
Haris, Yanto dan Ricky bergegas berlari ke instalasi gawat darurat rumah sakit itu dengan ekspresi wajah yang tegang. Di perjalanan Pak Arif juga sedang memacu mobilnya ke rumah sakit yang sama. Mereka mendapat pemberitahuan kalau Radian mengalami kecelakaan dan kritis di rumah sakit.
Ada rasa tak percaya karena maraknya penipuan bermodus kecelakaan. Yanto yang mendapat kabar pertama langsung meminta Haris menelpon ponsel Radian. Benar saja yang menjawab ponsel itu adalah pihak rumah sakit.
Mereka pun segera berangkat ke rumah sakit yang disebutkan dan mencari di mana Radian ditempatkan. Saat melihat kondisi Radian, hati mereka langsung terenyuh. Mata Ricky bahkan berlinang, baru saja dirinya mengenal dekat laki-laki di hadapannya itu kini dia terbaring dalam kondisi kritis.
Dokter menjelaskan kondisi Radian yang mengalami koma akibat cedera serius pada kepalanya, di samping tangannya yang patah dan tulang rusuknya yang retak. Kondisi Radian sangat mengkhawatirkan.
"Kita harus beritahu keluarganya," ucap Haris pada Yanto.
"Baik Ris, tapi pada siapa kita beritahu? Kita tak punya nomor kontak keluarganya," ucap Yanto.
"Kita lihat di ponsel Bang Radian," usul Haris yang segera mencari pihak rumah sakit yang menelpon mereka tadi.
Berdasarkan nomor kontak yang tersedia di ponsel. Mereka mencoba memilih kepada siapa mereka akan memberi kabar tentang kondisi Radian. Sesaat mereka bingung istri yang mana yang harus mereka hubungi. Pak Arif yang baru saja datang, segera menyarankan untuk menelepon Leana.
__ADS_1
"Kenapa Pak?" tanya Haris heran.
"Karena orang yang paling diinginkan Radian adalah Leana. Jika istrinya ada di sampingnya dan bicara padanya kita berharap Radian akan cepat sadar," ucap Pak Arif.
Haris mengangguk setuju dan kemudian menelpon istri pertama Radian itu. Sementara itu sepeninggalan suaminya, Leana hanya bisa termenung mengingat ucapan Radian pada anaknya.
Kenapa berkata seperti itu? Kakak tak ingin bertemu dengan kami lagi? Kakak memberikan beban tanggung jawab pada anak sekecil itu? Benarkah semua karena alkohol? Kenapa Kakak pergi bersamanya? Kenapa bisa bersamanya? Jika tidak menyukainya, kenapa selalu bersamanya? Kenapa dia selalu ada di sisimu? Kakak pembohong! Kakak pembohong! Kakak memang ingin menidurinya, jerit Leana dari dalam hatinya.
Begitu kesalnya Leana bahkan mengobrak-abrik buku yang terpajang di kamarnya. Buku-buku itu berjatuhan, mengeluarkan suara barang-barang jatuh berantakan. Para pelayan sontak mengejar ke arah suara. Namun, mereka hanya terpaku menatap majikan mereka yang sedang meluapkan kekesalannya.
"Nyonya, bersabarlah Nyonya," pinta seorang pelayan yang telah tua.
Mendengar permintaan itu, Leana berhenti mengamuk. Perlahan duduk di lantai dan menangis. Pelayan itu meminta pelayan yang lainnya mengambilkan segelas air putih untuk menenangkan hati majikannya. Setelah meminta Leana minum, pelayan itu meraih satu persatu buku-buku milik Radian yang telah berserakan di lantai.
"Biar saja Bi, nanti saya yang bereskan," ucap Leana pelan dengan air mata yang masih mengalirkan deras.
__ADS_1
"Bibi kumpulkan saja Nyonya, nanti kalau Nyonya mau menyusun sendiri silakan, nanti saya bantu," ungkap pelayan itu.
Dengan pandangan yang sayu, mata Leana mengikuti apa yang dilakukan para pelayan itu. Termenung menatap mereka mengumpulkan buku-buku yang berserakan. Leana merasa bersalah karena telah merepotkan para pekerja si rumahnya itu.
"Maaf ya!" ucapnya pelan.
Para pelayan itu sontak menoleh dan tersenyum. Meski rumah itu sangat besar tapi mereka tak pernah merasa keberatan bekerja di rumah itu. Leana tak menganggap para pekerja di rumah itu sebagai pembantu. Namun, seperti keluarga sendiri hingga mereka merasa bahagia tinggal di rumah itu karena seperti di rumah sendiri.
"Nyonya lihat! Masa Tn. Radian menyimpan buku seperti ini?" tanya seorang pelayan yang menunjukkan sebuah buku harian berwarna merah muda lembut.
"Itu punyaku!" jerit Leana ingin berdiri mengambil buku yang ditunjukkan pelayan itu.
Melihat Leana yang kerepotan berdiri karena kandungannya, pelayan itu segera datang menghampiri. Pelayan itu menyerahkan buku harian itu ke tangan Leana. Mengusap buku harian itu dengan perlahan, mata wanita itu kembali berkaca-kaca. Bukan karena menemukan buku hariannya yang telah hilang selama bertahun-tahun tapi karena mengetahui kenyataan, laki-laki yang dicintainya itulah yang telah menyimpannya dengan sangat hati-hati.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1