
Leana menantang suaminya untuk menguji baby sitter mereka. Radian protes karena tak ingin melakukan hal yang menantang seperti itu. Meski dalam hatinya tak akan pernah mengkhianati Leana tetapi apa pun bisa terjadi. Jika gadis itu berniat buruk padanya, bisa saja dia merencanakan sesuatu untuk memfitnah Radian.
"Kakak takut ya? Nggak percaya diri bisa melawan pesonanya?" tanya Leana sambil tersenyum meledek.
"Pesona apa? Banyak yang lebih mempesona dibandingkan dia tapi tidak aku tidak peduli. Satu-satunya yang membuat aku terpesona cuma wanita yang bernama Livia. Sejak masih imut hingga dewasa," ucap Radian.
"Oh ya? Kalau Kakak begitu yakin kenapa nggak mau terima tantanganku?" tanya Leana.
"Aku takut bermain-main dengan hal semacam itu sayang. Tak baik menguji orang lain dengan cara seperti itu. Mungkin saja saat ini di sudah sadar tapi karena kita beri dia kesempatan hingga menimbulkan niat jahatnya lagi, itu adalah kesalahan kita. Jika kamu merasa tidak nyaman dengannya, lebih baik kamu berhentikan dia daripada memancing dia berbuat jahat lalu memecatnya dengan tidak hormat," jelas Radian.
"Baiklah suamiku, kalau begitu kita jangan lakukan itu," ucap Leana sambil tersenyum.
Radian pun tersenyum. Dirinya sama sekali tidak takut untuk berhadapan dengan wanita mana pun. Tak akan meragukan keteguhan hatinya. Tak akan menyangsikan kekuatan cintanya untuk Leana. Namun, Radian ingin berjaga-jaga dari fitnah yang bisa mengganggu keutuhan rumah tangganya.
Seminggu kemudian Leana mulai aktif bekerja. Ada rasa ragu mempercayakan putrinya yang masih pada Salsa. Bukan karena tingkah Salsa yang sempat menunjukkan sisi jahatnya tetapi karena selama ini Leana lah yang merawat sendiri bayinya.
Leana meminta izin masuk ke kamar Ratih. Ibu mertuanya itu sedikit terkejut karena Leana yang tiba-tiba ingin bicara padanya. Sejak tinggal di rumah itu dan melihat wibawa Leana di rumah itu begitu besar, Ratih menjadi sungkan pada Leana meskipun gadis itu sama sekali tak menunjukkan sikap berkuasa ataupun bersikap sombong.
"Ada apa Livia? Tumben cari Mama?" tanya Ratih.
"Ya Ma, hari ini aku mulai bekerja lagi. Otomatis aku nggak bisa jaga Reva lagi. Memang ada Salsa yang bertugas untuk menjaganya tapi … bagaimanapun juga dia bukan keluarga kita, meski kami menganggapnya seperti keluarga …."
"Mama mengerti, kamu pasti khawatir meninggalkan Reva pada dia kan? Ada Mama yang selalu di rumah, jangan khawatir Mama akan awasi dia setiap saat. Mama juga akan minta bantu para pelayan untuk sama-sama mengawasi dia. Jangan khawatir ya," ucap Ratih.
"Oh ternyata Mama mengerti, terima kasih ya Ma. Aku juga minta tolong sama Mommy tapi kadang-kadang Mommy juga punya kegiatan di luar rumah. Satu-satunya yang selalu di rumah ya Mama. Nanti Reva jangan diizinkan dibawa ke mana-mana ya Ma, meski ke taman kompleks sekali pun," pesan Leana.
"Baiklah akan Mama awasi. Sebenarnya dia tak menggubris Mama. Dia nggak ada sopannya sama Mama–"
__ADS_1
"Apa? Maksud Mama?" tanya Leana heran.
"Ya, setiap kali Mama bicara sama dia, ucapan Mama nggak pernah didengar. Mungkin karena dia tahu Mama cuma gembel yang numpang di sini," jawab Ratih.
"Lho kok gitu? Harusnya dari segi apa pun dia harusnya hormat sama Mama. Mama anggota keluarga juga, dari segi usia Mama pantas dihormati olehnya," ucap Leana.
"Ya, mungkin karena kami datang seperti pengemis, jadi dia memandang sebelah mata sama kami tapi jangan khawatir, kalau dia macam-macam Reva, Mama pasti akan lawan dia. Kamu sudah begitu baik pada kami, memperlakukan kami layaknya manusia. Permintaan kamu ini pasti akan Mama, laksana dengan amanah," jelas Ratih.
Leana mengangguk tetapi jelas dari raut wajahnya Leana berpikir keras. Wanita itu pun pamit untuk berangkat bekerja. Hal itu selalu dilakukannya setiap hari, berpamitan pada semua penghuni rumah. Setiap hari ada rasa ragu meninggalkan Reva. Wanita itu merasa berat meninggalkan bayinya itu.
Kadang ada keinginan untuk membawa bayi itu ke kantor tetapi Leana takut akan mempengaruhi pekerjaannya. Karena itu setiap kali akan berangkat Leana akan memeluk dan menciumi putrinya. Begitu pekerjaannya selesai, Leana akan segera pulang.
"Kalau rasanya tak nyaman meninggalkan Reva, apa sebaiknya kamu berhenti bekerja saja?" tanya Radian saat berbaring sambil memeluk istrinya.
"Apa? Masa aku tinggalkan pekerjaanku? Aku membangun perusahaan itu dari nol, masa sekarang aku lepaskan? Masalahnya ini hanya keraguan, bagaimana kalau perasaanku ini hanya perasaan yang berlebihan saja padahal tidak akan terjadi apa-apa," ucap Leana yang rebah di dada suaminya.
"Saat itu yang menjadi pengasuhnya bukan Salsa. Sekarang dia punya pekerjaan mengasuh bayi lain. Aku rasa takut dan khawatir ini mungkin karena kita sudah melihat sisi jahatnya Salsa, dia bisa bertindak jahat karena itu aku jadi khawatir," jelas Leana.
Radian mengusap lembut punggung yang terbuka itu lalu mengecup puncak rambut istrinya. Radian baru ingat kalau saat itu dirinya tidak lagi tinggal bersama Leana. Radian meninggalkan putra kesayangannya saat masih bayi. Mereka berpisah karena Radian merasa malu atas kejahatan yang dilakukan ibu dan adiknya terhadap adik tirinya itu.
"Aku melewati saat-saat Reno masih bayi, rasanya menyesal sekali. Aku hanya bisa merindukan anakku setiap hari," ucap Radian.
"Nggak merindukan aku?" tanya Leana. Radian langsung menoleh ke arah Leana yang bersandar di dadanya.
"Kalau ibunya setiap detik–"
"Aah, nggak kuat dengar gombalan!" seru Leana.
__ADS_1
"Siapa yang gombal? Ini memang nyata," jawab Radian lalu membenamkan bibirnya di bibir manis istrinya.
Menikmati ciuman lembut itu hingga berubah menjadi ciuman yang menggebu. Mereka pun bersiap-siap untuk bercinta ronde kedua. Radian sangat mencintai Leana, selalu bernafsu terhadap istrinya. Selalu ingin menumpahkan rasa cintanya pada wanita cantik itu.
Ingin melampiaskan hasratnya setiap saat. Begitu juga Leana, saat melayani suaminya, Leana bisa melupakan segala kekhawatirannya. Menikmati ciuman lembut itu laki-laki membuat hati Leana melayang-layang. Selalu merasa tak percaya jika laki-laki yang diam-diam dikaguminya dulu, ada dihadapannya dan begitu ingin memberikan kepuasan padanya.
"Aku mencintaimu sayang," bisik Radian.
"Aku juga mencintaimu Kak," balas Leana yang memejamkan mata menikmati ciuman-ciuman lembut di lehernya.
Sentuhan, belaian lembut dan ciuman itu baru akan berakhir di saat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Saat itu, Leana dan Radian akan tertidur begitu nyenyak. Sungguh-sungguh terlelap hingga mereka tak mendengar adanya keributan.
Radian segera bangun saat mendengar bunyi ketukan pintu yang terburu-buru. Leana pun diminta untuk kembali tidur. Radian yang akan menemui si pengetuk pintu.
"Ada apa Ma?" tanya Radian kaget melihat ibu tirinya berdiri di depan pintu dengan wajah panik.
"Itu … itu … Mama cari ke mana-mana tapi nggak ketemu," ucap Ratih.
"Apa yang nggak ketemu?" tanya Radian.
"Itu, Reva dan juga Salsa," jawab Ratih.
"Apa?" Radian dan Leana serentak berteriak.
Mendengar ketukan pintu yang terburu-buru membuat hati Leana tak tenang. Meski suaminya meminta dirinya melanjutkan tidur, tetapi tak bisa dilakukannya lagi. Leana memiliki firasat buruk dan ternyata benar, putrinya menghilang begitu juga sang baby sitter.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1