Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 13 ~ Kabar Gembira ~


__ADS_3

Mendengar nama kucing Leana, Radian langsung datang menghampiri. Terlihat Leana yang sedang asyik menggendong kucing ras Persia berwarna putih dengan bulunya yang tebal lembut dan halus itu. Radian terpaku menatap Leana yang sibuk bermain bersama kucing kesayangannya.


Sementara Leana asyik bermain dengan kucingnya, Radian justru sibuk menenangkan hatinya yang bergejolak begitu mendengar nama kucing yang persis sama seperti kucing Livia yang telah mati dan terkubur di bawah pohon Tabebuya di taman belakang rumah mereka.


"Kak, kenalkan ini temanku di penthouse namanya Fluffy," ungkap Leana.


Radian menatap Leana dengan pikiran yang berkecamuk.


Kenapa Leana, kenapa kamu selalu mengingatkan aku pada Livia? Batin Radian.


"Kenapa diberi nama Fluffy?" tanya Radian akhirnya, mencoba untuk bersikap wajar.


Sementara hatinya bergejolak karena semua yang berhubungan dengan Livia itu.


"Karena dia berbulu halus, lembut dan empuk," jawab Leana sambil memeluk dan mencium kucing cantik itu.


Radian mengangguk dan ikut membelai bulu halus kucing ras persia yang harganya mencapai hingga 78 juta itu.


"Namanya Fluffy sama seperti kucingku yang telah mati waktu aku masih kecil," ucap Leana pelan.


Terdengar sangat pelan namun seperti petir tepat di depan mata bagi Radian.


Kucing Leana yang mati juga bernama Fluffy? Kenapa? Kenapa Leana? Aku mencoba menganggap ini hanyalah kebetulan. Tapi kenapa apa yang ada pada dirimu mengingatkan aku pada Livia. Kenapa Leana? Kenapa? tanya Radian dalam hati.


Laki-laki itu akhirnya memilih untuk meninggalkan Leana dan berlari ke lantai atas. Leana menatap suaminya yang terlihat tak begitu menyukai kedatangan kucing kesayangannya itu.


Leana menghampiri Nesya yang mengantarkan kucing itu. Personal assistant-nya itu sengaja menjemput Fluffy di tempat penitipan hewan peliharaan di New York demi atasannya yang telah rindu pada hewan kesayangannya.


"Terima kasih Nesya. Kamu memang sahabat sejati," ungkap Leana pada bawahannya yang telah dianggap sahabatnya sendiri.


"Sepertinya Tuan Radian kurang suka dengan kucing," ucap Nesya.


"Bukannya tidak suka, tapi terusik oleh nama kucing ini. Aku rasa Kak Radian tahu tentang kucing Livia," ucap Leana.


"Oh ya? Aku pikir dia orang yang tidak peduli pada apa pun," ucap Nesya.


"Aku mengenalnya sebagai orang yang seperti itu tapi entah apa yang ada dalam pikirannya? Bisa saja dia terlihat tak acuh tapi apa yang ada di dalam hatinya aku tidak pernah tahu," ucap Leana lagi.


"Apa selamanya Nona akan menyembunyikan diri Nona yang sebenarnya?" tanya Nesya.


"Sebagian hatiku ingin selamanya sebagai Leana tapi sebagian lagi ingin menjadi diriku sendiri. Tapi untuk sementara seperti rencana kita, aku akan tetap menjadi Leana hingga semua keinginanku tercapai," ungkap Leana.


"Baiklah Nona, sepertinya tidak ada keperluan lagi, kalau begitu aku permisi pulang dulu ya Nona."


"Nesya, aku ini bukan Nona lagi. Aku telah menikah sekarang," ucap Leana. Nesya tersenyum.


"Sudah menjadi kebiasaan. Bagiku meski Nona sekarang telah menjadi Nyonya tapi bagiku Nona selamanya tetaplah Nonaku," ucap Nesya sambil tersenyum.


Leana mengangguk, membiarkan Nesya memanggilnya seperti yang dia mau. Setelah Nesya pulang, Leana langsung berlari ke lantai atas untuk menemui suaminya. Terlihat Radian yang termenung di balkon.


"Kak … Kakak kenapa? Kenapa murung?" tanya Leana.


"Dari begitu banyak nama, kenapa nama itu yang kamu pilih?" tanya Radian.


"Karena sesuai dengan bentuknya," jawab Leana.


Wanita itu tak mungkin mengatakan alasan yang sesungguhnya. Kalau dia adalah Livia yang pernah memelihara kucing dengan nama yang sama.


*Kenapa s*emakin banyak muncul kemiripanmu dengan Livia? Bagaimana aku bisa melupakan Livia? Ini tak adil bagimu Leana, menikahimu tapi masih memikirkan gadis lain. Aku ingin melupakan Livia dan mencintaimu seutuhnya tapi kenapa justru kamu yang selalu mengingatkan aku pada Livia, batin Radian.


"Aku ingin istirahat Leana," ucap Radian lalu melangkah masuk ke kamarnya.


Radian merebahkan diri lalu memejamkan matanya.


"Kakak tidak suka aku peliharaan Fluffy?" tanya Leana.


Bukan pelihara kucing yang jadi masalah, tapi nama kucing itu yang jadi masalah sayang, batin Radian.


Laki-laki itu menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Leana tadi. Leana kemudian melangkah keluar kamar, meninggalkan Radian yang ingin beristirahat. Menatap pintu kamar mereka dari luar kamar itu.


Apa aku berlebihan, mengusiknya dengan cara seperti ini? Apa tidak akan menghantui Kakak dengan memberi nama Fluffy? Maaf Kak, tapi bersabarlah, biarkan aku melakukan apa yang menjadi rencanaku. Setelah itu aku pasrah dengan keputusanmu, batin Radian.


Tak lama kemudian Leana muncul di kamar mereka dan langsung menghampiri suaminya. Leana  bersandar di dada laki-laki itu. Radian langsung membelai punggung Leana. Radian tak menjawab pertanyaan Leana tadi namun Leana tetap tak berani menanyakannya kembali karena Radian yang terlihat seperti seseorang yang sedang terguncang.


Keesokannya Leana terbangun dan mendapati ranjang di sampingnya telah kosong. Leana segera bangun, pandangannya mengitari ruangan namun tak menemukan suaminya. Sejak kedatangan Fluffy, Radian jadi lebih banyak diam. Leana mencari hingga keluar kamar dan mendapati kamar di sebelah kamar mereka dalam keadaan terbuka.

__ADS_1


Leana masuk dan mendapati suaminya sedang berdiri di balkon kamar Livia. Leana menghampiri dan memeluk tubuh suaminya dari belakang. Radian kaget lalu menoleh. Setelah menyadari siapa yang memeluknya, Radian pun merasa lega. Laki-laki itu membalas memeluk kedua tangan yang melingkar di dadanya itu.


"Kenapa sudah bangun sepagi ini?" tanya Radian.


"Kakak malah bangun lebih pagi lagi," jawab Leana.


"Aku tidak bisa tidur," ucap Radian.


"Kakak tidak tidur dari semalam? Kenapa?" tanya Leana kaget.


"Tidak apa-apa, hanya ... teringat sesuatu," ucap Radian sambil menunduk.


"Apa itu? Apa ada hubungannya dengan Fluffy? Kakak tidak suka padanya? Kalau Kakak tidak suka, aku berencana akan mencari orang untuk mengadopsinya," ucap Leana pelan.


Radian membalik badan dan menangkup wajah istrinya.


"Tidak sayang, jangan lakukan itu. Kamu sangat menyayanginya kenapa harus memberikannya pada orang lain?" tanya Radian.


"Karena Kakak tidak menyukainya, aku rela kehilangannya daripada kehilangan Kakak," ucap Leana dengan tatapan sedih.


"Sayang, aku bukannya tidak suka padanya. Sungguh! Jangan buang dia karena aku, itu pengorbanan yang sangat besar, terlalu besar bagimu," ucap Radian sambil tersenyum.


"Kakak bahkan rela kehilangan semua buku-buku yang Kakak kumpulkan sejak kecil demi aku. Pengorbanan yang aku lakukan ini tidak seberapa dibandingkan pengorbanan Kakak," jawab Leana.


Radian tersenyum lalu memeluk istrinya sangat erat.


"Tapi kenyataannya, kamu membiarkan buku-buku itu tetap berada di situ. Aku yakin kamarku sama sekali tidak layak di sebut dengan kamar pengantin apalagi kamar untuk berbulan madu," ucap Radian sambil menyandarkan pipinya ke puncak rambut istrinya.


"Kakak memberikan kenangan bulan madu yang indah untukku, itu sudah cukup. Kamar Kakak yang lebih mirip perpustakaan itu jadi tidak masalah bagiku. Aku anggap itu kamar pengantin yang unik," sahut Leana sambil tertawa.


"Apa kita pindah ke kamar ini saja? Kamar ini lebih manis dari pada kamarku," tanya Radian.


"Kakak berdiri semalam di sini karena memikirkan itu?" tanya Leana.


Radian hanya tersenyum.


Tapi apa aku bisa mencumbu Leana di sini? Apa aku tega bercinta dengan Leana di sini, dengan perasaan Livia juga berada di sini? Rasanya seperti sengaja menunjukkan padanya kalau aku memiliki wanita lain. Aku rasa, aku tidak akan bisa bercinta dengan Leana dengan perasaan yang seperti dilihat Livia. Ya, ampun apa yang terjadi padaku? Kenapa aku mempertimbangkan perasaan orang yang sudah tidak ada? Livia sendiri mungkin tidak tahu seperti apa perasaanku padanya, batin Radian.


"Kak, kenapa melamun lagi? Sudahlah! Biarlah kamar ini tetap menjadi ruang kerja dan ruang istirahatku. Kamar pengantin kita tetap perpustakaan itu," ucap Leana sambil tertawa.


Radian yang tadinya melamun akhirnya ikut tertawa sambil terus memandangi wajah istrinya yang cantik.


"Kita siap-siap yuk Kak, sudah mulai pagi," ajak Leana.


"Mau mandi bersama?" ajak Radian.


Leana tersenyum tak menjawab ajakan laki-laki itu. Namun tangannya langsung menarik tangan Radian untuk masuk ke kamarnya. Wanita itu bahkan langsung melepas satu persatu yang melekat di tubuh suaminya. Mereka mandi bersama dan bersiap-siap bersama.


Saat melangkah ke ruang makan mewah itu, Shanty dan Monica sudah standby menunggu sarapan pagi mereka. Mereka menyapa keduanya dan langsung duduk menunggu sarapan yang sedang di siapkan para pelayan.


"Bagaimana dengan kerjaan Kak Monica? Apa betah di sana atau ingin mengganti dengan agensi lain?" tanya Leana mencari bahan obrolan.


"Oh, di sana memang sulit, rasanya semua yang aku pelajari selama ini tidak ada artinya," jawab Monica.


"Jadi mau ganti agensi?" tanya Leana lagi.


"Ah tidak usah, tempat itu sangat bergengsi. Aku lebih baik bertahan di sana dan jadi kacung tapi memiliki harapan untuk lebih maju daripada aku jadi putri tapi tak bisa kemana-mana, jadi putri dalam tempurung," jawab Monica.


Leana dan lainnya tertawa mendengar perumpamaan yang di gunakan Monica.


Siapa bilang kamu putri? Kamu itu benar-benar katak dalam tempurung. Hanya di sanjung teman-temanmu yang ingin hidup enak, kamu langsung percaya, batin Leana.


"Baiklah! Jika Kak Monica bisa bertahan di sana itu bagus sekali. Kalau tidak sanggup jangan dipaksakan nanti bisa stress." saran Leana.


Monica mengangguk, Leana menatap adik iparnya yang terlihat masih belum dewasa dalam berpikir. Namun, sekarang telah memiliki keteguhan hati dan memiliki pegangan yang teguh untuk bisa lebih maju.


Syukurlah jika dia sadar, mungkin semangat itu di dapatnya dari tempaan di agensi yang benar-benar keras dalam mendidik asuhannya, batin Leana.


"Mommy bagaimana? Apa baik-baik saja? Apa tidak ada masalah yang berarti?" tanya Leana.


"Ah, tidak ada apa-apa. Mommy baik-baik saja," jawab Shanty lalu segera menunduk.


"Oh, baguslah. Mommy juga jangan sampai stress, kalau ada masalah, ceritakan padaku," ucap Leana.


"Ya Leana, kamu juga jaga kesehatanmu jangan terlalu keras bekerja nanti jatuh sakit," jawab Shanty berbasa-basi.

__ADS_1


Shanty dan Monica tersenyum, sementara itu Radian semakin bahagia dan kagum melihat perhatian Leana pada keluarganya. Terlihat Leana sedikit mendominasi keluarga itu namun melihat ibunya dan adiknya yang seperti patuh dan perhatian pada Leana menyebabkan Radian semakin kagum pada istri tercintanya itu.


Meski merasa heran melihat sikap ibu dan adiknya yang semakin hari semakin tunduk pada Leana. Tapi itu membuat keluarganya terlihat semakin akrab dengan menantu keluarga itu. Radian melihat ibu dan adiknya begitu perhatian dan sayang pada istrinya membuat laki-laki itu semakin jatuh cinta pada Leana.


Para pelayan datang dan menata hidangan di atas meja. Leana tersenyum dan berterima kasih pada pelayan yang menaruh sarapan di hadapannya itu. Namun tiba-tiba Leana merasa mual hingga menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


"Kamu kenapa Leana?" tanya Shanty perhatian.


"Oh, entahlah Mommy, mungkin masuk angin," jawab Leana sambil menyentuh pipinya.


"Makanya jangan kurang-kurang istirahat sayang," ucap Radian sambil memijat punggung istrinya.


Leana mengangguk tapi rasa mual itu semakin menjadi. Leana menjauhkan sup jagung asparagus itu seperti tidak suka dengan aromanya. Leana minta di ambilkan air putih hangat. Pelayan itu pun membawakan untuknya.


"Bi, tolong ambilkan aku roti tawar dan air hangat ya Bi. Aku sarapan itu saja," pinta Leana.


Pelayan itu akhirnya membawa kembali mangkok sup yang dihidangkannya tadi dan menggantinya dengan roti dan air putih hangat.


"Apa kita perlu ke dokter sayang?" tanya Radian.


"Tidak usah Kak, cuma masuk angin," ucap Leana.


"Kamu sih, ikut-ikutan bangun pagi-pagi sekali," ucap Radian menyesali.


"Aneh ya Kak? Kakak yang tidak tidur, kenapa aku yang masuk angin?" tanya Leana sambil tertawa.


"Ada masalah apa? Kenapa sampai tak bisa tidur?" tanya Shanty.


"Entahlah Mommy, Kak Radian katanya ingin pindah ..."


"PINDAH? Pindah ke mana?" tanya Shanty yang langsung ketakutan mengingat rumah itu sekarang bukan lagi miliknya.


Nyonya besar itu seperti sensitif dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah dan kata pindah.


"Pindah kamar Mom, bukan pindah rumah. Mommy jangan khawatir," ucap Leana lalu tertawa seperti menyindir.


Leana satu-satunya orang yang mengerti kekhawatiran Nyonya besar itu dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah.


"Oh, Mommy pikir ..."


"Kalau Bibi pikir Nyonya Muda ini bukan masuk angin tapi sedang hamil," sela pelayan itu saat menaruh se teko air hangat di hadapan Leana.


Mendengar itu Radian dan Leana saling berpandangan, wajah mereka langsung bersemu merah.


"Benarkah Bi? Menurut Bibi seperti itu?" tanya Shanty.


Pelayan itu tersenyum menoleh ke arah pasangan suami istri yang tertunduk itu.


"Ya Nyonya besar, kalau saya lihat tanda-tandanya. Nyonya muda seperti sedang hamil. Nyonya Leana jangan malu, namanya juga sudah menikah ya tentu berharap mendapatkan keturunan. Kalau tidak punya keturunan justru malah sedih," ucap pelayan yang telah tua itu.


"Wah cepat juga, ya. Tapi kalau di pikir-pikir Mommy lebih cepat lagi. Masih kuliah sudah hamil, umur dua puluh sudah memiliki Radian. Di jaman sekarang ini kalian cukup hebat bisa segera mendapat keturunan," ucap Shanty yang membuat pelayan itu mengangguk dan tersenyum senang.


Sementara Radian dan Leana justru berharap pembahasan itu segera dihentikan. Bagaimana tidak? Mereka merasa semuanya sedang membicarakan hasil percintaan mereka.


Radian segera menyudahi sarapan paginya dan masuk ke kamar, Leana menyusul suaminya. Sampai di kamar Radian langsung memeluk istrinya.


"Apa benar itu sayang? Benarkah kamu sedang hamil?" tanya Radian tak melepas pelukannya.


"Kita test dulu Kak, untuk lebih pastinya," ucap Leana.


"Baiklah! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Radian masih tak melepas Leana dari pelukannya.


"Lepaskan aku dulu," jawab Leana.


Radian reflek melepas pelukannya dan membuat Leana tertawa. Laki-laki itu justru kebingungan saat istrinya melangkah ke kamar mandi. Radian menunggu lalu mengambil ponselnya untuk browsing.


Belum tahu informasi apa yang ingin dicarinya. Leana telah kembali sambil membawa sebuah benda berbentuk stik. Radian dengan tatapan matanya, bertanya-tanya apa maksudnya.


"Aku positif Kak, aku benar-benar hamil," ucap Leana sambil menyerahkan test pack itu pada Radian.


Radian tidak mengerti tapi ikut mengamati apa yang di pegangnya itu. Kembali memeluk istrinya dengan rasa haru yang luar biasa. Radian sangat bahagia mendengar berita itu.


"Tapi ... sebelum semakin membesar aku ingin menggugurkannya," ucap Leana dengan wajah murung.


"APA?"

__ADS_1


Ucapan Leana sangat jelas tapi itu membuat Radian terkejut dan heran. Tak mengerti dengan pemikiran istrinya. Radian dan seluruh penghuni rumah menganggap kehamilan Leana adalah berita yang menggembirakan. Tapi tidak bagi Leana. Radian termangu hingga terduduk di kursi ranjang itu.


...~  Bersambung ~...


__ADS_2