Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 60 ~ Tetap Keluarga ~


__ADS_3

Camelia yang tak lagi bisa melihat Radian, merasa kesal. Setelah mendapatkan alamat rumah Radian, pagi-pagi sekali wanita itu mendatangi rumah itu. Namun, Camelia tak menemukan siapa pun di sana. Wanita itu tak tahu kalau ibu dan adik Radian menginap di rumah sakit sementara Radian tinggal di ruko yang dikontraknya bersama crew usaha barunya.


Dengan kesal wanita itu datang ke kantor, usahanya bangun pagi untuk menemui Radian kembali sia-sia. Rasa rindu dan ingin tahu keadaan laki-laki itu tak bisa terpenuhi hingga membuat wanita itu menjadi frustasi. Kembali wanita itu memporak porandakan apa yang ada di atas mejanya.


"Hey Nyonya! Kira-kira dong, jangan karena kesal sendiri. Kerjaan orang jadi bertambah!" seru seorang office boy.


"Nyonya? Enak saja kamu panggil aku nyonya. Memangnya aku wanita tua?" balas Camelia sewot.


"Ya! Tingkahmu itu seperti wanita tua, seenaknya! Aku yang bertanggung jawab atas kebersihan ruangan ini. Aku sudah menyelesaikan tugasku tapi lagi-lagi kamu membuat kotor ruangan ini," seru office boy itu.


"Heh, siapa namamu? Berani-beraninya kamu bantah-bantahan denganku. Kamu itu hanya seorang OB kamu tahu nggak?" tanya Camelia.


"Heh dasar wanita tua sudah tahu aku OB, pakai seragam OB ya tentu aku tahu kalau aku ini OB. Pakai nanya lagi. Sekarang bersihkan sendiri lantai yang kamu kotori!" seru Office boy itu.


"Apa?" 


"Tadi rabun, nggak lihat orang pakai seragam OB. Sekarang budeg nggak bisa dengar, jangan-jangan sebentar lagi kamu pikun, pura-pura lupa dengan perintahku!" ucap Office boy itu masih dengan nada tinggi.


"Apa?" tanya Camelia dengan nada yang lebih panjang.


"Tuh kan budeg sini kupingmu biar aku ngomong tepat di lobang kupingmu itu," ucap Office boy itu sambil menggerakkan jari telunjuknya.


"Aku bukan budeg, aku cuma nggak percaya kalau aku diperintahkan oleh seorang OB!" seru Camelia dengan suara keras.


Wanita itu tak peduli karena di ruangan itu memang cuma ada dirinya. Jika ada karyawan lain tentu dia akan menjaga image-nya sebagai gadis yang anggun.


"Dasar ular, pokoknya bersihkan sendiri barang-barang yang berantakan ini atau aku tuang tumpukan sampah bau di atas meja kerjamu ini!" ucap Office boy itu dan kemudian berlalu.


"Hey kamu nggak takut dipecat ya?"

__ADS_1


"Nggak!"


Office boy itu telah berlalu, jika dulu dia masih mau membereskan barang-barang yang berantakan itu tapi sekarang dia tak peduli lagi. Tentu saja Camelia terpaksa membereskan sendiri semuanya dengan segera karena kalau tidak, image gadis anggun yang sedang jongkok memunguti barang-barang akan melekat pada dirinya.


Sementara itu Radian dan mantan karyawan perusahaan lamanya bekerja dengan giat. Dengan budget yang minim mereka bahkan merangkap tugas dan jabatan. Bahkan Radian yang menjabat pimpinan tertinggi perusahaan baru itu tak segan-segan membereskan sendiri ruangan kerja mereka. Yanto karyawan paling muda di situ merasa tak enak hati dan mengambil tugas untuk berberes-beres sebelum memulai bekerja.


Radian tinggal di rumah kantor itu untuk menghemat ongkos dan sekalian beberes kantor baru mereka. Bersama Yanto dan Haris yang memang masih belum berkeluarga. Siangnya bekerja, malamnya beristirahat di lantai atas sambil sesekali meneruskan pekerjaan. Lembur tak lembur sama saja bagi mereka. Hati riang bekerja itu lebih menjadi pilihan mereka.


Radian kagum dengan semangat anak-anak muda yang kritis namun jujur itu. Menurut Radian itulah yang menyebabkan mereka diusulkan untuk mengambil pensiun dini. Mereka di depak secara halus karena tak bisa mengikuti cara kerja manajemen yang baru itu.


"Aku pergi dulu ya! Aku ingin mengunjungi ibuku dulu di rumah sakit," ucap Radian meminta izin.


"Baik Tuan!" seru Haris.


"Aku bilang jangan panggil Tuan, aku ini bukan atasan kalian. Kita setara, kita ini kerjasama, rekan kerja," ucap Radian untuk kesekian kalinya.


"Oh maaf Tuan eh … maaf ... habis kebiasaan. Kalau begitu panggil Pak? Bang?" tanya Haris memilih panggilan untuk Radian.


"Ok Bang Radian," jawab Haris yang membuat Yanto tersenyum.


Radian pun pergi menjenguk ibunya. Radian sedih bercampur bingung saat memasuki ruang rawat inap kelas VVIP itu. Entah bagaimana dia akan membayar tagihannya. Meminta ibunya untuk pindah ruang bangsal pun Radian tak tega.


Namun mengingat keuangannya yang sangat minim Radian akhirnya mencoba memberanikan diri mengusulkan untuk pindah ruangan.


"Livia yang membayarnya," jawab Shanty.


"Apa?"


Monica pun menceritakan kedatangan Leana ke rumah sakit. Mereka sangat terkejut karena mereka telah tahu kalau Radian dan Leana kembali berpisah namun Leana masih tetap mengunjungi ibu mertuanya itu seperti tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Livia, kami dengar kalian kembali berpisah. Apa itu benar? Apa benar apa yang dituduhkan Radian kalau kamu berselingkuh?" tanya Shanty tanpa ragu-ragu.


"Benar Mommy, Kak Radian memutuskan pergi lagi dari rumah. Tapi tuduhan itu tidak benar Mommy. Aku tidak berselingkuh," jawab Leana.


"Lalu bagaimana bisa timbul foto-foto itu? Kak Radian bilang kalau dia melihat foto Kak Leana sedang bermesraan dengan Ezra, atasan Kak Radian," tanya Monica.


"Aku tak bermesraan, Kak Monica. Aku dipaksa--"


"Apa? Dipaksa? Berarti Kak Ezra melecehkanmu? Apa dia mem … perkosamu?" tanya Monica dengan nada yang ragu-ragu.


"Beruntung tidak sampai sejauh itu, jika terjadi, aku sudah berpikir untuk bunuh diri," jawab Leana dengan mata yang berkaca-kaca.


Terlintas lagi dalam pikirannya kejadian waktu itu. Leana masih saja gemetar setiap kali teringat kejadian itu. Air matanya langsung meleleh. Monica melihat kesedihan yang sungguh-sungguh dari raut wajah itu. Karena tanpa diminta air mata wanita itu terus saja mengalir padahal dia telah menghapusnya sambil berusaha tersenyum.


Shanty dan Monica termangu menatap Leana yang masih berusaha menenangkan hatinya. Wanita itu bahkan menggunakan ujung lengannya untuk menghapus air mata yang mengalir itu karena telapak tangannya yang telah basah. Monica tersadar segera memberikan tisu pada wanita yang tengah bersedih itu.


"Ternyata Ezra masih tetap menyukaimu," ucap Monica pelan.


"Aku menyukainya, menyayanginya karena dia baik dan peduli padaku. Tapi … aku tak pernah bisa mencintainya. Aku hanya bisa menganggapnya sebagai seorang kakak," jawab Leana kembali menghapus air yang mengalir di sudut matanya.


"Kalau begitu jelaskan semuanya pada Radian. Dia harus tahu kalau kamu tidak selingkuh," ucap Shanty.


"Aku sudah mencoba menjelaskannya Mommy tapi Kak Radian lebih percaya pada foto-foto itu," jawab Leana.


"Seperti apa foto-foto itu kenapa Kak Radian lebih yakin pada foto itu?" tanya Monica yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Leana.


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Selain Dr. Djamal yang menyayangiku. Aku tak punya keluarga lain lagi. Meski Kak Radian tak menganggap aku sebagai istrinya lagi. Bolehkah aku tetap menganggap kalian sebagai keluargaku?" tanya Leana dengan tersedu-sedu.


Monica langsung memeluk Leana, gadis itu juga menangis tersedu-sedu. Monica telah merasakan ketulusan hati Leana hingga di hati gadis itu telah tumbuh rasa sayang yang tulus pada Leana. Monica ikut merasakan kesedihan wanita itu. Tak lagi buru-buru menyalahkan Leana yang mencuri laki-laki yang dicintainya. Karena Monica melihat cinta Ezra itulah yang justru membuat Leana menderita.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2