
Dean mengucapkan kata-kata yang menyinggung hati Leana. Laki-laki itu menyesal dan kembali meminta maaf. Dean sendiri tak mengerti kenapa sikapnya seperti itu. Dean hanya tahu kalau dirinya terlalu nyaman berbincang dengan Leana membuat laki-laki itu bicara melewati batas.
"Maafkan aku," ucap Dean dengan sungguh-sungguh.
Raut wajah Dean terlihat khawatir kalau Leana benar-benar marah. Bisa dipastikan pertemanan itu bisa berumur sangat singkat. Dean tidak mau itu. Belum pernah ada wanita atau siapa pun yang membuatnya merasa nyaman berbicara. Membuat tertawa bahkan hingga berkali-kali.
Melihat ekspresi Dean yang bercampur aduk antara menyesal, sedih dan khawatir, Leana langsung tertawa. Dean merasa lega. Laki-laki itu pun kembali bicara pada Leana.
"Aku pikir serius marah," ucap Dean.
"Aku memang serius marah, kata siapa aku cuma bercanda?" tanya Leana.
"Tapi?" tanya Dean dengan raut wajah kembali risau.
"Tapi kamu kembali minta maaf. Apa aku masih harus marah?" tanya Leana.
"Ah nggak, sebaiknya jangan marah lagi," ucap Dean segera sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau ada sudah menyesal, mana mungkin aku masih permasalahkan yang penting jangan berpikiran seperti itu lagi," ucap Leana.
"Baiklah, kamu memang tidak pantas disamakan dengannya," ucap Dean lalu tertunduk.
"Dengan siapa? Istrimu?" tanya Leana timbul rasa penasaran.
"Ya, dia pergi tinggalkan aku walaupun semua keinginannya telah aku berikan," ucap Dean dengan nada yang semakin pelan.
__ADS_1
"Berarti belum semuanya, justru kamu tidak berikan hal yang paling penting baginya," ucap Leana.
Mendengar itu Dean yang tadinya tertunduk langsung menoleh ke arah Leana. Menatap wanita itu lurus ke matanya. Leana merasa jengah dilihat seperti itu, wanita itu langsung berpaling menoleh ke arah Revano dan Vivia yang sedang bermain bersama. Dean hanya diam memandang, membuat Leana merasa tak nyaman dan akhirnya bertanya.
"Kenapa? Kenapa melihat aku seperti itu?" tanya Leana.
"Ucapanmu persis seperti ucapannya," jawab Dean akhirnya.
"Ya, wajar kalau sama. Aku juga seorang wanita, meski pilihan dan keputusan setiap wanita itu berbeda-beda tapi kebutuhan dan keinginannya pastilah sama. Para suami merasa telah memberikan semua yang diinginkan istrinya padahal justru suami tidak bisa memberikan apa yang paling diinginkan istrinya. Melihat dari caramu menjawab pertanyaanku. Kamu adalah yang kaya raya dan merasa bisa memberi segalanya pada istrimu tapi sebenarnya tak bisa memberikan apa yang dibutuhkan istrinya," jelas Leana.
"Kalau begitu dia tinggal bicara, katakan apa yang dia butuhkan," ucap Dean.
"Dia pasti sudah bicara, tapi kamu anggap itu adalah hal yang sepele. Merasa nanti aku berikan, nanti aku usahakan, nanti aku lakukan tapi semua terlewati begitu saja hingga istrimu tak memiliki kesabaran untuk menunggu lagi. Dia sudah terlalu letih menunggumu," ucap Leana.
"Apa yang diinginkannya. Aku tidak merasa dia pernah bicara padaku apa yang diinginkannya," ucap Dean yang tak terima kalau dia menganggap sepele apa yang diinginkan istrinya.
"Apa kamu seorang psikiater?" tanya Dean.
"Aku hanya seorang istri yang kebanyakan berpikiran sama," jawab Leana.
"Jika berpikiran sama kenapa kamu bisa melewatinya? Kenapa istriku tidak bisa? Kenapa dia tidak bisa sepertimu?" tanya Dean penasaran.
"Semua jawaban itu tergantung padamu. Bukannya dia meminta padamu? Apa kamu sudah cukup memberikan perhatian padanya? Jawaban sudah jelas tidak. Itu juga jawaban dariku. Karena sibuk, kami sebagai istri akan akan mengerti dan menahan diri tapi tak mungkin selamanya sibuk bukan? Saat itulah seorang suami harus bertanya kembali apa yang diinginkan istri bukannya justru bersantai dan menyenangkan diri sendiri dengan tidak melakukan apa pun," jelas Leana.
Dean tertegun, baru mengerti apa yang menjadi kekurangannya. Segala yang diberikan kepada istrinya tak cukup membuat istrinya bahagia. Perhatian yang cukup pada wanita yang menjadi ibu dari anaknya itu memang terasa kurang.
__ADS_1
Setiap kali mendengar penjelasan Leana, dia akan langsung membayangkan dirinya sendiri. Bahwa apa yang dikatakan Leana memang terjadi pada dirinya dan istrinya. Di saat sibuk, Dean mengelak memenuhi permintaan istri tercintanya. Di saat senggang, Dean ingin istrinya mengerti kalau dirinya ingin bersantai dan tak ingin diganggu.
Perhatian memang terasa kurang diberikan pada istrinya. Seperti tak pernah ada waktu pada istri dan anaknya. Kini saat istrinya tak ada, dia harus meluangkan waktu untuk menunggui anaknya dan ternyata bisa. Ternyata dia bisa meluangkan waktu untuk anaknya dan seharusnya bisa meluangkan waktu untuk istrinya.
Dean sadar, hari pertama masuk sekolah putrinya dan selama enam hari ke depan dia harus menjaga putrinya dan ternyata dia merasa bisa. Dean seperti mendapat pelajaran berharga dari Leana dan tak terasa waktu pulang pun tiba.
"Besok kamu akan mengantar putramu lagi kan?" tanya Dean yang dijawab dengan anggukan oleh Leana.
"Kalau begitu sampai jumpa besok," ucap Dean.
Leana mengangguk, dan memang besoknya mereka kembali bertemu. Seperti biasa Leana membawa Revani dan baby sitter-nya. Mereka kembali berbincang akrab. Membuat masa menunggu itu tak terasa membosankan.
Terlebih lagi Leana sangat pandai menebak isi hati Dean. Membuat laki-laki itu sering tertawa. Dean semakin mengagumi Leana terlihat dari sorot matanya. Waktunya pulang Dean kembali berharap besoknya akan bertemu lagi dengan Leana.
Kadang Leana merasa tak enak hati karena asyik berbincang dengan Dean hingga jarang berbincang dengan baby sitter-nya. Namun, bagi baby sitter-nya itu tak jadi masalah karena dirinya juga asyik dengan kesibukannya sendiri. Berfoto selfie di taman bermain anak-anak itu.
Setelah mendapatkan foto-fotonya, di rumah Salsa akan kembali menatap hasil jepretannya hingga satu ketika Radian tanpa sengaja melihat foto di layar ponsel gadis itu yang ditinggalkan begitu saja. Terlihat baby sitter itu dengan Revani tetapi dengan latar belakang Leana yang tertawa dengan seorang laki-laki tampan.
Sangat penasaran hingga Radian nekat menggeser tampilan di layar ponsel itu. Tak hanya satu dengan pakaian yang serupa tetapi di hari yang berbeda kembali terlihat Leana duduk bersama laki-laki yang sama dan sama-sama sedang tertawa.
Radian tercenung. Bermacam-macam pikiran bergelayut dalam benaknya. Siapa laki-laki itu, kenapa begitu akrab dengan istrinya, sampai sejauh mana hubungan mereka dan bagaimana perasaan Leana terhadap laki-laki itu.
Beralasan ingin meminta foto Revani yang terlihat di layar ponsel yang tergeletak itu, Radian meminta Salsa untuk mengirimkannya ke no ponselnya. Dengan semangat Salsa mengirimkannya. Radian pun mendapatkan semua hasil jepretan Salsa. Semua seperti tidak sengaja mengarah pada Leana.
Membuat baby sitter itu merasa senang keinginannya tercapai. Radian telah mendapat foto-foto istrinya bersama laki-laki lain dan sekarang, Salsa hanya menunggu apa yang akan terjadi.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...