Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 39 ~ Kembali Menyatu ~


__ADS_3

Radian mencium istrinya di tengah derasnya hujan. Laki-laki telah terlanjur mengakui perasaannya terhadap Leana. Membuat Leana terharu, hingga akhirnya menghambur ke dalam pelukan Radian. Laki-laki yang begitu merindukan istrinya itu tak dapat menahan kerinduannya. 


Laki-laki itu membenamkan bibirnya di bibir wanita cantik itu. Memeluk Leana begitu erat, menyergap bibir itu dengan rakus. Menyesap, mengulum, memainkan lidahnya dengan begitu menggebu-gebu. Hisapan-hisapan yang telah lama dirindukannya itu begitu dinikmatinya.


Tak peduli hujan yang membasahi tubuh dan wajah mereka. Leana dan Radian hanya ingin menikmati perlakuan yang mengekspresikan rasa cinta mereka. Tanpa mereka sadari Ezra dan Camelia yang menatap mereka dari dalam mobil mewah milik CEO tampan itu.


Terlihat wajah Camelia yang sangat kesal melihat pemandangan itu. Begitu kesalnya hingga ingin keluar dari mobil itu dan nekat menerobos hujan untuk menghampiri mereka. Namun, sebelum semua itu terjadi Ezra segera menekan tombol central lock hingga gadis itu tak bisa membuka pintu mobil.


Camelia sontak menatap ke arah Ezra yang menghentikan niatnya. Ezra dengan tenang melarang Camelia melakukan itu.


"Tuan ini bagaimana? Kenapa biarkan Bu Leana bersama dengan Kak Radian? Bukankah Tuan menyukai Bu Leana? Kenapa tidak memisahkan mereka?" tanya Camelia bertubi-tubi.


"Apa hakku melarang mereka? Mereka masih saling mencintai? Dan mereka masih berstatus suami dan istri. Aku tidak ingin memiliki seseorang dengan cara yang curang. Aku tak ingin merebutnya tapi aku ingin dia yang datang padaku. Kamu jangan pernah mengganggu hubungan mereka. Jika Radian memutuskan memilihmu, kamu ingin menerimanya, itu terserah padamu tapi … jangan pernah mengganggu mereka. Jika mereka ingin bersama, mengerti!" ucap Ezra.


"Tapi--"


"Cukup! Jika kamu berani mengganggu mereka, kamu akan berhadapan denganku," ucap Ezra kemudian melajukan mobilnya meninggalkan kedua orang yang sedang mencurahkan perasaan rindu mereka.


Camelia tak rela namun tak bisa berbuat apa-apa. Mobil yang membawanya melaju meninggalkan sepasang suami istri itu. Dengan tatapan yang kesal menatap Leana dan Radian yang masih berpelukan dan berciuman di tengah derasnya hujan.


Radian melepaskan ciumannya saat merasakan tubuh Leana yang semakin menggigil. Laki-laki itu mengajak istrinya mencari tempat berteduh.


"Bagaimana kita pulang dengan pakaian basah kuyup seperti ini? Tak akan ada taksi yang mau dengan penumpang yang basah begini," ucap Radian sambil mengusap tangan Leana yang sudah begitu pucat dan kedinginan.


Leana hanya diam menatap suaminya yang berusaha membuatnya tetap hangat. Meniup dan mengusap tangan Leana untuk menyalurkan hangat tubuhnya ke tubuh wanita yang dicintainya itu. Leana hanya tersenyum tanpa berkata-kata.


Radian berpikir tak bisa tetap di situ. Selain hujan yang masih tetap deras juga angin yang menambah rasa dingin hingga terasa menusuk tulang. Radian mengitari pandangannya mencari tempat berteduh yang bisa menjauhkan mereka dari hujan dan angin.


Tiba-tiba Radian menarik tangan Leana ke sebuah hotel di belakang mereka. Leana hanya tersenyum membiarkan Radian mencari solusi untuk mengatasi situasi mereka.

__ADS_1


Begitu masuk hotel Radian dan Leana disambut oleh pelayan hotel yang membawakan handuk untuk mereka. Radian segera memesan kamar dan meminta dikirimkan seseorang untuk membantu mengeringkan pakaian mereka.


Mereka masuk ke dalam kamar, Radian segera meminta Leana melepas pakaiannya dan menggantinya dengan kimono handuk hotel. 


"Lepas pakaiannya ya sayang, aku akan menitipkannya pada pelayan hotel untuk cuci," ucap Radian.


Leana mengangguk lalu melepaskan semua yang melekat di tubuhnya dan menyerahkannya pada Radian. Begitu juga dengan Radian yang melepaskan pakaian dan mengumpulkannya dalam sebuah kantong laundry. Mengenakan kimono handuk laki-laki itu menyerahkannya pada pelayan hotel. Tak lupa memberikan tips pada pelayan hotel itu atas bantuannya membantu mereka.


Radian menutup pintu sambil menghela nafas panjang. Kembali masuk ke kamar itu dan mendapati istrinya yang sedang berdiri menunggu sambil menatapnya. Radian terdiam sejenak, menatap tak percaya pada situasi mereka saat ini. Tak percaya di hadapannya berdiri wanita yang setiap hari dirindukannya.


Seperti sebuah halusinasi yang terasa nyata, Radian melangkah menghampiri wanita yang dicintainya itu. Menghampiri Leana yang hanya berdiri diam menatapnya. Laki-laki itu mendekat dan menyentuh pipi wanita yang dicintainya itu hingga merasa yakin kalau semua itu tidaklah sekedar khayalannya saja.


Perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya dan menyatukan bibir mereka. Rasa percaya dirinya yang belakangan turun dengan perubahan status sosialnya tak dipikirkannya lagi.


Radian melepaskan ciumannya dan menyatukan kening mereka dengan nafas yang masih memburu. Radian mengangkat dagu Leana, kembali menyatukan bibir mereka. Degup jantungnya yang telah berdebar-debar sejak tadi, membuat laki-laki tak bisa menunggu lebih lama lagi.


Kembali memeluk istri yang sangat dirindukannya itu. Membuat tubuh mereka menyatu tanpa sehelai benang pun membatasi. Mengulum dan menyesap bibir manis istrinya. Memainkan lidahnya di rongga mulut kesukaannya itu. Dengan napas yang semakin lama semakin memburu.


Dengan hisapan-hisapan yang begitu bernafsu. Hening, tanpa ada yang berniat untuk bicara. Hanya sibuk menikmati setiap pagutan-pagutan di bibir, leher hingga dada Leana. Wanita itu hanya pasrah menerima perlakuan suami yang sangat dirindukannya itu. Bersama-sama merasakan dorongan hasrat yang ingin terpenuhi, hingga akhirnya mereka pun melepaskan hasrat itu.


"Aku mencintaimu Livia, aku sangat mencintaimu sayang," bisik Radian saat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Aku juga mencintaimu Kak," balas Leana.


Napas mereka tersengal-sengal, Radian melepas pelukannya dan berpindah ke samping Leana. Segera laki-laki itu menarik tubuh polos itu mendekat. Mengecup puncak rambut wanita cantik itu dan memeluknya begitu erat.


"Apa Kakak akan kembali padaku?" tanya Leana akhirnya.


"Apa aku pantas sayang! Setelah apa yang dilakukan keluargaku padamu. Apa kami pantas mendapatkan maaf darimu?" tanya Radian.

__ADS_1


"Aku yang harusnya meminta maaf Kak! Aku mengikuti nafsuku untuk membalas dendam tanpa memikirkan perasaanmu," jelas Leana.


Radian tersenyum, "Livia, aku ingin menanyakan sesuatu," ucap Radian.


"Apa yang ingin Kakak tanyakan?" tanya Leana.


"Apa  … pernikahan kita adalah bagian dari balas dendammu? Adakah kamu tulus mencintaiku?" tanya Radian.


"Aku tulus mencintai Kakak. Aku justru bertahan hidup demi bisa menikahi Kakak. Aku mencintai Kakak sejak dulu. Aku menikahi Kak Radian benar-benar karena aku mencintaimu. Kakak bukanlah bagian dari balas dendamku," ungkap Leana.


Radian kembali tersenyum. "Aku sungguh bodoh Livia, ternyata pemikiranku selama ini sungguh bodoh," ucap Radian sambil memeluk dan mencium puncak rambut wanita cantik itu.


Malam ini semuanya telah terbuka bagi mereka. Keduanya bahagia, bersyukur pertemuan makan malam ini berakhir dengan penyatuan cinta mereka kembali. Mereka tertidur dengan senyum yang tersungging di bibir mereka.


Keesokan paginya Radian telah menyiapkan air hangat dalam bathtub untuk istrinya.


"Mari kita mandi sayang," ajak Radian saat melihat Leana membuka matanya.


Wanita itu pun segera masuk ke dalam bathtub yang telah terisi air hangat itu. Laki-laki itu tersenyum bahagia menatap Leana. Terlihat Leana yang memejamkan matanya menikmati nyamannya air hangat dengan minyak esensial itu. Radian menyentuh pipi wanita cantik itu untuk merasakan hangatnya pipi itu. Membuat Leana membuka matanya.


"Kenapa Kak?" tanya Leana.


"Aku takut kamu demam karena kehujanan kemarin. Semalam kamu begitu kedinginan," jawab Radian.


"Aku baik-baik saja, masuklah ke sini, Kak!" ajak Leana.


Tak menunggu lama, Radian segera melepas kimono handuknya dan menggantungnya. Segera menghampiri istrinya yang merentangkan tangan untuk memeluknya. Laki-laki itu pun segera membalas memeluk istrinya. Berdua mereka menikmati mandi air hangat itu setelah semalam mereka berdua kehujanan dan kedinginan.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2