak tadi pagi, tapi baru sekarang bisa kesampaian," ucap Radian nyaris berbisik.


"Itu bukan salahmu sayang. Kamu abaikan atau tidak, aku memang sudah waktunya ambruk. Aku mengabaikan kemampuan tubuhku. Aku terlalu memaksakannya, hingga tubuhku sendiri tak mampu lagi menahannya. Ini bukan salahmu sayang, aku yang tak becus menjaga kesehatanku," bisik Radian.


Leana memperketat pelukannya, wanita itu menangis bahagia karena memutuskan untuk datang ke ruang rawat inap itu. Awalnya menangis bahagia namun berlanjut menangis sedih. Tentu saja Radian merasa heran dengan sikap istrinya.


"Kamu kenapa sayang? Kenapa menangis?" tanya Radian khawatir melihat cara istrinya menangis.


Leana hanya menggelengkan kepalanya, wanita itu tak menjawab, dia lebih memilih untuk menenggelamkan dirinya dalam dada bidang suaminya.


"Kamu tahu? Saat aku tertidur, aku bermimpi. Kamu berdiri di suatu taman, tempat itu sangat indah. Kamu juga sangat cantik. Aku langsung ingin menghampirimu karena aku lihat kamu seperti sedang menunggu. Saat aku memanggilmu, kamu langsung tersenyum padaku. Dengan semangat aku langsung berlari ke arahmu. Kamu juga tersenyum sambil merentangkan tanganmu. Aku sangaaat bahagia saat itu. Aku berhenti sejenak untuk menatap wajahmu yang sangat aku rindukan, lalu segera meraih tanganmu yang tersenyum menatapku. Tapi tiba-tiba Ezra mendahuluiku, dia meraih tanganmu dan mengajakmu pergi. Kamu tersenyum padanya. Saat itu juga langkahku terhenti, aku berpikir kalau  ternyata senyummu itu bukan untukku. Ternyata kamu bukan menungguku tapi menunggu Ezra. Karena saat tangannya menyentuh tanganmu, wajahmu terlihat begitu bahagia tanpa menoleh sedikit pun padaku. Aku menyesal, sangat menyesal, jika aku tidak berhenti untuk menatapmu, aku akan lebih dulu meraih tanganmu dan aku akan bergandengan tangan denganmu di taman itu. Aku menyesal, sangat menyesal hingga saat terbangun pun air mataku mengalir. Aku sangat merindukanmu, sangat ingin bertemu denganmu. Agar aku yakin kalau tadi itu hanya sebuah mimpi. Tapi kamu tak kunjung datang, aku sangat sedih sayang! Aku merasa kalau Ezra telah mendapatkanmu," tutur Radian begitu panjang menceritakan mimpinya.


Hampir saja Kak, hampir saja Kak Ezra memiliki aku. Tapi aku tidak bahagia Kak, aku juga tidak tersenyum meninggalkanmu. Aku justru merindukanmu, aku sangat merindukanmu, batin Leana semakin menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Livia, ada apa sayang?" tanya Radian khawatir melihat tangis Leana yang begitu sedih.


"Tidak apa-apa Kak, aku hanya rindu Kakak," jawab Leana.


"Aku sungguh bahagia Livia. Karena kamu benar-benar datang menemuiku. Aku pikir akan sama seperti di mimpiku, kamu pergi bersama Ezra," ucap Radian


"Jangan ucapkan namanya lagi. Jangan ucapkan kata-kata itu lagi. Aku hanya ingin bersama Kakak," jawab Leana.


"Baiklah sayang, aku tidak akan menceritakan itu lagi. Aku sangat bahagia, harapanku bisa terwujud" ucap Radian sambil mengecup kening istrinya.


Leana memejamkan mata, meresapi ciuman hangat suaminya itu. Leana langsung mendaratkan bibirnya ke bibir suaminya. Leana hanya ingin menyerahkan dirinya pada laki-laki dihadapannya itu. Meski Radian mengelak karena malu bibirnya terasa kering namun Leana tak peduli. Dia ingin menghilangkan rasa milik Ezra dengan menggantikannya dengan rasa milik Radian.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Leana tersenyum sambil kembali memeluk suaminya.


"Kamu mau menginap di sini menemaniku?" tanya Radian.


"Aku akan menemani Kakak, di mana pun Kakak inginkan, aku akan menemani Kakak," ungkap Leana benar-benar serius dengan ucapannya.


"Aku ingin bersamamu lagi. Aku ingin selamanya bersamamu," ungkap Radian.


"Kakak akan kembali padaku?" tanya Leana.


Radian mengangguk, membuat Leana tersenyum bahagia. Radian tak ingin mimpinya menjadi kenyataan. Radian tak boleh ragu meraih tangan Leana hingga akhirnya Ezra datang mendahuluinya. Radian ingin senyum Leana untuknya. Bukan tiba-tiba menjadi milik Ezra. Karena itu Radian merasa dia tak boleh ragu menatap wajah istrinya. Kemudian baru meraih tangannya. Tapi langsung memeluk lalu menatap sepuas-puasnya.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2