
Leana melihat Revano yang berlari dari kelas untuk menghampirinya. Seorang gadis kecil mengikuti Revano. Bisa diduga kalau gadis kecil itu adalah teman sekelas Revano. Leana langsung melarang mereka berlari. Namun, terlambat gadis kecil itu terlanjur jatuh.
Revano menatapnya dengan rasa bersalah. Leana langsung datang menghampiri dan menggendongnya. Tak lupa mengajak putranya duduk di sampingnya. Gadis kecil itu masih terus menangis. Leana pun menghiburnya.
"Putri yang cantik, jangan menangis lagi? Tante sudah tiup memarnya sebentar lagi sakitnya akan hilang. Kalau terjatuh saat sedang berjalan atau sedang berlari. Jangan takut, itu tanda kakinya sedang memanjaaang karena bertambah tinggi. Karena nggak sadar kaki bertambah panjang, kaki jadi nyangkut. Benar kan Reno?" tanya Leana menghibur hati gadis kecil itu sekaligus menghibur putranya yang merasa bersalah.
Revano mengangguk. Leana tersenyum lalu mengecup puncak rambut putrinya. Gadis kecil itu telah berhenti menangis tetapi isaknya masih terasa. Leana kembali menghibur gadis kecil itu.
"Namanya siapa?" tanya Leana.
"Vivia," jawab gadis kecil itu.
"Vivia? Lho kok mirip dengan nama Tante. Kalau Tante diberi nama orang tua Livia. Mirip kan?" tanya Leana yang langsung dibalas dengan anggukan oleh gadis kecil itu sambil tersenyum.
"Livia eh … Vivia nggak tahu kalau kakinya tambah panjang?" tanya Leana. Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu nanti coba liatin sama Mommy. Mommy Vivia pasti tahu kalau kaki putrinya udah tambah panjang," ucap Leana.
"Mommy udah pergi," ucap Vivia akhirnya di sela-sela sisa isak tangisnya.
"Oh, pergi? Pergi ke mana?" tanya Leana. Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang langsung bertanya dengan nada menuduh. Leana keget dan bingung. Wanita itu langsung menurunkan Vivia dari pangkuannya. Mendengar tuduhan itu Leana hanya perlu berkata singkat saja lalu kembali duduk di sisi Revano tanpa peduli.
Melihat kesalahpahaman itu Vivia pun menjelaskan pada laki-laki yang bisa diyakini kalau dia adalah ayah dari gadis kecil yang cantik itu. Setelah mendengar penjelasan Vivian, laki-laki itu pun menghampiri Leana. Dengan raut wajah menyesal laki-laki itu meminta maaf atas tuduhannya tadi.
__ADS_1
"Sudahlah! Untung tidak berlanjut. Kalau aku dituduh lalu mereka menyeretku atau menggebuki aku barulah aku minta pertanggung jawabanmu," ucap Leana ringan tetapi membuat laki-laki itu tersenyum.
"Kenalkan aku, Dean! Ayahnya Vivian," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Mau tak mau Leana menyambut uluran tangan itu. Menyebutkan namanya pada laki-laki yang baru saja menuduhnya itu. Dean meminta izin untuk duduk di samping Leana. Wanita itu pun mengizinkannya. Sambil memangku putrinya Dean, kembali meminta maaf pada Leana.
"Sekali aku minta maaf–"
"Sekali lagi katakan itu, aku minta hadiah padamu," ucap Leana sambil merapikan rambut putranya. Dean tertawa.
"Oh ya maaf–"
Leana langsung menoleh. Dean baru tersadar, untuk ketiga kalinya Dean mengucapkan kata maaf. Laki-laki itu kembali tertawa. Tanpa sengaja laki-laki itu selalu meminta maaf.
"Sepertinya hobi sekali mengucapkan kata maaf ya, sudah lakukan saja. Aku tidak bisa melarang," ucap Leana dengan wajah serius tetapi membuat Dean kembali tertawa.
"Jadi kebiasaan meminta maaf. Bukannya mengurangi berbuat salah yang terlalu sering itu," ucap Leana.
Kembali Dean tertawa. Kali ini sambil menatap Leana. Baru saja bertemu dan berkenalan, Dean telah dibuat Leana tertawa hingga beberapa kali membuat laki-laki itu kagum pada Leana. Sikapnya yang biasa murung dalam sekejap langsung berubah ceria.
"Aku akan beri hadiah padamu. Karena minta hadiah setelah aku mengucapkan itu sebanyak tiga kali," ucap Dean tiba-tiba.
"Nggak usah, aku cuma bercanda," ucap Leana.
"Tidak apa-apa, aku serius," ucap Dean.
__ADS_1
"Kamu mau kasih aku hadiah apa?" tanya Leana.
"Apa saja," jawab Dean.
Sambil menatap terpesona wanita cantik yang duduk di sampingnya itu. Leana seperti sedang serius memikirkan sesuatu dengan tingkah yang terlihat seperti pejabat pemerintah yang sedang memikirkan negara. Lagi-lagi Dean tertawa melihatnya.
"Aku boleh minta apa saja?" tanya Leana senang dengan wajah dibuat seserius mungkin.
"Ya, apa saja," jawab Dean tanpa menghilangkan tawa di bibirnya.
"Kalau seorang wanita itu suka minta hadiah rumah megah, mobil mewah dan perhiasan yang indah. Apa boleh minta itu?" tanya Leana seperti sedang menguji.
"Boleh, jika kamu serius minta semua itu, maka akan aku beri tapi ada syaratnya," jawab Dean.
"Syarat?" tanya Leana.
"Ya, kamu harus jadi istriku dulu," sambung Dean. Leana tersenyum.
"Aku sudah punya suami," ucap Leana.
"Kamu bisa tinggalkan suami kamu. Sama seperti istriku meninggalkan aku," ucap Dean.
"Jangan samakan aku dengan wanita lain," ucap Leana dengan serius.
Benar-benar serius. Dean merasakan keseriusan itu dan kembali meminta maaf. Laki-laki tak berniat membuat Leana tersinggung. Memang tak pantas baginya bicara seperti itu. Apalagi dengan seseorang yang baru di kenal. Namun, entah mengapa Dean merasa nyaman berbicara dengan Leana.
__ADS_1
Hatinya terasa lapang dan berbunga-bunga. Apa pun yang terlontar dari mulut Leana membuat hatinya bahagia. Suasana hatinya yang biasa suram, seketika bersinar. Begitu nyamannya, laki-laki itu hingga melewati batas. Dean sadar apa yang diucapkannya itu tak pantas dan dia sendiri bingung kata-kata itu berasal dari mana. Yang jelas Dean terpesona pada wanita cantik yang duduk di sampingnya itu.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...