
Begitu sampai di rumah Leana langsung mencari anaknya. Seperti tak percaya Revano masih bisa dipertahankan sebelum melihat sendiri putranya itu ada di depan mata. Baby sitter yang mendengar majikannya itu datang. Segera membawa Revano menemui ibunya. Wanita itu langsung memeluk dan menciumi anak tampan itu dengan air mata yang berderai. Baby sitter-nya pun ikut menangis. Tak bisa membayangkan anak itu berpisah dari ibunya.
Leana berterima kasih pada baby sitter dan pelayan yang membantunya mempertahankan Revano.
"Tidak apa-apa Nyonya, kami juga nggak tega kalau nyonya kehilangan Revano," jawab pelayan itu.
Leana menggelengkan kepalanya, baginya bantuan kedua orang itu sangat berarti karena berkat mereka Revano bisa dipertahankan.
"Tapi jika Tuan Radian tak mendengar suara Nyonya secara langsung, mungkin Tuan tak akan menyerahkan Revano, Nyonya," ucap baby sitter itu.
"Ya, Tuan Radian pasti tak tega mendengar suara Nyonya yang memohon," ucap pelayan itu.
"Tapi beruntung kamu kepikiran menelpon Nyonya, kalau aku. Hanya bisa mengikuti sambil membujuk, tapi tak berhasil. Mau aku teriak culik, nanti Tuan Radian di gebukin orang sekomplek. Aku jadi bingung tadi sampai-sampai aku nangis di jalan," ucap Baby sitter.
"Ya, aku lihat kamu nangis," ucap pelayan.
"Aku malah lihat kamu nggak pake sendal tadi," ucap baby sitter sambil tersenyum.
"Ya, aku repot cari-cari sendal, aku langsung lari saja. Tapi tadi kasihan Tuan Radian Nyonya, Tuan Radian nangis di sepanjang jalan--"
"Benarkah?" tanya Leana penasaran.
"Ya Nyonya! Awalnya cuma gendong-gendong Reno, eh tahunya langsung dibawa. Pas saya tanya Tuan Radian langsung menangis. Mungkin Tn. Radian sangat ingin membawa Reno tapi tak tega pada Nyonya. Jadinya sangat sedih," jelas baby sitter itu.
Leana termenung, mencoba membayangkan situasi Radian saat membawa Revano tadi. Mata wanita itu pun mulai berkaca-kaca. Mengingat laki-laki yang tegar menjalani hidup susah itu, tetap tak sanggup menahan tangis saat harus memilih membawa atau berpisah dengan putra kesayangannya.
Leana mohon diri pada kedua pekerja di rumahnya itu. Leana ingin berbaring sambil memeluk putranya. Tubuh dan hatinya terasa letih, wanita itu ingin beristirahat dan mencoba melupakan yang terjadi di hari ini.
Sementara itu, di kantor Perusahaan Ezra, membaca surat pengunduran diri Radian. Hati laki-laki itu merasa kehilangan sosok sahabat. Entah kenapa, meski hatinya terluka oleh sikap Radian yang merahasiakan jati diri Leana. Namun, di hatinya tak menaruh rasa benci. Rasa marah dan kecewa tentu saja ada namun tak membuat laki-laki itu membenci Radian apalagi merasa dendam padanya.
Mungkin karena sebagian hatinya pasrah dengan takdir Leana yang berjodoh dengan Radian. Namun sebagian lagi berharap masih ada peluang untuk mendapatkan cinta pertamanya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Ezra mempersilahkan masuk. Ternyata Camelia yang datang dengan ekspresi yang panik.
"Tuan, apa benar Kak Radian mengundurkan diri? Apa tuan menerima pengunduran dirinya?" tanya Camelia dengan napas yang tersengal-sengal hingga dadanya yang cukup besar terlihat turun naik.
"Ya, dia menyampaikannya barusan," jawab Ezra.
"Tuan menerima pengunduran dirinya?" tanya Camelia mengulangi pertanyaannya tadi.
__ADS_1
"Apa alasanku tak menerimanya? Aku tak punya hak menahannya. Seseorang bebas mengajukan permohonan mengundurkan diri. Lagi pula itu adalah pilihannya sendiri aku tidak memecatnya," jelas Ezra.
Tn. Ezra pasti tak tahu alasan Kak Radian mengundurkan diri. Pasti dia tidak menyangka perbuatannya dengan istri Kak Radian tak ada yang tahu. Lalu bagaimana dengan Kak Radian? Apa dia menceritakan apa yang terjadi? Apa Kak Radian tak marah atau bahkan bertengkar dengan Tn. Ezra, batin Camelia.
Wanita itu minta diri dan segera meminta alamat Radian. Wanita itu ingin tahu keberadaan laki-laki yang telah membuatnya nekad menjadi wanita yang kejam demi untuk mendapatkan laki-laki itu.
Sementara itu Radian mengunjungi ibunya di ruang rawat inap itu. Shanty dan Monica merasa heran karena Radian yang datang ke sana di jam kantor. Ditambah lagi laki-laki itu yang terlihat banyak termenung.
"Radian, ada masalah apa? Mommy lihat kamu banyak termenung. Apa kamu tidak kembali ke kantor?" tanya Shanty.
Radian menoleh sekilas ke arah ibunya, setelah itu kembali tertunduk. Wajah sedihnya jelas-jelas tak dapat disembunyikan. Ditanya seperti kedua mata Radian terasa panas. Laki-laki itu mengusapnya untuk menghilangkan genangan yang mulai timbul.
"Aku sudah mengundurkan diri dari perusahaan Mommy--"
"Apa? Kenapa?" tanya Shanty heran dan tak sabar ingin mendengar penjelasan Radian.
"Aku tak tahan lagi bekerja di sana," jawab Radian.
"Tapi bagaimana kehidupan kita jika Kakak tak bekerja lagi?" tanya Monica khawatir.
"Apa kamu mengambil alih lagi posisi CEO di perusahaan Daddy?" tanya Shanty.
"Kakak ingin membuka usaha bersama teman-teman Kakak itu?" tanya Monica.
Kali ini Radian mengangguk, laki-laki itu juga menjelaskan hubungannya dengan Leana. Kedua wanita itu langsung terkejut.
"Nggak mungkin Radian. Leana itu sangat mencintaimu. Tak mungkin dia berselingkuh," ucap Shanty tak percaya.
"Kenapa Kakak begitu yakin? Apa Kakak sudah selidiki?" tanya Monica.
"Apa yang harus aku selidiki lagi, Monica. Foto itu jelas-jelas foto mereka. Aku tak melihat unsur editan di sana. Dan yang lebih membuatku yakin adalah mereka memang telah berhubungan sejak SMP. Livia adalah cinta pertama bagi Ezra dan hingga kini Ezra masih mencintainya. Mereka memang telah memiliki kisah cinta sejak dulu," ucap Radian.
Terselip rasa cemburu di hati laki-laki itu. Saat melihat foto itu, rasa cemburu telah menutup hatinya atas pengorbanan dan bukti cinta Leana padanya.
"Ezra? Apa Kak Leana berselingkuh dengan Ezra, atasan Kakak itu?" tanya Monica yang dibalas dengan anggukan oleh Radian.
Mendengar itu Monica langsung tertunduk, mendadak merasa sedih karena mendapati kenyataan laki-laki yang dicintainya sejak dulu ternyata masih menyimpan rasa cinta pada Livia.
"Pantas saja dia langsung pergi saat mendengar Leana adalah Livia. Ternyata Ezra hingga kini masih mencintai Livia," ungkap Monica.
__ADS_1
"Apa? Bagiamana kamu kenal dengannya? Apa dia ke sini? Kapan? Dan … siapa yang memberitahunya kalau Leana adalah Livia.
"Saat Kakak jatuh pingsan, Ezra datang sebagai atasan Kakak. Dia terlihat sangat peduli dan sayang pada Kakak. Karena aku mengenalnya sejak masih di SMP. Aku tahu kalau sejak dulu Ezra menyukai Livia, karena itu aku sangat benci pada Livia. Dia telah merebut satu-satunya laki-laki yang aku sukai. Kami bercerita tentang masa lalu. Akhirnya dia tahu kalau Livia adalah adik tiri kita. Tiba-tiba dia bertanya kalau Kak Radian menikahi adik tiri, artinya Kakak menikahi Livia. Dia langsung pergi saat mendengar kenyataan itu," jelas Monica panjang lebar.
"Jadi itu sebabnya dia marah padaku. Karena dia telah tahu Leana istriku adalah Livia yang dicintainya," ucap Radian mengambil kesimpulan.
Monica mengangguk. "Kak, apa betul Ezra dan Leana berselingkuh? Apa mungkin itu hanya sebuah kesalahan? Adakah kemungkinan kalau itu hanyalah salah paham? Aku … aku tak sanggup menerima kenyataan kalau Leana masih menyukai Ezra sementara dia telah menikah dengan Kak Radian," ucap Monica tiba-tiba menangis.
Rasanya tak adil menurut gadis itu. Leana yang telah memiliki suami yang sangat mencintainya, memiliki keluarga yang sempurna ternyata masih menyimpan rasa cinta pada laki-laki lain. Dan terlebih membuatnya merasa sedih, laki-laki itu adalah Ezra. Laki-laki yang tetap menguasai hatinya sejak dari dulu hingga sekarang. Monica merasa Leana terlalu serakah mengusai kedua laki-laki itu.
Radian tak bisa menjawab pertanyaan Monica. Sejujurnya dia juga ingin semua itu adalah sebuah kesalahan. Tapi foto itu tidak cuma satu, yang masih ada kemungkinan untuk di rekayasa. Namun foto-foto itu begitu banyak, dan terlihat nyata tanpa rekayasa dengan berbagai adegan mesra tampil di layar ponsel milik Camelia itu.
Kenapa Camelia bisa mendapatkan foto-foto itu? Apa dia ke perusahaan Livia? Batin Radian bertanya-tanya.
Mereka termenung, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Keesokan harinya Radian minta bertemu dengan teman-teman yang ingin membuka usaha bersama itu. Mereka berkumpul di sebuah rumah salah satu bekas karyawan di perusahaan Robert Chandra yang terkena imbas pengurangan karyawan.
"Tapi … aku tidak punya modal sama sekali. Jangankan modal? Untuk biaya hidup saja aku morat-marit," jelas Radian jujur dengan situasinya.
Radian menceritakan tentang kisah hidupnya hingga akhirnya harus keluar dari perusahaan ayah tirinya itu. Para mantan karyawan PT. Cahaya Candra itu akhirnya mengerti situasi sulit Radian.
"Begini Tuan, kalau begitu. Biar modal berasal dari kami. Kebetulan saat di pecat, kami di beri pesangon. Kami akan pakai itu untuk membuka usaha kita. Kami hanya ingin meminta Tuan Radian untuk menjadi pimpinannya. Karena kemampuan Tuan Radian sangat kami percayai," ucap Haris.
"Tolong Pak Haris, jangan panggil saya tuan lagi. Saya ini hanya seorang gembel sekarang," ucap Radian merasa tak enak hati dengan panggilan untuknya yang tak hilang-hilang.
Semuanya mengangguk dan sepakat untuk memanggil Radian dengan embel-embel Pak.
"Mereka sepakat menyisihkan sebagian dari uang pesangon sebagai modal dan Radian sebagai pimpinan perusahaan baru itu. Mereka sangat yakin dengan kemampuan Radian memimpin sebuah perusahaan.
"Ayo semangat! Kita pasti bisa mengalahkan PT. Cahaya Chandra," teriak Ridwan.
Semua langsung tercenung, ada rasa sedih justru timbul saat laki-laki itu meneriakkan PT. tempat mereka bekerja dulu.
"Sebenarnya aku sedih jika harus melawan PT itu. Karena aku sangat suka bekerja di situ. Baik saat Tn. Robert yang memimpin maupun saat Pak Radian yang memimpin. Melawan perusahaan yang kita sukai rasanya sangat sedih," ucap Yanto.
"Benar! Apalagi aku yang telah bersahabat dengan Robert sejak perusahaan itu masih merintis hingga menjadi sebesar sekarang ini," ucap Arif yang memang paling senior di antara mereka.
"Kita ini masih baru, tak akan bisa mengalahkan perusahaan besar seperti PT. Cahaya Chandra. Kita juga tak akan melawan perusahaan itu tapi kita akan menjalankan perusahaan ini seperti Daddy menjalankan perusahaannya dulu dengan harapan bisa maju, sama seperti perusahaan PT. Cahaya Chandra sekarang ini," ucap Radian memacu semangat para karyawan sekaligus para pemilik modal itu.
Semua mengangguk setuju, mereka tak akan melawan perusahaan yang memberi makan mereka selama ini tapi berharap bisa berjalan sejajar dan sukses seperti perusahaan itu.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...