Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 44 ~ Pingsan ~


__ADS_3

Seperti biasanya Radian bangun dan bersiap-siap untuk berangkat kerja sebelum hari menjadi terang. Laki-laki itu pun menyiapkan ongkos untuk berangkat pagi hari itu. Namun Radian kaget saat mendapati dompetnya penuh dengan uang tunai. Radian langsung sadar kalau ini adalah perbuatan Leana. Saat istirahat siang laki-laki itu langsung menemui wanita yang baru semalam ditidurinya.


Leana kaget bercampur bahagia, saat Radian meminta izin masuk ke ruangannya. Dengan wajah yang menahan geram laki-laki itu melempar uang yang diberikan Leana di atas meja kerja wanita itu. Leana tentu kaget dengan respon Radian atas apa yang dilakukannya semalam.


"Apa maksudnya ini? Untuk apa kamu beri aku ini? Kamu ingin membayarku dengan uang itu? Kamu pikir aku butuh uangmu? Kamu pikir aku ini gigolo? Setelah memberimu kepuasan, kamu hina aku dengan uangmu? Ambil kembali uangmu, aku tidak butuh uangmu. Aku tidak perlu uangmu," ucap Radian, hendak beranjak pergi dari ruangan itu.


"Kakak tunggu!" Langkah Radian terhenti sesaat lalu kembali melangkah meninggalkan ruangan Leana.


Wanita itu segera menghadang suaminya. Leana tak terima dengan tuduhan Radian.


"Itu bukan bayaran! Itu adalah tanda perhatian seorang istri yang prihatin melihat kehidupan suaminya. Aku tidak membayarmu! Apa Kakak menilai aku perempuan seperti itu? Wanita yang menghamburkan uang setelah mendapatkan pelayanan dari seorang laki-laki? Kakak jahat! Kakak sangat jahat berpikiran seperti padaku!" jerit Leana lalu mendorong tubuh Radian dan berlalu meninggalkan laki-laki yang berdiri terpaku mendengar ucapan Leana.


Terlihat air menggenang di pelupuk mata Leana. Radian menelaah apa yang diucapkan Leana. Jika dia merasa terhina karena merasa dibayar dengan uang yang diberikan Leana. Wanita itu juga merasa dihina karena Radian yang menganggap dirinya wanita yang biasa membayar untuk mendapatkan sebuah kepuasan.


Laki-laki itu segera mengejar Leana, memanggil wanita yang terlanjur sakit hati itu. Namun Leana tetap melaju meninggalkan suaminya yang mencoba mengejarnya. Rasa sedih karena terlanjur menyakiti hati wanita yang dicintainya membuat Radian panik, hingga stress.


"TUAN!!" teriak seorang karyawan yang melihat Radian tiba-tiba terhuyung dan jatuh pingsan.


Jika bukan karena teriak karyawan itu Leana tak mungkin berbalik menoleh ke belakang. Wanita itu kaget dan langsung berlari menghampiri suaminya yang telah terkapar. Leana panik tak tahu harus berbuat apa.


"Tenang Bu, ayo kita bawa ke rumah sakit!" ucap karyawan itu dengan sigap.


Beruntung karyawan itu bertubuh besar hingga sanggup mengangkat tubuh Radian. Tak lama kemudian muncul karyawan lain yang juga ikut menggotong Radian. Leana berlari mengikuti di belakang dengan air mata yang telah mengalir deras. Rasa menyesal karena telah mengabaikan panggilan Radian membuat Leana tak henti-henti menyalahkan dirinya sendiri.


"Biar saya yang nyetir Bu, ibu di belakang saja bersama Tuan," usul karyawan itu.


Leana masuk ke dalam mobilnya, seorang karyawan lain membantu untuk menaruh Radian di dalam mobil. Mereka berdua masuk ke mobil dan segera melaju ke rumah sakit terdekat. Secepatnya karyawan itu mengemudikan mobil Leana ke rumah sakit.


Setiba di Instalasi Gawat Darurat, Radian langsung ditangani oleh tenaga medis. Leana dan dua orang karyawan yang membantunya duduk di ruang tunggu dengan raut wajah cemas.


"Jangan khawatir Bu Leana, aku rasa Tuan akan baik-baik saja," ucap karyawan itu menguatkan hati Leana.


"Terima kasih ya atas bantuan kalian," ucap wanita itu dengan senyum yang dipaksakan.


Mereka menunggu hingga dokter muncul dan memberitahu keadaan Radian. Laki-laki itu pun segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Leana dan kedua karyawan itu mendatangi Radian yang masih tertidur dengan jarum infus menancap di pergelangan tangannya.

__ADS_1


Leana segera menggenggam tangan suaminya dan mencium punggung tangan laki-laki itu begitu dalam. Hanya fokus menatap laki-laki itu, tanpa mau menoleh ke arah mana pun. Kedua karyawan itu pun akhirnya bertanya pada Leana.


"Bu! Apa Bu Leana butuh sesuatu?" tanya seorang karyawan.


"Aku tidak butuh apa-apa. Terima kasih atas bantuan kalian ya. Kalian istirahatlah, mobil kalian bawa saja ke kantor, aku akan tetap tinggal di sini," jelas Leana.


Kedua orang itu pun akhirnya meninggalkan Leana dan Radian yang masih memejamkan mata. Kedua karyawan itu meminta Leana untuk tidak khawatir lagi karena Radian yang sekarang hanya sedang beristirahat.


Leana mengangguk dan tersenyum atas perhatian kedua karyawan perusahaannya itu. Mereka pun pamit kembali ke kantor. Tinggal Leana yang termenung menatap Radian.


"Maafkan aku Kak, andai aku tahu Kakak sedang tidak sehat, aku tidak akan pergi dari hadapan Kakak," ungkap Leana sambil menggenggam tangan laki-laki itu.


Air mata wanita itu mengalir, tak tega melihat keadaan Radian yang memprihatinkan. Tak henti-henti menyesali dirinya yang tak segera kembali saat Radian memanggilnya. Wanita itu setia menunggu suaminya di dalam ruangan itu.


Tak lama kemudian Shanty dan Monica datang. Mereka langsung menghampiri Radian yang masih beristirahat. Leana hanya bisa memandangi mereka dengan wajah murung. Keduanya tak menyapa seolah-olah tak menganggapnya ada.


"Maafkan Mommy, Radian. Maafkan kami, kamu hidup menderita karena kami," ucap Shanty sambil menangis.


Monica segera menarik lengan ibunya begitu menyadari di ruangan itu juga ada Leana. Shanty segera menoleh dan terkejut. Begitu mendengar dari pihak rumah sakit Radian dirawat karena dehidrasi. Shanty dan Monica langsung mendatangi rumah sakit itu.


"Kamu juga ada di sini?" tanya Shanty dengan nada heran.


"Kak Radian pingsan di kantorku," jawab Leana.


"Kenapa dia ke kantormu? Oh begitu, tadi … dia berangkat begitu tergesa-gesa. Radian bahkan melewatkan sarapan paginya. Kenapa? Untuk apa dia datang ke kantormu? Untuk apa dia mencarimu?" tanya Shanty yang merasa heran.


Leana tak bisa menjawab penyebab putra ibu itu datang ke kantornya. Karena Radian sendiri merahasiakan kedatangannya ke rumah Leana hingga wanita itu mengisi dompet suaminya yang telah menipis. Leana hanya tertunduk tak menjawab. Monica langsung maju untuk bertanya.


"Apa Kakak akan kembali ke rumah Kak Leana?" tanya Monica.


"Aku mengajaknya tapi dia menolak," ungkap Leana.


Monica tertunduk, begitu juga dengan Shanty. Mereka masih berharap Radian mau menerima tawaran Leana untuk kembali tinggal bersamanya. Namun saat melihat putranya yang terbaring lemah dan terlihat begitu menderita akhirnya Shanty pasrah.


"Jika Radian ingin kembali padamu, dia boleh melakukannya tanpa kami. Aku tahu dia tak ingin kami dekat denganmu. Kami sadar, kami tahu ketakutannya, kekhawatirannya jika kami ikut tinggal bersamamu. Aku rela jika dia pindah ke rumahmu dan membiarkan kami tetap di rumah kontrakan kami," ucap Shanty akhirnya.

__ADS_1


"Kenapa Mommy berpikiran seperti itu?" tanya Leana.


"Karena kami telah sadar akan dosa kami padamu. Kami memang tak pantas mendapatkan maaf darimu. Karena itu terimalah putraku! Selamatkan dia dari derita hidup susah karena dia tidak salah. Dia tidak tahu apa-apa tentang rencana pembunuhan itu. Dia justru merasa sedih karena kehilanganmu. Dia tak pantas menderita karena perbuatan kami. Leana, bawalah suamimu bersamamu. Kalian tak perlu memikirkan kami," ucap Shanty sambil menangis.


Wanita paruh baya itu berharap Leana mau menerima putranya, tanpa perlu memikirkan dirinya dan Monica. Shanty pasrah tetap hidup di kontrakan itu sebagai hukuman atas dosa-dosanya di masa lalu pada Leana.


"Aku tidak bisa menentukannya Mommy, semua itu terserah Kak Radian. Tapi … melihat sifat Kak Radian, dia tak akan mau meninggalkan kalian," ucap Leana juga menitikkan air mata.


"Apa maksudmu?" tanya Shanty.


"Sudah jelas Mommy. Kak Radian mencintaiku dan putraku tapi … Kak Radian lebih memilih meninggalkan aku daripada meninggalkan kalian. Kak Radian lebih memilih hidup menderita asalkan tetap bersama dengan kalian. Bagaimana aku bisa membujuknya untuk meninggalkan kalian?" ungkap Leana sambil menghapus air matanya.


Shanty dan Monica tak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka pun tak pernah bisa menentang Radian jika berkendak. Mereka hanya bisa mengikuti apa yang menjadi keputusan Radian.


"Maaf Mommy sebaiknya aku pergi," ucap Leana yang tak tahan lagi membendung air matanya yang terus mengalir.


Leana ingin menangis sejadi-jadinya di samping sebuah gedung, sama saat Livia yang bersedih di sekolah.


Sementara itu Shanty dan Monica masih menunggu Radian bangun dari tidurnya tapi melihat kondisi Radian yang masih lemah. Shanty tak tega untuk membangunkannya. Saat jam makan siang, Shanty meminta Monica untuk membelikan makanan untuk mereka. Ibu itu juga tak ingin melihat putrinya jatuh sakit. Uang sisa yang disimpan untuk kebutuhan beberapa hari tak dipikirkannya lagi. Siang ini Shanty bertekad untuk menjual sisa perhiasannya untuk biaya hidup dan biaya rumah sakit Radian. Gadis itu pun melangkah keluar dari gedung rumah sakit untuk mencari penjual makanan.


"Maaf!" ucap seorang laki-laki yang terburu-buru hingga tak sengaja menyenggol Monica.


"Ezra?" teriak Monica.


Ezra menoleh pada gadis yang memanggilnya. Namun, laki-laki itu seperti tak mengenalinya.


"Aku Monica, anggota OSIS waktu di SMP. Kamu yang jadi Ketua OSIS waktu itu. Apa kamu ingat?" tanya Monica.


"Oh maaf aku lupa, aku tak begitu ingat lagi dengan teman-teman di SMP paling hanya orang-orang tertentu saja. Lagi pula aku memang tak banyak akrab dengan perempuan, maaf aku harus menjenguk seseorang," ucap Ezra dengan ekspresi yang menyesal.


Monica hanya bisa mengangguk dengan raut wajah sedih. Setelah laki-laki itu melanjutkan langkahnya barulah teringat untuk meminta nomor ponselnya namun laki-laki itu telah jauh melangkah. Dengan situasi seperti itu tak mungkin bagi Monica untuk meminta nomor ponsel laki-laki itu. Lagi-lagi Monica gagal untuk mendekati Ezra.


Apa ini takdirku? Selalu tak mendapat kesempatan untuk dekat dengannya? Aku melakukan apa saja untuk bisa dekat dengannya tapi takdir tak pernah berpihak padaku. Andaikan kami bertemu di waktu yang lebih tepat, batin Monica.


Gadis itu melangkah dengan matanya yang terasa panas. Mengingat nasibnya yang tak pernah bisa dekat dengan cinta pertamanya. Sejak dari masa di SMP hingga saat ini bertemu lagi. Monica masih tak memiliki kesempatan untuk mendekati Ezra.

__ADS_1


...~   Bersambung  ~...


__ADS_2