Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 37 ~ Kenangan Roti Isi ~


__ADS_3

Leana duduk di balik meja kerjanya ketika sekretarisnya memberitahu kalau Ezra ingin menemuinya. Leana berpikir sejenak, ada rasa gelisah bertemu dengan laki-laki itu. Sejak laki-laki itu mengungkapkan perasaannya, Leana seperti merasa berhutang jawaban sementara dia sendiri tak mampu untuk membalasnya.


"Biarkan dia masuk," jawab Leana akhirnya lalu berdiri di balkon ruang kerjanya.


Menunggu laki-laki itu untuk mengetahui maksud kedatangannya. Begitu datang, Ezra langsung memeluknya dari belakang.


"Kak! Tolong jangan lakukan ini. Aku ini wanita yang telah bersuami," ucap Leana.


Ezra segera melepas pelukannya dengan wajah murung. Wanita itu langsung meminta maaf. Ezra tak menjawab permintaan maaf wanita itu tapi hanya diam berdiri di samping Leana.


"Seperti apa orangnya? Kenapa kamu begitu setia padanya. Padahal dia sudah meninggalkanmu," ucap Ezra pelan.


"Pandangan setiap orang itu tidak sama Kak. Meski aku jelaskan seperti apa orangnya, bagi Kakak tak akan ada artinya tapi bagiku dia segalanya," jawab Leana.


"Bagaimana kalau dia telah menikah atau sudah memiliki pasangan. Apa kamu akan tetap setia padanya?" tanya Ezra.


"Tentu tidak Kak, tapi tak bisa bersamanya bukan berarti aku langsung bisa membuka hati untuk laki-laki lain," jawab Leana.


"Itu … jawaban untukku," ucap Ezra lalu menunduk.


"Maaf Kak, itu lebih baik daripada aku hanya bisa memberi Kakak harapan," sambung Leana.


"Baiklah! Seperti yang aku ucapkan kemarin. Biarkan semua mengalir seperti air dan aku tetap berharap padamu," ucap Ezra.


Leana menatap wajah sendu laki-laki itu lalu tertunduk. Leana tak menyangka kebaikan hati Ezra padanya dulu kini dibalas dengan menyakiti hatinya.


Maaf Kak, aku tak ingin menyakiti hati Kak Ezra, berhentilah berharap. Meski Kak Radian menyakitiku tapi aku tetap tak bisa melupakannya. Maafkan aku Kak, lebih baik hentikan dari sekarang sebelum perasaan Kakak semakin jauh, akan sulit untuk menghilangkannya, batin Leana.


Ezra menoleh, memandang wanita yang hanya diam menatap ke arahnya.


"Pasti banyak yang kamu pikirkan tentang aku. Aku orang yang keras kepala? Aku laki-laki yang hanya menyusahkanmu saja? Aku orang yang suka memaksakan kehendak? Benar 'kan?" tanya Ezra bertubi-tubi.


Leana menggelengkan kepalanya kuat. "Percaya atau tidak, aku tak memikirkan Kakak seperti itu. Aku justru merasa sedih karena tak bisa membalas perasaan Kakak. Aku hanya bisa membalas kebaikan Kak Ezra padaku dengan kekecewaan," jawab Leana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jangan pikirkan itu. Aku tidak mau perasaanku membebanimu. Jangan Leana, aku ingin membahagiakanmu bukan ingin menyulitkanmu," balas Ezra.


Leana menunduk, Ezra meraih tangan Leana dan menempelkan ke dadanya.


"Aku bahagia di dekatmu, aku juga ingin kamu bahagia bersamaku. Oh ya, aku ke sini ingin mengajakmu makan malam bersama," ajak Ezra.


"Makan malam bersama?" ulang Leana merasa tak yakin.


"Ya! Hari itu kita batal makan siang bersama Radian. Jadi aku menggantinya dengan makan malam. Radian juga telah bersedia memenuhi undanganku, aku harap kamu juga bersedia datang bersamaku," bujuk Ezra.


"Untuk apa masih mengundangnya? Waktu itu Kak Ezra mengundang untuk mengenalkan aku padanya. Sekarang sudah saling kenal, lalu untuk apalagi mengundangnya makan malam?" tanya Leana terlihat keberatan makan malam bersama Radian.

__ADS_1


"Ya, kalian memang sudah saling mengenal. Tapi janjiku untuk makan bersamanya masih belum terpenuhi. Aku merasa masih berhutang padanya. Bagaimana? Kamu bersedia ikut 'kan?" tanya Ezra sambil tersenyum.


Leana bingung untuk menjawab. Ada kerinduan untuk bertemu kembali dengan Radian. Wanita itu tak mungkin memiliki alasan untuk mencarinya di kantor. Kini Ezra mengajaknya untuk bertemu dengan laki-laki yang dicintainya itu tapi takut dengan apa yang akan terjadi.


Leana tak siap jika pertemuan mereka berakhir dengan sakit hati seperti dialaminya waktu itu. Leana masih bingung untuk memberikan jawaban. Ezra meraih tangannya dan mengangguk sambil tersenyum. Tersirat di wajahnya agar Leana mau memenuhi permintaannya. Leana tak tega, akhirnya mengangguk menyetujui undangan Ezra.


"Nanti malam aku jemput kamu ke rumah ya?" tanya Ezra minta persetujuan.


Leana agak bingung karena setahu Ezra tempat tinggalnya adalah di kediaman Dr. Djamal.


Berarti nanti sore aku harus menunggu di rumah Daddy, batin Leana.


Wanita itu kembali mengangguk, Ezra memeluk Leana karena begitu senang.


"Jangan salah paham, ini adalah pelukan seorang teman. Kamu tahu di luar negeri berpelukan seperti ini adalah hal yang biasa 'kan?" tanya Ezra sambil tersenyum.


Leana tahu itu, tapi wanita itu tetap merasakan pelukan Ezra adalah pelukan yang berbeda. Semua itu karena Leana tahu kalau Ezra tak hanya menganggapnya sebagai seorang teman. Ezra masih menyimpan harapan untuk mendapatkan cinta Leana dan wanita itu tahu akan hal itu.


Siang itu Ezra juga mengajak Leana makan siang. Wanita itu bersedia namun hanya jika Ezra mengajaknya makan jajanan pinggir jalan. Tanpa ragu-ragu Ezra menyetujui permintaan Leana. Baginya makan siang di mana pun tak masalah asalkan bisa bersama wanita yang di cintainya itu.


Seperti biasa Leana memilih Korean sandwich untuk di santapnya sambil berjalan kembali ke perusahaannya. Leana kembali terkenang saat-saat berjalan sambil menikmati makanan itu bersama Radian. Meski suasana jalanan yang berbeda dan jarak ke kantor Leana lebih jauh namun itu tak menjadi halangan baginya.


Leana justru memiliki waktu untuk mengenang semua itu. Selama berjalan santai kembali ke kantornya itu. Ezra pun terlihat menikmati menu makan siang yang dipilihnya.


"Harusnya Kakak pilih makanan lain yang Kakak suka," ucap Leana.


"Tapi bagi Kakak sendiri bagaimana? Enak nggak?" tanya Leana sambil tersenyum.


"Serius ini enak. Apa menurutmu aku tidak biasa makan food street seperti ini? Saat kuliah justru aku selalu makan roti isi seperti ini," jelas Ezra.


"Oh ya? Kakak juga suka? Kenapa?" tanya Leana.


"Karena ini memiliki arti tersendiri bagiku. Roti isi adalah makanan penuh kenangan indah bagiku," jelas Ezra.


Leana tercenung, wanita itu juga memiliki kenangan indah dengan roti isi bersama Ezra.


Apa memberi roti isi pada seorang gadis sudah menjadi hobinya. Sudah berapa orang gadis yang telah diberi roti isi olehnya? Mungkin roti isi adalah cara andalannya untuk menarik hati seorang gadis. Jika aku tidak kelaparan, aku tidak akan mengambil roti isi itu darinya, batin Leana.


Ada rasa cemburu timbul di hatinya, setelah mengetahui kalau Ezra memiliki kenangan indah dengan roti isi dan Leana menganggap kenangan itu bukan bersamanya tapi dengan gadis lain.


Wajah wanita itu sedikit cemberut. Ezra melihat perubahan raut wajah wanita cantik itu dan tersenyum. Ezra meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya. Mereka bergandengan tangan melangkah kembali ke kantor Leana.


Sepanjang jalan Leana hanya memikirkan kenangannya bersama Radian. Bukan bergandengan tangan sambil berjalan tapi bergandengan tangan sambil berlari karena Radian yang terlanjur malu memeluk Leana di tempat umum. Tanpa sengaja Leana tersenyum mengingat itu dan Ezra bahagia melihat senyum di wajah Leana.


Malamnya, di kediaman Dr. Djamal, Leana menunggu Ezra yang akan datang menjemputnya.

__ADS_1


"Kamu menyukai laki-laki itu?" tanya Djamal.


"Aku suka padanya Daddy, dia baik padaku. Satu-satunya yang peduli dan tak menjauh dariku saat menjadi Livia yang buruk rupa--"


"Benarkah? Kalau begitu dia orang yang sangat baik," ucap Djamal langsung.


"Ya Daddy. Dia sangat baik karena itu aku bimbang, dia menyatakan cinta padaku sedangkan aku tak bisa membalas cintanya," jelas Leana.


"Kamu ingin melepas laki-laki baik ini demi pernikahanmu yang hingga kini belum jelas seperti apa kelanjutannya? Bagaimana kalau akhirnya kalian berpisah dan laki-laki ini terlanjur pergi?" tanya Djamal.


"Bagaimana lagi Daddy, berarti itu memang takdirku. Saat ini aku masih belum bisa melupakan Kak Radian. Jika akhirnya memang berpisah, aku pastikan bukan karena aku memilih laki-laki lain tapi karena kehendaknya sendiri. Maka aku tidak akan menyesal," jawab Leana.


"Baiklah sayang, jika itu keputusanmu. Daddy hanya tidak ingin kamu menyesal. Daddy selalu percaya pada keputusanmu," tutur Djamal.


"Terima kasih Daddy," ucap Leana.


Mereka pun lanjut berbincang-bincang, Dr. Djamal sangat senang putrinya mampir di rumahnya dan sengaja tak hadir di rumah sakit. Tak lama kemudian mobil Ezra datang dan Leana segera menyusul. Dr. Djamal pun mengantar putrinya hingga ke teras. Kesempatan bertemu itu digunakan Ezra untuk berkenalan dengan dokter yang telah sangat senior itu.


Dr. Djamal menyambut perkenalan itu dengan hangat. Ezra sangat bahagia bisa bertemu dengan dokter itu namun harus segera berangkat untuk memenuhi janji makan malam mereka. Ezra pun meminta izin membawa Leana sekaligus berpamitan.


Mereka tiba di restoran yang telah di janjikan. Namun Radian masih belum di tempat.


"Sepertinya kita datang lebih dulu," ucap Ezra pada Leana yang duduk di sampingnya.


Wanita itu mengangguk, merasa mungkin Radian tak akan datang seperti dulu.


"Menurutmu dia akan mangkir lagi?" tanya Ezra yang dibalas dengan gelengan kepala karena tak bisa menebak.


Baru saja berkata seperti itu Radian datang. Langsung meminta maaf pada Ezra yang berdiri menyambutnya. Radian langsung menyalami atasannya itu dan beralih menyapa Leana yang duduk menatapnya. Radian menyalami Leana dengan wajah tertunduk.


"Terima kasih sudah mau datang Camelia," sapa Ezra pada gadis yang berdiri di samping Radian.


"Terima kasih Tuan," balas Camelia yang juga menyalami Ezra dan Leana.


Kedua wanita itu duduk berhadapan, Leana begitu tak menyukai gadis di hadapannya itu. Meski begitu dia berusaha untuk bersikap wajar. Mereka pun memesan makana, terlihat Camelia yang asyik memilihkan menu untuk mereka berdua. Radian hanya mengangguk sambil sesekali melirik ke arah Leana.


Sementara itu Ezra juga memilihkan menu untuk Leana cicipi. Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu mereka berbincang-bincang. Ezra sangat senang karena kedua orang itu mau menerima undangan makan malamnya. Ezra sangat ingin melihat seperti apa hubungan Radian dan wanita yang dicintainya itu.


"Ya, tadi jalanan macet Tuan, jadi kami terlambat datang," jelas Camelia sambil mengangguk pada pelayan yang telah datang membawakan makanan pesanan mereka.


"Kalian ke sini dengan apa?" tanya Ezra sudah mulai menyantap makanannya.


"Kami ke sini menggunakan taksi, Tuan. Aku di jemput Kak Radian--"


Mendengar panggilan Camelia padanya, Radian dan Leana langsung menoleh ke arah gadis itu. Hati Leana terasa perih seperti diremas-remas. Teringat saat Leana memanggil dengan panggilan Kak Radian, laki-laki itu begitu marah padanya. Saat itu pertama kali dia mencoba memanggil laki-laki itu dengan panggilan seperti itu. Namun kini gadis di hadapannya itu dengan begitu mudah memanggil Radian dengan panggilan itu.

__ADS_1


Dengan panggilan seperti itu, Leana merasa kalau hubungan Radian dan Camelia sudah sangat serius. Leana menunduk dengan mata yang mulai terasa panas.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2