Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 58 ~ Mempertahankan ~


__ADS_3

Dengan kecepatan tinggi, Radian menerobos jalanan yang terlihat lengang karena masih di jam kantor. Radian yang telah kembali tinggal di rumah Leana, berangkat dengan menggunakan mobil sport miliknya dulu. Kini mobil laki-laki itu melaju kencang menuju perusahaan Leana.


Begitu masuk parkir basement perusahaan, laki-laki itu mengerem dengan cepat hingga ban mobil itu terdengar berdecit. Menunjukkan emosi Radian yang telah sampai hingga ke puncak kepalanya. Begitu sampai di ruangan Leana. Laki-laki itu langsung disambut wanita cantik itu dengan pelukan.


Namun, laki-laki yang dicintainya itu langsung mendorong tubuhnya.


"Aku membatalkan niatku untuk pindah ke rumahmu. Aku batal mengambil kembali posisi CEO di perusahaanmu. Aku batal untuk kembali padamu. Aku batalkan--"


Pernikahan kita.


Radian tak meneruskan ucapannya. Radian menatap lurus ke mata yang telah berkaca-kaca dihadapannya itu. Melihat sikap Radian yang berbeda Leana tahu telah terjadi sesuatu. Wanita itu tak tahu apa penyebab Radian mengungkapkan semua ucapan itu. Tanpa penjelasan, tanpa kata-kata, tanpa tanda-tanda tiba memutuskan sepihak semua yang telah mereka sepakati bersama.


"Kenapa? Apa yang terjadi? Apa maksud Kakak mengatakan ini?" tanya Leana dengan tubuh yang telah gemetar.


"JANGAN PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN ITU! MULUTMU TAK PANTAS MEMANGGILKU DENGAN PANGGILAN ITU!" bentak Radian.


Leana tercengang hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang telah gemetar. Air mata Leana tak bisa di bendung lagi. Hanya dengan sekali kedip matanya langsung mengalirkan air mata yang deras.


Wanita itu bingung bagaimana cara bertanya, jika dia tak boleh mengucapkan panggilan itu.


"Katakan padaku, apa salahku? Kenapa Ka-- kenapa mengambil keputusan itu?" tanya Leana yang sekarang merasa Radian tak mau lagi kembali padanya.


"Jangan pura-pura bodoh, kamu perempuan yang cerdas. Kamu pikir apa yang kamu lakukan itu bisa di tutupi selama-lamanya?" tanya Radian.


"Apa yang aku lakukan?" tanya Leana akhirnya bisa menemukan cara untuk bertanya.


"Tega-teganya kamu menganggap itu tidak pernah terjadi, bisa-bisanya kamu tidak merasa melakukan apa pun? Di sini! Di ruangan ini kamu melayani hasrat Ezra. Tidak! Itu bukan hanya hasrat Ezra tapi juga hasratmu! Tidak adakah tempat lain yang lebih baik hingga di sini pun kalian bisa melakukan perbuatan itu--"


"Kakak!"


"JANGAN PANGGIL AKU BEGITU!" Aku tak menyangka kamu perempuan seperti itu. Terlihat baik, terlihat tulus, terlihat setia. Tapi kamu tak lain hanya seorang PEREMPUAN MURAHAN dan satu lagi … katakan padaku siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu?" tanya Radian sambil menunjuk ke arah perut Leana.


Leana menyentuh perutnya dengan dada yang terasa sakit seperti diremas. 


"Bagaimana Ka-- Bagaimana bisa berpikiran seperti itu padaku?" tanya Leana dengan terisak-isak.


Wanita itu masih tak menyangka semua ada hubungannya dengan kejadian yang menimpanya di ruangan itu.


"Seseorang memiliki foto perbuatan kalian, dengan jelas aku melihat kalian berciuman dengan pakaianmu yang telah terbuka," ucap Radian dengan suara yang sedikit pelan namun gemetar menahan amarah.


Leana menggelengkan kepalanya, menyangkal.


"Itu tak seperti yang Kakak duga," jawab Leana dengan tersedu-sedu.

__ADS_1


"Kenapa tidak jujur saja padaku! Jika kamu menginginkan dia--"


"Nggak Kak, aku tidak inginkan dia. Dia memaksaku--"


"Bullshit! Dasar pembohong! Aku tak melihat ada pemaksaan di situ. Kamu menikmatinya, bahkan matamu terpejam saat dia mencium lehermu!" teriak Radian.


"Nggak! Itu nggak benar! Dia memaksaku--"


"JANGAN BOHONGI AKU LAGI! JANGAN COBA-COBA MEMBOHONGI AKU LAGI! Jika dia memaksamu kenapa kamu tidak cerita padaku? Kenapa tidak mengadu? Kenapa tidak menuntut? Kenapa tidak minta perlindungan dariku?" tanya Radian bertubi-tubi.


"Aku tak ingin Kakak tersakiti. Kakak sedang sakit, Kakak tidak akan bisa menerima kejadian seperti itu, aku hanya ingin melindungi Kakak--"


"CUKUP! Jangan menjadikan aku sebagai alasan kamu menutupi perbuatan bejat kalian. Ingin melindungiku? AKU SUAMIMU! AKU YANG AKAN MELINDUNGIMU! AKU YANG HARUS MELINDUNGI KAMU! Jangan cari alasan untuk menutupi perbuatan kalian!" bentak Radian dengan sangat keras.


"Sungguh Kak! Tidak terjadi apa-apa, dia memaksaku tapi--"


"CUKUP! Semua sudah terjadi dan aku sudah memutuskan, aku akan pergi," ucap Radian lalu  melangkah.


"Tunggu Kak! Bagaimana dengan anak ini! Aku sedang hamil Kak, jangan tinggalkan aku!" seru Leana.


"Tanyakan pada ayah dari anak itu," ucap Radian sambil melangkah pergi meninggalkan Leana.


Meninggalkan wanita itu yang tetap mencoba mengejarnya. Namun seperti dulu, langkah kaki Leana tak selebar langkah kaki Radian. Dia akan selalu ketinggalan. Meski telah berlari namun Leana tak mampu mengejarnya. Saat masuk ke dalam lift, sama seperti dulu. Radian hanya diam menatap wanita yang mencoba mengejarnya itu. Seperti dulu hanya menatap Leana dengan tatapan mata yang tajam.


"Ada apa? Kenapa menangis di sini?" tanya Nesya sambil memeluk Leana, matanya pun ikut berkaca-kaca.


"Dia pergi! Dia telah pergi! Dia melihat foto pelecehan yang dilakukan Kak Ezra padaku. Dia menuduhku melakukannya dengan rela. Dia menuduhku berselingkuh dengan Kak Ezra," jelas Leana.


"Mana mungkin ada foto seperti itu! Apa mungkin dia hanya mencari alasan untuk meninggalkanmu," jawab Nesya tak percaya.


"Ini pasti fitnah Nesya, Kak Radian tidak akan meninggalkan aku. Pasti Kak Radian melihat sesuatu yang berbeda. Kak Radian sama sekali tak melihat pemaksaan di foto itu," ucap Leana di bahu Nesya.


"Ayo kita ke ruanganmu, kita bicara di sana. Di sini banyak orang Leana," ujar Nesya yang berlaku sebagai sahabat Leana.


Kedua wanita itu melangkah perlahan kembali ke ruangan Leana. Sambil berjalan tak henti-hentinya Nesya menghapus air mata wanita itu. Sampai di ruangan itu pun, tak ada kata-kata lagi yang bisa diucapkan Leana. Wanita itu hanya duduk diam dengan pandangan mata yang kosong. 


Di rumah Leana, Radian terpaku menatap putranya yang sedang diasuh oleh baby sitter. Air mata laki-laki itu mengalir tak tertahankan. Baru semalam memutuskan untuk menetap di rumah itu, kini Radian harus kembali meninggalkan putra kesayangannya itu.


Beberapa kali terpikir olehnya untuk membawa Ravano pergi bersamanya namun laki-laki itu merasa itu sebuah perbuatan yang sangat kejam terhadap Leana.


Bukannya dia akan memiliki bayi lagi? Kalau begitu biarkan Revano ikut denganku, kamu jaga bayimu sendiri, batin Radian sambil meminta Revano.


Laki-laki itu menggendong Revano bolak-balik seperti orang linglung. Pikirannya benar-benar bimbang.

__ADS_1


Revano jelas-jelas adalah putraku, Leana bersamaku, aku menjaganya di sepanjang kehamilannya. Aku berhak terhadap Revano. Dia anakku, aku punya hak atasnya, aku ingin Revano bersamaku ... tidak! Ini sangat kejam untuk Leana. Apa aku sebenci itu padanya? ... Ya! Aku benci Leana, dia mengkhianatiku, tak masalah jika aku membalasnya. Dia telah menyakiti hatiku, batin Radian berperang.


Dengan derai air mata laki-laki itu melangkah sambil menggendong Revano. Baby sitter itu dengan heran mengikuti, berjalan turun ke lantai bawah. Melangkah terus melewati ruang tengah. Baby sitter itu mulai panik. Dengan air mata yang mengucur di pipi Radian semakin menambah kepanikannya.


"Tuan mau ke mana? Tuan mau bawa Reno ke mana?" tanya baby sitter itu mulai bertanya karena semakin panik.


Namun Radian diam, hanya terus melangkah. Di penghujung ruang tengah yang luas itu. Baby sitter itu menunjuk ke arah Radian, berbicara dengan memberi kode pada pelayan lain. Baby sitter itu terus mengikuti Radian hingga melewati ruang tamu.


"Tuan jangan bawa Reno! Tolong Tuan kembalikan Reno," ucap baby sitter itu panik yang tak bisa disembunyikan lagi.


Namun Radian telah melangkah ke depan rumah. Baby sitter itu terus mengikuti, dengan berbagai cara membujuk Radian. Masih menggendong Revano dan air mata yang terus mengalir deras, Radian terus berjalan. Laki-laki itu kini telah berjalan di jalanan komplek, baby sitter itu bahkan menangis memohon Revano dikembalikan. Namun Radian tak mau dengar, hanya terus menangis. Hatinya sendiri, tak tega melakukan itu. Hatinya berperang melawan pikirannya. Membuat Radian hanya bisa terisak sambil terus melangkah.


Baby sitter itu panik karena Revano sendiri adalah putra Radian. Dia merasa tak berhak menghentikan laki-laki itu tapi tak sanggup membayangkan Leana yang akan kehilangan putranya.


"TUAN! TUNGGU … INI ADA TELEPON DARI NYONYA!" teriak seorang pelayan sambil berlari menghampiri Radian.


Baby sitter yang telah menangis itu bersyukur karena pelayan itu akhirnya bisa menghentikan Radian.


"Ini Tuan terimalah telepon dari nyonya," ucap pelayan itu.


Radian hanya diam menggendong putranya sambil terus menangis. Pelayan itu menempelkan ponsel itu ke telinga Radian.


"Kak … Kak … dengarkan aku! Aku rela … aku rela, jika Kakak tak ingin lagi bersamaku … aku rela, tapi tolong tinggalkan Reno." 


Radian memejamkan matanya, kedua pelayan itu pun tak dapat menahan tangis. Mereka tak tahu apa yang terjadi. Mereka baru saja menerima kembali kedatangan Radian dan sekarang laki-laki itu ingin pergi. Namun kali ini dengan membawa putranya ikut serta.


Melihat baby sitter yang tak bisa membujuk Radian. Seorang pelayan langsung menelpon Leana. Pelayan itu menceritakan kejadian yang dilihatnya. Leana meminta pelayan itu menahan Radian karena dia akan segera pulang. Namun baby sitter itu tak mampu menahan Radian yang terus melangkah. Akhirnya Leana meminta pelayan itu memberikan ponsel itu pada suaminya.


Radian hanya diam tak mau menyentuh ponsel itu. Namun saat di dekatkan di telinganya laki-laki itu akhirnya mendengarkan.


"Jika Kakak membenciku, jika Kakak tak ingin lagi bersamaku, Kakak jijik padaku, aku rela Kakak meninggalkan aku … aku rela … aku rela Kak tapi ... aku mohon jangan bawa Reno. Dia satu-satunya kenanganku darimu, Kakak telah membawa cintaku, jangan lagi membawa Renoku. Aku tidak punya apa-apa lagi Kak, itu sama saja Kakak mengambil nyawaku. Membawanya sama saja membawa nyawaku! Ambil saja nyawaku Kak. Ambil saja nyawaku," ucap Leana menangis tersedu-sedu.


Radian memejamkan matanya sambil menunduk. Membuat air mata laki-laki itu mengalir deras. Laki-laki itu tak ingin meninggalkan keduanya, tak ingin meninggalkan Leana dan tak ingin meninggalkan Revano tapi kekecewaan atas apa yang dilihatnya membuat laki-laki itu tak sanggup bertahan melanjutkan niatnya berkumpul kembali bersama Leana.


Terdengar suara Leana yang panik karena tak mendengar suara Radain. Wanita itu menangis, memanggil-manggil, menjerit-jerit. Sambil terus memacu mobilnya menuju rumahnya, Leana sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Menekan klakson berkali-kali saat ada yang menghalangi jalannya. Menghapus dengan kasar air matanya yang menghalangi pandangannya.


Leana tak pernah merasa sepanik itu. Mengemudi sekencang-kencangnya tanpa pedulikan keselamatannya karena baginya Radian adalah separo nyawanya, Revano adalah separonya lagi. Leana tak akan punya apa-apa lagi tanpa mereka di sisinya.


"Sudah Nyonya! Reno sudah bersama kami," ucap pelayan itu akhirnya.


Radian akhirnya memutuskan menyerahkan putra mereka pada baby sitter itu. Laki-laki itu melangkah meninggalkan mereka sambil menangis tersedu-sedu. Tak tega mendengar tangis Leana yang begitu sedih. Radian memutuskan mengembalikan Revano pada kedua pekerja di rumah Leana itu dan melangkah pergi.


Sementara itu mobil Leana langsung menepi, tangannya yang gemetar perlahan menghapus air matanya. Namun air mata itu terus saja mengalir, Leana memutuskan membiarkannya dan terus menangis hingga sesenggukan. Rasa lega karena tak kehilangan putranya namun sedih yang mendalam karena kehilangan laki-laki yang dicintainya.

__ADS_1


...~  Bersambung ~...


__ADS_2