Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 105 ~ Berkumpul Bersama ~


__ADS_3

Radian meminta ayahnya untuk menginap di rumah itu. Saat di kamar bersama istrinya, Radian meminta maaf karena menawarkan ayahnya untuk menginap di rumah itu tanpa seizin Leana. Wanita cantik itu justru tertawa.


"Bukannya aku yang minta Kakak, ajak Papa untuk istirahat di kamar, lalu kenapa sekarang harus minta maaf?" tanya Leana.


"Ya … karena, aku mengajaknya menginap bukan sekedar istirahat," ucap Radian tertunduk.


"Oh, so sweet banget sih, kayak anak kecil yang merasa bersalah," ucap Leana sambil mencubit pipi suaminya.


"Livia." 


"Ya boleh dong suamiku sayang, ini kan rumah Kakak juga kenapa harus minta izin padaku," ucap Leana.


"Ini rumahmu, peninggalan Papamu, mana mungkin aku mengakui ini rumahku dan seenaknya mengajak Papaku menginap di sini," ucap Radian dengan mengerucutkan bibirnya. Leana tersenyum.


"Apa Papa Robert orang lain bagi Kakak?" tanya Livia.


"Mana mungkin orang lain, Papa Robert adalah Papaku yang paling baik, dan sekaligus Papa mertuaku, kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Radian.


"Kalau begitu Kakak juga anaknya 'kan? Kenapa tidak menganggap rumah ini juga rumah Kakak? Dulu Kakak tinggal di sini dan menganggap ini  rumah Kakak lalu kenapa saat aku datang ke rumah ini, Kakak langsung merasa seperti orang lain?" tanya Leana.


"Itu karena … sebenarnya aku tak pernah merasa rumah ini rumahku. Cuma Mommy dan Monica merasa ini rumah mereka–"


"Ya, karena Mommy adalah istri Papa dan Kak Monica adalah anak Papa karena itu, mereka merasa ini rumah mereka juga, lalu kenapa Kakak tidak seperti itu? Kakak terlalu membatasi diri. Artinya Kakak hanya merasa berstatus anak bagi Papa Robert. Kakak tidak pernah menganggap Papa Robert sebagai Papa yang sebenarnya–"

__ADS_1


"Bukan begitu sayang, aku–"


"Ya sudah! Jangan anggap Papaku sebagai Papa Kak Radian lagi," ucap Leana dengan ekspresi kesal.


"Bukan begitu sayang, jangan marah dulu. Aku–"


"Anggap saja sebagai mertua, karena Papa sekarang sudah menjadi mertuanya Kakak," sahut Leana sambil tersenyum.


Radian menghembuskan nafas laga. Lalu segera menggelitik istrinya karena merasa dikerjai. Raut wajah Leana yang terlihat kesal ternyata hanya untuk mengerjainya. Leana tertawa geli hingga meminta ampun, Radian berhenti menggelitik tetapi tak melepaskan pelukannya.


Laki-laki itu bahkan semakin mempererat pelukannya. Ada rasa khawatir melihat kemarahan istrinya. Radian tak mampu lagi membayangkan bagaimana rasanya bertengkar dan berpisah. Karena itu Radian begitu menjaga perasaan istrinya. Laki-laki itu mengerti, Leana sudah terlalu banyak menangis karena dirinya.


"Anggaplah rumah ini rumah kita bersama. Kakak adalah suamiku, ayah dari anak-anakku, kita adalah keluarga. Kita ini sudah menyatu, keluarga Kakak adalah keluargaku juga. Lagipula Kakak telah menjalankan perusahaan Papa dan kembali membesarkan perusahaan itu. Aku rasa Papa sangat bangga memiliki anak yang luar biasa seperti Kakak. Jika saat ini Papa masih ada, Kakak pasti sangat membanggakan hati Papa," jelas Leana.


"Tapi sudah tepat, Kakak adalah orang yang tepat untuk menjalankan perusahaan itu," ucap Leana. 


Radian tersenyum mendengar ucapan istrinya. Rasa bahagia menyelimuti hatinya, hari ini berjumpa kembali dengan ayahnya yang telah lama tak bertemu, sementara adiknya telah resmi bertunangan. Mendapati istrinya yang begitu terbuka pada keluarga semakin membuatnya sangat bahagia. Radian memeluk erat istrinya itu lalu mengecup bibirnya.


"Orang tua suamiku, adalah orang tuaku juga," ucap Leana.


Adalah kata-kata yang membuat Radian terharu. Setelah apa yang dilakukan keluarganya terhadap Tn. Robert Chandra dan juga terhadap dirinya, Leana masih saja mau bersikap baik pada keluarganya. Barulah saat ini Radian merasa bersyukur karena ibunya menikahi Tn. Robert Chandra hingga akhirnya memiliki seorang adik yang baik seperti Leana dan akhirnya jatuh cinta padanya.


"Aku mencintaimu sayang, aku bahagia bisa bertemu denganmu," ucap Radian yang tak memberikan kesempatan bagi istrinya menjawab karena Radian telah terlanjur membenamkan bibirnya ke bibir manis istrinya.

__ADS_1


Malam itu dan seterusnya, Pak Ridwan Putra menginap di kediaman keluarga Radian. Terkadang Monica menggoda ibunya untuk kembali melangsungkan pernikahan. Namun, Shanty masih belum mau menjawab candaan putrinya itu. Karena belum siap untuk kembali hidup bersama dengan laki-laki yang pernah mengecewakannya itu.


Pak Ridwan Putra pun tak berani memaksakan karena merasa sadar diri. Shanty Rahayu telah terbiasa hidup penuh kemewahan sejak berpisah dengannya dan dirinya pun telah menjalani hidup bersama dengan wanita lain. Leana melihat rasa canggung yang ayah mertuanya itu.


"Udah Kak Monic, biarkan Papa terbiasa dulu. Jangan dipaksakan Kak Monic aja nggak mau dipaksa-paksa, biarkan seperti air yang mengalir, ya kan Kak?" tanya Leana pada suaminya saat mereka berkumpul di ruang keluarga. Radian tersenyum sambil mengangguk.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Kalau bisa sebelum aku menikah ya," ucap Monica pasrah.


"Yah, mengalah tapi memaksa," ujar Leana.


Membuat semua tertawa. Malam itu semua tertawa bahagia. Leana merasakan kehidupan keluarga yang seutuhnya. Teringat pada ayah angkatnya yang masih betah tinggal sendiri di rumahnya. Leana sangat berharap semua keluarganya bisa berkumpul bersama.


Leana menatap putri dalam gendongannya lalu tersenyum. Sementara Revano duduk di pangkuan ayahnya. Radian menatap istrinya yang asyik mencium pipi putrinya berkali-kali.


"Sini sayang aku taruh di ranjangnya," ucap Radian agar Leana bisa beristirahat menggendong putri mereka.


Leana menyerahkan putri mereka dan Radian membawanya ke lantai atas. Mereka bergantian mengurus bayi mereka. Siapa pun yang terbangun saat bayi itu menangis maka akan segera mengurusinya.


Seperti malam ini, Leana terbangun karena bayinya yang terbangun dan menangis. Leana segera bangun agar tidak mengganggu tidur suaminya. Mengurusi bayinya lalu menidurkannya kembali. Terkadang setelah melakukan itu rasa kantuknya hilang. Leana turun ke lantai bawah untuk meneguk air putih dingin untuk menghilangkan dahaganya.


Setelah terasa lega, wanita itu segera kembali ke lantai atas untuk meneruskan tidurnya. Baru saja menginjak kakinya di anak tangga paling bawah, Leana melihat sosok yang perlahan keluar dari pintu masuk rumah, wanita itu kaget tetapi penasaran.


Leana terkejut saat mengintip keluar rumah. Terlihat ayah mertuanya yang berjalan perlahan menuju gerbang rumah mereka. Leana perlahan mengikuti. Rasa penasaran membuatnya nekad mengikuti orang yang baru dikenalnya itu. Begitu terkejut saat melihat ayah mertuanya itu ternyata menemui seseorang di luar sana di tengah malam. Terlihat seperti menyerahkan sesuatu pada mereka lalu kembali melangkah ke arah rumah.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2