
Sambil menunggu Revano sekolah, Leana asyik berbincang dengan wali murid lainnya. Seorang ayah dari gadis kecil yang bernama Vivia. Begitu asyiknya berbincang hingga Leana merasa tak enak hati karena mengabaikan Salsa, baby sitter-nya.
"Nggak apa-apa Bu, aku juga asyik bersama Reva kok Bu," jawab Salsa saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Oh ya? Apa yang kalian lakukan?" tanya Leana.
"Kami mengambil banyak foto selfie di taman Bu," ucap Salsa.
"Oh begitu," ucap Leana yang sempat melihat beberapa kali Salsa mengambil foto mereka berdua.
Leana pun membiarkan Salsa mencari keasyikannya sendiri. Sementara dirinya juga asyik berbincang dengan Dean. Setiba di rumah mereka pun kembali pada kegiatan masing-masing. Sesekali Leana bercerita pada suaminya aktivitas Revano di sekolah.
Sementara Salsa asyik mengamati hasil jepretannya terlebih lagi ketika Radian berada di sekitarnya. Seolah-olah tanpa sengaja memperlihatkan foto-foto hasil jepretannya. Namun, Radian kerap tak peduli. Hingga satu ketika, Salsa dengan sengaja meninggalkan ponselnya di atas meja dapur saat Radian hendak mengambil air minum.
Radian awalnya tak peduli. Namun, setelah tanpa sengaja melihat manisnya putri kecilnya, Radian tersenyum. Perhatiannya pun beralih pada latar belakang pengambilan gambar. Terlihat Leana yang tertawa dengan seorang laki-laki tampan.
Rasa penasaran membuat Radian nekat menggeser tampilan di layar ponsel itu. Tak hanya satu gambar tetapi beberapa gambar yang memperlihatkan Leana sedang duduk bersama laki-laki yang sama. Ekspresi mereka terlihat bahagia.
Dada Radian bergemuruh. Bermacam-macam pikiran bergelayut dalam benaknya. Bertanya-tanya siapa laki-laki yang bersama dengan istrinya itu.
Siapa dia, apa mereka teman lama? Kenapa begitu akrab dengan Livia? Sampai sejauh mana hubungan mereka? Livia terlihat begitu bahagia, seperti apa perasaan Livia terhadapnya? Batin Radian bertanya-tanya.
Begitu Salsa datang, Radian meminta Salsa untuk mengirimkan gambar-gambar itu ke ponselnya. Dengan semangat Salsa meminta no. ponsel Radian. Laki-laki itu tak memikirkan hal itu sebelumnya. Radian tak pernah memberikan no. ponselnya pada sembarang orang. Namun, demi mendapatkan gambar-gambar itu yang diakuinya sangat menyukai foto-foto putrinya, Radian pun terpaksa memberikan no. ponselnya pada Salsa.
"Semua foto yang ada Reva dikirimkan semua kan Tuan?" tanya Salsa berpura-pura.
"Ya, kirimkan semua," jawab Radian.
Dengan semangat Salsa mengirimkannya ke ponsel Radian. Radian pun mendapatkan semua hasil jepretan Salsa. Semuanya seperti tidak sengaja mengarah pada Leana. Dengan berpura-pura tenang, Radian melangkah pergi dari dapur menuju kamarnya. Di sana Radian segera membuka galeri photo untuk mengamati lebih dekat.
Semakin diamati semakin Radian merasa kesal. Dadanya terasa sesak, menahan emosi. Beberapa tampilan latar belakang photo putrinya itu memperlihatkan tampilan yang begitu akrab. Terlihat sang laki-laki sedang membelai pipi Leana. Atau bahkan ada terlihat seperti mencium pipi istrinya. Radian memejamkan matanya lalu menaruh ponsel itu di atas meja kerjanya.
__ADS_1
Livia, apa kamu menyukainya? Apa kamu berselingkuh? Apa kamu masih milikku, batin Radian.
"Kakak? Kakak kenapa? Apa Kakak sakit?" tanya Leana segera menghampiri suaminya yang memejamkan mata seperti menahan sakit.
Radian langsung meredupkan tampilan ponselnya. Lalu tersenyum dengan terpaksa. Melihat tingkah suaminya yang aneh Leana langsung meraba kening laki-laki itu. Namun, Leana tak merasakan hal yang aneh dengan suhu tubuh Radian.
"Kakak jika mengantuk jangan tidur di sini, ayo istirahat di kamar," ucap Leana.
Kamu masih begitu perhatian padaku, apa ini tulus? Atau hanya untuk menutupi kelakuanmu? Pengkhianatanmu? Apa kamu masih mencintai aku Livia? Batin Radian tanpa sadar menantap wajah istrinya.
"Ada apa Kak? Kenapa tatap aku seperti itu?" tanya Leana.
Radian diam. Laki-laki itu sibuk dengan pikirannya. Leana menangkup wajah suaminya lalu tersenyum dengan canggung. Tatapan Radian terasa aneh baginya.
"Ada apa Kak?" ulang Leana bertanya tetapi Radian menggelengkan kepalanya.
"Tidurlah! Kamu pasti lelah menunggu Reno sekolah," ucap Radian.
"Apa membosankan?" tanya Radian.
"Tidak juga. Aku di sana ngobrol dengan wali murid lain," ucap Leana.
"Siapa?" tanya Radian mulai masuk pada inti pertanyaannya.
"Oh itu ada seorang wali murid yang aku baru kenal. Orang tua dari teman sekelas Reno, namanya Dean. Aku sejak hari pertama menunggu Reno selalu ngobrol dengannya," jelas Leana.
Dia jujur, dia sepertinya tidak menutupi apa pun, batin Radian.
"Sepertinya menyenangkan. Apa dia menunggu bersama suaminya?" tanya Radian lagi.
"Suami? Dia itu laki-laki. Ayahnya Vivia–"
__ADS_1
"Oh," ucap Radian singkat merasa tak ada yang ditutup-tutupi oleh istrinya.
"Kenapa? Kakak ingin ikut menunggu Reno sekolah?" tanya Leana.
"Apa boleh?" tanya Radian.
"Tentu saja boleh, aku malah senang Kakak mau ikut," ucap Leana.
Benarkah? Batin Radian bertanya.
"Tapi apa tidak mengganggu pekerjaan Kakak?" tanya Leana lagi.
"Apa aku akan ganggu kamu?" tanya Radian.
"Nggak! Sama sekali tidak merasa terganggu. Aku malah ingin diganggu Kakak," ucap Leana lalu duduk dipangkuan suaminya.
Wanita itu mengalungkan tangannya ke leher suaminya lalu perlahan menempelkan bibirnya di bibir laki-laki tampan itu. Radian menyambut hangat lidah yang ingin menari-nari di dalam rongga mulutnya itu. Tanpa sadar telapak tangan Radian menyusup ke balik blouse yang di kenakan istrinya. Menyusuri punggung halus lembut seperti kulit bayi itu. Namun tangannya tertahan sesuatu. Radian menatap istrinya.
"Sekarang aku sudah boleh ganggu kamu?" tanya Radian dengan nafas yang memburu.
"Ini sudah terlalu lama, aku sudah lama menunggu Kakak," jawab Leana.
"Kenapa tidak bilang, aku juga menunggu kamu," ucap Radian.
"Aku lihat Kakak selalu sibuk," jawab Leana.
"Aah itu hanya kesibukan yang dicari-cari," ucap Radian.
Langsung menggendong istrinya yang tadinya duduk di pangkuannya. Kini membaringkan wanita cantik itu di ranjang. Dalam sekejap Radian telah melucuti semua yang melekat di tubuh mereka. Untuk pertama kalinya Radian menghampiri istrinya setelah melahirkan bayi keduanya.
Begitu lama menahan hasrat hingga laki-laki itu tak mau menundanya lagi. Saat istrinya mengizinkan, Radian langsung ingin melepaskannya. Begitu menggebu hingga Radian sama sekali tak mengingat lagi rasa cemburunya terhadap laki-laki yang baru dikenal istrinya.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...