
Radian mengusap wajahnya dengan kasar. Berharap semua bisa berlalu dengan menganggap kejadian itu tak pernah terjadi. Mengabaikan apa yang pernah di dengarnya langsung dari mulut Camelia bahwa dirinya yang tengah mabuk menganggap Camelia adalah Leana dan bercinta dengannya.
Meski ada rasa percaya dengan ucapan wanita itu namun hatinya benar-benar menolak untuk mempercayai. Semua karena Radian tak ingin mengkhianati pernikahannya dengan Leana. Tak ingin mengkhianati cintanya pada satu-satunya wanita yang dicintainya seumur hidupnya. Radian masih mencoba bertahan tak peduli dengan ucapan Camelia meski hatinya berontak karena menjadi seorang pengecut yang tak bertanggung jawab.
Namun semua itu memang tak bisa berlalu begitu saja. Kejadian itu tak bisa diabaikan begitu saja. Kini seorang bayi hadir sebagai bukti kejadian itu benar-benar ada, benar-benar terjadi. Radian menunduk menangis, mengingat bayangan Leana akan semakin menjauh darinya.
Di depan semua karyawan, Camelia tak segan-segannya menuntut pertanggungjawaban dari Radian. Wanita itu bahkan membawakan bukti pemeriksaan kesehatannya ke dokter kandungan.
"Aku sudah telat dua bulan. Aku pikir haidku tak lancar karena stress tapi ternyata aku sudah--"
Radian menarik tangan Camelia masuk ke dalam ruangannya. Di sana, seperti dulu Radian mendorong kasar wanita itu hingga ke tengah ruangan.
"Kenapa harus cerita di depan semua orang. Apa kamu tidak malu?" tanya Radian.
"Kenapa harus malu, itu bagus! Agar semua orang di sini tahu kalau atasan yang mereka hormati. Bersikap tak acuh padaku di depan mereka tapi bernafsu padaku di belakang mereka. Oh ya, agar mereka juga tahu kalau atasan yang mereka hormati itu mencoba melupakan begitu saja perbuatan bejatnya pada seorang gadis yang masih perawan," ucap Camelia dengan sorot mata yang tajam dan nafas yang tersengal-sengal karena emosi.
Radian terdiam, semua sudah terlanjur. Meski mulut Camelia sekarang ini di bekap juga tak ada artinya lagi. Semua sudah mendengar apa yang diucapkan wanita itu. Dan dia memang sengaja melakukannya demi mengikat Radian. Agar laki-laki itu tak bisa mengelak lagi dari tanggung jawab.
"Aku ingin kita segera menikah! Aku tak ingin perutku semakin membesar sementara aku belum menjadi istri siapa pun. Aku … punya impian memiliki pesta pernikahan yang mewah tapi jika keadaannya begini, apa mau di kata? Aku tak bisa menuntutmu untuk mewujudkan cita-cita pernikahanku karena kondisi keuanganmu yang masih sulit. Aku … demi cintaku, aku rela menjalani hidup yang seadanya bersamamu," ungkap Camelia.
"Tapi aku tidak mencintaimu," ucap Radian.
__ADS_1
Laki-laki itu berkata dengan polosnya karena memang itu yang dirasakannya. Radian tak mencintainya dan merasa tak akan pernah mencintainya. Apa Camelia tetap akan mencoba untuk memaksanya menikah? Sementara dirinya sama sekali tak ada hasrat pada wanita itu.
"Aku yakin suatu saat bisa membuat Kak Radian jatuh cinta padaku. Asalkan Kak Radian mau mencobanya. Menikah karena terpaksa mungkin hanya awalnya saja. Setelah menjalaninya Kak Radian mungkin bisa mencintaiku secara perlahan," jawab Camelia sambil meraih tangan Radian.
Laki-laki itu diam dengan wajah murung sementara Camelia tersenyum. Laki-laki itu tak lagi menepis tangannya, itu sebuah awal yang bagus baginya. Semakin erat gadis itu menggenggam tangan Radian, hatinya semakin berbunga-bunga. Jantungnya berdebar-debar bisa merasakan sentuhan hangat yang mengalir melalui telapak tangan laki-laki itu.
Radian menoleh ke arah Camelia, dengan tatapan yang sendu, laki-laki itu berusaha bertahan menatap gadis itu. Tapi hatinya meronta, hanya sekejap saja, hanya mampu sekejap saja, Radian tak bisa menemukan sesuatu yang bisa membuatnya betah menatap wajah gadis itu.
Justru bayangan Leana yang muncul di pelupuk matanya. Wajah sedih wanita yang dicintainya jika tahu dirinya akan segera mengkhianati pernikahan mereka.
Maafkan aku Livia, ini bukan kehendakku. Hatiku tak akan mengkhianatimu. Semua ini karena kesalahanku, semua ini aku lakukan karena terpaksa. Aku akan tetap mencintaimu, kamu akan selama menjadi istri tercintaku, batin Radian.
Persiapan pernikahan sederhana langsung direncanakan oleh Camelia. Perkenalan secara kilat pada kedua orang tuanya pun berjalan dengan cepat. Camelia tak menceritakan tentang kehamilannya karena gadis itu merasa takut prasangka buruk orang tuanya akan langsung melekat pada diri Radian.
Gadis itu berdalih segera ingin mengukuhkan cinta mereka secepatnya sebelum Radian sibuk dengan usahanya yang baru dirintis. Radian pasrah dengan semua alasan, persiapan, perencanaan pernikahan dan juga perkenalan-perkenalan dengan kedua keluarga.
Semua diatur oleh Camelia hingga tiba saatnya bertemu dengan Shanty dan Monica yang telah kembali pulang ke rumahnya. Kondisi kesehatan Shanty telah pulih kembali seperti semula namun wanita itu harus lebih hati-hati mulai sekarang. Shanty harus menjaga kesehatannya karena jika terjadi serangan stroke untuk yang kedua kalinya, Shanty akan sulit untuk kembali seperti semula.
"APA? Kalian akan menikah? Radian, apa-apaan ini?" tanya Shanty yang tak terima putranya tiba-tiba ingin menikah dengan gadis yang sama sekali belum dikenalnya.
"Maaf Mommy, aku sudah berbuat kesalahan. Aku harus segera menikah dengan Camelia karena saat ini, Camelia sedang mengandung," jelas Radian.
__ADS_1
Shanty dan Monica langsung kaget, Monica bahkan terperangah. Tak menyangka Radian bisa melenceng begitu jauh. Mereka sangat sedih mengingat Radian yang telah sekian lama berpisah dengan istrinya membuat laki-laki itu akhirnya melampiaskan hasratnya pada wanita yang belum mereka kenal.
"Bagaimana dengan istrimu, apa kamu sudah putus asa dengannya?" tanya Shanty.
Radian tertunduk, antara putus asa dan yakin bahwa cintanya akan tetap teguh untuk Leana. Namun saat ini Radian hanya ingin menunaikan tanggung jawab atas perbuatannya. Saking tak pedulinya pikiran keluarga terhadap dirinya, Radian tak menutupi sedikit pun apa yang terjadi padanya dan Camelia.
Dengan terang-terangan menceritakan peristiwa itu terjadi karena mereka dalam keadaan mabuk. Kemudian laki-laki itu tertunduk, urung menceritakan kalau yang ada di matanya saat itu adalah Leana. Itu terkesan Camelia benar-benar tak ada arti baginya. Radian tak tega, sebenci-benci apa pun pada wanita itu, Radian tak pernah tega merendahkan wanita.
Mau tak mau, suka tak suka, Shanty dan Monica menyetujui pernikahan Radian dengan Camelia. Wanita itu langsung memeluk keduanya bergantian. Begitu bahagianya Camelia karena pernikahannya di restui oleh ibu dan adik dari laki-laki yang dicintainya.
Shanty dan Monica hanya diam saling memandang. Untuk tersenyum saja mereka tak mampu. Teringat mereka yang telah berhutang budi pada Leana sementara mereka membalas kebaikan Leana dengan merestui Radian memiliki istri kedua.
Sejak kedatangan Camelia ke rumah kontrakan Shanty dan mendapatkan restu. Gadis itu terlihat begitu bersemangat mempersiapkan pernikahannya. Bersiap-siap dengan gaun pengantin, gedung, menu, dan tak lupa undangan. Semua dipersiapkannya dalam jangka waktu satu bulan.
Sementara itu Leana dan Dr. Djamal yang telah pulih kondisi kesehatannya. Kembali pulang ke tanah air. Dengan penuh semangat Leana masuk ke dalam rumah untuk menemui para pelayannya. Dr. Djamal hanya menggelengkan kepalanya melihat keceriaan putrinya itu. Setengah berlari Leana mencari para pelayan. Hingga akhirnya melihat mereka yang berkumpul di dapur.
Leana tertegun, tak ada ekspresi bahagia menyambut kepulangannya. Leana menatap Bi Iyah yang tadi membukakan pintu untuknya. Bibi itu hanya bisa tertunduk. Wanita yang tengah hamil lima bulan itu akhirnya bertanya pada para pelayan.
Seorang pelayan langsung menyerahkan sebentuk undangan. Leana terperangah tak percaya, air matanya langsung mengalir. Leana terduduk di lantai, semua pelayan berhamburan mengelilinginya. Mereka ikut menangis melihat kesedihan majikannya yang baik hati itu.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1