Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 104 ~ Tetap Di Sini ~


__ADS_3

Kedatangan Pak Ridwan Putra disambut hangat oleh Leana. Membuat Radian semakin kagum pada istrinya. Baginya Leana adalah seorang wanita kelas atas yang sejati. Baginya, tak perlu berlaku sombong hanya sekedar ingin dinilai golongan atas.


Namun, sikap yang terbuka pada segala golongan, dan bersikap adil pada segala strata sosiallah yang membuatnya menjadi terhormat melebihi dari sekedar memiliki harta yang berlimpah. Ada keraguan saat menerima ayahnya yang berpenampilan compang camping tetapi setelah melihat sikap Leana yang tetap hormat pada ayahnya, Radian akhirnya bisa dengan leluasa menerima ayah kandungnya itu.


"Bagaimana kabar Papa sekarang, di mana tinggal selama ini?" tanya Radian yang menghampiri ayahnya di meja makan.


"Papa menyesal atas sikap Papa di masa lalu Nak," ucap Ridwan Putra lalu menunduk.


"Lupakan saja Pa, semua sudah berlalu. Setiap orang punya kesalahan tapi adakah niat untuk memperbaiki kesalahan itulah itulah yang terpenting," ucap Radian.


"Istrimu baik sekali Radian. Sangat cocok denganmu, kamu juga anak yang baik," ucap Ridwan Putra.


"Aku anak yang baik? Aku bukan anak-anak lagi Pa, aku sudah punya anak dua," ucap Radian sambil tertawa.

__ADS_1


"Jadi kalau sudah punya anak, bukan anak kami lagi?" tanya Ridwan juga sambil tertawa. "Bagi kami orang tua, sebesar apa pun anak-anak, tetaplah seorang anak bagi kami," ucap Ridwan Putra.


Radian mengangguk. Pak Ridwan Putra menanyakan istri Radian. Bapak itu ingin berterima kasih karena diterima di rumah itu. Diizinkan beristirahat sejenak di rumah itu.


"Papa mau pergi lagi? Ke mana?" tanya Radian.


"Tak menentu Nak. Ke mana kaki melangkah saja," jawab Ridwan Putra.


"Kalau tidak ada tujuan? Kenapa tidak tinggal di sini saja?" tanya Radian.


"Papa nggak enak sama istrimu, Papa tak mau merepotkan kalian," jawab Ridwan Putra.


"Apanya yang merepotkan Pa, aku yakin Livia pasti tak keberatan Papa tinggal di sini. Justru Papa pergi tanpa tujuan yang pasti itulah yang akan membuat Livia tidak setuju, aku yakin Pa," jawab Radian.

__ADS_1


"Ya, istrimu itu memang baik sekali. Papa nggak menyangka dia bersedia menerima Papa. Ngomong-ngomong di mana dia dan Monica?" tanya Ridwan Putra sambil menoleh ke belakang.


"Livia sedang menyusui putrinya, kalau Monica sedang berbincang dengan tunangannya. Kebetulan Papa datang, nanti bisa menjadi wali nikahnya," ucap Radian.


"Apa Papa ini masih pantas Nak? Nanti dia malu. Papamu ini hanya seorang gembel," ucap Ridwan Putra lalu menunduk.


"Kalau orang tua gembel, anaknya memang harus malu, tapi bukan malu pada orang lain. Tapi malu pada diri sendiri. Mampu hidup mapan dan bermewah-mewahan tapi tak mampu memberikan kehidupan yang layak bagi orang tuanya. Bagiku, itulah yang lebih memalukan," jawab Radian.


"Papa sebenarnya malu padamu Nak. Papa tak pantas dianggap sebagai orang tua karena Papa tak menjalankan kewajiban Papa sebagai orang tua kalian. Hidup kalian menderita karena Papa sementara Papa tak sadar akan kewajiban Papa, malah menuntut kalian untuk berjuang sendiri," ucap Ridwan Putra lalu menangis menyesali masa lalu.


"Sudahlah Pa, jangan diingat lagi masa lalu," ucap Radian.


Laki-laki itu meminta seorang pelayan untuk menyiapkan kamar bagi ayahnya. Setelah Pak Ridwan Putra menghabiskan makan malamnya, Radian meminta ayahnya untuk beristirahat. Radian yakin ayahnya sudah lama tak mendapatkan tempat istirahat yang nyaman. 

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2