Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 46 ~ Menginginkan ~


__ADS_3

Leana termenung di belakang meja kerjanya. Hati wanita itu masih tertinggal di ruang rawat inap itu. Leana sangat ingin berada di samping suaminya namun berkumpul dengan orang-orang yang telah mengenalinya sebagai Livia, membuat suasana hatinya terasa berbeda di tengah-tengah mereka.


Jika selama ini Leana merasa dipandang sebagai seseorang yang berbeda. Seorang wanita pemberani yang berkuasa atas diri Shanty dan Monica. Meski Shanty adalah ibu mertuanya namun sangat tunduk pada keinginannya serta patuh pada saran-saran dan ide-idenya. Begitu juga dengan Monica yang selalu meminta pendapatnya dan bantuan darinya.


Namun kini, mereka telah mengenali Leana sebagai Livia. Gadis yang dulu mereka tindas, mereka perlakukan sewenang-wenang dan tanpa ada rasa menghargai apalagi menghormatinya.


Leana menatap kosong lurus ke depan. Sedetik pun hatinya tak lepas mengkhawatirkan Radian. Rasa penyesalannya tadi tak kunjung hilang. Rasanya Leana bersedia menerima segala tuduhan Radian asalkan tak membuat laki-laki itu ambruk karena terlalu bersedih.


Bagaimana keadaan Kakak sekarang ini? Apa sudah baikan? Aku sangat ingin melihat Kakak. Aku sangat ingin berada di sisi Kakak. Apa yang harus aku lakukan? Berada di kantor ini pun tak bisa membuat aku fokus pada pekerjaanku, batin Leana menangis lalu berdiri melangkah ke balkon luas di samping ruang kerjanya.


Wanita itu sangat ingin kembali ke ruang rawat inap itu. Bertemu dan bicara dengan suaminya, meminta maaf pada laki-laki yang diabaikannya tadi. Namun tak sanggup untuk bertemu dengan keluarga itu. Leana hanya bisa berdiri diam termangu, menatap pemandangan kota dari ketinggian gedung pencakar langit itu. 


Tiba-tiba Leana mendengar pintu ruangannya terbuka dan Ezra muncul dengan tatapan yang tak biasa. Langsung melangkah menuju Leana yang termangu di balkon yang luas itu.


"Kak Ezra, ada apa datang ke mari?" tanya Leana heran.


Ezra tak menjawab, laki-laki itu hanya terus melangkah mendekati Leana. Wanita itu sedikit merasa bergidik dengan tatapan laki-laki itu.


"Kenapa Livia? Kenapa kamu sembunyikan identitasmu padaku selama ini? Apa aku juga bagian dari balas dendammu hingga kamu menyembunyikan Livia di balik topeng Leana itu--"

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu Kak. Kak Ezra tidak tahu apa yang aku alami. Kakak tidak tahu seperti apa hidupku setelah Kak Ezra pergi. Tapi sudahlah … aku tidak akan menyalahkanmu, siapa pun akan meninggalkan Livia si buruk rupa setelah melihat wajahnya," ucap Leana.


"AKU TIDAK SEPERTI ITU!" bentak Ezra sambil menarik lengan Leana hingga begitu dekat dengannya.


Leana tersentak kaget, tak pernah menyangka Ezra yang biasanya bersikap lembut padanya kini justru meninggikan suaranya. Leana teringat pada kemarahan Monica karena Ezra yang dikirim ke luar negeri untuk menghindari kedekatan mereka. Namun bagi Livia semua itu hanya alasan Monica untuk melampiaskan kekesalan padanya.


Monica memang selalu mencari jalan untuk menyalahkannya. Meski kesalahan bukan pada dirinya tapi Monica selalu memiliki alasan untuk membuatnya terlihat bersalah meski itu mengada-ada. Monica menganggap Livia sebagai penyebab Ezra dikirim ke luar negeri sementara Livia sendiri merasa kepergian Ezra ke luar negeri adalah kehendaknya sendiri untuk menghindar darinya.


"Apa itu benar? Kakak … dikirim ke luar negeri karena orang tua Kakak tak ingin kita berteman?" tanya Leana ragu-ragu namun sangat ingin memastikan kebenaran ucapan Monica.


Karena sejak kepergian Ezra, Leana selalu di salahkan. Gadis itu dijadikan tempat pelampiasan kekesalan Monica. Di bully, dipukuli setiap hari, tak diberi makan, hingga akhirnya Livia sendiri merasa bahwa kepergian Ezra memang disebabkan olehnya.


"BENAR! ORANG TUAKU TAK INGIN AKU DEKAT DENGANMU. TAPI AKU TIDAK INGIN BERPISAH DARIMU. HINGGA AKHIRNYA MEREKA MEMAKSAKU TINGGAL SENDIRI DEMI MENJAUHKAN AKU DARI KAMU--"


"Aku menderita hidup sendiri di sana Livia. Tapi lebih menderita lagi karena sangat jauh darimu, terpisah darimu. Apa kamu tahu itu? Selama ini aku hanya memikirkanmu. Aku tidak rela dipisahkan darimu. Begitu kembali ke sini aku langsung mencarimu tapi apa yang aku dapatkan kamu justru menghindar dariku. Kamu bersembunyi dariku," tutur Ezra dengan air mata yang menitik di sudut matanya.


Leana terpaku menatap kesedihan laki-laki itu. Setelah berpikir Ezra sengaja menghindar darinya kini Leana merasa bersalah atas dugaannya selama ini.


"Aku mencarimu Livia. Selama di sana aku selalu merindukanmu. Aku selalu ingin mencarimu, aku selalu menginginkanmu Livia. Hingga saat Leana muncul dihadapanku, aku merasa Livia hadir dalam dirimu. Aku bersalah karena mencari pelarian karena tak bisa menemukanmu. Aku bersalah, tapi aku lakukan itu karena jauh dilubuk hatiku, aku tetap mencintaimu Livia. Aku tidak bisa berpaling darimu. Aku menginginkanmu Livia," jelas Ezra dengan air mata yang telah mengalir.

__ADS_1


Leana terperangah mendengar ungkapan hati Ezra. Begitu kaget bercampur sedih hingga kedua tangannya menutupi mulutnya yang ternganga. Dengan cepat Ezra menarik kedua tangan itu dan menarik tubuh Leana hingga tubuh mereka semakin mendekat. Ezra segera membenamkan bibirnya di mulut Leana yang ternganga.


Dengan kuat menanamkan lidahnya di rongga mulut wanita itu. Leana kaget, sekuat tenaga wanita itu melepaskan diri dengan meronta, mendorong bahkan memukul laki-laki itu. Namun tubuh Ezra terlalu kuat untuk melawan tubuh mungil Leana. Hanya dengan dipeluk dengan lebih ketat, wanita itu tak bisa bergerak lagi.


Hanya air mata yang bisa menunjukkan ketidakrelaannya menerima ciuman dari Ezra. Leana tetap meronta namun semakin lama semakin melemah. Tubuhnya telah letih karena berusaha melepaskan diri, justru itu membuat Ezra semakin menjadi. Laki-laki itu mengangkat tubuh Leana dan menghempaskannya di sofa empuk di ruangan kerja itu.


Segera menimpa tubuh Leana dan mengunci wanita itu dibawahnya. Ezra beralih menciumi leher Leana dan berbisik.


"Tinggalkan Radian, menikahlah denganku! Kamu tidak akan bahagia hidup bersama keluarga yang membencimu. Aku mencintaimu Livia, aku selalu mencintaimu. Aku juga masih tetap menginginkanmu," ucap Ezra di sela-sela ciumannya yang menggebu-gebu.


Nafasnya memburu, hembusan nafasnya terasa begitu kuat mengenai di pipi Leana. Wanita itu tak rela dicumbu laki-laki itu tapi tak bisa melepaskan diri.


"Jangan Kak Lepaskan aku! Aku memiliki suami, aku sangat mencintainya. Lepaskan aku Kak! Aku mohon lepaskan aku," ucap Leana berusaha mendorong tubuh Ezra yang sedang menciumi lehernya begitu bernafsu.


Mendorong sekuat-kuatnya agar laki-laki itu segera menjauh. Namun bukannya menjauh, ucapan Leana justru membuat Ezra semakin marah. Tangan Ezra justru mulai melepas satu persatu kancing blouse Leana.


"Jangan Kak! Jangan! Sadarlah, aku ini istri orang Kak. Aku tidak mau mengkhianati suamiku," ucapnya memohon.


Tangannya yang hanya bebas sebelah tak mampu menahan tangan Ezra yang terus melepas semua kancing blouse Leana. Sekuat apa pun Leana mencoba untuk menahannya. Ezra tetap bisa membebaskan tangannya dan bergerak lincah melepaskan satu persatu kancing blouse berbahan lembut itu.

__ADS_1


Wanita itu menangis, memohon Ezra untuk menghentikan perbuatannya. Namun telinga laki-laki itu seperti telah tertutup oleh dorongan hasrat yang ingin segera terpenuhi.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2