
Leana memutuskan untuk menghindar dari Radian. Saat mengetahui laki-laki yang dicintainya sejak di bangku SMP itu telah memiliki wanita lain di hatinya. Leana bukanlah wanita jahat yang akan merebut cinta milik wanita lain.
Radian merasa kalau Leana ingin mengakhiri hubungan mereka yang singkat itu. Laki-laki yang merasa takut kehilangan untuk kedua kalinya akhirnya memohon pada Leana untuk tidak mengabaikannya. Di saat gadis itu ingin mengusirnya dia justru memeluk dan mencium Leanna.
Radian tak pernah berciuman sebelumnya, laki-laki yang terkenal dingin itu. Tak memberi kesempatan gadis mana pun untuk mendekatinya. Mendapat tatapan matanya yang tajam saja, para gadis sudah kabur sebelum sempat menyatakan cintanya.
Namun kini laki-laki itu justru menikmati ciuman pertamanya bersama Leana. Entah apa yang ada dalam pikirannya, yang pasti saat melihat senyum Leana laki-laki itu membayangkan lidahnya bermain di rongga mulut gadis itu. Dan kini keinginannya tercapai, hasratnya ingin merasakan manisnya bibir beraroma vanilla itu membuatnya ketagihan hingga membuat nafasnya sesak.
"Leana jangan abaikan aku," ucap Radian sambil menangkup wajah gadis itu masih dengan nafas yang tersengal-sengal.
Leana tak menjawab tapi memilih untuk memeluk laki-laki tampan itu. Radian pun memeluknya erat.
"Bukannya, Kakak memiliki seorang gadis yang sangat berarti dalam hidup Kakak. Tapi kenapa …"
"Dia … sudah meninggal," jawab Radian.
"Oh, maaf Kak," jawab Leana.
"Bukan salahmu Leana, itu salahku yang tak peduli pada penderitanya. Bukannya menjaga aku malah mengabaikannya hingga akhirnya dia merasa tak sanggup lagi menanggung penderitaannya sendiri dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya," tutur Radian sambil mempererat pelukannya.
Mereka bersantai di sebuah kursi panjang berbahan halus dan lembut itu. Merebahkan diri di kursi panjang yang biasa digunakan Leana beristirahat setelah lelah bekerja. Mendengar cerita laki-laki itu Leana membalik badan dan menatap wajah laki-laki tampan itu.
"Sepertinya Kakak masih sayang padanya. Apa aku boleh memanggil dengan panggilan Kak Radian sama seperti dia?" tanya Leana.
"Tentu saja kamu boleh memanggilku seperti itu. Aku memang masih sayang padanya dan akan selalu sayang padanya. Tapi … aku tidak mau kehilanganmu karena dia. Kamu datang dan mengusik hidup tenangku, aku jengkel padamu. Sangat sangat sangat jengkel dengan tingkahmu tapi jika tak bertemu denganmu hidupku jadi terasa hampa," tutur Radian.
Leana tersenyum dan menempelkan bibirnya ke bibir laki-laki itu. Radian seperti tak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati ciuman lembut itu. Radian membalas, laki-laki itu seperti kecanduan menikmati manisnya bibir Leana.
"Ikutlah ke rumah denganku, aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku," ucap Radian.
"Sungguh?" tanya Leana. Radian mengangguk, "bukannya kamu juga sudah mengenalkan aku pada ayahmu?" Leana tersenyum lalu menggigit bibir yang sejak tadi sering dikecup Radian.
"Jangan gigit bibirmu, itu sangat menggemaskan. Aku tak tahan ingin menggigitnya." Leana justru langsung menggigit bibir bawah Radian dan laki-laki itu pun langsung tertawa.
"Kamu tak pernah mau kalah," ucap Radian. Leana memang selalu mendahului Radian. Gadis itu justru telah berani mengenalkan Radian sebagai calon suaminya. Entah itu hanya permainannya atau sungguh-sungguh tapi Radian berharap Leana memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Radian mengajak Leana berkenalan dengan keluarganya. Leana pun bertemu dengan ibunda Radian. Leana tak ragu-ragu bercerita kalau mereka yang telah berkenalan sebelumnya di launching perhiasan model terbaru.
"Ya sayang, Nona Leana mengenalkan Mommy dengan Madam Sophia, pemilik rumah perhiasan yang biasa menjadi langganan Mommy," tutur Shanty pada Radian saat menjamu Leana makan malam.
Kapan aku mengenalkanmu nyonya? Madam Sophia saja belum tentu mau melirikmu? Batin Leana.
"Kak Radian ini apakah anak tunggal Tante?" tanya Leana.
"Oh ada adik perempuannya, namanya Monica cantik sepertimu," jelas Shanty dengan bangga.
Mana ada nenek sihir yang cantik, batin Leana.
"Oh ya? Hanya berdua berdua saja?" tanya Leana.
"Ya, kami cuma bertiga sejak Daddy anak-anak meninggalkan kami selama-lamanya," jelas Shanty kemudian menyantap makanannya.
Para pelayan silih berganti mengantarkan menu hidangan mulai dari appetizer, main course hingga dessert.
Dia benar-benar ingin menyiksaku di rumahku sendiri. Mereka memperlakukan aku seperti pembantu. Begitu aku keluar dari rumah ini, ada banyak pelayan mereka pekerjakan di sini, batin Leana menggerutu.
Setelah makan malam Leana ingin berjalan-jalan di sekitar rumah. Leana duduk di beranda belakang sambil menghirup udara segar. Shanty minta diri untuk melanjutkan aktivitas pribadinya dan membiarkan putranya menemani tamu istimewa mereka.
"Teman … dekat?" tanya Leana menyindir ucapan Radian saat mengenalkannya pada Shanty Rahayu.
"Maaf Leana, aku tidak begitu percaya diri mengenalkanmu. Aku bahkan belum yakin kalau …"
"Kak Radian menyukaiku? Kakak tidak yakin menyukaiku bukan? Apa yang kita lakukan tadi hanya sekedar main-main? Aku mengerti, perasaan Kakak belum yakin padaku. Apa yang Kakak lakukan hanya untuk mengikatku. Sementara hati Kakak hanya untuk gadis yang telah meninggal itu. Sudahlah tak gunanya diteruskan lagi." Leana berdiri dari kursi beranda.
__ADS_1
Radian menyambar tangan gadis yang ingin pergi meninggalkanmu itu.
"Leana, bukan begitu … Ya kamu benar! Kamu benar! Aku belum yakin dengan perasaanku dan apa yang aku lakukan tadi hanya untuk mengikatmu. Kamu benar! Tapi bukan hanya sekedar mengikatmu, aku lakukan karena aku tidak ingin kehilanganmu. Aku menyukaimu Leana tapi kita baru saling mengenal. Aku sendiri tidak yakin kalau kamu betul-betul menyukaiku … kita, baru dua kali bertemu," ucap Radian menjelaskan memohon pengertian Leana.
Benar, aku adalah orang baru bagimu. Sementara aku telah mencintaimu sejak lama. Jika Kakak tahu aku adalah Livia, mungkin Kakak akan kembali mengabaikanku, batin Leana.
Tanpa sadar Leana menitikkan air mata, Radian berdiri untuk memeluknya.
Apa yang harus aku lakukan Kak? Bagaimana caraku mendapatkan hatimu? Jika Kakak tahu aku Livia, mungkin Kakak akan langsung mengabaikanku seperti dulu, batin Leana.
Perasaan gundah Leana terbawa hingga sampai ke rumahnya. Dokter berhati lembut itu mengusap rambut anaknya saat melihat gadis itu duduk termenung di beranda samping rumah mereka.
"Hari ini Daddy bermimpi Livia" ucap Djamal saat duduk di samping putri angkatnya.
Leana sangat terkejut, nama itu sudah lama berlalu dari hidupnya. Tak ada yang pernah menyebut nama itu lagi. Setelah dibawa ke Seoul, melakukan tahap demi tahap rekonstruksi wajah selama 6 tahun. Livia selalu dikenal sebagai Leana, putri kandung Dr. Djamal.
Leana sendiri hingga lupa dengan namanya dulu. Saat Livia diminta menggambarkan wajahnya sendiri, gadis itu hanya menangis mengingat wajahnya yang telah rusak parah akibat kecelakaan. Livia tak mampu menggambarkan wajahnya sendiri.
Tak ada identitas yang melekat di dirinya saat keluarga tirinya membuangnya ke jurang. Livia bahkan telah lupa wajah aslinya. Dr. Djamal menyodorkan foto putri kandungnya dan meminta pendapatnya jika rekonstruksi wajah Livia mengikuti struktur wajah putrinya. Livia hanya bisa mengangguk.
Dr. Djamal mencium kening Livia, meski berwajah rusak mengenaskan Dr. Djamal sama sekali tak merasa jijik terhadap gadis itu, membuat Livia seperti menemukan kembali sosok ayah yang telah lama dirindukannya.
"Daddy masih ingat wajahku dulu?" tanya Leana.
"Tentu sayang, wajahmu saat jatuh ke sungai itu lebih parah dari yang mungkin kamu ingat. Keadaannya parah sekali, terlihat dari bekas luka lama dan luka yang baru. Tangan, jari dan tulang iga mu juga dalam keadaan patah. Daddy merasa bangga padamu. Kamu menjalani pengobatan dengan penuh kesabaran meski sakit di sekujur tubuhmu. Daddy tahu apa yang membuatmu bertahan menjalaninya. Dia … adalah laki-laki yang kamu kenalkan pada Daddy waktu itu, benar 'kan?" tanya Djamal.
Leana mengangguk, gadis itu meneteskan air mata. Baru menyadari apa yang dilakukannya bisa menyakiti dirinya sendiri. Livia yang melihat tampilan barunya begitu percaya diri hingga yakin bisa menaklukkan hati Radian. Kakaknya yang telah terlanjur mencuri hatinya.
"Satu-satunya laki-laki yang kamu kenalkan pada Daddy dan itu setiba di Indonesia. Daddy langsung menyadari kalau dialah orangnya. Tapi Leana, apa kamu bisa menerima jika akhirnya dia meninggalkanmu setelah dia tahu siapa dirimu?" tanya Djamal.
Tentu saja Leana tidak bisa menerimanya, namun ayahnya harus mengingatkan kemungkinan yang terjadi jika laki-laki itu tahu kalau yang menjadi kekasihnya kini adalah adik tirinya sendiri. Adik tiri yang dibunuh dengan cara dibuang oleh ibu dan adik kandungnya sendiri.
"Meskipun dia tetap mencintaimu tapi Daddy rasa dia tidak akan sanggup hidup denganmu," ucap Djamal.
"Kenapa Daddy?" tanya Leana.
Leana tertunduk, perasaan cintanya pada Radian yang seharusnya dilenyapkannya justru dipelihara dalam hatinya. Dan kini Leana telah terlanjur mencintai kakak tirinya dan telah mulai menguasai hati laki-laki yang dicintainya itu.
Kini Leana kembali diundang makan malam di kediaman Chandra. Sejak Shanty Rahayu mencari tahu siapa gadis yang dikenalkan putranya. Shanty Rahayu sangat ingin menarik hati Leana dan sangat menyetujui hubungan putranya dengan gadis kaya raya itu.
Aku rasa jika aku merestui hubungan mereka aku bisa mendapatkan kembali sertifikat rumahku. Enak saja surat-surat rumahku berada ditangannya. Aku ini, wanita yang melahirkan laki-laki yang kamu gila-gilai itu. Kamu harus hormat padaku, kalau tidak? Tak akan kurestui kalian. Tapi … apa yang akan dilakukannya jika aku menolak hubungan mereka? Dia akan memberitahu tentang hutangku pada Radian, ya ampun aaah.. gawat, batin Shanty Rahayu.
Pemikiran bolak balik Shanty Rahayu membuatnya akhirnya memutuskan untuk bermain aman dengan merestui hubungan putranya dengan Leana hingga sertifikat rumah kembali ke tangannya.
"Terima kasih sudah mengundangku Tante, kalau boleh tahu dalam rangka apa ini?" tanya Leana setelah menyesap minuman non alcoholic rose wine di tangannya.
Mereka berbincang di ruang tengah dengan suasana yang lebih santai.
"Tidak dalam rangka apa pun, hanya ingin saling mengakrabkan diri. Aku merasa kalian sudah sama-sama dewasa dan tidak dalam masa bermain-main dalam hubungan kalian. Bukankah sebaiknya kita lebih saling mengenal?" tanya Shanty.
"Tentu Tante, kita memang harus saling mengenal. Terlebih aku memiliki prinsip satu untuk selamanya. Aku bukan tipe gadis yang berpindah antara satu pria ke pria yang lain. Tentu saja aku harus hati-hati dalam memilih pasangan. Begitu ada aroma kelicikan dan kebusukan, aku akan langsung … cut," tutur Leana sambil menggesekkan jari telunjuknya di leher.
Shanty tersenyum mengangguk-angguk dengan canggung.
Gawat, gadis ini belum apa-apa sudah mengancam, batin Shanty Rahayu.
"Oh ya, putri Tante tak lama lagi akan kembali. Sekolah modeling-nya mengadakan peragaan busana di berbagai kota. Mungkin kalian bisa saling mengenal setelah dia kembali," ucap Shanty Rahayu.
"Baik Tante, aku yakin dia gadis yang baik dan cantik," jawab Leana.
"Ya, ya tentu saja, dia cantik dan baik … dia sama sepertimu cantik dan baik. Ok, baiklah! Silahkan nikmati waktu kalian. Tante permisi kembali ke kamar ya," ucap Shanty pamit ingin segera berlalu dari hadapan Leana.
Leana berdiri dari tempat duduknya begitu juga dengan Radian. Laki-laki itu langsung mendekati Leana dan melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu.
__ADS_1
"Aku tak sabar menunggu pembicaraan dua wanita ini selesai," bisik Radian.
"Tak sabar untuk apa?" tanya Leana.
"Untuk mengajakmu ke kamarku, kamu tak ingin tahu seperti apa kamarku?" tanya Radian.
"Apa boleh?" tanya Leana.
"Tentu saja boleh," bisik Radian.
Laki-laki itu langsung mengajak Leana menaiki tangga ke lantai atas. Begitu tiba di lantai atas Leana tertegun menatap kamar yang pernah ditempatinya. Setelah tergusur oleh Monica, gadis itu terpaksa pindah ke lantai atas yang sejak kecil tak pernah ditempatinya.
Livia merasa sangat ketakutan dan merasa jauh dari ayahnya yang berada di lantai bawah namun beruntung, Radian memilih kamar di sebelah kamar gadis itu. Karena Radian memang tak suka dengan kebisingan. Radian sengaja memilih lantai atas dan kamar yang paling ujung.
Mendengar Radian membuka atau menutup pintu kamarnya, sudah cukup untuk membuat Livia tak merasa di isolasi.
Kak Radian masih menempati kamar ini. Dari dulu aku sangat ingin melihat seperti apa isi di dalam kamarnya, batin Leana.
Radian menggenggam tangan gadis itu dan mengajaknya ke kamarnya. Leana sangat terkejut dengan isi kamar yang di luar dugaannya.
"Ini bukan kamar, ini perpustakaan," ucap Leana
"Kalau kamu tidak suka, kita bisa merubahnya," ucap Radian.
"Membuang semua buku ini demi aku?" tanya Leana.
Radian mengangguk, laki-laki itu merasa sudah waktunya meninggalkan kebiasaan hidupnya yang menyendiri dan hanya ditemani buku-buku.
"Buku-buku ini menemaniku melewati hari-hari di sepanjang hidupku. Setiap buku yang kumiliki, kubaca dan kusimpan dengan baik sejak aku mulai bisa membaca. Tapi sekarang aku memilikimu yang menemaniku melewati hari-hari di masa yang akan datang," ucap Radian sambil melingkarkan tangannya ke pinggang wanita cantik di hadapannya itu.
"Kakak akan membuang semua yang berjasa bagi Kakak di masa lalu demi masa depan yang belum tahu seperti apa nantinya?" tanya Leana.
Radian tertunduk, sebuah pilihan yang sulit namun akan dilakukannya jika Leana menginginkannya untuk melakukan itu.
"Aku rela Leana, jika itu membuatmu bersedia hidup bersamaku."
Aku bersedia Kak, aku sangat bersedia hidup bersamamu, batin Leana.
"Tapi bagaimana kalau nanti Kakak menyesal membuangnya? Kakak pasti akan menyalahkan aku," ucap Leana.
"Ini keputusanku, aku tidak akan menyesalinya," ucap Radian yakin.
Bagaimana kalau Kakak tahu siapa aku yang sebenarnya. Kakak pasti akan menyesal, batin Leana.
Gadis itu tertunduk, tak ingin Radian melihat butiran bening di pelupuk matanya. Namun laki-laki itu justru mengangkat dagu gadis itu. Membuat Leana tak mampu menyembunyikan air matanya yang bergulir di kedua sisi matanya.
"Kenapa Leana? Kamu tidak percaya padaku?" tanya Radian.
"Kenapa? Setiap kali aku menyembunyikan air mataku. Kakak justru membuatnya terlihat olehmu," ucap Leana memalingkan wajahnya.
"Kamu tak harus menyembunyikan apa pun dariku Leana. Juga air matamu, kamu justru harus memberitahuku apa yang membuatmu bersedih. Katakan Leana, apa yang tiba-tiba membuatmu menangis?" tanya Radian.
"Bukan apa-apa Kak, hanya ketakutanku sendiri," ucap Leana.
Aku tidak ingin Kakak menyesal dengan keputusan Kakak. Menyesali pengorbanan Kakak demi aku. Maafkan aku Kak, ini salahku yang muncul dihadapanmu. Aku yang tak sabar ingin memilikimu. Ini kesalahanku yang menyukaimu. Aku menangisi kesalahanku Kak, batin Leana.
"Jangan takut Leana, aku sudah sangat dewasa. Segala keputusan sudah aku pikirkan matang-matang. Tidak ada waktu lagi bagiku untuk bermain-main. Aku ingin menjalin hubungan yang serius denganmu. Aku menyukaimu, aku rasa, aku jatuh cinta padamu. Aku ingin … aku ingin kamu menjadi istriku."
Secepat itu? Kak Radian melamarku secepat itu? Apa yang membuatnya …
"Leana, aku telah yakin melepas masa laluku demi masa depanku bersamamu. Aku mohon beri aku jawaban. Bersediakah kamu menikah denganku?" tanya Radian lagi.
"APA? KAKAK AKAN MENIKAH DENGANNYA? TIDAK BOLEH."
__ADS_1
Radian dan Leana sontak menoleh ke arah gadis yang berdiri di depan pintu. Tatapan matanya tajam mengarah pada mereka. Cantik, modis namun tetap judes itu yang terpikirkan oleh Leana setelah sekian lama tak bertemu dengan Monica.
...~ Bersambung ~...