
Radian masih ingin mencurahkan kesedihannya pada Pak Arif ketika tiba-tiba Camelia datang dengan ekspresi wajah yang penuh emosi.
"Kita harus bicara!" seru Camelia dengan kedua tangannya menggebrak meja.
Radian menatap tajam wanita di hadapannya itu. Tak terkira betapa besar kebenciannya pada wanita yang telah membuatnya merasa menyesal telah mengenal wanita pemaksa itu. Saking bencinya Radian sangat ingin menganiaya wanita yang membuat pernikahannya dengan Leana ternoda itu.
Radian langsung menarik lengan wanita itu masuk ke dalam ruangannya. Pak Arif hingga takut melihat ekspresi wajah Radian yang terlihat begitu marah. Bapak itu takut Radian khilaf hingga berbuat kejam pada wanita itu. Namun bapak itu mencoba bertahan dengan pemikiran positif bahwa Radian bisa mengendalikan amarahnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Jangan katakan kalau kamu ingin menuntut tanggung jawab dariku. Aku tidak melakukan apa-apa padamu," ucap Radian setelah mendorong wanita itu dengan kasar ke tengah ruangan.
Camelia menatap heran dengan sikap Radian yang begitu kasar.
"Oh ternyata begini sikap seorang gentleman? Sikap seorang mantan CEO perusahaan besar, pantas saja Kak Radian dipecat karena ternyata Kakak orangnya sangat kasar!" seru Camelia.
"Tak perlu berlaku lembut pada perempuan seperti kamu. Jangan coba mengintimidasi aku, apa yang terjadi semalam tak ada hubungannya denganku. Aku mabuk, aku tak sadarkan diri. Aku tak ingat melakukan apa-apa denganmu!" seru Radian.
"Karena tak ingat apa-apa jadi Kakak pastikan tidak terjadi apa-apa? Apa begitu sikap seorang laki-laki? Dasar pengecut, lari tanggung jawab!" seru Camelia dengan tatapan mata yang tajam.
"Aku … bukan pengecut. Aku tak akan lari dari tanggung jawab jika memang itu menjadi tanggung jawabku. Tapi apa yang terjadi tadi malam, jangan tanyakan padaku. Karena akulah yang seharusnya menuntutmu. Kenapa aku bisa sampai di hotel itu--"
"Aku bermaksud baik mengantarmu pulang--"
"Lalu kenapa mengantarku ke hotel? Kamu tahu aku tinggal di sini," tanya Radian yang tak percaya pada alasan Camelia.
__ADS_1
"Aku … tak punya kunci untuk masuk. Aku … tak tahu siapa yang pegang. Semua dalam keadaan mabuk. Aku … sangat bingung. Jadi … aku bawa ke hotel," jawab Camelia akhirnya.
"Dengar Camel! Aku tak peduli dengan apa yang terjadi tadi malam. Aku juga tak peduli dengan apa yang aku lihat tadi. Aku yakin kamu sengaja tidur seperti itu agar terlihat seolah-olah kita telah bercinta tadi malam. Tapi aku yakin tidak melakukan apa-apa denganmu. Jangan pernah mengancam aku dengan cerita palsu kamu itu," jelas Radian.
"Cerita palsu? Tapi … semalam benar-benar telah terjadi," jawab Camelia dengan air mata yang mengalir.
Ekspresi Camelia tak lagi judes seperti tadi, namun begitu memelas.
"Aku … tak pernah melakukannya dengan siapa pun sebelumnya. Aku … menyerahkan diri padamu karena aku menginginkanmu, aku mencintaimu. Aku rela jika Kakak lakukan itu padaku meski menyebut wanita lain saat Kakak menikmati tubuhku," jelas Camelia semakin terisak-isak.
"Aku? Tidak! Kamu jangan bohong! Aku tak melakukan itu padamu," sanggah Radian.
"Kak Radian tak tahu seperti apa sedihnya aku? Kak Radian memelukku, menciumku, mencumbuku. Meski aku mencoba menolakmu tapi Kak Radian tetap melakukan itu. Aku … sangat takut kehilangan kesucianku saat Kak Radian melakukannya tanpa sadar. Seperti saat ini, aku sudah mengira Kak Radian pasti akan menolak untuk mengakuinya. Tapi malam itu, aku tak bisa menolak. Kak Radian sepertinya sangat menginginkan aku--"
"Stop! Jangan teruskan lagi!" ucap Radian panik.
"Cukup!" seru Radian terguncang hingga terhuyung.
"Sakit sekujur tubuhku tak aku pedulikan karena sakit di hatiku lebih dalam--"
"Cukup!"
"Dan sekarang begitu mudahnya meninggalkan aku begitu saja, sendirian di kamar hotel itu. Bagaimana kalau aku di lecehkan petugas hotel? Apa Kak Radian tak berpikir saat meninggalkan aku sendiri di sana dalam keadaan mabuk seperti itu?" tanya Camelia dengan terisak-isak.
__ADS_1
"CUKUP!"
"YA! AKU SUDAH CUKUP! SIMPAN SEMUA CERITA ITU UNTUK ISTRI TERCINTAMU! AGAR DI MATANYA, KAK RADIAN TETAP LAKI-LAKI YANG SEMPURNA!" teriak Camelia kemudian berlalu dari ruangan itu
Radian terhuyung hingga tersandar ke dinding. Laki-laki itu menjambak rambutnya dengan kuat. Menangis sambil membayangkan kejadian yang diceritakan Camelia. Semuanya terasa masuk akal baginya sekarang. Melakukan semua itu dengan membayangkan Leana.
Radian tak bisa mengelak lagi jika kenyataannya seperti itu. Setiap saat, setiap waktu Radian memang selalu merindukan Leana. Selalu ingin memeluk, mencium dan bercinta dengan Leana. Dalam pikirannya yang telah dikuasai alkohol, wanita mana pun terlihat seperti Leana. Dia mengakui itu. Dia tak bisa mengelak dari itu.
Semua telah terjadi, Radian hanya bisa menangis menyesali. Di lubuk hatinya selalu ingin menjaga kemurnian pernikahannya namun justru karena terlalu merindukan istrinya, membuat Radian terjerumus hingga menodai pernikahannya sendiri.
Berjam-jam Radian hanya termenung duduk di lantai sambil bersandar di dinding. Matanya lurus menatap kosong. Radian bisa saja menghindar dan tak peduli pada kejadian yang baru saja di alaminya namun semua itu tak akan bisa dilupakan begitu saja. Menatap Leana atau pun menatap Camelia, selamanya laki-laki itu akan tetap merasa bersalah.
"Radian, kamu baik-baik saja?" tanya Arif.
Radian menggelengkan kepalanya. Pak Arif ikut duduk di lantai di samping Radian.
"Ada apa? Apa yang dikatakan Camelia?" tanya Arif.
"Sepertinya aku memang melakukannya Pak. Tanpa sadar aku melakukannya karena yang kulihat adalah istriku. Aku telah menodai pernikahanku Pak. Bagaimana aku akan kembali pada istriku. Camelia tidak akan membiarkan aku kembali pada istriku. Dia pasti akan menuntutku. Mulai sekarang hidupku tak akan tenang Pak," ucap Radian dengan kedua tangannya di kepala bertumpu pada kedua lututnya.
Pak Arif tertunduk. "Semua ini salah bapak. Hari itu kamu tak ingin ikut, tapi bapak memaksamu ikut. Bapak juga tak menahanmu untuk minum minuman itu. Harusnya sebelum mabuk bapak mengajakmu pulang bersama bapak, tak meninggalkanmu bersama dengan Camelia. Harusnya hari itu Bapak tak menerima Camelia bekerja di perusahaan ini. Sejak awal hingga akhir semua ini adalah salah bapak Nak. Bapak menyesal, semua ini benar-benar salah bapak. Berawal dari keputusan bapak," jelas Arif sambil tertunduk menyesal.
"Tidak Pak, ini bukan salah Pak Arif. Aku laki-laki dewasa yang memutuskan sendiri segala sesuatunya. Apa pun pilihan itu. Pergi atau tidak, minum atau tidak, semua adalah keputusanku sendiri. Keputusanku tak ada hubungannya dengan Pak Arif," jelas Radian yang memang tak pernah menyalahkan Pak Arif.
__ADS_1
Keduanya termenung dengan pikiran masing-masing. Meski Radian tak menyalahkannya tapi Pak Arif tetap merasa bersalah. Berkali-kali bapak itu menoleh pada Radian namun tak ada satu kata pun yang bisa terucap dari mulutnya untuk mengatasi masalah yang dihadapi laki-laki di hadapannya itu.
...~ Bersambung ~...