Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 52 ~ Mendatangi ~


__ADS_3

Dokter menyatakan Leana telah hamil, mereka berdua langsung kaget. Tak menyangka aksi bercinta mereka yang hanya beberapa kali ternyata langsung membuahkan hasil. Dokter perempuan itu hanya tersenyum-senyum melihat pasangan yang bersemu merah di pipi itu.


"Tapi … putra kami sendiri masih bayi apa mungkin bisa--" 


Ucap Radian terputus karena seolah-olah tak menerima kehadiran bayi dalam kandungan istrinya itu. Namun jelas bukan itu maksudnya. Radian sangat bahagia jika Leana benar-benar mengandung anaknya tapi laki-laki itu merasa tak percaya karena putra pertama mereka yang masih sangat kecil.


"Tentu bisa tuan, seorang perempuan bisa hamil kembali hanya dalam waktu 3 minggu. Bahkan bisa terjadi sebelum siklus menstruasi kembali stabil. Biasanya menstruasi baru kembali terjadi 6 minggu setelah persalinan. Kalau boleh saya tahu berapa usia putra Tuan?" tanya dokter itu dengan sangat lembut.


"Hampir sepuluh bulan, ya 'kan sayang?" tanya Radian pada Leana yang dibalas dengan anggukan oleh Leana.


Dokter itu tersenyum dan langsung menanyakan apakah Leana telah menggunakan alat kontrasepsi. Wanita itu hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Tapi bukankah ibu menyusui tidak bisa hamil Dokter?" tanya Leana.


"Setelah melahirkan dan menyusui, kehamilan memang tidak akan terjadi. Hal ini karena ibu akan rutin menyusui yang merupakan salah satu kontrasepsi alami. Tapi jika hubungan intim dilakukan secara rutin dan pasangan dalam kondisi subur, kehamilan tetap bisa terjadi," jelas dokter itu.


"Kami … tidak rutin berhubungan tapi kenapa bisa tetap hamil? Dan saya juga menyusui bayi saya?" tanya Leana dengan ragu-ragu.


"Ada syarat yang harus dipenuhi jika ingin menjadikan menyusui sebagai kontrasepsi alami. Pertama menyusui harus secara eksklusif. Artinya bayi Ny. Leana tak diberikan asupan apapun selain ASI," jelas dokter itu dan didengarkan dengan cermat oleh Leana.


"Menyusui juga harus dilakukan secara intensif yaitu menyusui secara langsung. Selama lima jam di siang hari dan enam jam di malam hari dan terus menyusui apapun kondisinya. Jika berhenti menyusui sehari saja, bisa menurunkan level hormon prolaktin dalam tubuh yang bisa memicu kembali proses ovulasi," sambung dokter itu.


"Saya bekerja dokter, saya tidak bisa menyusui secara langsung, apalagi secara rutin," jelas Leana menceritakan kondisinya.


"Jika memang seperti itu kondisinya, saat telah kembali menstruasi, menyusui tak lagi bisa menunda kehamilan. Ny. Leana harus mencari cara atau alat lain sebagai kontrasepsi," jawab dokter itu.


Leana terdiam, jelas semuanya tak dilakukannya karena Leana sendiri tak menyangka akan bertemu dan berhubungan lagi dengan Radian. Wanita itu tentu tak berpikir untuk menggunakan alat kontrasepsi sementara suaminya sendiri tak berada disisinya.


Setelah berkonsultasi hingga puas mereka memutuskan untuk kembali ke ruang rawat inap Radian. Dokter itu juga memberikan resep untuk mengurangi rasa mual yang diderita Leana berikut vitamin yang baik dikonsumsi oleh ibu hamil.


Mereka melangkah pelan dalam diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Begitu sampai di ruang rawat inap itu, Radian langsung meraih tangan istrinya. Laki-laki itu menatap wajah Leana yang sendu. Seolah-olah menyesal mendengar berita kehamilan itu.


"Apa kamu menyesal? Maafkan aku Leana, aku yang tak bisa menahan diri," ungkap Radian merasa bersalah.

__ADS_1


Radian berpikir istrinya belum siap untuk mengadung lagi. Karena merasa baru saja terbebas dari masa-masa kehamilan. Namun kenyataannya sekarang justru wanita itu dinyatakan hamil lagi. Melihat wajah Leana yang murung, laki-laki itu merasa sangat bersalah.


Leana melihat wajah suaminya yang begitu menyesal malah tersenyum. Karena bukan itu yang membuatnya menjadi murung. Kembali hamil dan mengandung anak dari laki-laki yang dicintainya tentu saja menjadi berita gembira baginya.


"Kenapa harus menyesal? Aku mengandung anak dari suamiku sendiri, kenapa aku harus menyesal? Lagi pula kenapa Kakak harus menahan diri, bukannya aku masih istri sah Kakak?" tanya Leana.


"Bagiku,  kamu adalah istriku satu untuk selamanya. Tapi … jika aku tidak melakukannya ... tentu saat ini kamu tak harus mengandung lagi," ucap Radian.


"Kenapa tidak melakukannya lagi? Kakak tidak bernafsu lagi padaku?" tanya Leana dengan wajah cemberut.


"Bukan begitu sayang, mana mungkin aku tidak bernafsu padamu. Setiap saat, setiap waktu, setiap kali melihatmu aku selalu bernafsu. Hanya … selalu aku tahan agar kamu tidak merasa bosan," jawab Radian malu-malu.


"Lalu kenapa Kakak seperti menyesal melakukannya?" tanya Leana.


Wanita itu menuntun suaminya agar duduk di ranjang rumah sakit itu. Setelah Leana menjauhkan makanan yang membuatnya menjadi mual.


"Aku tidak menyesal, aku justru takut kamu yang menyesal karena kamu yang akan merasakan kehamilan dan melahirkan lagi. Aku tahu itu sangat melelahkan," jawab Radian.


"Hamil itu memang sangat melelahkan tapi tidak sebanding dengan kebahagiaan saat melihatnya hadir di dunia ini. Bisa menghadirkan bukti cintaku pada Kakak, rasa lelahku itu sama sekali tidak ada artinya," jelas Leana.


Setelah puas menciumi bibir dan leher istrinya. Radian berharap wajah Leana akan kembali ceria namun Radian tetap menemukan wajah tersenyum namun dipaksakan itu.


"Ada apa lagi? Apa aku masih punya salah lagi?" tanya Radian yang dijawab anggukan oleh Leana.


"Bukan hanya kesalahan Kakak tapi juga kesalahanku," ucap Leana.


Radian heran dengan ucapan Leana, mencoba memikirkan apa yang membuat Leana merasa bersalah.


"Kita telah menuduh Mommy meracuniku," jelas Leana karena melihat Radian yang bingung mencari jawaban.


Saat mendengar ucapan Leana, laki-laki itu baru sadar. Baru teringat kembali pada kejadian tadi pagi.


"Kalau itu, aku yang salah sayang! Aku yang menuduhnya. Ini tak ada hubungan denganmu," jawab Radian langsung murung.

__ADS_1


Namun Leana menggelengkan kepalanya. "Tentu saja aku juga bersalah Kak. Meski tak menuduh secara langsung tapi dalam hati aku juga berprasangka buruk padanya. Mommy yang ingin berubah justru kita curigai, aku takut Mommy putus asa dan kembali menjadi orang yang berpikiran … jahat. Karena berpikir percuma menjadi orang baik jika orang telah terlanjur mencapnya sebagai orang yang jahat," jelas Leana dengan wajah risau.


"Kamu jangan khawatir setelah keluar dari rumah sakit ini. Aku akan meminta maaf padanya. Aku yakin Mommy pasti mau memaafkan kita," ucap Radian.


"Aku akan melakukannya sekarang Kak, aku ingin meminta maaf sekarang--"


"Apa?"


"Ya Kak, aku yang akan meminta maaf padanya sekarang. Kakak tetap di sini, biar aku yang datang ke rumah untuk meminta maaf," usul Leana.


"Kamu akan mendatangi Mommy seorang diri? Nggak … aku nggak setuju! Entah apa yang akan dilakukan Mommy padamu nanti," jawab Radian.


"Kak! Itu sama artinya Kakak masih menaruh curiga padanya. Katanya ingin meminta maaf karena menuduh tapi sekarang saat aku ingin menemuinya ... ternyata Kakak masih menaruh curiga padanya," protes Leana.


Radian terdiam, laki-laki itu memang menyesal karena telah menuduh ibunya melakukan tindakan kejam. Tuduhannya itu memang sangat keterlaluan tapi mengingat masa lalu hal itu memang mungkin saja terjadi. Hingga detik ini tidak mudah bagi Radian untuk percaya kalau ibunya telah benar-benar sadar.


Leana membujuk agar suaminya mengizinkannya datang ke rumah kontrakan ibu mertuanya itu. Terlihat laki-laki itu begitu berat membiarkan Leana sendirian menemui ibunya.


"Bagaimana kalau kita tunggu, aku diizinkan pulang ke rumah. Kita temui Mommy sama-sama," usul Radian.


"Jika menunggu Kakak sehat berarti harus ditunda dulu menemuinya. Kita tidak tahu kapan Kakak diizinkan pulang," ucap Leana.


Laki-laki itu kembali terdiam, sebagian hatinya mengizinkan namun sebagian lagi tetap merasa khawatir. Radian tetap berharap Leana mau menunggu sampai dia diizinkan keluar dari rumah sakit hingga dapat menemui ibunya bersama-sama.


"Aku tidak ingin berhutang maaf Kak, entah apa yang terjadi di masa yang akan datang. Jika kita terus menunggu, aku takut kita tidak sempat. Mommy saat ini pasti sangat terluka hatinya sebelum hati itu rusak, kita harus segera menyembuhkannya. Kakak ingin Mommy menjadi ibu yang baik 'kan? Jangan sampai karena kesalahan kita ini, Mommy putus asa menjadi orang yang lebih baik. Karena itu secepatnya aku ingin menemuinya agar jangan sampai terpikirkan untuk kembali menjadi orang yang jahat. Lagi pula aku tidak akan bisa tidur jika belum meminta maaf," jelas Leana panjang lebar demi memberi pengertian pada suaminya.


Mendengar penjelasan istrinya, akhirnya Radian mengizinkan wanita itu segera menemui ibunya. Meski ada rasa takut tapi seperti tadi, dia juga ingin membuktikan kalau ibunya memang benar-benar telah sadar.


Leana berangkat pulang ke rumah, setelah membersihkan diri segera wanita itu mencari alamat rumah yang telah diberikan suaminya.


Leana berdiri diam sekian lama di depan pintu rumah kontrakan itu. Menyiapkan dirinya sendiri untuk menghadapi pertemuannya dengan ibu mertuanya. Entah apa yang akan terjadi Leana sama sekali tidak tahu tapi wanita itu bertekad untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi ini secepatnya.


Segera wanita itu mengetuk pintu, tak lama kemudian Monica muncul dengan air mata yang berderai. Leana kaget, melihat adik iparnya yang langsung menjerit dan menangis.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2