Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 23 ~ Tugas ~


__ADS_3

Radian beserta ibu dan adiknya menjalani hidup yang prihatin. Kehidupan serba mewah tak bisa mereka nikmati lagi. Namun begitu Radian bersyukur karena telah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang tak terlalu ternama tapi perusahaan yang cukup besar. Semua itu berkat perkenalannya dengan seorang bapak berpenampilan sederhana namun ternyata pemilik perusahaan itu.


Di sela-sela pekerjaan Radian yang berat sebagai karyawan biasa.Terkadang laki-laki itu merindukan istri dan anaknya. Yang bisa dilakukannya hanyalah selalu bersembunyi di balik pohon besar di pinggir jalan depan rumah Livia, semua itu dilakukannya hanya demi menatap istri dan anaknya.


Kerinduan pada kedua orang terkasihnya itu hanya bisa diobatinya dengan menatap mereka dari jauh.


Kalian baik-baik saja, syukurlah, batin Radian.


Hatinya bersyukur sekaligus menangis, begitu merindukan keluarganya namun tak bisa mendekatinya. Radian melihat istrinya sedang masuk ke dalam mobil untuk berangkat kerja setelah pulang untuk makan siang sekaligus menyusui putranya.


Baby sitter yang sedang menggendong putranya, Refano, melambaikan tangan anak itu pada Livia yang telah berada di dalam mobilnya. Di mata Radian, wanita itu terlihat bahagia meski tak lagi bersamanya. Itu membuat laki-laki itu merasakan sakit di dadanya.


Namun tanpa diketahui Radian, Livia juga merasa sangat kehilangan laki-laki itu. Saat sendiri di kantornya, Livia sering termenung, selalu terbayang saat suami, ibu dan adik iparnya itu pergi berjalan kaki keluar dari gerbang rumahnya.


Setelah teringat, Livia akan menangis terisak seorang diri. Nesya hanya bisa berdiri di balik pintu saat mendengar isak tangis atasannya itu. Urung mendekati karena tak tega mengganggu Leana yang ingin melampiaskan kesedihannya. Personal assistant itu bahkan pernah menawarkan diri untuk mencari keberadaan Radian. Namun Leana menolak, wanita itu tidak mau memaksa Radian untuk menerimanya.


"Kenapa Nona tidak bertanya alasan dia pergi? Mungkin telah terjadi salah paham. Apa mungkin cintanya yang begitu besar bisa hilang dalam sekejap?" tanya Nesya.


"Cinta yang berlandaskan dengan kebohongan tidak akan berhasil Nesya. Aku sudah tahu akhirnya akan seperti ini. Dari dulu Kak Radian tidak pernah menyukaiku. Dia membenciku sama seperti ibu dan adiknya, mereka semua membenciku. Jika aku berhasil menikahinya bukan berarti dia bisa menghilangkan rasa kebenciannya padaku bukan?" tanya Livia.


Nesya pun tak bisa berkata apa-apa lagi, meski begitu Personal Assistant itu tetap bertekad akan mencari suami dari atasannya itu.


Sementara itu Radian disibukkan oleh tugasnya sebagai karyawan biasa. Meski berat tapi tenggelam dalam kesibukan lebih disukainya karena akan menjauhkan pikirannya dari bayang-bayang istri dan anaknya.


"Radian, kamu dipanggil Presdir," ucap seorang karyawan pada Radian.


"Oh baiklah," jawab Radian.


Laki-laki itu pun segera melangkah ke ruangan Presiden Direktur itu. Radian langsung disambut ramah oleh bapak yang dikenalnya di taman waktu itu. Radian diminta duduk di hadapan Presiden Direktur yang berwajah teduh itu.


"Bagaimana kabarmu? Betah dengan pekerjaanmu?" tanya Tn. Adam.


"Kabar saya baik Pak. Betah, sangat betah bekerja di sini," jawab Radian.


Laki-laki itu memang banyak bersyukur dengan apa yang telah diperolehnya saat ini meski jauh dari apa yang pernah didapatkannya dulu.

__ADS_1


"Baguslah, sebenarnya … aku memanggilmu ke sini karena ingin meminta tolong padamu," ucap Tn. Adam ragu-ragu.


"Katakan saja Pak, saya akan kerjakan semampu saya," jawab Radian.


"Aku ingin kamu membujuk putraku untuk kembali ke tanah air dan mengabdi di perusahaan ini," ujar Tn. Adam.


Radian terkejut mendengar permintaan itu, tapi berusaha untuk bersikap setenang mungkin.


"Maaf Pak, kenapa saya Pak? Apa mungkin dia mau mendengarkan saya? Jika Bapak saja tidak didengarkan bagaimana dengan orang yang tak dikenalnya?" tanya Radian.


"Itu yang jadi pertimbanganku. Jika kamu bisa mendekatinya dan berteman dengannya, mungkin dia mau mendengarkan nasehatmu," jawab Tn. Adam.


Radian tercenung, tapi juga membenarkan apa yang diucapkan atasan tertingginya itu. Tapi jika dia memang mampu mendekati putra atasannya itu. Tn. Adam memohon pada Radian untuk mau mengemban tugas itu dan merasa yakin jika laki-laki itu mampu mendekati putranya.


Radian pun akhirnya menyetujui, dalam hatinya dia bertekad akan melaksanakan tugas itu sebaiknya-baiknya demi membalas budi Tn. Adam yang telah bersedia menerimanya bekerja di perusahaan itu.


Radian pun berangkat ke kota New York menemui putra satu-satunya atasan Radian. Laki-laki itu menemui putra atasannya itu di kantornya. Saat Radian memperkenalkan diri dari perusahaan ayahnya laki-laki itu langsung tahu kalau tujuan Radian datang adalah untuk mengajaknya pulang.


"Waktu itu mengirim seorang gadis cantik untuk mengajakku pulang tapi aku menolaknya sekarang Daddy mengirimkan laki-laki tampan. Memangnya aku ini gay?" tanya putra Tn. Adam lalu tertawa.


"Aku Ezra Adam," balas Ezra sambil menghampiri Radian yang duduk di kursi tamu mewah kantor itu.


Radian menyambut perkenalan dari Ezra dengan hormat tapi tak langsung pada tujuannya datang menemui Ezra. Laki-laki itu seperti ingin bernostalgia dulu dengan masa-masa hidupnya di Amerika. Radian yang juga pernah magang di kota pusat bisnis Amerika itu menceritakan pengalamannya bekerja di salah satu perusahaan ternama di sana.


"Benarkah? Kamu bekerja di situ? Aku dengar general manager perusahaan itu sangat kejam, suka berkata kasar dan mudah sekali memberhentikan karyawannya," ucap Ezra sambil tertawa.


"Ya, saya menyaksikan sendiri setiap hari GM itu marah-marah sebelum memulai bekerja …"


"Marah dulu sebelum bekerja?" tanya Ezra.


"Ya Tuan, semua dimarahi lebih dulu dengan berbagai alasan sebelum memulai bekerja. Mungkin itu untuk memacu semangat para karyawan agar tidak berbuat kesalahan lagi untuk hari itu," jelas Radian sambil tersenyum.


Tapi Ezra justru tertawa lepas, menurutnya itu metoda unik memacu semangat kerja karyawan.


"Biasanya memotivasi orang agar bahagia sebelum mulai bekerja. Kalau metoda dia itu memacu semangat kerja atau menakut-nakuti?" tanya Ezra yang belum hilang tawanya.

__ADS_1


"Kalau katanya sih untuk memacu semangat kerja tapi kalau bagi saya memang menakut-nakuti. Saya sampai berdoa dulu yang khusyuk di pojok kantor sebelum memulai hari … saking takutnya kalau hari itu akan berbuat kesalahan," jawab Radian sambil tersenyum menunduk.


"Setiap hari?"


"Ya Tuan, setiap hari, jika saya tak sempat berdoa rasanya hati saya tak tentram seperti menunggu-nunggu kapan saya akan dimarahi," jawab Radian lagi.


"Itu pasti bikin stress," sahut Ezra.


"Betul sekali Tuan, tapi … hikmahnya saya jadi sering berdoa," ucap Radian.


Ezra tertawa hingga terpingkal-pingkal sementara Radian hanya menatapnya sambil tersenyum.


"Bisa stress kalau seperti itu terus. Apa kamu pernah dimarahi?" tanya Ezra lagi semakin tertarik mendengar cerita Radian.


"Untuk karyawan magang hanya berdiri menatap karyawan-karyawan tetap yang menerima pidato kemarahan. Kalau saya sendiri pernah melakukan kesalahan karena tidak menjalankan salah satu prosedur tapi untungnya tak terjadi masalah apa pun. Lagipula saya sudah punya jawaban ampuh untuk menghindari kemarahan bos besar itu," jelas Radian.


"Oh ya? Apa itu?" tanya Ezra penasaran hingga tubuhnya condong mendekat.


"Lupa, itu jawaban ampuh untuk menghindari kemarahannya. Saya dapatkan itu dari seorang karyawati di sana. Dia tahu pasti kalau bos besar itu tidak akan marah jika menjawab lupa," jelas Radian lagi.


"Oh ya? Kenapa?" tanya Ezra semakin penasaran.


"Karena lupa adalah penyakit yang tidak ada obatnya. Lupa adalah sifat manusia yang tak diinginkan tapi tak bisa elakkan. Bagi bos besar kalau sudah lupa tidak ada lagi yang bisa disalahkan, begitu kata karyawati senior itu," jelas Radian.


"Wah karyawati itu pasti suka padamu makanya dia memberi tips berharga itu, tapi apakah ampuh?" tanya Ezra.


"Sangat ampuh, saya pernah mencobanya. Bos besar langsung mengangguk-angguk sambil berkata, besok-besok jangan sampai lupa lagi ya," jelas Radian.


Ezra tertawa terbahak-bahak, begitu juga dengan Radian. Mereka berbincang dengan penuh tawa. Hingga akhirnya Ezra mengajak Radian untuk makan siang bersama dan pergi minum di malam harinya.


"Sebenarnya apa yang menyebabkan Tuan begitu marah pada ayah Tuan?" tanya Radian.


"Karena seorang gadis yang aku sukai. Orang tuaku mendapat hasutan hingga ingin memisahkan kami, mengirimku bersekolah di sini. Hanya demi memisahkan kami," ucap Ezra sambil meneguk minumannya.


Radian mengangguk-angguk, teringat ucapan Tn. Adam yang pernah bercerita padanya. Radian merasa ini bukan lagi kesalahpahaman tapi masalah cinta yang tak direstui.

__ADS_1


...~  Bersambung ~...


__ADS_2