Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 113 ~ Menerima dan Khawatir ~


__ADS_3

Monica dan Shanty protes atas tindakan Radian yang mengajak ayah kandungnya dan keluarga barunya tinggal di rumah Leana. Selain merasa tak nyaman dengan orang yang tak dikenalnya, Shanty seperti merasa dikerjai. Begitu datang, Ridwan putra bersikap baik dan manis pada Shanty membuat hati nyonya itu memiliki harapan mengulang masa lalu yang indah.


Namun, baru saja memutuskan membuka hatinya karena Monica yang menjodoh-jodohkannya. Kini, harus menghadapi kenyataan kalau mantan suaminya itu ternyata masih memiliki keluarga. Shanty kesal, merasa Pak Ridwan seperti menipunya karena tak berterus terang kalau masih memiliki keluarga.


Shanty kesal dan tak mau menerima. Radian menyadarkan ibunya, kalau hubungan antara ayah dan anak tak bisa diputuskan begitu saja. Terlebih lagi situasi mereka saat ini telah berbeda. Sang ayah dalam keadaan sulit sementara hidup putra putrinya telah mapan.


"Besok aku akan mencari rumah untuk mereka tapi sepertinya putri Papa itu, masih ingin tinggal di rumah ini. Biarkan saja dulu, lagi pula kamar di rumah ini sangat banyak," jelas Radian.


"Apa Livia tidak keberatan? Bagaimanapun juga ini rumah orang tuanya," ucap Shanty Rahayu.


"Livia yang awalnya mengetahui kalau Papa diam-diam memiliki keluarga. Dia juga yang mengusulkan untuk membawa keluarga Papa tinggal sementara di rumah ini. Mereka tak punya tempat tinggal Mom. Mereka tinggal di jalanan–"


"Itu nasib mereka sendiri," ujar Shanty.


Masih terlihat kesal dan belum bisa menerima keputusan Radian sepenuhnya. Radian mengerti ada rasa cemburu di hati ibunya karena cinta pertamanya itu masih memiliki keluarga. Sementara dirinya telah lama sendiri.


"Mom, jika itu juga yang dikatakan Livia, kita saat ini masih tinggal di kontrakan kecil dan makan dengan lauk yang seadanya. Kehidupan kita berubah karena rasa peduli Livia pada kita. Kalau Livia punya pemikiran seperti Mommy, Monica tak bisa lanjut dengan karirnya dan aku juga masih bekerja di perusahaan kecil itu. Kehidupan kita hanya sedikit beruntung dari mereka," jelas Radian.


Ibunda laki-laki itu pun pasrah. Tak bisa memaksakan pendapatnya lagi. Karena yang punya rumah sendiri telah mengizinkan Pak Ridwan Putra dan keluarganya tinggal di rumah itu, Shanty dan Monica pun akhirnya pasrah.


Saat kembali ke kamarnya, Leana yang sedang menyusui bayinya langsung bertanya karena penasaran. Radian justru tersenyum duduk di samping wanita cantik itu lalu membenamkan bibirnya ke bibir wanita cantik itu. Radian merasa rindu pada istrinya.


Sejak pulang dari kantor, laki-laki itu langsung bicara pada ibu dan adiknya. Belum sempat menemui istrinya, hanya bisa menyebut-nyebut nama Livia. Membuat laki-laki itu semakin merindukan istrinya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Leana melihat suaminya yang begitu bernafsu menciumnya.


"Aku rindu," bisik Radian.


"Pagi tadi baru bertemu, sekarang sudah rindu?" tanya Leana sambil tersenyum.


"Kamu rindu padamu setiap detik–"


"Oh ya ampun, gombal sekali," ucap Leana lalu tertawa.


"Ini sungguh-sungguh sayang. Begitu pamit berangkat kerja, aku akan langsung rindu padamu," ucap Radian.


"Oh ya ampun, manis sekali," ucap Leana sambil mengusap pipi laki-laki tampan itu.


Leana yang dulu dikenal sebagai Livia, adalah cinta pertamanya. Sebuah cinta yang timbul karena gabungan rasa kagum, sayang dan iba pada gadis yang hidup penuh derita itu. Berkembang menjadi hasrat begitu mereka menginjak remaja.


Radian yang pernah memandang fisik Livia yang terlanjur cacat. Membuat cinta itu tetap berkembang meski hanya tersimpan di dalam hati saja. Sementara Livia, yang memandang Radian sebagai laki-laki yang begitu baik hati, penolong dan penyayang meski berlindung dibalik sikapnya dinginnya. Namun, Livia bisa merasakan kehangatan dalam hati laki-laki itu.


"Bagaimana dengan rencana Kakak memberikan pekerjaan untuk Papa, apa Papa setuju?" tanya Leana.


"Aku bicara pada Pak Arif, beliau bersedia menerima. Aku juga bicara sama Papa, Papa juga bersedia bekerja. Papa sangat berterima kasih pada kita," jelas Radian.


"Lalu rencana beli rumah untuk mereka?" tanya Leana.

__ADS_1


"Itu yang agak tersendat. Rica, putri tiri Papa itu ingin tinggal lebih lama di rumah ini," ucap Radian lalu menoleh ke arah istrinya.


"Dia menolak dibelikan rumah, karena dia ingin tinggal di sini. Ingin dekat dengan kakak. Aku rasa dia bertahan tinggal di rumah ini karena ingin menggoda Kakak," ucap Leana.


"Itu nggak mungkin sayang. Dia tahu aku sangat mencintai istriku, jadi berpikiran seperti itu hanya akan sia-sia saja," jelas Radian.


"Apa yang bisa mengalahkan rasa cinta Kak. Hidup dijalanan harusnya begitu bahagia mendapat tawaran rumah, tapi ini? Seseorang bisa melakukan apa saja demi mendapatkan cinta. Bisa begitu jahat, begitu kejam karena cinta. Dia mungkin tidak jahat, tapi berambisi untuk mendapatkan cinta, membuat seseorang bisa menjadi sangat jahat," jelas Leana.


"Sayang, jangan berprasangka seperti itu. Mungkin kamu bisa berpikiran seperti itu karena mendengar ucapannya waktu kamu mengintip mereka padahal mungkin cuma bercanda atau mimpi yang terlalu tinggi. Saat ini situasi sudah berbeda, mereka tidak di jalanan lagi. Apa yang mereka rasakan sekarang pasti akan membuat pikirannya berubah. Setelah merasakan enaknya memiliki rumah mereka tak akan berambisi terhadap cinta lagi. Kenyamanan dan kebahagiaan hidup yang menjadi ambisi mereka sekarang," jelas Radian.


"Kakak juga termasuk itu, bisa mendapatkan Kakak itu sama saja mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan hidup," bantah Leana.


"Kamu salah! Jika dia berhasil membuat aku berkhianat maka aku tak akan punya apa-apa lagi. Semua yang aku punya adalah milikmu, aku tidak punya apa-apa selain diriku sendiri, bahkan aku akan kehilangan wanita yang aku cintai dan juga anak-anakku. Aku akan menjadi manusia termiskin di dunia. Kenyamanan dan kebahagiaan apa yang bisa didapatnya bersama manusia termiskin di dunia?" tanya Radian.


Leana terdiam, penjelasan panjang lebar itu. Membuat Leana terpaku. Bagi Leana, Radian adalah segala-galanya tapi bagi Radian, dirinya bukanlah siapa-siapa tanpa Leana.


"Apa karena itu kakak tetap memilih bersamaku?" tanya Leana dengan suara yang berubah serak.


"Aku rela dan sanggup hidup tanpa memiliki apa-apa tapi aku tak sanggup hidup tanpamu Livia. Tidak makan dalam beberapa hari tidak masalah bagiku tapi tak bisa melihatmu sekejap saja, itu bisa membuat aku sangat menderita," jelas Radian yang membuat hati Leana melayang-layang.


Wanita itu membelai lembut wajah suaminya. Tersenyum lalu mengecup bibir laki-laki tampan itu. Leana berharap, cinta Radian tak akan luntur selamanya, apa pun alasannya. Meski ada seseorang yang berniat merebutnya, Leana berharap Radian tetap mencintainya selamanya.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2