
Ezra menjenguk Radian setelah mendapat kabar dari seorang karyawannya kalau laki-laki itu jatuh pingsan di kantor Leana.
Apa yang dilakukannya di sana? Apa hari ini ada jadwal pertemuan? Tidak! Kenapa aku harus heran dia bertemu dengan Leana? Jelas-jelas mereka adalah suami istri. Tentu wajar jika mereka bertemu. Radian juga telah menjelaskan kalau mereka akan bersama lagi. Mungkin ada hal yang mendesak hingga dia pagi-pagi telah tiba di kantor Leana, batin Ezra sambil melangkah tergesa-gesa ke ruang rawat inap yang telah diberitahukan padanya.
Begitu tergesa-gesa hingga tak sengaja menyenggol seorang gadis yang mengaku mengenalnya. Gadis itu ingin dia mengingat lagi teman-teman seangkatannya di SMP. Tapi Ezra tak bernafsu untuk bernostalgia. Tujuannya ke rumah sakit itu adalah untuk menjenguk Radian.
Tak ada waktu untuk mengingat-ingat, aku ingin segera menjenguk Radian, batin Ezra.
"Maaf aku lupa, aku tak begitu ingat lagi dengan teman-teman di SMP. Paling hanya orang-orang tertentu saja. Lagi pula aku memang tak banyak akrab dengan perempuan, maaf aku harus menjenguk seseorang," ucap Ezra dengan ekspresi yang menyesal.
Hanya itu yang bisa diucapkannya, dia bertemu dengan gadis itu di waktu yang tidak tepat. Laki-laki itu segera melangkah menuju rawat inap Radian. Ezra masuk ke ruangan itu, menyaksikan Radian yang masih terlihat lemah dan masih memejamkan mata. Shanty yang menunggunya merasa terkejut karena ada yang datang menjenguk putranya.
"Saya Ezra, saya pimpinan perusahaan di mana Radian bekerja," ucap Ezra sambil mengulurkan tangannya.
"Oh, Tuan Ezra, anda baik sekali datang menjenguk putra saya," jawab Shanty dengan penuh hormat.
"Ini bukan apa-apa Nyonya, Radian adalah orang kepercayaanku, sahabat ... dan telah aku anggap seperti saudaraku. Aku harus melihat keadaannya, mana mungkin aku mengabaikannya. Meski kami belum lama berkenalan tapi aku telah merasa dekat dengannya. Dia lah yang membuat aku dan Daddy-ku berbaikan lagi. Lalu … bagaimana keadaan Radian sekarang, Nyonya?" tanya Ezra.
"Dokter bilang dia mengalami dehidrasi. Itu karena Radian hidup begitu hemat hingga dia tak bisa mencukupi gizinya--"
"Apa? Hanya karena itu? Jika dia kehabisan uang, aku bisa memberinya atau minimal meminjamkannya. Kenapa mempersulit dirinya sendiri?" tanya Ezra langsung emosi mengingat apa yang menimpa diri Radian adalah hal sepele baginya.
"Radian memang orang yang tertutup. Dia lebih suka menelan sendiri penderitaannya. Semua itu karena salah saya. Masa kecil Radian dilaluinya tanpa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Keuangan keluarga kami yang sulit membuat aku tak memikirkan kebahagiaan anakku. Setiap hari hanya dilalui dengan pertengkaran. Membuat Radian tumbuh jadi anak yang tertutup dan pemurung. Aku belum pernah melihatnya tersenyum sebelum dia mengenal istrinya. Hanya dialah yang bisa mengukir senyum di bibir Radian. Tapi sekarang mereka pun berpisah, semua itu … juga karena kesalahanku. Aku yang memberikan kesedihan dalam diri anakku sepanjang hidupnya," tutur Shanty menangis hingga terisak-isak.
Ezra tertunduk, dia sendiri menyadari sifat Radian. Ezra pun menyesal karena tak sering bertanya tentang masalah laki-laki yang telah dianggapnya seperti saudara itu. Ezra sadar, Radian tak akan bercerita apa-apa jika tidak dipaksa. Sebuah hal di luar kebiasaannya saat dia mau bercerita tentang istrinya saat mereka berada di New York City.
Dia lakukan itu untuk menjalin kedekatan denganku. Dia bersedia menceritakan istrinya hingga aku percaya padanya dan dia berhasil mengajakku kembali ke Indonesia. Setelah semua itu, dia kembali tertutup bahkan seperti menjaga jarak denganku, batin Ezra.
"Saat ini Radian sedang beristirahat Tuan, apa perlu saya bangunkan?" tanya Shanty menawarkan untuk membangunkan putranya agar mereka bisa bertemu.
"Tidak usah Nyonya, Radian memang butuh istirahat," ucap Ezra.
"Dia memang kurang istirahat. Dia harus bersiap-siap berangkat kerja di saat orang-orang masih terlelap agar bisa berangkat sebelum matahari terbit--"
"Apa? Kenapa dia lakukan itu?" tanya Ezra heran.
"Agar tidak terlambat sampai di kantor Tuan, Radian harus berjalan kaki ke kantor Tuan," jawab Shanty kembali menunduk menangis.
"Ya ampun, kenapa dia mau melakukan itu. Kenapa itu solusi yang terpikirkan olehnya?" tanya Ezra bertubi-tubi.
"Karena dia orang yang tak mau meminta. Dia lebih suka memendam kesulitannya dibanding menceritakannya. Jika mendengar dia menangis barulah kami bertanya padanya. Itu juga salahku, dia memberikan kami uang untuk beli bahan makanan sementara dia sendiri tak makan demi itu. Tapi sekarang aku tidak akan membiarkan dia menahan lapar lagi. Aku akan segera punya uang hasil dari penjualan perhiasanku. Aku tidak akan membiarkan anakku kelaparan lagi," jelas Shanty.
Ezra segera meraup semua uang tunai di dompetnya dan menyerahkannya pada Shanty. Wanita itu terkejut melihat uluran tangan Ezra yang terselip uang begitu banyak.
"Ambillah Nyonya, untuk biaya selama Radian dirawat. Untuk biaya rumah sakit jangan dipikirkan, perusahaan yang akan menanggungnya--"
__ADS_1
"Tapi Radian bahkan belum sebulan bekerja di perusahaan itu?" tanya Shanty heran bagaimana bisa laki-laki dihadapannya itu memastikan Radian mendapat tanggungan biaya dari perusahaan.
"Aku yang akan mengurus itu Nyonya, jangan khawatir," ucap Ezra masih mengulurkan tangannya berisi beberapa lembar seratus ribuan.
Shanty menatap uang itu, sangat ingin menerima bantuan biaya itu namun saat menoleh pada putranya, Shanty urung mengambil karena takut menimbulkan kemarahan Radian.
"Tidak apa-apa Nyonya, ambillah," ucap Ezra akhirnya meraih tangan Shanty dan meletakkan uang itu di telapak tangan nyonya itu.
"Tapi aku takut Radian marah Tuan," ucap Shanty.
"Nyonya tidak meminta tapi aku yang ingin memberi. Lagi pula dia tidak perlu tahu kalau nyonya mendapatkannya dariku," jelas Ezra.
"Itu tidak mungkin Tuan, Radian pasti bertanya dari mana asal uang ini," ucap Shanty.
"Kalau dia marah suruh dia menghadap padaku. Aku yang akan menjelaskannya," ucap Ezra lagi.
Shanty akhirnya bersedia menerima uang pemberian dari atasan putranya itu.
"Ezra!" teriak Monica yang baru datang.
Ezra pun kaget melihat gadis yang baru ditemuinya tadi saat ingin masuk ke gedung rumah sakit itu.
"Jadi kamu datang ke rumah sakit ini untuk menjenguk Kakakku?" tanya Monica antara tak percaya dan bahagia.
"Kakak? Dia Kakakmu?" tanya Ezra.
"Oh, jadi …."
"Kalian saling mengenal?" tanya Shanty.
"Ya Mommy, Ezra adalah Ketua OSIS di SMP kami dan aku anggota OSIS-nya Mommy." Cerita Monica dengan penuh semangat.
Sementara Monica bercerita, Ezra justru sibuk mengingat-ingat siapa Monica dan seperti apa Monica dulunya.
"Kamu yang dulu menghasutku untuk menghukum Livia lari keliling lapangan bukan?" tanya Ezra seperti mulai mengingat.
"Ya benar, aku yang memintamu untuk tetap menghukumnya karena dia tak mau menjawab alasan dia terlambat," ucap Monica begitu senang karena Ezra sudah mulai ingat dengannya.
"Ya benar kamu gadis kejam itu, panitia orientasi siswa itu. Kamu tahu? Aku merasa menyesal seumur hidup karena hasutanmu itu. Ternyata Livia datang terlambat karena menolong Wakil Ketua OSIS yang terserempet motor. Aku berhutang maaf padanya hingga kini. Aku baru ingat kamu dan teman-temanmu juga yang menyembunyikan sepatu Livia. Aku heran kenapa kamu begitu jahat padanya?" tanya Ezra dengan wajah kesal.
"Karena aku benci padanya, dia adik tiriku. Dia harusnya patuh padaku tapi apa yang aku dapati dia justru menggoda laki-laki yang aku sukai--"
"Apa? Hanya karena itu kamu tega menjahati adik tirimu. Dia … dia, tunggu dulu. Bukannya Radian menikahi adik tirinya?" tanya Ezra.
Perlahan Ezra mengingat kembali apa yang diucapkan Radian saat laki-laki itu berkeluh kesah padanya di New York.
__ADS_1
~ Dia adalah adik tiriku ~
~ Dinyatakan bunuh diri ~
~ Tiba-tiba muncul dengan wajah yang berbeda. Hingga kami sekeluarga tidak mengenalinya. Dia kembali membuatku jatuh cinta, hingga akhirnya aku menikahinya. Tanpa kami ketahui dia kembali untuk membalas dendam terhadap kami, merebut kembali semua harta milik ayahnya ~
Livia muncul dengan wajah yang berbeda? Dia muncul sebagai Leana? Batin Ezra
Ezra pun mengingat kembali apa yang menyebabkannya tertarik pada Leana.
~ Aku tidak kenal banyak orang seperti kamu. Orang yang suka berhutang maaf ~
~ Lepaskan aku? Atau kamu ingin menambah hutangmu padaku? ~
Berhutang maaf, yah, aku memang berhutang maaf pada Livia. Leana, … dia mengingatkan semua itu. Dia tahu siapa aku. Tapi kamu hanya diam Livia. Kamu dan Radian tega menipuku. Kalian telah tahu aku menyukai Livia tapi kalian diam. Tega sekali membuatku mencari Livia padahal aku telah bertemu dengannya, batin Ezra geram.
Kembali teringat olehnya, saat kembali ke tanah air. Hal pertama yang dilakukannya adalah meminta alamat rumah Livia di bagian Tata Usaha SMP-nya dulu. Begitu mendapatkannya laki-laki itu langsung mencari alamat Livia. Tapi kenyataan yang didapatinya justru tak menemukan gadis bernama Livia di rumah itu.
"Siapa Bi?" terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah.
Ezra melongok ke dalam, seorang wanita cantik berjalan dengan santai menuruni tangga dari lantai atas rumah itu.
"Salah alamat Nyonya," jawab pelayan baru di kediaman Tn. Robert Chandra itu.
"Oh," ucap wanita kemudian berlalu ke bagian dalam.
"Maaf Tuan, di sini tak ada yang bernama Livia. Yang tadi itu Nyonya kami namanya Leana," ucap pelayan itu berharap Ezra segera pergi dari rumah itu.
Antara percaya dan tidak dengan ucapan pelayan rumah itu. Ezra dengan yakin alamat rumah yang diberikan pihak SMP adalah alamat rumah Livia yang benar.
Apa mungkin Livia telah pindah, dan wanita bernama Leana itu yang telah membeli rumahnya? Batin Ezra bertanya-tanya.
Sejak itu Ezra putus asa mencari Livia dan beberapa hari kemudian bertemu dengan Leana di kantornya. Ezra seperti pernah melihatnya namun sikap Leana justru mengingatkannya pada Livia. Saat itu juga Ezra tertarik pada Leana.
Benar, wanita yang turun dari tangga itu adalah Leana, aku baru ingat sekarang. Benar! Rumah itu adalah rumah Livia dan wanita yang turun dari tangga itu adalah Leana yang sebenarnya adalah Livia, batin Ezra.
Dan hari ini semua tanda tanya itu telah terungkap.
Ezra telah tahu kalau ternyata wanita yang turun dari lantai atas itu sebenarnya adalah Livia yang dicarinya. Dan baru ingat sekarang, kalau wanita yang dilihatnya waktu itu adalah Leana yang beberapa hari kemudian datang ke kantornya untuk membicarakan kerjasama perusahaan mereka.
Ezra menoleh pada Radian dengan tatapan mata yang tajam.
Kamu tega membohongi aku Radian, kamu tahu aku mencari Livia tapi kamu hanya diam menutupi kenyataan. Apa alasanmu untuk semua ini? Kenapa tega melakukan ini padaku? Kamu takut aku mendekatinya? Kamu takut kehilangan Livia? Karena rumah tangga kalian sedang terguncang, kamu takut aku mendapatkan cintanya? Aku relakan kamu bersama Leana, demi kebahagiaanmu. Tapi apa balasan pengorbananku padamu? Kamu balas dengan kebohongan, munafik! Baiklah Radian sekarang aku ingin lihat, apa sekarang Livia akan tetap bertahan mencintaimu, batin Ezra menjerit.
Setelah menatap tajam pada Radian, laki-laki itu pun pergi begitu saja. Meski Monica mencoba memanggilnya namun telinga laki-laki itu seperti telah tertutup oleh amarah. Merasa dibodohi oleh orang-orang yang dipercaya dan disayanginya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...