
Leana menemani mertuanya yang masih dirawat di rumah sakit karena stress. Nafsu makannya menurun drastis hingga harus mendapatkan asupan makanan dari selang infus. Sehari-hari hanya menatap kosong ke arah jendela di sebelah kanan ranjang rumah sakit itu.
Melihat keadaan mertuanya yang seperti itu, Leana merasa menyesal karena diam-diam telah merebut perhiasan yang diinvestasikan Shanty di perusahaan investasi itu. Dengan sabar wanita itu menyuapi makan ibu mertuanya. Kadang wanita setengah baya itu bersedia makan meski pelan kadang tak mau makan sama sekali.
"Bagaimana kabar Mommy, sayang? Hari ini mau makan?" tanya Radian yang tiba-tiba datang dan berbisik di telinga istrinya.
Leana mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum yang dipaksakan. Radian duduk di sofa yang disediakan untuk tamu. Leana berjalan mendekati suaminya dan bersandar di dada bidang laki-laki itu. Radian membelai rambut istrinya dan mengecup puncak rambut wanita cantik itu.
"Kamu lelah sayang? Apa ingin pulang sekarang?" tanya Radian.
Laki-laki itu merasa kasihan melihat istrinya yang sejak semalam menunggui ibunya.
"Ya Kak nanti, kalau Kak Monica sudah datang menggantikan kita," jawab Leana.
"Kamu juga harus menjaga kesehatanmu dan bayi kita, sayang," ucap Radian dengan suara yang pelan.
Leana mengangguk, wanita itu melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya dan memejamkan mata. Radian membiarkan Leana beristirahat bahkan tertidur di dadanya. Saat Monica datang Radian meminta izin untuk membawa istrinya pulang, dengan berat hati Monica mengizinkan.
"Dia sudah letih menunggui Mommy seharian," ucap Radian yang telah merebahkan istrinya di sofa dan berbisik pada Monica.
"Iya iya, pulanglah! Tapi sekarang dia sedang tidur," ucap Monica sambil menatap Leana yang tertidur.
"Kakak gendong saja," ucap Radian akhirnya.
"Hah, masa Kakak gendong sejauh itu ke parkiran," ucap Monica.
"Daripada di sini, tidurnya tidak nyaman," alasan Radian.
"Baiklah, terserah Kakak. Tapi apa perlu dibantu? Apa tidak menarik perhatian orang menggendong Kak Leana," tanya Monica.
"Tidak apa-apa, ini rumah sakit. Menggendong orang itu hal yang biasa di sini," jawab Radian.
Tapi baru saja Radian menggendong Leana, wanita itu sudah terbangun. Wajahnya terlihat bingung karena tiba-tiba ada di gendongan Radian.
"Kita pulang ya sayang? Kamu sudah kelelahan, tidur di rumah saja lebih nyaman," jelas Radian langsung untuk menghilangkan kebingungan Leana.
"Baiklah tapi aku jalan sendiri saja, tak perlu digendong," ucap Leana sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa aku sanggup menggendongmu," ucap Radian terus melangkah.
__ADS_1
"Turunkan saja! Aku malu, tolonglah," mohon Leana.
Radian akhirnya menurunkan istrinya, lalu merangkul istrinya sambil mengecup puncak rambutnya. Bergandeng tangan suami istri itu berjalan ke area parkir mobil.
"Terima kasih ya sayang atas perhatianmu pada Mommy," ucap Radian melangkah sambil menoleh ke arah istrinya.
Leana hanya tersenyum lalu berjalan menunduk menatap langkah kakinya di lantai basement rumah sakit itu.
Kenapa berterima kasih padaku, Kak? Aku juga ikut terlibat dalam kesedihan Mommy. Jika aku tunjukkan perhiasan yang telah aku rebut itu padanya mungkin dia akan sangat gembira saat ini. Melihat orang-orang yang kehilangan harta sementara miliknya masih bisa diselamatkan. Tapi, bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin melihat kehancurannya. Aku ingin melihat kesedihannya, depresi, putus asa dan akhirnya pasrah seperti yang pernah aku rasakan dulu. Tapi aneh, aku pikir aku akan bahagia melihat kehancurannya, aku pikir aku merasa lega, aku pikir beban dendamku akan berkurang tapi yang aku rasakan justru rasa hampa. Apa yang harus aku lakukan, Kak? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang terjadi, sama sekali tak membuatku bahagia, batin Leana bertanya-tanya.
Mereka kembali ke rumah, selama perjalanan Leana lebih banyak diam. Radian tak ingin mengganggunya, laki-laki itu membiarkan Leana tenggelam dalam lamunannya. Radian yakin istrinya sangat risau dengan keadaan ibunya.
Leana istirahat di kamar mereka setelah menemani, merawat dan menghibur ibu mertuanya. Radian sangat berterima kasih dan khawatir pada istrinya yang sedang hamil itu. Laki-laki itu memijat Leana dari ujung kaki, betis hingga ke paha.
"Pelecehan pelanggan, terapisnya harus dilaporkan," ujar Leana kegelian dengan sentuhan Radian.
"Laporkan saja," bisiknya sambil menciumi leher Istrinya hingga ke bahu dan dadanya.
"Kakak tidak khawatir dengan keadaan Mommy?" tanya Leana.
Radian menghentikan ciumannya, lalu menatap wajah istrinya.
Leana mengangguk, lalu memeluk suaminya yang telah rebah di sampingnya. Radian merasa sedih sekaligus bahagia, sedih karena apa yang terjadi pada ibunya menimbulkan rasa khawatir Leana hingga diajak bermesraan pun wanita itu seperti kehilangan selera. Namun begitu Radian juga merasa bahagia karena hal itu menunjukkan perhatian dan rasa sayang Leana pada ibunya.
Demi menjaga Shanty di rumah sakit mereka bergantian menemaninya. Menginap di ruang rawat inap mewah dengan fasilitas layaknya sebuah kamar hotel bintang lima sekelas presidential suite. Semua itu dilakukan mereka demi kenyamanan ibunya yang sedang depresi. Malam ini Monica yang menemani dan besok malamnya giliran Radian yang berada di rumah sakit.
Di malam hari Leana terbangun dan menatap ranjang sebelahnya yang kosong. Teringat suaminya yang malam ini menginap di rumah sakit. Leana bangun dan duduk termenung, matanya tak mau lagi terpejam meski telah dicobanya.
Leana memutuskan mengambil minum di dapur. Menuruni satu persatu anak tangga menuju lemari pendingin. Leana menyalakan lampu karena penerangan rumah itu yang telah di matikan sebagian. Wanita itu meminum segelas air putih dingin lalu menghela nafas. Duduk termenung sejenak lalu kembali ke kamarnya.
Namun, saat kembali ke kamarnya, Leana melihat sebuah ruangan yang terkunci dari luar. Entah dorongan apa yang membuatnya ingin melihat ruangan yang dulunya diketahuinya hanyalah sebuah gudang.
Pandangan Leana mengitari seluruh ruangan hingga akhirnya terhenti pada sebuah bingkai foto yang memajang wajah ayah dan ibu kandungnya. Leana menghampiri dengan air mata yang mengalir deras. Meraih foto yang cukup besar dan berdebu itu. Leana tak tahan lagi menahan tangisnya hingga wanita itu menangis tersedu-sedu.
"Papaaaa! … Mamaaaa …!" teriak Leana yang tak peduli lagi dengan situasi di rumah itu.
Kesedihannya telah memuncak, Leana tak ingin menahannya lagi. Perlakuan keluarga ini terhadap barang-barang peninggalan orang tuanya sungguh menyakiti hatinya. Seluruh pakaian dan gaun-gaun ayah ibunya tertumpuk dan tergeletak begitu saja di lantai.
Foto-foto mereka pun bertumpukan dengan sembarangan dan berdebu. Ijazah-ijazah bahkan penghargaan-penghargaan ayahnya di dunia bisnis hingga majalah-majalah yang pernah meliput kesuksesannya berserakan seperti barang tak berharga. Hati Leana hancur, mengingat perlakuan keluarga itu pada barang-barang peninggalan orang tuanya.
__ADS_1
Tanpa disadari wanita itu, Monica yang sedang asyik melakukan video call di kamarnya, mendengar suara yang aneh. Gadis itu pun melangkah menuju arah suara. Monica menyaksikan dengan heran tingkah Leana yang mencurigakan.
Keesokan harinya Monica langsung menemui kakaknya yang sedang menemani ibunya di rumah sakit. Monica melaporkan semua yang dilihatnya pada Radian. Perhatian Shanty terusik, wanita setengah baya yang tadinya hanya termenung itu akhirnya memperhatikan cerita Monica.
"Dia memang seperti itu, setiap kali melihat foto keluarga, dia akan teringat pada ibunya. Aku juga pernah menemui kejadian seperti itu saat pertama kali kami masuk ke kamar Livia," jelas Radian.
Rasa cinta Radian pada Leana membuatnya percaya istrinya bukanlah seorang wanita yang jahat hingga tak perlu mencurigai tingkahnya.
"Tapi tetap mencurigakan Kak, melihat foto keluarga kita, dia tidak menangis," sahut Monica.
Radian tercenung mendengar ucapan adiknya.
"Mungkin karena kita masih hidup, sementara yang membuatnya sedih adalah memandang foto orang yang telah meninggal," jawab Radian membela sekenanya.
Ucapan Radian tak cukup meyakinkan Monica. Gadis itu tetap mengungkapkan kecurigaannya hingga akhirnya Monica menceritakan tentang kesepakatannya dapat diterima di agensi dengan menyerahkan seluruh harta atas miliknya pada Leana.
Radian sangat terkejut begitu juga dengan Shanty. Radian bahkan kesal karena Monica tak menceritakan kejadian itu sebelumnya.
"Mommy juga telah menyerahkan kepemilikan rumah kita pada Leana," ucap Shanty akhirnya.
"APA?" teriak Radian dan Monica.
Shanty akhirnya menceritakan kronologi perpindahan sertifikat kepemilikan rumah itu pada Leana hingga akhirnya teringat kembali pada perhiasan yang menjadi penyebab dirinya kehilangan rumah itu. Shanty menangis sejadi-jadinya.
Bahkan sebagian besar saham milik kami telah berpindah ke tangannya. Kenapa dia melakukan itu? Siapa dia sebenarnya? batin Radian bertanya-tanya.
"Leana adalah seorang pebisnis, memang biasa bernegosiasi untuk mencari keuntungan. Leana bukannya tidak mengorbankan apa-apa untuk mencapai semua itu. Dia meminjamkan Mommy uang untuk membeli perhiasan, dan kamu? Dia membantumu masuk ke agensi yang sulit untuk kamu tembus. Kalian saja yang tidak pandai-pandai memanfaatkan pertolongannya," jelas Radian membela istrinya.
Shanty dan Monica terdiam.
"Dia wanita yang baik, membantu kalian mendapatkan apa yang menjadi cita-cita kalian. Aku tidak percaya dia berniat jahat pada kita. Dia sangat khawatir pada kondisi Mommy hingga merasa risau di rumah. Sudahlah! Jangan pikirkan lagi, lihat sisi baiknya, meski rumah dan mobil serta harta-harta yang lain telah menjadi miliknya, dia tidak mengusir kita dan kamu tetap bisa mengendarai mobilmu," sambung Radian.
Shanty dan Monica hanya bisa saling pandang. Ucapan Radian juga masuk akal. Mereka pasrah dan berharap Leana benar-benar tidak berniat jahat pada mereka.
Sementara Radian meski menunjukkan rasa percaya dan tak menaruh curiga pada Leana, diam-diam mulai menyelidiki siapa wanita itu sesungguhnya.
Berkat bantuan personal assistant-nya Radian mengetahui kenyataan bahwa putri kandung dr Djamal yang sesungguhnya ternyata telah meninggal.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1