
Radian ditugaskan untuk menggantikannya menemui Leana. Tentu saja tugas itu sangat berat baginya. Radian sama sekali belum siap untuk bertemu dengan istri yang dicintainya itu. Radian merasa Ezra memutuskan untuk menyuruhnya menemui Leana karena kesal tak bersedia menjalankan tugasnya.
Radian termenung duduk di meja kerjanya, memejamkan matanya demi berpikir. Mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang akan terjadi. Sekian lama diam termenung akhirnya Radian pasrah, meraih ponselnya dan menelpon contact person perusahaan Leana dan membuat janji bertemu.
"Besok tidak bisa? Kalau boleh tahu kenapa ya?" tanya Radian pada seseorang yang menerima teleponnya.
Leana ke berangkat pagi sekali ke Kuala Lumpur, berarti besok dia tidak masuk kantor. Baiklah, ini kesempatanku untuk datang ke sana, aku hanya akan bertemu dengan personal assistant-nya, batin Radian akhirnya menemukan solusi.
Keesokan harinya, Radian menemui Ezra dan menunjukkan berkas yang akan disampaikan pada Leana. Terlihat wajah Ezra yang ditekuk, tanpa mau menoleh pada Radian sedikit pun. Laki-laki itu memeriksa berkas itu satu persatu lalu menyerahkannya kembali pada Radian.
"Saya pergi Tuan," ucap Radian.
Berharap Ezra akan membalas ucapannya namun laki-laki itu hanya diam dan melanjutkan aktivitasnya di depan laptop. Radian pun pergi dengan hati gundah, perasaannya tak tenang karena hingga kini Ezra masih belum mau bicara padanya.
Ezra masih kesal padaku karena menolak tugas darinya, batin Radian.
Terbayang saat laki-laki itu menjadi CEO di perusahaan milik Tn. Robert Chandra. Personal assistant-nya tak pernah menolak satu pun tugas darinya.
Wajar jika Ezra marah, mempercayakan aku sebagai Asisten Eksekutif tapi tak mampu mengerjakan segala tugas darinya. Apa yang akan aku lakukan? Jika kekecewaannya tak kunjung hilang apa aku harus resign? Menjadi karyawan biasa atau benar keluar dari perusahaan ini? Batin Radian.
Mengingat semua itu matanya terasa panas. Radian tak sanggup mencari pekerjaan baru, namun diabaikan seperti itu membuat batinnya tersiksa.
Radian menaiki dua kali transportasi umum untuk mencapai perusahaan Leana. Untuk pertama kalinya Radian masuk melalui pintu depan. Datang sebagai tamu perusahaan dan langsung bertanya pada resepsionis.
"Tuan Radian?" tanya Resepsionis yang ternyata mengenalinya.
Radian mengangguk dan menyampaikan maksudnya untuk bertemu dengan Leana.
"Bukannya Ibu Leana sedang ke Kuala Lumpur?" tanya Resepsionis itu.
Sepertinya dia tidak tahu kalau aku dan Leana telah berpisah. Gadis ini merasa heran aku masih mencari Leana ke sini padahal harusnya aku sebagai suaminya tahu kalau Leana pergi ke Kuala Lumpur, batin Radian.
"Ya, aku tahu. Aku kebetulan lewat di sini dan ingin beristirahat di kantornya. Apa boleh?" tanya Radian.
"Tentu Tuan, silahkan!" ucap Resepsionis itu.
Radian mengangguk dan melangkah menuju lift, sebagian besar karyawan perusahaan Leana tahu hubungan mereka karena Radian yang dulu sering datang ke kantor wanita itu sebelum Leana menjadi istrinya.
__ADS_1
Apa yang aku lakukan di sini, ingin beristirahat di kantornya? Aku masih menganggap ini kantor istriku. Semua karena Resepsionis itu yang masih menganggapku sebagai suami Leana. Oh apa yang aku lakukan di sini, aku tahu Leana tak ada di tempat tapi aku justru datang ke sini? Menipu atasanku sendiri, berpura-pura menemui Leana. Bagaimana jika dia tahu aku menipunya? Aku hanya berpura-pura bertemu dengan Leana. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Batin Radian panik hingga tertunduk menangis di dalam lift itu.
Hingga denting lift berbunyi barulah laki-laki itu tersadar dari tangisnya. Melangkahkan kakinya ke ruangan Leana. Dengan langkah gontai dan mata yang berkaca-kaca. Perlahan membuka pintu ruangan itu dan termangu di dalamnya.
Radian mengamati hingga ke setiap sudut ruangan.
Di sana pertama kali aku memelukmu, menciummu. Pertama kalinya aku melihat kamu menangis saat aku berkata ada seorang gadis yang paling berarti dalam hidupku. Gadis itu adalah dirimu Leana, hingga kini kamu tidak tahu. Gadis yang paling berharga dalam hidupku adalah kamu, jangan menangis karena itu. Kamulah yang paling berarti bagiku Leana, Livia apapun namamu. Kamulah yang berarti bagiku, batin Radian lalu tertunduk menangis bahkan terisak-isak.
Nesya yang ingin meletakkan sesuatu di meja Leana kaget mendapati suami atasannya itu menangis terisak di ruangan itu. Nesya perlahan merapatkan kembali pintu itu dan mengintip di sela-sela pintu yang dibiarkan sedikit terbuka. Menunggu apa yang terjadi, Nesya yang tahu kalau Radian dan Leana telah berpisah merasa heran dengan maksud kedatangan laki-laki itu.
Apa yang di taruhnya di meja Nona? Apakah surat cerai? Oh tidak, jangan sampai itu terjadi. Aku tidak tega, Nona sangat mencintainya dan dia pun terlihat masih sangat mencintai Nona. Jangan sampai mereka bercerai, jangan sampai! Batin Nesya berteriak.
Radian melangkah keluar ruangan setelah meletakkan berkas yang dibawanya di atas meja Leana. Kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu setelah sekian menit menangis sendiri di ruangan itu.
Nesya yang bersembunyi di balik dinding ruangan lain langsung masuk ke ruangan Leana dan melihat apa yang di taruh Radian di situ. Personal assistant Leana itu terkejut saat melihat berkas yang di taruhnya.
Dari perusahaan Tn. Ezra? Apa Tn. Radian bekerja di sana? Ya ampun, bagaimana jika itu memang terjadi. Dia telah tahu Nona Leana berhubungan dengan Tn. Ezra, batin Nesya berteriak.
Gadis itu tak sabar ingin mengabarkan hal ini namun ditahannya karena Leana sedang melakukan kunjungan bisnis. Nesya tak ingin mengganggu konsentrasi atasannya itu menjalankan agendanya. Saat malam tiba, gadis itu segera menghubungi Leana.
"Ada apa Nesya, tak biasanya kamu menelpon? Apa kamu ingin titip sesuatu?" tanya Leana.
"Jika aku tidak buru-buru menutup telepon artinya aku tidak sibuk Nesya. Urusanku sudah selesai, aku hanya bersantai sekarang," ucap Leana melangkah ke balkon hotel bintang lima itu dengan mengenakan kimono handuk dan rambut yang bergelung handuk kecil.
"Baiklah kalau begitu aku ingin memberitahukan sesuatu. Oh Nona … aku tidak sabar seharian ingin meneleponmu untuk ini tapi aku takut mengganggu--"
"Nesya … Nesya … kamu bilang tidak sabar ingin beritahu aku tapi justru me--"
"Tn. Radian!"
"Apa? Kenapa dia?" tanya Leana penasaran.
"Apa Nona tahu? Tn. Radian bekerja di perusahaan Tn. Ezra?"
"Apa? Tidak mungkin? Dia … dia kenapa bisa bekerja di situ? Kenapa … ah, dari mana kamu tahu?" tanya Leana bertubi-tubi hingga bingung untuk menanyakan apa terlebih dahulu.
"Tadi Tn. Radian datang sebagai utusan untuk pertemuan kontrak kerjasama. Tn. Radian menaruh berkasnya di atas meja dan menunggu di ruangan Nona. Dia … menangis Nona. Tn. Radian menangis di ruangan Nona," ucap Nesya perlahan.
__ADS_1
Tak hanya Radian, mendengar ucapan Nesya tentang laki-laki itu membuat air mata Leana pun ikut menetes. Wanita itu hingga terisak menutup mulutnya dengan sebelah tangannya sambil mendengarkan penjelasan Nesya.
Aku merindukan Kakak tapi Kakak bersembunyi dariku. Teganya Kakak lakukan itu padaku, batin Leana.
Leana tak sabar ingin kembali ke tanah air. Dengan penerbangan paling pagi Leana langsung kembali. Leana tak sabar ingin membuktikan ucapan Nesya. Setengah berlari wanita itu ke parkir inap bandara dan langsung memacu mobilnya menuju gedung perusahaan Ezra.
Begitu parkir di basement, Leana langsung berlari masuk lift menuju lantai atas. Leana mencari-cari Radian di antara karyawan yang sibuk memulai pekerjaan mereka di pagi hari.
"Leana?" Ezra memanggil.
Radian yang ingin keluar dari ruangannya untuk menemui Ezra yang baru datang, langsung terpaku di tempatnya. Leana yang mengintip masuk mencari-cari di antara satu ruangan ke ruangan karyawan yang lain itu langsung menoleh.
Ezra langsung datang dan memeluk Leana. Perasaan rindu sejak berpisah setelah makan siang hari itu, membuat Ezra tak bisa menahan diri untuk memeluk erat wanita yang dirindukannya.
"Ada apa pagi-pagi datang ke sini? Apa kamu merindukan aku? Leana, aku sangat merindukanmu," ucap Ezra tak melepaskan pelukannya.
Leana tak menyangka akan bertemu dengan Ezra. Satu-satunya yang dipikirkan Leana hanyalah suaminya. Hingga wanita itu lupa, pemilik perusahaan tempat suaminya itu bekerja pernah menyatakan rasa suka padanya.
Leana terpaku tak bisa memberikan jawaban, begitu juga Radian yang terpaku di tempatnya menatap istri yang dicintainya berada dalam pelukan laki-laki lain. Perlahan Leana melepaskan pelukan Ezra.
"Kenapa datang kemari?" tanya Ezra penasaran karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Leana.
"Aku ingat ada pertemuan denganmu," jawab Leana.
"Bukankah kemarin sudah bertemu dengan Asisten Eksekutif-ku?" tanya Ezra.
Mendengar itu jantung Radian langsung berdebar kencang. Leana pun mencari jawaban yang tak mencurigakan bagi Ezra.
"Tapi … tapi aku lebih suka bertemu langsung denganmu," jawab Leana.
"Oh baiklah. Kamu tidak puas dengan pertemuan bersama Asisten Eksekutif-ku?" tanya Ezra.
"Ya, di mana ruangan Asisten Eksekutif Kakak," tanya Leana.
Mendengar panggilan untuknya hati Ezra berbunga-bunga. Mengabaikan rasa herannya, Ezra segera mengajak Leana ke ruangan Radian. Leana pun mengikuti, namun apa yang dilihatnya sungguh membuat hati Leana seperti diremas.
Terlihat di ruangan itu Radian sedang memeluk seorang karyawati. Leana tak bisa melanjutkan langkahnya lagi, kakinya terasa berat. Senyum yang tadi terulas di bibirnya langsung menghilang. Laki-laki yang dirindukannya, dicintainya kini nyata-nyata telah memeluk seorang gadis.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...