Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 43 ~ Mampir ~


__ADS_3

Radian setuju untuk berkunjung ke rumah Leana. Wanita itu berhasil menggugah hatinya hingga mengingatkan rasa rindunya pada putra semata wayang mereka.


Leana berhasil mengajak Radian masuk ke dalam mobil mewah wanita itu. Mereka melaju pulang, dalam perjalanan Radian bertanya tentang perkembangan putra mereka. Leana menjelaskan dengan semangat semua yang ingin Radian dengar namun perlahan Radian hanya sesekali menimpali ucapan Leana karena dia tertidur selama sisa perjalanan mereka.


Hingga mobil itu sampai di garasi, Radian masih saja tertidur lelap. Leana tak berani mengganggunya, yang dilakukannya hanya menatap wajah laki-laki yang dirindukannya itu dari dekat.


Para pelayan yang tahu Leana pulang, segera menyambut. Wanita itu segera menyilangkan jari telunjuknya di bibir. Meminta para pelayan itu untuk tak bersuara keras.


"Apa ada yang bisa kamu bantu Nyonya?" bisik pelayan dari balik mobil.


"Tidak ada, paling nanti siapkan makan malam kesukaan Tuan ya!" ucap Leana juga berbisik.


"Baik Nyonya," ucap pelayan itu segera bergegas kembali masuk ke dalam rumah.


Leana menutup pintu kaca mobil dan kembali menatap wajah suaminya. Leana tersenyum namun juga merasa sedih.


Kakak kelihatan kurus, juga terlihat letih. Bisa tertidur di mobil ini, dia pasti sangat mengantuk. Apa yang harus aku lakukan? Kasihan dia tidur di sini, batin Leana.


Wanita itu masih terus menatap wajah laki-laki yang dicintainya.


Aku tidak menyangka, sikapnya yang dulu seperti tak peduli padaku ternyata menyimpan rasa cinta padaku. Jika tahu seperti itu, aku pasti lebih berani bicara padanya, batin Leana sambil tersenyum.


Kembali wanita itu teringat masa-masa kecil mereka. Radian yang tak pernah tersenyum padanya kini ketahuan menyimpan rasa cinta padanya. Hatinya berbunga-bunga mengingat itu, hingga tanpa disadari wanita itu menempelkan bibirnya di bibir suaminya.


Tentu saja itu membuat Radian terbangun, laki-laki itu meski begitu letih dan mengantuk tapi harus tetap waspada karena tak boleh terlalu lelap. Jalan gang menuju kontrakannya bisa terlewati jika dia terus tertidur.


Begitu bangun langsung melihat ke sekeliling untuk melihat angkutannya telah melewati daerah mana. Seperti itulah yang dilakukannya setiap hari. Penumpang angkutan umum lainnya tak bosan-bosan menatap laki-laki tampan itu. Dan sekarang laki-laki itu melakukan hal yang sama. Begitu bangun langsung melihat ke sekelilingnya. Merasa lega karena ternyata dirinya tak melewati jalan menuju rumahnya.


"Maaf sudah buat Kakak terbangun," ucap Leana sambil tersenyum.


Laki-laki itu menoleh ke arah Leana dan ikut tersenyum.


"Aku pikir aku sudah sampai mana? Ternyata telah sampai rumah. Kenapa tidak bangunkan aku? Apa sudah lama sampainya?" tanya Radian bertubi-tubi, kemudian melirik jam tangannya untuk lebih memastikan.


"Belum terlalu lama," jawab Leana.


Radian segera mengajak istrinya masuk ke dalam rumah. Tak sabar ingin melihat putranya, Radian berperilaku seperti seorang yang selalu terburu-buru. Laki-laki itu seperti, selalu mengejar waktu. Leana akhirnya turun dari mobil dan mengikuti suaminya yang tak sabar ingin bertemu dengan putranya.


Begitu melihat Revano, laki-laki itu langsung menggendongnya. Memeluk hingga menciumnya lama. Tak puas-puas laki-laki itu menciumi putranya hingga membawanya berjalan-jalan ke taman. Leana hanya bisa menatap laki-laki itu dengan senyum mengulas di bibirnya.

__ADS_1


Bahagia bercampur sedih, itu yang dirasakan Leana. Tak hanya Leana, para pelayan yang melihat itu pun terenyuh melihat pemandangan ayah dan anak itu. Bahkan di antara mereka ada yang menitikan air mata.


Setelah asyik menggendong putranya berkeliling, Radian menghampiri istrinya.


"Mama, tadi Reno sudah lihat pohon kesukaan Mama," ucap Radian seolah-olah itu adalah ucapan Revano.


Leana tersenyum, tak diceritakan pun wanita itu telah melihat sendiri. Radian duduk di bawah pohon itu sambil memangku Revano. Bermain dengan kelopak-kelopak bunga yang berjatuhan. Terlihat Revano yang tertawa-tawa saat di goda ayahnya.


Kadang menggendong, kadang mengajaknya berjalan-jalan dengan dipegangi Radian. Terlihat laki-laki itu membungkuk untuk membimbing anaknya berjalan-jalan. Meski terlihat kerepotan namun raut bahagia terpancar dari wajah laki-laki itu.


Leana menggendong bayi mereka, agar Radian bisa beristirahat. Tak lama kemudian baby sitter mengambil Revano untuk disuapi makan.


"Kakak ingin mandi? Kakak juga bisa ganti baju. Pakaian Kakak masih banyak di sini," ucap Leana.


Radian tertunduk, tentu saja pakaiannya masih banyak tertinggal di rumah itu. Laki-laki itu hanya bisa membawa pakaian sebisanya. Dan sekarang terpaksa dipakainya seputar itu-itu saja karena tak mampu lagi untuk membeli yang baru.


Melihat kesedihan suaminya, Leana langsung menarik tangan suaminya untuk naik ke lantai atas kamar mereka. Radian tercenung saat melihat kamar itu masih sama seperti saat ditinggalkannya dulu.


"Kamar ini masih tetap sama," ungkap Radian.


"Kakak baru beberapa bulan pergi mana mungkin bisa berubah. Kamar ini sudah seperti ini sejak Kakak pindah ke rumah ini. Aku juga tak ingin merubahnya. Sejak Kakak pergi aku justru lebih sering di kamar ini, bahkan nyaris tak ke kamar sebelah. Dengan berada di kamar ini, aku masih bisa merasakan Kakak tinggal di rumah ini," ucap Leana sambil tertunduk.


Melihat raut wajah murung istrinya Radian langsung memeluk Leana. Membenamkan bibirnya di bibir manis istrinya. Hal yang hanya bisa dibayangkannya saat berada sendiri di kamar kontrakannya. Namun kini, laki-laki itu bisa menikmatinya langsung. Tak menunggu waktu lama Radian telah menguasai Leana. Wanita itu pun telah terkunci dalam kungkungannya.


"Maafkan aku Leana," bisik Radian.


"Kenapa Kakak minta maaf?" tanya Leana heran.


"Karena aku tak bisa menahan diriku," jawab Radian.


"Aku ini masih istri Kakak, kenapa Kakak harus menahan diri. Aku juga inginkan Kakak," tutur Leana.


"Sayang! Aku tak sanggup berpisah darimu. Hidupku terasa hampa, aku merasa seperti dulu lagi. Hidupku seperti mati, aku menderita tanpa kamu di sisiku," ucap Radian dengan air mata yang tergenang di sudut matanya.


Laki-laki itu menangis di bahu istri yang sedang dipeluknya. Leana termangu, wanita itu tahu Radian sedang berusaha menahan tangisnya.


"Kalau begitu kembalilah padaku, jangan pergi lagi," ucap Leana.


"Apa kamu tahu? Kalau aku sangat ingin melakukan itu. Tapi aku tak bisa, ini demi kebaikanmu, sayang!" ucap Radian sambil menatap wajah Leana yang masih berada di bawahnya.

__ADS_1


Laki-laki itu berpindah ke samping Leana. Namun tetap memeluk wanita yang dicintainya itu. Seperti tak ingin melepaskan kesempatan untuk terus merasakan hangatnya tubuh Leana. Wanita itu pun seperti itu, membalas pelukan suaminya dengan erat tanpa sehelai benang pun membatasi mereka.


Meski Leana tak setuju dengan pendapat Radian tapi wanita tak ingin memaksakan kehendaknya pada laki-laki itu. Baginya sekarang ini, Radian tak menghindarinya saja, Leana sangat bersyukur. Yang dilakukannya sekarang hanya diam sambil memeluk suaminya.


Radian yang kelelahan akhirnya kembali tertidur, berbeda dengan Leana yang tak ingin melepaskan kesempatan merasakan pelukan suaminya. Wanita itu bertahan dengan memandangi, membelai dan menciumi suaminya.


Menjelang malam Leana turun dari ranjang. Memunguti pakaian-pakaian mereka yang berhamburan di lantai. Leana ingin mengganti pakaian Radian dengan yang bersih. Segera wanita itu mengeluarkan apa saja yang berada di saku baju maupun saku celana laki-laki itu.


Leana menatap dompet suaminya yang terasa begitu tipis. Rasa penasaran membuatnya memeriksa isi dompet laki-laki itu. Leana terkejut melihat isi dompetnya yang begitu minim. Membayangkan perjalanan suaminya dari rumah hingga kontrakan dengan hanya bermodalkan uang segitu membuat Leana merasa ngeri sendiri. Leana pun segera mengambil uang cash. Dan mengisinya sebanyak mungkin di dompet itu.


Kasihan sekali Kakak, berangkat kerja hanya dengan uang segitu? Tentu saja Kakak harus berjalan kaki dan tidak makan siang, dengan uang segitu sama saja seperti tak punya uang, batin Leana.


Setelah mengisi dompet laki-laki itu, Leana menaruhnya kembali ke dalam saku celananya. Merapikan setelan kemeja dan celana kerja itu. Leana urung mengganti baju suaminya dengan yang bersih. Setelah berpikir Radian mungkin akan keberatan. Wanita itu lalu bergerak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah makan malam, Radian pun pamit pulang.


"Apa Kakak tidak ingin mengganti pakaian atau membawa beberapa stel," usul Leana.


"Aku ingin, aku memang butuh pakaian lain tapi jika aku membawanya, Mommy akan curiga kalau aku mampir ke rumah ini. Aku tak ingin Mommy dan Monica mengira aku ingin kembali ke rumah ini. Aku tak ingin mereka mengandalkanmu lagi. Kamu tahu? Setiap mendengar namamu disebut mereka berharap kami segera pindah lagi ke rumah ini. Aku tak ingin mereka memanfaatkan kebaikanmu lagi," jelas Radian.


Leana mengangguk meski dalam hati rasanya ikhlas dimanfaatkan oleh ibu mertua dan iparnya demi bisa berkumpul dengan suaminya namun Leana tak berani membantah ucapan laki-laki itu.


"Aku pulang yang sayang," bisik Radian sambil membenamkan bibirnya ke bibir istrinya.


Leana segera memeluk erat tubuh suaminya seakan-akan tak ingin ciuman itu cepat berakhir. Jika ditanya, Radian pun tak ingin segera melepaskan ciumannya karena sejujurnya laki-laki itu ingin selamanya di sisi Leana. Namun laki-laki itu harus segera pulang.


"Aku antar Kakak pulang ya," ucap Leana.


"Tidak perlu sayang, aku pulang sendiri saja--"


Leana langsung menatap lurus ke mata laki-laki itu dengan pandangan yang memelas. Terlihat begitu sedih jika Radian menolaknya.


"Baiklah tapi jangan sampai di rumah ya, cukup hingga jalan besarnya saja," ucap Radian yang tak tega menolak permintaan wanita cantik itu.


Leana langsung tersenyum, Radian pun bahagia melihat senyum manis wanita itu. Leana pun mengantar suaminya hingga ke tempat yang ditentukan Radian sendiri. Dari situ Radian berjalan kaki hingga ke rumahnya.


Sebelum laki-laki itu turun dari mobil segera Leana menyambar wajah laki-laki itu. Menciumi bibirnya dan juga pipinya. Radian termenung diperlakukan seperti itu, terlihat wanita itu sangat tak rela berpisah dengannya.


"Aku mencintaimu sayang," bisik Radian.


Kita akan bertemu lagi, aku tak akan sanggup berlama-lama pisah darimu. Apalagi setelah apa yang kita lakukan tadi malam, bercinta denganmu adalah hal yang paling membahagiakan bagiku, batin Radian.

__ADS_1


Sambil membalas ciuman wanita yang dicintainya. Terlena sesaat namun segera kembali ke dunia nyata. Radian kembali pamit pada istrinya dan melangkah masuk ke dalam gang menuju rumahnya. Kembali menjalani kehidupan sederhana bersama ibu dan adiknya. Malam itu Radian tidur dengan senyum mengulas di bibirnya.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2