
Mendengar panggilan Camelia padanya, membuat Radian dan juga Leana sontak menoleh ke arah gadis itu.
Hati Leana terasa perih seperti diremas-remas. Leana merasa kalau hubungan Radian dan Camelia sudah sangat serius. Leana menunduk dengan mata yang mulai terasa panas.
Kak Radian telah mengizinkannya memanggil seperti itu. Artinya hubungan mereka telah serius, batin Leana sambil menunduk menatap makanannya.
Berbeda dengan pemikiran Leana yang mengira Radian telah setuju dengan panggilan itu. Radian justru merasa kesal karena gadis itu yang begitu lancang memanggilnya dengan panggilan itu.
Siapa yang mengizinkan dia memanggilku seperti itu. Aku tidak pernah mengizinkannya Leana, panggilan itu hanya untukmu dan Monica, batin Radian menatap sendu pada Leana yang tertunduk.
"Kak! Ayo coba cicipi menu pesananku ini," ucap Camelia begitu manis sambil menyodorkan makanannya ke mulut Radian.
Radian merasa enggan, belum lagi masalah panggilan itu yang membuatnya merasa risau. Sekarang, dengan sok akrab gadis itu menyodorkan makanan pesanannya pada Radian. Ada rasa penyesalan dalam hati Radian karena mengajak gadis itu menghadiri undangan makan malam itu.
Radian tak menyangka, gadis yang terlihat begitu pemalu dan lembut itu ternyata bisa berperan begitu berani. Radian memang akhirnya menyetujui hubungan pura-pura mereka. Dan untuk mendukung sandiwaranya di depan Leana, Radian memang sengaja mengajak Camelia untuk ikut makan malam bersama.
Untuk menunjukkan kalau apa yang dilihat Leana di ruangannya waktu itu adalah benar. Mereka telah memiliki hubungan khusus. Namun Radian tak menyangka Camelia begitu total memainkan perannya.
Radian tak nyaman dengan permainan peran gadis itu dan ingin menolak tawarannya untuk mencicipi hidangan pesanannya namun Ezra yang menatapnya sambil tersenyum membuat laki-laki itu terpaksa menerima suapan dari Camelia. Ezra pun tersenyum kagum memandang kemesraan mereka.
"Kamu tak ingin menyuapi aku juga sayang?" tanya Ezra sambil tertawa kecil pada Leana.
Wanita yang telah hilang nafsu makan sejak tadi itu hanya tersenyum. Menimbang-nimbang apakah akan memenuhi permintaan Ezra untuk menyuapinya. Melihat keraguan Leana, Ezra beralih menoleh pada Radian.
"Apa Camelia tahu status pernikahanmu?" tanya Ezra pada Radian.
Setelah menanyakan itu, Leana menyentuh lengan Ezra agar laki-laki itu menerima suapan darinya.
"Tahu Tuan, aku sudah tahu. Kak Radian sudah berpisah dengan istrinya dan sekarang Kak Radian sedang mengurus perceraian mereka--"
"Apa?" seru Radian dan Leana serentak.
__ADS_1
Leana yang akhirnya memutuskan untuk menyuapi Ezra, kaget mendengar pernyataan Camelia hingga menjatuhkan makanan itu di kemeja Ezra.
"Maaf Kak, aku tidak sengaja," ucap Leana.
Langsung panik melihat makanan dari sendoknya itu terjatuh.
"Tidak apa-apa sayang! Aku yang tidak memperhatikan karena asyik mendengar ucapan Camelia," ucap Ezra sambil menggenggam tangan Leana yang sibuk membersihkan dengan serbet di tangannya.
Ezra justru tersenyum melihat perhatian Leana yang begitu panik menatap ke bagian kemeja yang kotor terkena makanan jatuh itu.
"Aku bantu Kakak bersihkan di toilet ya?" tanya Leana tak enak hati.
"Tidak perlu sayang, kamu tetap di sini. Aku bisa membersihkannya sendiri di toilet," ucap Ezra langsung berdiri sambil tersenyum menepuk pipi Leana agar wanita itu tidak risau lagi.
Laki-laki itu pamit ke toilet pada Radian dan Camelia, keduanya membalas dengan mengangguk. Leana menatap Ezra yang melangkah menuju toilet lalu beralih menatap tajam ke arah Radian. Laki-laki itu membalas tatapan Leana dengan tatapan bersalah.
Mengurus perceraian? Demi perempuan ini? Batin Leana sakit hati.
Tak sanggup menahan kemarahannya Leana berdiri dari hadapan Radian dan Camelia sambil melempar serbet yang berada di tangannya itu ke atas meja makan. Leana bergegas melangkah keluar dari restoran.
Laki-laki itu juga hendak berdiri namun segera ditahan Camelia.
"Kakak jangan pergi!" seru Camelia.
"Kamu tidak ada hak melarangku dan itu … panggilan itu. Aku tidak izinkan kamu memanggilku seperti itu. Dan … perceraian itu? Kamu? Sial … aku akan bicara denganmu nanti. Kita harus bicara tentang semua kelancanganmu ini nanti, mengerti!" bentak Radian begitu kesal pada Camelia.
Laki-laki itu menepis tangan Camelia dan berlari menyusul Leana. Wanita yang dicintainya itu terus melangkah keluar dari restoran. Radian bingung ingin memberitahu Ezra tentang kepergian Leana namun wanita itu terus saja melaju setengah berlari keluar dari halaman restoran itu.
Langkah Radian terhenti di teras restoran, menatap langit yang mulai menurunkan hujan.
"Leana jangan pergi! Hujan!" teriak Radian.
__ADS_1
Namun wanita itu tak peduli, tetap saja melangkah cepat menerobos hujan. Radian tak tahu, tak hanya hujan yang menutupi pendengarannya namun tangisnya yang tersedu-sedu pun membuat wanita itu tak mendengar apa pun lagi.
Begitu sampai di trotoar, wanita itu melangkah tak secepat tadi. Dengan sesenggukan wanita itu melangkah sambil tertunduk. Tanpa disadarinya Radian tetap menyusul meski di tengah derasnya hujan.
"Leana!" ucap Radian menghalangi langkah Leana.
"Apa yang Kakak lakukan di sini? Pergilah! Kembali pada calon istri Kakak. Aku … biarkan aku sendiri!" seru Leana sambil mendorong tubuh Radian.
"Leana dengarkan aku! Apa yang dikatakan Camelia itu bohong. Aku tidak pernah mengurus surat perceraian sama sekali. Aku tidak pernah berniat menceraikanmu--"
"Sudahlah! Cukup! Aku sudah melihat kedekatan kalian. Kakak bahkan membentakku saat aku memanggilmu Kakak. Hanya satu gadis selain Monica yang boleh memanggilmu begitu. Aku masih ingat itu hingga sekarang, tapi tadi? Dia dengan mudahnya memanggilmu seperti itu. Aku … setelah menjadi calon istrimu baru berani memanggilmu seperti itu. Berarti dia … dia--"
Radian memeluk istrinya. "Dia tak ada artinya bagiku sayang!" Namun Leana segera mendorong tubuh Radian dan berlari menjauh sambil menangis di tengah derasnya hujan.
"LEANA! APA KAMU TAHU SIAPA GADIS SELAIN ADIKKU YANG BOLEH MEMANGGILKU SEPERTI ITU? DIA ADALAH ADIK TIRIKU! GADIS YANG TELAH MENINGGAL ITU ADALAH GADIS YANG SANGAT BERARTI BAGIKU, DIA ITU ADALAH LIVIA! GADIS YANG SANGAT BERARTI BAGIKU ITU ADALAH LIVIA!" teriak Radian sekuat tenaga demi melawan kerasnya suara hujan.
Langkah Leana terhenti. Termangu di tengah derasnya air yang jatuh dari langit itu. Antara percaya dan tidak dengan apa yang didengarnya. Kakinya mendadak terasa berat melangkah, Leana hanya bisa terpaku menangis. Melihat itu Radian segera menghampirinya. Berdiri di hadapan Leana yang berdiri menunduk.
"Kamu harus percaya, gadis yang selalu aku cintai sejak dulu adalah kamu, Livia. Gadis yang sangat aku cintai adalah kamu. Gadis yang selalu berterima kasih padaku meski aku tidak berniat menolongnya. Gadis yang membuat aku menyesal karena tak mengambil sandwich yang disodorkannya. Gadis yang aku tak peduli seperti apa wajahnya tapi aku tetap mencintainya. Gadis yang tetap bisa membuat aku jatuh cinta meski telah berubah seperti apa pun wajahnya. Livia … aku tidak mau kehilanganmu lagi. Hukum aku, lakukan apa pun untuk semua kesalahanku tapi jangan mendorongku menjauh, jangan menolakku lagi. Aku mohon Livia!" pinta Radian dengan menitikkan air mata.
Laki-laki itu memberanikan diri mendekati Leana. Berjalan mendekat di tengah derasnya hujan. Meski air dari langit itu menghapus setiap tetes air matanya. Namun raut wajah sedih penuh harap itu terlihat jelas di mata Leana.
"Aku mencintaimu Livia! Sejak dulu aku mencintaimu! Satu-satunya kenangan yang menjadi penguat hidupku adalah buku diarymu. Satu-satunya tempat aku menangis mengenangmu adalah pohon bertuliskan Fluffy-mu. Satu-satunya makanan yang aku sukai hanyalah roti isi yang selalu membuatku terkenang padamu. Semua itu hanya untuk menjaga cintaku padamu Livia. Aku mencintaimu! Sejak dulu mencintaimu, sekarang masih mencintaimu, selamanya akan tetap mencintaimu," tutur Radian sambil merentangkan tangannya.
Leana terharu mendengar penuturan laki-laki itu. Tak mampu bertahan lagi, wanita itu segera menghamburkan diri ke dalam pelukan Radian. Laki-laki itu segera memeluknya erat, memeluk wanita yang dicintainya. Memeluk wanita yang begitu dirindukannya. Begitu erat hingga Radian merasakan tubuh Leana yang gemetar.
"Kamu kedinginan sayang," ucap Radian ingin mengajak Leana kembali ke restoran.
Namun Leana menggelengkan kepalanya kuat. Dia tak ingin kembali. Tak ingin bertemu Ezra dan Camelia lagi. Dia hanya ingin memeluk suaminya, laki-laki yang dicintainya. Leana hanya ingin bersamanya, bersama cinta sejatinya. Melihat itu Radian tak melepas kesempatan itu begitu saja. Segera membenamkan bibirnya di bibir istri yang dicintainya. Leana membalas ciuman itu sambil memeluknya erat. Seolah-olah tak boleh menjauh sedikit pun darinya.
Radian pun sama, memeluk wanita itu begitu erat. Menyergap bibir itu dengan rakus. Menyesap, mengulum, memainkan lidahnya dengan begitu menggebu-gebu. Hisapan-hisapan yang telah lama dirindukannya itu begitu dinikmatinya.
__ADS_1
Leana pasrah menerima perlakuan suaminya. Tak peduli hujan yang membasahi tubuh dan wajah mereka. Leana dan Radian hanya ingin menikmati perlakuan yang mengekspresikan rasa cinta mereka. Tak peduli dengan Ezra dan Camelia yang menatap mereka dengan tatapan yang nanar dari dalam mobil mewah milik CEO tampan itu.
...~ Bersambung ~ ...