
Semua karyawan sedang asyik menikmati makan siang yang dikirimkan Leana. Tiba-tiba Camelia datang dan mengucapkan kata-kata dengan nada tinggi. Semua langsung menoleh ke arah Camelia yang begitu datang langsung marah-marah. Ricky yang baru muncul membawakan air mineral langsung menyela. Camelia pun kaget mengetahui laki-laki itu juga berada di kantor itu.
Mereka kaget akan kedatangan Camelia yang datang langsung marah-marah. Namun, lebih terkejut lagi oleh sikap Ricky yang kurang sopan pada Camelia. Melihat itu, Radian meminta Ricky untuk berlaku lebih sopan pada Camelia.
"Ricky tolong jaga bahasamu, dia itu istriku–"
"Apa?" tanya Ricky kaget.
Leana menoleh ke arah Radian, ada rasa perih di hatinya saat Radian mengucapkan kata-kata itu. Di hadapannya Radian tak mengakui Camelia sebagai istrinya tetapi saat seseorang berlaku tak sopan pada wanita itu, Radian membelanya. Leana tertunduk, Radian tiba-tiba sadar akan ucapannya yang merubah suasana hati wanita yang dicintainya itu. Radian segera menggenggam tangan istrinya. Leana tersenyum, meski hanya sebuah senyum yang dipaksakan.
Apa aku sanggup hidup seperti ini. Aku memintanya bersikap baik pada Camelia tapi saat dia melakukan itu hatiku terasa perih. Apa aku sanggup melihatnya menyayangi wanita lain, jika membelanya saja aku merasa sakit hati, batin Leana yang tertunduk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
"Jadi nenek si … maaf Bang, aku nggak nyangka aja. Selera Abang nyari istri yang sifatnya beda jauh–"
"Ricky!"
"Maaf Bang … maaf," ucap Ricky sambil mengangkat sebelah tangan di depan wajahnya.
Di mata Leana, Radian begitu gencar membela Camelia. Berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya. Radian yang kembali menegur Ricky membuat Leana sontak menatap ke arah suaminya.
Apa Kak Radian sudah mulai menyukai Camelia? Bagaimana ini? Rasanya aku tidak siap, apa aku akan mengalami rasa sakit ini seumur hidup? Aku bahkan mengusulkannya untuk pindah ke rumah kami. Mengingatkan pertanggungjawaban Kakak terhadap orang tuanya? Meminta Kak Radian untuk tidak mengabaikan istri yang telah dinikahinya. Bagaimana ini rasanya aku tidak sanggup–
"Livia … Livia … Livia," bisik Radian berulang kali.
Leana langsung gelagapan karena tak menyadari Radian memanggilnya. Wanita itu langsung menatapnya suaminya berharap suaminya mengulang pertanyaannya.
"Kakak tanya apa?" tanya Leana.
"Aku tidak bertanya. Aku hanya memintamu melanjutkan makanmu. Aku akan bicara dengan Camelia sebentar ya," ucap Radian lalu berdiri mengajak istri keduanya itu memasuki ruangannya.
Leana hanya tertunduk, Ricky menatap kedua orang itu dengan tatapan yang tak menentu. Sesampai di ruangan itu Camelia langsung memeluk Radian. Hatinya bahagia karena Radian membelanya dan lebih bahagia lagi saat melihat ekspresi Leana yang langsung berubah. Radian langsung menghentakkan dengan kasar kedua tangan Camelia yang melingkar di pundaknya. Hingga akhirnya rangkulan wanita itu terlepas.
__ADS_1
"Aku mengajakmu ke sini bukan untuk berpelukan denganmu. Aku hanya memintamu menjaga tingkahmu. Kamu lihat sendiri Ricky tidak sopan padamu itu karena sikapmu yang memang tidak pantas untuk dihormati. Jadi jika seperti ini lagi jangan harap aku akan membelamu. Aku lakukan itu karena semua orang di sini tahu kalau kamu adalah istriku. Jika dia tidak sopan padamu di depanku artinya dia juga menginjak kepalaku sebagai suamimu. Jangan sampai dia melakukan itu lagi!" bentak Radian.
Laki-laki itu kesal, merasa bersalah. Jika membiarkan Ricky tidak sopan pada istrinya, dia seperti suami yang tidak berguna. Sementara hatinya meronta harus melakukan itu. Terlebih lagi melihat ekspresi sedih istri yang dicintainya. Meski Leana tersenyum, tetapi Radian tahu Leana merasa sedih dengan sikapnya itu karena itulah dia segera menggenggam tangan istrinya. Bibir Leana tersenyum tapi Radian tahu hati istrinya sedang menangis.
"Ingat! Aku tidak akan membelamu lagi di hadapan siapa pun. Kalau perlu aku tidak mengakui kamu lagi sebagai istriku," ucap Radian dengan tatapan mata yang tajam lalu, keluar dari ruangan itu.
Radian kembali duduk di samping istrinya. "Kenapa makannya belum habis?" tanya Radian penuh perhatian.
"Perutku sudah kenyang Kak, sebaiknya aku pulang sekarang ya," jawab Leana.
"Mau aku antar pulang?" tanya Radian sambil tersenyum.
Laki-laki itu tahu Leana tak akan mengizinkan dirinya menyetir. Ditambah lagi tangannya yang terasa nyeri karena hentakan saat melepas rangkulan Camelia tadi. Radian mengambil sendok istrinya lalu menyuapi Leana. Wanita itu terpaksa menerima.
"Makanlah sedikit lagi setelah itu baru pulang ya," ucap Radian sambil tersenyum.
Semua karyawan dianggap patung manekin oleh Radian. Tak peduli siapa pun, cuma Leana saja yang merasa jengah dengan sikap Radian yang memanjakannya di depan para karyawannya.
"Nggak usah, aku mau pulang saja," ucapnya lalu melangkah ke pintu luar.
Belum sampai mendekati pintu, langkahnya terhenti. "Kak! Aku tunggu dirumah ya? Rumahmu! Rumahmu sendiri bukan rumah istrimu," ucap Camelia lalu berlalu menghilang di balik pintu.
Kurang ajar, batin Radian.
Radian merasa Camelia belum sadar dengan sikapnya. Ucapan wanita itu terasa begitu menghinanya yang menumpang tinggal di rumah mewah milik istrinya. Ricky melihat raut wajah Radian yang kesal mendengar ucapan wanita itu. Merasa kalau ucapannya itu benar-benar ingin menghina suaminya sendiri di depan banyak orang.
Leana segera pamit pulang setelah acara makan siang bersama itu selesai. Semua karyawan mengucapkan terima kasih pada Leana, makanan itu bahkan masih sisa banyak yang bisa dibagi dan dibawa pulang. Radian pun mengantar istrinya hingga ke mobil.
"Nanti kalau tanganku sudah pulih total, giliran aku yang antar jemput kamu ke kantor ya," ucap Radian.
Leana tersenyum lalu mengangguk. Leana masuk ke dalam mobilnya. Saat wanita itu menurunkan kaca mobilnya, Radian langsung mengecup bibir wanita yang dicintainya itu. Radian berterima kasih untuk makanannya.
__ADS_1
"Tapi jangan sering-sering ya sayang. Kalau ingin mengirim makanan boleh saja tapi kamu tak perlu mengantarnya sendiri," ucap Radian.
Leana kembali tersenyum, tak mengeluarkan sepatah kata pun. "Livia ... aku mohon, jangan pikirkan apa pun soal kedatangan Livia tadi ya," ucap Radian dengan tatapan sendu. Leana kembali tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Setelah melambaikan tangan, Leana pun melajukan mobilnya menuju rumah. Dengan perasaan yang berkecamuk Radian menatap mobil istrinya yang telah bergerak menjauh. Radian melangkah menuju rumah kantornya. Entah kenapa laki-laki itu tiba-tiba ingin duduk di teras rumah kantor itu. Sekian lama hanya duduk tertunduk hingga akhirnya Ricky datang.
"Aku tak menyangka kalau Abang benar-benar menikah dengan si nenek … oh ya maaf Bang siapa namanya?" tanya Ricky.
"Camelia," jawab Radian singkat.
"Aku bukannya sengaja bersikap tak sopan padanya. Sejak bertemu, kami sudah saling kesal. Dua kali dia ke kantor pagi-pagi sekali. Saat itu aku baru saja membersihkan ruangan. Tiba-tiba dia datang dan membuat lantai kantor kembali berantakan. Tentu saja aku kesal tapi ya tak mungkin membiarkan lantai itu berantakan. Akhirnya aku turun tangan untuk membersihkannya," jelas Ricky.
Radian pun seperti terbius mendengar cerita anak muda itu. "Kenapa dia membuat lantai kantor jadi berantakan?" tanya Radian.
"Karena dia sedang kesal. Pagi-pagi entah datang dari mana langsung kesal dan membuang semua yang ada di atas meja hingga berhamburan di lantai. Kejadian seperti itu terjadi dua kali. Untuk yang keduanya aku tak peduli. Aku pergi saja. Aku tak mau peduli lagi. Menyebalkan bukan? Kenapa Abang menikah dengan … maaf … wanita menyebalkan seperti itu?" tanya Ricky.
"Dia … mengandung anakku," jawab Radian pelan.
"Apa? Kenapa Abang bisa berbuat terlalu jauh dengannya?" tanya Ricky penasaran.
Radian tersenyum, karena Radian menilai Ricky sudah cukup dewasa dan telah cukup berpikiran matang. Radian menceritakan kronologi penyebab kehamilan Camelia.
"Dia sedang hamil?" tanya Ricky.
"Ya, masih dua bulan jadi masih belum kelihatan," jelas Radian.
"Abang menghamilinya?" tanya Ricky dengan nada tak percaya. Radian pun mengangguk.
"Tak mungkin Bang, malam itu Abang mabuk berat. Abang bahkan tak sadarkan diri. Aku yang bantu dia membawa Abang ke hotel karena dia bayar aku cukup mahal. Dia juga mabuk berat hingga akhirnya kami … berbuat," ucap Ricky dengan suara pelan.
Radian langsung menoleh dengan membelalakkan matanya. Tak percaya dengan cerita yang barusan di dengarnya. Namun, Ricky menceritakan dengan begitu serius.Radian bahkan meminta Ricky untuk menceritakan kejadian itu sedetail-detailnya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...